Latest Post

Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR SALAFY-WAHHABIY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR SALAFY-WAHHABIY. Tampilkan semua postingan

Astaghfirullah! Tafsir Ngawur Terjemah Al-Quran Versi Salafi-Wahabi

Written By MuslimMN on Minggu, 30 Maret 2014 | 07.01





Amati al-Quran berciri sampul seperti dalam foto. Tahukah Anda? Ya, ini adalah al-Quran terjemah yang disertai dengan tafsirnya pada catatan kaki (footnote). Ini dibagikan gratis oleh Kerajaan Arab Saudi, yang notabene berfaham Salafi-Wahabi.

Coba Anda buka dan lihat di surat al-Baqarah ayat 255, atau biasa kita kenal dengan Ayat Kursi. Dalam footnote tertuliskan: “Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassir mengartikan Ilmu Allah, ada juga yang mengartikan kekuasaanNya. Pendapat yang shahih terhadap makna “Kursi” adalah tempat letak telapak Kaki-Nya.” Ini jelas tafsiran yang membahayakan, menjurus pada tasybih (penyerupaan Allah dengan makhlukNya). Apalagi dibumbui dengan klaim “Pendapat yang shahih”. Mahasuci Allah dari penyifatan makhluk kepada DzatNya.

Adapun mengenai tafsiran kursi sebagai ‘tempat kedua telapak kaki Allah’ dengan alasan hadits riwayat Ibnu Abbas Ra.:

الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki (Allah).” (HR. al-Hakim no. 3116).

Mereka mengatakan bahwa hadits dari Ibnu Abbas adalah mauquf, diantara mereka ada satu orang bernama Syuja bin Mukhallad mengatakan bahwa riwayat ini marfû’ berasal dari Rasulullah Saw. Pernyataan Syuja bin Mukhallad yang mengatakan bahwa hadits ini marfû’ menyalahi riwayat para perawi terkemuka lainnya yang telah menetapkan bahwa hadits ini hanya mauqûf saja, dengan demikian pernyataan Ibnu Mukhallad ini adalah salah. Sementara telah jelas bahwa hadits-hadits mauqûf tidak dapat dijadikan dalil dalam masalah akidah.

Adapun pemahaman hadits tersebut, jika tetap hendak diterima, adalah bahwa besarnya al-Kursi dibanding dengan Arsy adalah bentuk yang sangat kecil sekali. Perumpamaan besarnya kursi hanyalah seukuran dua telapak kaki seorang yang duduk di atas ranjang. Artinya, ukuran tempat pijakan dua kaki itu sangat kecil jika dibanding ranjang yang didudukinya. Adh-Dhahhak berkata: “Kursi adalah tempat yang dijadikan pijakan dua kaki oleh para raja yang berada di bawah tempat duduk (singgasana) mereka.”

Berikut ini adalah tafsiran yang benar, dinukil dari kitab Tafsir Jalalain QS. al-Baqarah ayat 255:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

“KursiNya meliputi langit dan bumi”, ada yang mengatakan bahwa maksudnya ialah ilmuNya, ada pula yang mengatakan kekuasaanNya, dan ada pula Kursi itu sendiri yang mencakup langit dan bumi, karena kebesaranNya, berdasarkan sebuah hadits: “Tidaklah langit yang tujuh pada kursi itu, kecuali seperti tujuh buah uang dirham yang dicampakkan ke dalam sebuah pasukan besar.”

Yang perlu dipahami adalah kursi Allah tidak bisa disamakan dengan kursi manusia pada umumya. Karena Allah memiliki sifat Mukhalafatuhu lilhawaditsi (berbeda dengan makhlukNya). Tentang makna ‘kursi’ itu sendiri, para ulama masih berbeda pendapat. Ada segolongan ulama yang memaknai ‘kursi’ sebagai ilmu Allah berdasarkan riwayat ath-Thabari dari Ibnu Abbas Ra.: “Kursi Allah berarti ilmu Allah.” Sementara ulama yang lain memaknai ‘kursi’ sebagai ‘Arsy itu sendiri. Al-Hasan berkata: “Kursi adalah ‘Arsy itu sendiri.” Pendapat lain mengatakan bahwa ‘kursi’ adalah kekuasaan Allah yang dengannya Dia mengendalikan langit dan bumi.

Masing-masing pendapat tersebut memiliki sudut pandang dan pertimbangan tersendiri, sesuai dengan riwayat yang telah diterima. Yang jelas, sekali lagi kursi Allah tidak sama dengan kursi-kursi pada umumnya. Dan lihat juga dalam kitab-kitab tafsir lainnya untuk membuktikan bahwa para ulama tidak ada yang menafsirkan seperti penafsiran para ulama Salafi-Wahabi.

Wallahu al-Musta’an A’lam

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkapn Jaktim 30 Maret 2014


Situs resmi penerbit al-Quran Terjemah Kerajaan Saudi Arabia:

APAKAH ANDA JUGA BANGGA DISEBUT WAHABI?

Written By MuslimMN on Rabu, 29 Januari 2014 | 04.29





Wahabi Indonesia mengalihkan sebutan Wahabi dinisbatkan ke sebuah sekte Khowarij Abadhiyah yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum al-Khoriji al-Abadhi. Tapi Bin Baz, pentolan Wahabi Arab mengatakan dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb pada soal yang ke-6 sebagai berikut:

س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هوالرد على من يسميكم بهذا الاسم؟

Soal ke-6, seseorang bertanya kepada Syaikh: “Sebagian manusia menamakan ulama-ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi (Wahabiyyah), adakah Anda ridha dengan nama tersebut? Dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan Anda dengan nama tersebut?”

Syaikh Bin Baz menjawab sebagai berikut:

الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه

Jawaban Bin Baz: “Penamaan tersebut masyhur untuk ulama tauhid, yakni ulama Najd. Mereka menisbatkan para ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.”

Dan bahkan Bin Baz memuji nama tersebut, ia berkata:

فهو لقب شريف عظيم

“Nama itu (Wahabi) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung.”

(Al-Habib Mumu Bsa bin Saggaf bin Mahdi BSA)



PERCAYA ULAMA ATAU MEDIA?

Written By MuslimMN on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 11.39





“Media-media yang Perlu Kita Cermati”

Gelombang isu konflik Sunni-Syiah dalam beberapa tahun belakangan ini semakin membuncah seiring meluasnya peran sosial media dalam masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Dalam kacamata analisis media setidaknya ada sepuluh poin yang bisa diurai dari fenomena tersebut:

1.      Isu yang mengemuka dalam berbagai berita tentang Syiah yang dimuat sejumlah media Islam seperti arrahmah, islam pos, era muslim, voa-islam, hidayatullah, fimadani dan situs sejenisnya hampir memiliki pola seragam, “Menempatkan Syiah sebagai Madzhab Sesat”. Dengan asumsi stigmatis tersebut, maka Syiah bagi mereka harus dikeluarkan dari “Rumah Islam”, karena dianggap menodai agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw. itu. Untuk mewujudkan tujuan itu, media-media Islam tersebut setiap hari menayangkan berita-berita mengenai Syiah dari sumber yang mereka akui benar, tanpa mencantumkan kebenaran dari sumber pihak Syiah sendiri yang mereka tuduh. Prinsip cover both side tidak berlaku bagi media-media Islam tersebut.

2.      Stigma sesat yang dijatuhkan sejumlah media Islam tersebut terhadap Syiah berpusat pada masalah cabang agama, bukan pokok. Tapi mereka mengklaimnya sebagai perbedaan krusial yang tidak bisa disatukan, seperti minyak dan air. Situs arrahmah misalnya, mengemukakan 35 alasan mengapa Syiah sesat, yang semuanya bertumpu pada tudingan keliru yang tidak diakui oleh orang Syiah sendiri. Tudingan paling keras menyebutkan bahwa Syiah mencaci atau mengkafirkan sahabat dan istri Rasulullah Saw. Jelas tudingan tersebut salah alamat, sebab orang Syiah dilarang melakukannya sesuai fatwa Ayatullah Udzma Sayyid Ali Khamenei yang telah mengeluarkan fatwa haram bagi penganut Syiah mencaci sahabat dan istri Rasulullah Saw, apalagi mengafirkannya.

Selain itu, isu yang paling santer dilancarkan media-media ini terhadap Syiah adalah perbedaan dalam masalah fikih yang merupakan cabang agama, bukan pokok. Tapi bagi media-media Islam seperti islam pos, perbedaan fiqih itu dilihat bukan sebagai rahmat tapi menjadi sengketa, dan solusinya harus diseragamkan dengan tafsir tunggal atas Islam. Padahal faktanya, empat madzhab Sunni pun berbeda pandangan dalam masalah fiqih seperti shalat pakai Qunut atau tidak, Bismillah dikeraskan atau tidak, dll. Kegagalan media-media Islam tersebut menempatkan masalah ushul (prinsip) dan furu’ (cabang), karena menilai madzhab lain dengan neraca tunggal versi Wahabisme yang menjadi madzhab resmi Arab Saudi.

3.      Media-media Islam seperti arrahmah mendapatkan dana tidak kecil dari Arab Saudi. Tentu saja tidak bisa dipungkiri media-media itu juga membawa kepentingan pihak donor, dalam hal ini pemerintah Riyadh. Berbagai sumber menyebutkan suntikan dana Arab Saudi terhadap media Islam seperti era muslim dan berbagai media Islam lainnya yang gencar menyerang Syiah dalam berbagai beritanya. Bukan hanya Syiah yang diserang, bahkan Wahabisme menyesatkan NU karena menerima faham tawasul.

4.      Studi Critical Discourse Analysis terhadap isi media Islam garis keras semacam arrahmah, era muslim, islam pos, voa-Islam dll, menunjukkan pola yang hampir mirip sekaligus membongkar keberpihakan media tersebut. Selain meyesatkan Syiah, mereka juga menempatkan stigma negatif apapun atas peristiwa yang menimpa Timur Tengah terhadap Syiah. Misalnya, rezim Assad di Suriah dipandang sebagai pemerintahan Syiah yang membantai Sunni. Bahkan as-Sisi di Mesir yang menjadi arsitek tergulingnya Mursi dituding sebagai Syiah dan mengaitkannya dengan Iran.

Meski berita ini jauh panggang dari api karena dibangun dari data yang tidak valid, tapi banyak orang Indonesia yang kurang selektif terhadap validitas berita, malah memercayainya. Padahal kenyataannya justru Arab Saudi yang aktif terlibat dalam kudeta militer terhadap Mursi. Di saat negara-negara Barat masih berhati-hati untuk menyatakan sikapnya terhadap kudeta militer negeri Piramida itu, Arab Saudi langsung menyatakan pengakuannya atas pemerintahan as-Sisi. Bahkan dukungan itu disertai gelontoran bantuan keuangan dari Riyadh untuk Kairo. Tapi ironisnya, media-media Islam semacam arrahmah tidak pernah mempersoalkan dukungan Riyadh tersebut, dan mengalihkannya dengan mengulang tudingan Klise “Syiah di balik Kudeta Militer Mesir” tanpa menyodorkan bukti yang valid. 

5.      Hingar-bingar media Islam garis keras yang mengangkat isu konflik Sunni-Syiah meningkat intensitasnya dan frekuensinya dalam dua tahun terakhir pasca meletusnya konflik Suriah. Media Islam semacam arrahmah, yang pemiliknya pernah ditahan polisi karena dituduh terlibat dalam membiayai aksi terorisme di Indonesia, menempatkan isu Suriah sebagai perang Sunni-Syiah. Media-media Islam yang menyebut Taliban sebagai Mujahid ini, menempatkan rezim Assad sebagai pemerintahan Syiah yang membantai rakyat yang Sunni. Untuk itu, media ini menjadikan Suriah sebagai medan Jihad bagi kaum Sunni Indonesia. Akibat provokasi media Islam garis keras ini setidaknya puluhan orang Indonesia terjun di Suriah melawan rezim Assad dengan bendera jihad. Sebagian mereka adalah alumni atau kaderan alumni perang Afghanistan yang notabene termasuk milisi Taliban dan al-Qaeda, yang termasuk organisasi teroris internasional.

6.      Jika Syiah sebagaimana yang dituduhkan media Islam garis keras sebagai madzhab sesat dan harus dilenyapkan, mengapa isu ini baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Mengapa ulama-ulama besar dahulu di Nusantara dan dunia sendiri tidak pernah menyesatkan Syiah. Mereka justru mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam. Salah satu komitmen internasional yang mengakui Syiah sebagai mazhab Islam adalah Deklarasi Amman di Yordania tahun 2004 yang dihadiri para ulama dari seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, para ulama seperti Quraisy Shihab mengakui Syiah sebagai madzhab resmi dalam Islam. Demikian juga dengan Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin. Bahkan almarhum Gus Dur dengan berseloroh pernah menyebut NU sebagai Syiah minus imamah. Ternyata hanya ulama Wahabi yang mengklaim mewakili Sunni, yang mengafirkan Syiah.  Menurut sejarawan muda Minangkabau, Muhammad Ilham Fadhil, penyesatan terhadap Syiah baru terjadi dalam dua dekade terakhir, dan sebelumnya tidak pernah terjadi, bahkan di masa Buya Hamka ketua MUI pertama. Dosen sejarah universitas Islam terkemuka di Padang ini menilai kepentingan politik berada di balik gencarnya penyesatan terhadap Syiah belakangan ini.

7.      Gelombang penyesatan Syiah semakin mengalir deras seiring meningkatnya jumlah alumni sekolah maupun pondok pesantren Arab Saudi yang mengadopsi ajaran Wahabisme dan diterapkan di Tanah Air secara kaku dengan memandang madzhab lain salah dan sesat.

8.      Isu konflik madzhab yang dihembuskan media-media Islam termasuk di Indonesia, seiring dengan tujuan kekuatan Barat untuk melemahkan kekuatan Islam dan menjaga kepentingan Israel yang semakin rapuh. Untuk itu, kian berkobarnya api konflik antar madzhab Islam, maka semakin besar keuntungan yang diraih negara-negara Imperialis untuk mengeruk sumber daya alam seperti minyak dan barang tambang lainnya yang berada di negara-negara Muslim. Semakin lemah dan terpecahbelahnya kekuatan negara-negara Islam yang sibuk mengurusi konflik internalnya, maka semakin besar cengkeraman negara-negara adidaya terhadap sumber daya alam negara dunia ketiga, yang sebagian besar berpenduduk Muslim.

9.      Kepentingan hegemoni negara-negara adidaya Barat terhadap negara-negara Muslim berkelindan dengan kepentingan politik Arab Saudi yang merasa terancam dengan naiknya Iran sebagai negara independen di kawasan Timur Tengah. Pada saat yang sama Arab Saudi dilanda friksi internal kompetisi antar pangeran yang mencapai ribuan orang untuk memperebutkan posisi putera mahkota di negeri petrodollar itu. Isu konflik Sunni-Syiah bisa mengalihkan publik dunia dan rakyat Saudi atas perseteruan yang menimpa singgasana Al Saud. Bila sudah demikian, agama hanya menjadi penyedap rasa untuk membenarkan tujuan politik.

10.  Negara-negara Barat bersama korporasi multinasional terutama perusahaan senjata meraup keuntungan besar dari konflik Sunni-Syiah yang dihembuskan media-media Islam, termasuk yang menjamur belakangan ini di Tanah Air. Faktanya Arab Saudi merupakan negara pembeli senjata terbesar dari AS dan negara Barat lainnya. Sebagian senjata itu dipasok untuk membunuh sesama Muslim di negara-negera Arab sendiri seperti Suriah dan Irak sebagaimana yang dimainkan pengeran Bandar Bin Sultan. Pada saat yang sama, korporasi energi dunia bisa mengeruk emas hitam Arab Saudi dan negara Muslim lainnya dengan harga yang murah. Isu senjata kimia di Irak, dan demokrasi serta terorisme di Afganistan adalah bahasa lain AS bersama sekutunya untuk mengeruk sumber daya alam dua negara Muslim itu.

Sejatinya, menelan mentah-mentah informasi dari berita media-media kompor seperti arrahmah, era muslim, islampos, voa-islam, dll bukan hanya bentuk kegagalan menyerap informasi yang benar. Tapi lebih dari itu, kita ikut menyebarkan kehancuran untuk diri sendiri dengan mengamini “Bancakan Multinasional Rasa Madzhab”. Mari jaga dan selamatkan keutuhan NKRI dari serangan isu sektarian yang akan mencabik-cabik bangsa kita sendiri.

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 12 Oktober 2013


Diedit ulang dari:

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template