Latest Post

Tampilkan postingan dengan label MUHAMMADIYYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUHAMMADIYYAH. Tampilkan semua postingan

Peran Madrasah Hadhramaut Bagi Kamakmuran Bangsa Indonesia dan Seluruh Umat Manusia

Written By MuslimMN on Rabu, 16 April 2014 | 05.32





Mengetahui semakin maraknya berita yang meliput tentang kerusakan moral Bangsa Indonesia sebagaimana yang sering kita baca, dengar, ataupun lihat dalam berbagai media masa, mulai dari tawuran, pemerkosaan, pencurian, hingga pembunuhan, hati kami merasa tergugah untuk memberi sedikit sumbangan pemikiran dalam sebuah tulisan yang membahas tentang apa yang kami ketahui seputar manhaj madrasah Hadhramaut.

Karena sudah beberapa tahun kami tinggal di Hadhramaut, dan setelah sekian waktu meneliti, memahami, serta merasakan atsar dari madrasah ini, kami bisa menyimpulkan bahwa barangsiapa yang mau mempelajari dan menerapkan manhaj ini dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kebaikan akan senantiasa menyelimuti, hal ini pun bisa menjadi salah satu solusi untuk membangun karakter pendidikan Bangsa Indonesia di kedepannya nanti.

Mengenal Madrasah Hadhramaut

Madrasah Hadhramaut adalah suatu istilah yang belakangan ini mulai populer di kalangan para pecinta habaib di Hadhramaut, khususnya bagi mereka yang telah mereguk ilmu dari para guru yang memiliki sanad keilmuan serta nasab yang bersambung hingga Rasulullah Saw. Istilah ini awal kali dipopulerkan oleh salah satu guru kami yang bernama Habib Abu Bakr bin Ali al-Masyhur al-Adni dalam pengajaran beliau maupun dalam berbagai kitab yang telah beliau karang, seperti kitab ad-Dalail an-Nabawiyyah al-Mu’abbirah ‘an Syaraf al-Madrasah al-Abawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.

Madrasah dalam hal ini yang dimaksud bukanlah suatu institusi ataupun lembaga tertentu, melainkan yang dimaksud adalah suatu manhaj atau konsep pemikiran yang diusung oleh para pendahulu, yang sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan Thariqah Alawiyyah yang dinisbatkan kepada Habib Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah. Thariqah yang berasaskan pada al-Quran, sunnah, dan kalam-kalam hikmah dari para pendahulu yang shaleh ini memiliki 5 prinsip dalam menyebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat. Kelima prinsip tersebut adalah ilmu, amal, wara’, ikhlas dan takut hanya kepada Allah Swt.

Jika kita berbicara tentang Madrasah Hadhramaut, maka kita tidak akan bisa lepas dari berbicara tentang ilmu tasawwuf, yaitu ilmu yang membahas tentang pembersihan jiwa serta perbaikan hati dan akhlak, hal ini sebagaimana yang pernah disampaikan oleh guru kami Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufry dalam suatu pengajaran beliau. Jika kita mau melihat dan merenungi akan permusuhan, peperangan, serta kerusakan moral yang terjadi di sekitar kita, maka kita akan menemukan bahwa penyebab utama dari itu semua tidak lain adalah karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap kebersihan hati serta jiwa mereka.

Guru kami Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz pada suatu kesempatan pernah menuturkan bahwa: “Seandainya hati dan jiwa semua orang sudah bersih, niscaya kerusakan dan peperangan di muka bumi ini tidak akan pernah terjadi.”

Penerapan Manhaj Madrasah Hadhramaut

Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh dia mau untuk berusaha membersihkan jiwa serta hatinya. Barangsiapa yang tekun dalam bermujahadah untuk membersihkan jiwa dan hatinya dari sifat-sifat yang tecela, maka dia adalah orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang tidak mau berusaha untuk membersihkan jiwa dan hati kemudian menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji, maka sungguh dia adalah orang yang benar-benar merugi.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat asy-Syams ayat 7-10 yang maknanya: “Demi jiwa dan kesempurnaan penciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kafasikan dan jalan ketakwaan. Sungguh beruntung bagi orang yang mau membersihkan jiwanya, dan sungguh merugi bagi orang yang telah mengotorinya.”

Dan sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim: “Sesungguhnya di dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, namun jika buruk maka akan buruk pula seluruh anggota tubuh yang lainnya. Segumpal daging itu tidak lain adalah hati.”

1.      Pembersihan Jiwa

Jiwa atau dengan kata lain nafsu, adalah salah satu komponen yang dimiliki oleh semua manusia. Oleh karena itu, setiap manusia berpotensi untuk berbuat kebaikan dan berbuat keburukan, baik muda atau tua, muslim atau kafir, laki-laki ataupun perempuan. Nafsu yang terdidik dan terlatih untuk berbuat kebaikan akan mudah untuk menerima serta mengerjakan kebaikan. Sebaliknya, nafsu yang terlantarkan dan tidak tersucikan akan mudah untuk menerima dan mengerjakan keburukan. Apalagi di dalam al-Quran dijelaskan bahwa nafsu itu memiliki sifat yang selalu condong pada keburukan. Jadi, nafsu yang ada di dalam setiap diri kita, jika tidak kita sibukkan dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkan kita dengan keburukan.

Bagaimanakah cara untuk membersihkan jiwa? Ada 2 tahap, yang pertama adalah mujahadah, yaitu dengan mengekang keinginan hawa nafsu yang selalu mengajak pada keburukan. Syaikh Muhammad al-Bushiri dalam Qashidah Burdahnya menuturkan bahwa: “Jangan harap dengan terus-menerus berbuat maksiat dan menuruti hawa nafsu, engkau akan bisa menundukkan nafsumu, karena nafsu  tak ubahnya seperti anak kecil yang masih menyusu, jika keinginannya untuk menyusu dituruti terus-terusan, maka ia akan terus menyusu sampai besar. Tetapi jika engkau mau menyapih atau menghentikannya, maka barulah ia akan mau berhenti.”

Tahap yang kedua adalah riyadhah, yaitu dengan melatih nafsu secara bertahap dan sedikit demi sedikit untuk diajak dalam berbuat kebaikan. Mengenai hal ini, guru kami Habib Kadzim bin Ja’far Assegaff pernah menuturkan bahwa: “Nafsu itu diibaratkan seperti hewan tunggangan, jika sang pemilik mau melatih dan mendidiknya secara rutin, maka lama-kelamaan ia akan menjadi nurut kepadanya dan menjadi tunduk atas segala perintahnya.”

2.      Perbaikan Hati

Allah Swt. menciptakan hati manusia dan menjadikannya sebagai raja. Sedangkan seluruh anggota tubuh yang lain adalah sebagai bala tentaranya. Jika rajanya baik maka bala tentanya akan ikut baik, namun jika rajanya buruk maka bala tentaranya pun akan ikut buruk. Hati merupakan bagian dari tubuh manusia yang mempunyai peran yang sangat penting, terutama dalam urusan ibadah kepada Allah Swt. Hal itu karena setiap perbuatan manusia tidak bisa dinilai sebagai ibadah kecuali dengan adanya niat, sedangkan niat tempatnya di dalam hati. Selain itu, hati juga merupakan tempat berteduhnya keimanan serta ketakwaan.

Diantara sifat yang dimiliki oleh hati manusia adalah bisa dan mudah untuk berubah-ubah, kadang baik, kadang sakit, dan kadang buruk. Ketika hati baik, maka ia akan mudah untuk menerima kebaikan, ketika sakit, ia akan merasa berat dalam mengikuti kebaikan. Dan ketika buruk, maka ia akan sulit untuk menerima, mencintai, mengikuti dan mendahulukan kebenaran serta kebaikan.

Bagaimanakah cara untuk memperbaiki hati? Guru kami Habib Abdullah bin Muhammad Baharun kurang lebihnya pernah menuturkan bahwa: “Langkah awal dalam proses untuk memperbaiki hati kita adalah dengan belajar, mengenal dan mencari tahu tentang macam-macam penyakit hati. Karena barangsiapa yang bodoh terhadap sesuatu, maka suatu saat dia akan terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah mengetahui, barulah kita akan sadar dan mengakui bahwa hati kita sangatlah butuh untuk diobati.”

Di dalam kitab ar-Risalah al-Jami’ah, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi menyebutkan beberapa macam penyakit atau maksiat hati, di antaranya adalah ragu terhadap wujudnya Allah Sang Maha Pencipta, merasa aman dari murka dan siksaNya, berputus asa dari rahmatNya, cinta dunia, merasa lebih baik dari orang lain, riya’ atau ingin mendapatkan perhatian, pujian, dan kedudukan dari sesama makhluk, bangga terhadap diri dan atas amal yang telah dikerjakan, hasud, yaitu tidak senang dan merasa berat ketika orang lain mendapatkan nikmat, benci, dendam, dengki, tidak merasa menyesal atas perbuatan buruk dan maksiat yang telah diperbuat, tidak senang dan merasa berat dalam menjalankan perintah Allah Swt., berburuk sangka kepada Allah Swt. dan kepada para makhluk ciptaanNya, dan yang terakhir meremehkan segala sesuatu yang dimuliakan olehNya.

Demikian apa yang bisa kami tulis, semoga bermanfaat. Dan semoga dengan membaca tulisan ini, kita semua semakin sadar akan pentingnya membersihkan jiwa dan memperbaiki hati, sehingga dengan jiwa yang bersih serta hati yang suci, terciptalah masyarakat yang beradab dan berakhlak dalam lingkungan yang aman, makmur, tentram, serta penuh dengan rahmat Ilahi. Aamiin. (Ditulis oleh santri al-Ahqaff Mukalla Hadhramaut: Gus Muhammad Ali Musyaffa).

WANITA PENGHARAP SURGA DARI SUAMINYA

Written By MuslimMN on Senin, 18 November 2013 | 11.57




Dulu, ada seorang istri yang rajin mengaji dan berbuat taat pada suaminya. Seperti biasa ia setelah hadir dari pengajian langsung pulang ke rumah untuk menyediakan keperluan sang suami.

Disaat suaminya pulang kerja, sudah menjadi kebiasaannya untuk bertanya pada sang istri. Nama si istri itu adalah Fathimah. Suaminya bertanya: “Meh... Mameh... ngomong-ngomong tadi ngaji membahas bab apaan? Kayaknya Abang belum mendenger dari Mameh.”

Sambil mengantarkan teh hangat si istri menjawab: “Oh iya Bang, tadi Mameh ngaji kata guru: “Siapa orangnya yang punya suami terus bisa menyenangkan hati suaminya dengan menyuruhnya nikah lagi, dakhalal jannah (dijamin masuk surga) Bang.”

Oh… itu Meh,” sela si suami.

Iya Bang. Kalau bisa Abang nikah lagi deh, biar Mameh masuk surga gitu Bang.” Si istri sembari tanya penuh manja.

Dan langsung dijawab oleh si suami: “Dah-dah Meh… jangan yang engak-enggak ntar Mameh menyesal.”

Kagak Bang, nggak bakalan dah. Abang lekasan nikah deh,” sahut si istri.

Kejadian seperti itu terus berulang. Sampai pada satu hari sang suami pulang lebih awal dari biasanya sedang sang istri lagi berbelanja. Sepulang dari pasar sang istri sembari penuh tanya bertanya pada sang suami: “Tumben Bang pulangnya agak cepet?”

Dijawab: “Iya nih ada perlu sama Mameh.” Sembari mendekat kepada si istri suami melanjutkan pembicaraanya: “Gini nih Meh. Berhubung Mameh tiap Abang datang, Abang disuruh nikah, nah... sebenernya waktu Mameh nyuruh yang ke tujuh kali, ya udah abang nikah lagi.”

Ya Allah Bang Alhamdulillah, Abang dah nikah lagi...” sahut si istri tanda gembira.

Dan suaminya melanjutkan pembicaraannya: “Nah Meh, sekarang juga bini baru Abang sudah Abang bawa ke sini. Tuh ada di kamar.” Sambil menuntun istrinya menuju depan kamar.

“Tuh Meh dia lagi istirahat,” kata si suami.

“Alhamdulillah Bang,” kata si istri pada suaminya.

Lalu si istri bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan susu untuk suaminya, dan si istri tak sadar sedang diikuti oleh suaminya. Dengan wajah yang waswas dan keringat yang bercucuran bagai orang bingung, akhirnya si suami bertanya: “Lagi ngapain Meh?”

“Oh… ini Bang lagi mau bikin susu buat Abang sama bini baru Abang. Tapi susunya habis. Tapi nanti Mameh bakalan dadak memeras ke kandang sapi.”

Menjawab pertanyaan si suami dengan nada sedikit menahan tangis, dan lagi-lagi si istri tak sadar diikuti suaminya ke kandang sapi miliknya. Lalu sang istri mengambil ember dan siap memeras susu untuk suaminya dengan sedikit berkata: “Dah tumbun nih sapi, lama benar kagak keluar susunya. Sudah pegal nih tangan memerasnya, masih kagak ngocor juga nih susu.”

Si suami kembali bertanya: “Meh, lagi ngapain sih?”

“Ini nih Bang, lagi meres susu sapi,” sahut si istri sambil mengelap keringatnya.

Lalu suaminya mendekat sambil memberi tahu pada si istri: “Meh, Mameh... pantas tuh susu nggak keluar-keluar, mameh salah peras. Yang Mameh peras sapi jantan. Tuh sapi betinanya di kandang sebelah. Sini Abang peresin.”

Setelah ember penuh dengan susu, si istri langsung mengambilnya untuk dimasak. Lagi-lagi si istri tak merasa diikuti suaminya.

Terlihat kegelisahan dari wajah sang istri yang sedang mengaduk air susu. Sampai pada waktu ingin menuangkan gula, si suami dengan sigap mencegahnya:Meh... Mameh kenapa sih dari tadi salah melulu? Ini garam bukan gula, dari tadi salah terus gak seperti biasanya.”

Akhirnya si suami merasa tak tega juga. Lalu si istri diajak ke kamarnya. “Meh, sebenarnya Abang ini tahu rasa hati Mameh. Sinih-sinih…” sambil mengajak si istri ke tempat tidur yang di sana ada istri baru suaminya.

Pecah tangis si istri tak terbendung lagi, dan akhirnya si suami berterus terang: “Mameh sebenarnya abang ini belum nikah. Nih Mameh liat! Ini cuma kedebog pisang yang Abang pakein pakaian perempuan. Tuh kedebong pisang kan?”

Sambil berteriak si istri berkata: “Ya Allah Bang, saya kira Abang dah nikah lagi...”

Langsung saja disahuti oleh suaminya: “Fathimeh Meh... Abang mah pengin kawin lagi, tapi Abang menjaga perasaan Mameh. Tadi baru dites saja Mameh jadi salah buatannya, gimana kalau beneran...”

Si istri sambil malu-malu langsung mencium tangan suaminya: “Ih Abang tahu aja...”

Dan suaminya pun kembali menasehatinya: “Meh, kalau urusan ibadah yang bakalan Mameh masuk surga tanpa hisab yang Abang tahu bukan istri menyuruh nikah lagi kepada suaminya. Cuman ridha… keridhaan si suami yang akan membuat istri masuk ke surganya Alla Swt.”

(Oleh al-Ustadz Antoe Djibrel: Cuplikan ini diambil dari kaset dokumen tahun 1965, pidato Asadul Mimbar ad-Da’i Ilallah wa Rasulih wal Mujahid fi Sabilih al-Muhaddits al-Musnid al-Imam al-‘Arif Billah al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan).

Sya'roni As-Samfuriy, Cilangkap 19 Nopember 2013

BERBEDA TIDAK HARUS BERMUSUHAN, TAPI JADIKAN IA SEBUAH KEINDAHAN

Written By MuslimMN on Sabtu, 28 September 2013 | 13.48

"Kisah Buya Hamka (Tokoh Muhammadiyyah) Membaca Qunut Shubuh, dan KH. Idham Chalid (Tokoh NU) yang Tidak Membaca Qunut Shubuh"


Keakraban dan keharmonisan para tokoh pendahulu dari kalangan NU dan Muhammadiyyah sudah terjalin semenjak dahulu, hanya saja kita kurang mengetahui tentangnya. Walau berbeda organisasi hingga berbeda dalam tata cara amaliah ibadahnya, kedua organisasi itu mampu menunjukkan eksistensinya sehingga sekarang.

Kisah berikut begitu menginspirasi kita semua tentang arti sebuah perbedaan, persaudaraan dan penghormatan. Kisah yang dialami oleh dua tokoh utama Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah, KH. DR. Idham Chalid dengan Buya Hamka (Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah).

Syahdan, dulu KH. Idham Chalid (Pimpinan PBNU) pernah satu kapal dengan Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dengan tujuan yang sama menuju tanah suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak ada kisah istimewa dari kedua tokoh berbeda paham tersebut hingga waktu shalat Shubuh menjelang.

Di saat hendak melakukan shalat Shubuh berjamaah, KH. Idham Chalid dipersilakan maju untuk mengimami. Secara tiba-tiba, pada rakaat kedua, KH. Idham Chalid meninggalkan praktek Qunut Shubuh, padahal Qunut Shubuh bagi kalangan NU seperti suatu kewajiban. Semua makmun mengikutinya dengan patuh. Tak ada nada protes yang keluar walau ada yang mengganjal di hati.

Sehingga seusai salat Buya Hamka bertanya: “Mengapa Pak Kyai Idham Chalid tidak membaca Qunut.”

Jawab KH. Idham Chalid: “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Keesokan harinya, pada hari kedua, Buya Hamka yang giliran mengimami shalat Shubuh berjamaah. Ketika rakaat kedua, mendadak Buya Hamka mengangkat kedua tangannya, beliau membaca doa Qunut Shubuh yang panjang dan fasih. Padahal bagi kalangan Muhammadiyah Qunut Shubuh hampir tidak pernah diamalkan.

Seusai shalat, KH. Idham Chalid pun bertanya: “Mengapa Pak Hamka tadi membaca doa Qunut Shubuh saat mengimami salat?”

“Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah.

Akhirnya kedua ulama tersebut saling berpelukan mesra. Jamaah pun menjadi berkaca-kaca menyaksikan kejadian yang mengharukan, air mata tak dapat mereka tahan.

Lihatlah, betapa kebesaran jiwa mereka terbukti melalui kisah ini, betapa besar jiwa kedua pemimpin umat Islam Indonesia itu. Coba kita bandingkan dengan saat ini, dimana masing-masing pengikutnya merasa dirinya yang paling benar dan kadang memaksakan pendapatnya atas yang lain.

Di masa lalu, dan mungkin masih ada sampai sekarang, sering terjadi pertengkaran bahkan permusuhan hanya karena soal-soal kecil antara orang-orang NU dan orang-orang Muhammadiyah seperti soal Qunut, melafalkan niat shalat dengan ushalli, tahlilan, ziarah kubur, maulidan, manaqiban dan lainnya. Padahal itu semua sama sekali tidak menyangkut ihwal prinsip dalam akidah, tapi hanya menyangkut ihwal yang sunnah, mubah atau makruh, bukan terkait hal yang diharamkan.

(Kisah ini juga tertulis dalam buku “99 Detik Menunggang Harimau Lapar”, pada bab kedua tentang silaturahim dan persaudaraan).


Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 28 September 2013

HADITS “HUBBUL WATHAN MINAL IMAN”

Written By MuslimMN on Kamis, 22 Agustus 2013 | 11.15





HADITS “HUBBUL WATHAN MINAL IMAN

Dalam buku susunan Tim PP Muhammadiyyah Majlis Tarjih yang berjudul “Tanya Jawab Agama 4” halaman 24-25 dibahas pembahasan yang cukup menarik, dengan judul “Hubhul Wathan Minal Iman” Bukan Hadits. Berikut kami kutip langsung dari buku tersebut.

Tanya: “Dalam suatu majalah disebutkan suatu hadits yang artinya: “Bukan dari golongan kami orang yang berperang semata-mata atas dasar kebangsaan, dan bukan golongan kami yang matinya karena fanatik kebangsaannya.” (HR. Abu Dawud). Ada hadits lagi yang artinya: “Cinta tanah air itu sebagian dari iman.” Pertanyaannya, kedua hadits tadi bertentangan. Bagaimana penjelasannya dan bagaimana pula nilai keduanya?” (Mujibur Rahman, Kalipepe Rt. 02 Rw. 92 Kec. Yosowilangun Kab. Lumajang Jatim).

Jawab: “Hadits yang pertama yang anda tanyakan adalah benar riwayat Abu Dawud dari Jubair bin Muth’im, nilainya hasan. Maksud dari hadits tersebut bahwa perang yang  dimaksud dengan jihad fi sabilillah adalah perang yang menegakkan kebenaran, agar kalimat Allah dapat ditegakkan. Jadi orang yang melakukannya haruslah berniat semata-mata karena Allah memerintahkan untuk menegakkan kebenaran. Itu perang yang dibenarkan oleh Nabi kita. Selanjutnya kematian yang semata-mata didasarkan karena fanatik  kebangsaan  padahal bangsa itu berbuat aniaya atau tidak benar, bukanlah kematian yang dipandang syahid. Adapun haditsyang berbunyi: “Hubbul wathan dan seterusnya”, adalah  hadits  maudhu’ artinya hadits palsu, tidak  shahih. Memang dalam pengertian yang baik mempertahankan tanah air karena kebenaran adalah benar.

Dalam  hadits riwayat at-Tirmidzi dan lainnya dengan nilai shahih orang  mati  karena mempertahankan hartanya adalah termasuk syahid, maksudnya syahid akhirat, yakni mendapat pahala sebagaimana orang yang mati syahid. Termasuk juga dalam riwayat itu orang yang mati karena mempertahankan tanah air yang akan dirarnpas sebagaimana dalam  perang kemerdekaan kita di masa yang lampau.

Kesimpulannya, hadits yang pertama nilainya hasan, hadits yang kedua lemah. Sedang mati semata-mata karena fanatik kebangsaaan yang salah tidak termasuk syahid, tetapi kalau mati dalam mempertahankan tanah air, mempertahankan kebenaran yang diperintahkan Allah maka dapat dimasukkan pada mati syahid.”

Sedangkan dalam kitab Asna al-Mathalib hadits ini memang masuk dalam kategori maudhu’. Tapi menurut pentahqiqnya Syaikh Mahmud al-Arnauthi dan Imam as-Sakhawi dalam kitab Maqashid al-Hasanah mengatakan “tidak mengenal hadits ini” (لم اقف عليه), tapi makna haditsnya shahih.

KH. Ahmad Baso menuliskan bahwa dalam ilmu hadits dibedakan dua jenis penilaian periwayatan, riwayat bissanad dan riwayat bilmatan; ada yang shahih dua-duanya, ada yang salah satunya; misal riwayat bilmatan shahih meski tidak shahih bissanad. Hadits “Hubbul Wathan” ini masuk kategori terakhir itu. Dan ulama pendiri NU tidak mungkin mencomot ungkapan itu tanpa sadar akan perbedaan ini.

Rasulullah Saw. bersabda: “Hubbul wathan minal iman (Cinta tanah air itu bagian dari iman). Cinta adalah sumber dari rasa tanah air adalah sumber dari materi. Iman adalah sumber dari semua agama. Hadits di atas termaktub setidaknya di 6 kitab, yaitu:
1)      Dalil al-Falihin Syarh Riyadh ash-Shalihin jilid 1 halaman 26.
2)      Ad-Durar al-Muntasyirah hadits nomor 189.
3)      Al-Maqashid al-Hasanah hadits nomor 391.
4)      Kasyf al-Khafa hadits nomor 2011.
5)      Al-Asrar al-Marfu’ah hadits nomor 168.
6)      Tadzkirat al-Maudhu’ah jilid 2 halaman 128.

Dalam QS. al-Baqarah ayat 126, Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Nabi Ibrahim As. berdoa agar tanah airnya: a) Menjadi negeri yang aman sentosa, b) Penduduknya dilimpahi rizki, c) Penduduknya iman kepada Allah dan hari akhir.

Dalam ayat yang lain yang serupa dengan ayat di atas ada di QS. Ibrahim ayat 35:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”

Ini menunjukkan Nabi Ibrahim As. adalah seseorang yang begitu mendalam mencintai tanah airnya. Kemudian di dalam QS. an-Nahl ayat 123 kita diperintah mengikuti millah (jejak) NabiI brahim As.:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad Saw.): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Salah satu dari millah Nabi Ibrahim As. adalah mencintai tanah air. Mengapa harus mencintai tanah air? Dalam kitab Jami’ ash-Shaghir jilid 1 bab huruf Ta’ halaman 222, Rasulullah Saw. bersabda: “Jagalah dirimu dari bumi, maka sesungguhnya bumi itu adalah ibumu.”

Adalah perintah untuk menjaga diri sendiri dan ibu pertiwi (tanah air) dari tindakan-tindakan negatif dari diri sendiri maupun tindakan orang luar.

Al-Hafidz Ibn Hajar dalam Fath al-Bari juz 3 halaman 261, ketika mensyarahi hadits Imam Bukhari dari sahabat Anas Ra.:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا

“Adalah Rasulullah Saw. jika pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah mempercepat jalan untanya dan bila menunggang hewan lain beliau memacunya.”

Al-Hafidz Ibn Hajar berkata:

وفي الحديث دلالة على فضل المدينة ، وعلى مشروعية حب الوطن والحنين إليه

“Dalam hadits tersebut menunjukkan tentang keutamaanya kota Madinah, dan disyariatkannya cinta tanah air dan rindu kepadanya.”

Dalam QS. ar-Rum ayat 41, Allah Swt. berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Di dalam kitab tafsir ar-Ruh al-Bayan, diriwayatkan ketika turun surat al-Qashash ayat 85:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَىٰ مَعَادٍ

Saat itu Nabi Saw. dilanda rasa rindu yang sangat kepada kota Makkah, karena memang Makkah adalah kota kelahiran dan tempat tinggal beiau, negeri datuk-datuk dan kerabat-kerabat beliau serta kota datuk utama beliau yaitu Sayyidina Ibrahim As. Sehingga ayat tersebut merupakan satu kabar gembira dari Allah Swt. kepada Rasulullah Saw. dan suatu hal yang benar-benar akan direalisasikan oleh Allah Swt.

Sehingga seakan-akan Allah Swt. mengatakan: “Jangan kamu mengira wahai Muhammad bahwa nasibmu itu sama dengan ayah kamu Ibrahim yang hijrah dari Negerinya Haran satu negeri kafir menuju kota suci dan tidak akan pernah kembali lagi ke Haran. Jangan pula kamu mengira bahwa keadaanmu sama dengan ayah kamu Ismail yang hijrah dari negeri yang suci menuju negeri yang lebih suci.”

Kemudian penulis kitab tafsir ar-Ruh al-Bayan ini melanjutkan:

و في تفسير الاية اشارة ان حب الوطن من الايمان

“Dan dalam pengertian, kesimpulam serta tafsir dari ayat ini menunjukkan bahwa cinta terhadap negeri adalah sebagian dari iman.”

Hadits memang maudhu’ tapi maknanya shahih. Tapi bagaimana para salaf kita selalu mendengungkan ungkapan-ungkapan itu. Artinya kalau ditolak serta merta juga tidak bisa karena secara makna juga tepat. Oleh karena itu dalam kesimpulan selain menyebutkan derajatnya dalam kacamata musthalah hadits juga harus ditampilkan bahwa secara makna shahih.

Maka seprti redaksi dalam kitab Asna al-Mathalib setelah menyebutkan derajat hadistnya beliau juga menampilkan redaksi “tetapi maknanya shahih” supya sampai dalam kesimpulan jangan sampai ditolak serta merta.

Jadi seperti Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari nampak sering berrbicara dengan ungkapan “Hubbul wathan minal iman”. Bukan berarti beliau berdalil dan mengatakan bahwa itu adalah hadits. Akan tetapi beliau mengajak rakyat untuk mencintai negeri ini. Beliau menggunakan motto itu karena benar adanya secara makna.

Seperti halnya kedudukan motto-motto yang lain seperti hadits-hadits maudhu’ yang lain tapi maknanya shahih seperti “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad”, walaupun maudhu’ tapi maknanya benar bahwa jika menuntut ilmu itu tak akan pernah terikat dengan waktu, usia dan keadaan. Bukan berarti jika itu hadits dhaif kita dilarang untuk menyebutkannya seperti yang didengung-dengungkan saudara-saudara kita dari aliran Salafi-Wahabi.

Kemudian dalam kitab Dalil al-Falihin Syarh Riyadh ash-Shalihin jilid 1 halaman 27 disebutkan: “Maka semestinya bagi orang yang sempurna imannya hendak membuat kemakmuran akan tanah airnya dengan amal shaleh.”

Yang dimaksudkan dengan cinta tanah air itu adalah memakmurkan tanah airnya, memakmurkan dengan amal-amal shaleh atau amal-amal yang baik. Sedangkan tanah air manusia itu ada dua macam: 1) Tanah air jasmani, yaitu bumi tempat kita lahir dan berpijak, dan 2) Tanah air ruhani, yaitu tanah air akhirat, tempat dimana ruh kita berasal dan akan kembali nantinya.

Kedua tanah air kita ini harus dimakmurkan, baik tanah air ruhani maupun jasmani. Dimakmurkan dengan perbuatan-perbuatan baik. Sehingga nantinya kita bisa menuai buahnya:

رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلاَحِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wallahu al-Musta’an A’lam.

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 23 Agustus 2013

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template