Latest Post

Mbah Maimoen Zubair NU Sejak Sebelum Lahir

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 17 Juli 2015 | 10.26



KH. Abdullah Ubab, putra Mbah Maimoen, mengatakan bahwa ayahnya sudah menjadi NU semenjak sebelum lahir. Ketika Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari hendak pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah Nahdlatul Ulama, beliau sering mampir di kediaman kakek dan buyutnya KH. Maimoen Zubair, yakni Kyai Ahmad bin Syu’aib dan Kyai Syu’aib bin Abdurrazaq. Begitu juga dengan KH. Wahab Hasbullah yang sering mampir di Sarang untuk berkunjung di kediaman Kyai Zubair bin Dahlan, ayah dari Kyai Maimoen.

Dari keakraban hubungan leluhur KH. Maimoen Zubair dengan pendiri Nahdlatul Ulama ini, maka tidak mengherankan jika NU-nya Kyai Maimoen itu dikatakan sejak beliau belum dilahirkan. Sebab sebelum beliau lahir ada tiga tokoh NU, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri, telah berkenan meludahi air (nyuwuk) yang diambil oleh Kyai Ahmad yang nantinya akan diminumkan kepada ibunda Kyai Maimoen saat mengandung dirinya supaya mendapatkan keberkahan dari ketiga ulama tersebut.

Mbah Maimoen Zubair dan Nahdlatul Ulama

Berikut adalah ulasan yang disarikan dari ceramah KH. Maimoen Zubair pada acara Muskerwil PWNU di PP. Al-Anwar Sarang Rembang tahun 2013, tentang Nahdlatul Ulama.

“Organisasi Nahdlatul Ulama itu tidak bisa dipisahkan dengan organisasi Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathan. Peran Nahdlatul Wathan ini sangat vital sekali. Hal ini terbukti ketika di Negeri Haramain terjadi pergantian kekuasaan dari Daulah Asyraf (tahun 1924-an) yang kemudian diganti dengan Raja Abdul Aziz. Organisasi Nahdlatul Wathan ini mengirimkan delegasi kepada Sultan Abdul Aziz ke Makkah. Delegasi yang dikirim oleh Nahdlatul Wathan ini dinamakan dengan Komite Hijaz.

Dari nama Komite Hijaz ini, kemudian menjadi Muktamar yang diselenggarakan pada pada tanggal 31 Januari 1926 yang menghasilkan organisasi yang dinamakan dengan Nahdlatul Ulama dengan Rais Akbarnya KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Faqih Mas Kumambang sebagai wakilnya. Ulama-ulama yang ada di barisan Nahdlatul Ulama itu mempunyai peran besar untuk membangun bangsa dan negaranya dengan ilmu yang bersumber dari al-Quran.

Allah telah menurunkan al-Quran yang diibaratkan seperti air yang dapat menghasilkan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Adanya bermacam-macam ilmu pengetahuan ini disebabkan karena adanya seorang ulama yang diumpamakan seperti gunung-gunung yang warnanya ada yang Merah dan Putih. Kedua warna ini persis dengan warna bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Allah Swt. berfirman:

الَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفاً أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ * وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).” (QS. Fathir ayat 27-28).

Warna Merah melambangkan ‘Nasionalisme’ bangsa Indonesia yang penuh dengan keberanian, sedangkan Putih melambangkan ‘Keikhlasan’ dalam berjuang. Dari kedua warna ini, jiwa bangsa Indonesia itu harus diwarnai dengan Nasionalisme dan Keikhlasan.

Nikmat agung tersebut itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Nikmat Allah yang agung yang diperuntukan bagi bangsa Indonesia adalah nikmat yang berupa kemerdekaan. Merdeka yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 1945.

Angka-angka yang menandai kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah angka-angka keberuntungan. Angka 17 menunjukan jumlahnya rakaat shalat wajib yang dikerjakan oleh umat Islam dalam sehari semalam. Angka 17 terdiri dari 1+7. Jika kedua angka ini ditambahkan maka jumlahnya akan menjadi 8 (bulan ke delapan adalah bulan Agustus). Hal ini sesuai dengan jumlah surga yang disediakan Allah bagi hambaNya yang mau mengerjakan shalat.

Adapun angka 45 akhir dari 1945 itu merupakan angka yang sempurna. Sebab, 4+5=9. Angka Sembilan ini persis dengan jumlah bintang yang digunakan sebagai lambangnya organisasi Nahdlatul Ulama.

Selain rahasia di atas, jika lafal Nahdlatul Ulama dihitung dengan memakai standar Abajadun, maka jumlahnya adalah 17. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa antara NU dengan perjuangan bangsa Indonesia itu ada keterkaitan. Untuk makna dadung (tali yang melingkar) yang ada pada lambang Nahdlatul Ulama, itu menunjukan arti hubungan antara manusia dengan Tuhannya.” (Padhang-mbulan.org)


Cara Mbah Hasyim Asy’ari Mengajari Perbedaan Hari Raya

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 15 Juli 2015 | 13.32



KH. Maksum Ali Seblak Jombang adalah diantara ulama pesantren yang ahli falak (astronomi). Sudah menjadi kelaziman bagi ahli falak untuk melakukan puasa dan lebaran sesuai hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi atau melihat hilal)-nya sendiri.

Suatu hari sesuai dengan hasil perhitungannya, Kyai Maksum Ali memutuskan untuk ber-Idul Fitri sendiri yang ditandai dengan menabuh bedug bertalu-talu. Mendengar keriuhan itu, sang mertua, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari kaget. Setelah tahu duduk perkaranya, ia menegur: “Bagaimana ini, belum saatnya lebaran kok bedug-an duluan?”

Mendapat teguran dari mertuanya itu Kyai Maksum segera menjawab dengan hormat: “Kyai, Kyai, saya melaksanakan Idul Fitri sesuai dengan hasil hisab yang saya yakini ketepatannya.”

“Soal keyakinan, ya keyakinan, itu boleh dilaksanakan. Tetapi jangan woro-woro (diumumkan dalam bentuk tabuh bedug) mengajak tetangga segala,” gugat Mbah Hasyim, pendiri NU tersebut.

“Tetapi, bukankah pengetahuan ini harus di-ikhbar-kan (diwartakan), Romo?” tanya Kyai Maksum.

“Soal keyakinan itu hanya bisa dipakai untuk diri sendiri. Dan nabuh bedug itu artinya sudah mengajak, mengumumkan kepada masyarakat, itu bukan hakmu. Untuk mengumumkan kepastian Idul Fitri itu haknya pemerintah yang sah,” tutur Mbah Hasyim.

“Inggih (iya) Romo,” jawab Kyai Maksum setelah menyadari kekhilafannya.


(Sumber: KH. Ghazalie Masroerie, Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama).

7 Tahapan Islam Dari Era Nabi Hingga Kini (Tafsir QS. Al-Fath)

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Selasa, 14 Juli 2015 | 08.17



Dalam surat al-Fath ayat paling akhir disebutkan ‘Tahapan Islam’ sebagai berikut:

1.      Saat Nabi Muhammad lahir, tumbuh remaja, berkeluarga, kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul di Kota Makkah diisyaratkan dengan: محمد رسول الله

2.      Saat Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah dan bertempat di Madinah sehingga berkumpul antara sahabat Muhajirin dan Anshar diisyaratkan dengan: والذين معه

3.      Saat Kekhilafahan yang dimulai oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, dan diteruskan pada Kekhilafahan Bani Umayyah di Syam. Mereka menyebarluaskan Islam dan menghalau pasukan musuh yang menghadang langkah penyebaran Islam dan kelihatan kekuasaan di Syam diisyaratkan dalam: أشداء على الكفار
Ketiga Tahap ini diisyaratkan dalam kitab Taurat dan disebutkan oleh Ka’b al-Akhbar dan diriwayatkan kisahnya dalam kitab Maulid ad-Diba’i: مولده بمكة وهجرته بالمدينة وسلطانه بالشام

4.      Munculnya para imam ahli ijtihad, yang dimulai Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah para ahli ilmu yang mempunyai simbol Rahmat (belas kasih). Seperti halnya kisah Nabi Musa bertemu Nabi Hidhir dalam surat al-Kahfi juga disimbolkan dengan Rahmat: فوجدا عبدا من عبادنا آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما
Bahkan hadits pegangan ahli ilmu adalah hadits rahmat: الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء
Diisyaratkan dengan: رحماء بينهم

5.      Muncul para wali besar setelah Imam Ghozali (500 H) yaitu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Syaikh Abil Hasan asy-Syadzily, Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi dan yang lain. Mereka adalah orang dekatnya Allah karena banyak rukuk dan sujud mengharap anugerah dan ridha Allah. Diisyaratkan dengan: تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا

6.      Daulah Turki, Eropa Timur, Kroasia, Serbia dan Bosnia. Pada negara-negara ini hukum Islam tidak berjalan, akan tetapi yang kelihatan berupa shalat yang dilaksanakan di masjid-masjid. Diisyaratkan dengan: سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التورة

7.      Indonesia dan sekitarnya, setelah munculnya Israel. Proklamasi Indonesia ada setelah Perang Dunia II dan munculnya Israel. Disimbolkan dengan tanaman padi. Padi yang aslinya mempunyai anak tujuh tangkai dan setiap tangkai terdapat 100 biji. Induk padi memelihara anaknya, menirakati anaknya sehingga anaknya kuat dan mampu berdiri sendiri, tidak bergantung kepada induknya. Sehingga bisa berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Begitu juga bangsa Indonesia kalau sudah berdikari maka akan menjadi bangsa yang kuat, mandiri dan tidak bergantung kepada bangsa lain. Diisyaratkan dengan: ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطأه فآزره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيض بهم الكفار

(Sumber: Kanthongumur dari mau’idzah KH. Maimoen Zubair Sarang Rembang).


Istighfar Resep Manjur-Mujur (Kisah Syaikhona Kholil Bangkalan)



Suatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai bertanya kepada tamu yang pertama: “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus,” ucap tamu pertama.

Beberapa saat Kyai Kholil menjawab mantap: “Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar!”

Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua: “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan,” kata tamu kedua.

Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab: “Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar!”

Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya: “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu membayarnya,” ucap tamu yang ketiga dengan raut muka serius.

“Jika kamu ingin berhasil dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar!” pesan kyai kepada tamu yang terakhir.

Beberapa murid Syaikhona Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar.

Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu dengan dibacakan ayat al-Quran:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢(

 “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. Dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh ayat 10-12).

Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.

Doa Tawassul dengan Syaikhona Kholil

يَا شَيْخَنَا يَا خَلِيْل * وَيَا شِفَاءَ الْغَلِيْل
يَا طِبَّ كُلِّ عَلِيْل * فَدَاوِنِي بِالْوِصَالْ

“Wahai Syaikhona Kholil, wahai penyembuh lara. Wahai obat tiap yang sakit, obati aku dengan berjumpa.”

يَا عَابِدَ اللهِ يَا * مُعَلِّماً وَافِيَا
نَادَيْتُكُمْ رَاجِيَا * نَدٰى جَرَى كُلَّ حَالْ

“Wahai yang menghamba pada Allah, wahai guru yang menjanjikan. Kupaggil engkau seraya berharap pertolongan yang mengalir tiap saat.”

أَحْتَاجُ وُدَّكَ لِي * إِنِّي لَذُوْ وَجَلِ
لِلذَّنْبِ يَا خَجَلِي * إِنَّ الذُّنُوْبَ جِبَالْ

“Aku butuh cintamu untukku, sungguh aku takut akan dosa yang kutanggung. Oh betapa malu diriku, besar dosaku bagai gunung-gunung.”

اُدْعُوْا لِيَ اللهَ كَيْ * أَكُوْنَ فِي اللُّطْفِ حَيْ
وَالْعَفْوِ عَنْ كُلِّ شَيْ * مِنَ الْخَطَا وَالْضَلاَلْ

Berdoalah pada Allah untukku, agar aku hidup dalam kelembutanNya. Dan ampunan atas segala sesuatu yang berupa kesalahan dan kesesatan.”

أَنْتُمْ وَسِيْلَتُنَا * بِكُمْ فَضِيْلَتُنَا
تَضِيْقُ حِيْلَتُنَا * إِنْ تَبْخَلُوا بِالنَّوَال

“Engkau tawassul kami, sebab engkau kemuliaan kami. Rapuh keadaan kami, jika engkau tak memberikan pemberian.”

يَا شَيْخَنَا يَا وَلِي * غَوْثاً وَغَيْثاً جَلِي
عَوْناً لِـأَجْلِ الْعَلِي * دَوْماً بِدُوْنِ زَوَالْ

Wahai guru kami wahai wali Allah, tolong dan hujani jalan kami. Bantu kami karena Allah Yang Maha Tinggi, selamanya tanpa ada putus-putusnya.”

وُجُوْدُ جُوْدِكُمُ * وَجَاهُ وَجْهِكُمُ
لِيْ سُلَّمٌ سَالِمُ * لِفَضْلِ رَبِّ الْجَلاَل

Adanya kedermawananmu, dan pangkat luhur dirimu. Bagiku adalah tangga yang aman, menuju anugrah Allah Yang Maha Agung.”

عَسَى بِنَعْمَائِهِ * نُعْطٰى وَآلآئِهِ
نَحْظٰى وَجَدْوَائِهِ * نُهْدٰى فَيَصْفُوَ بَالْ

Semoga dengan nikmat-nikmatNya kami diberi, dan dengan karunia-karuniaNya kami memperoleh. Dan dengan kemurahan-kemurahanNya kami dihadiahi, kemudian sebab itu hati kami bersih nan shaleh.”

اَللهُ يَكْفِي الْعَنَا * عَنَّا وَيُدْنِي اْلمُنَى
مِنَّا وَيُبْقِي الْهَنَا * بِقُرْبِكُمْ يَا رِجَالْ

Semoga Allah mencukupkan kesusahan dari kami, dan mendekatkan harapan kepada kami. Dan melanggengkan kebahagiaan, dengan berdekat padamu wahai Rijalallah Waliyullah.”


(Sumber: Muhammad Ismail, Haul Syaikhona Kholil 27 Romadhan 1436H).

Inspirasi Sebutir Nasi, Kisah Habib Luthfi

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Senin, 06 Juli 2015 | 11.33


Dandanannya bergegas dibuat semenarik mungkin. Laiknya akan menghadapi seorang tamu dalam sebuah jamuan. Begitu makanan dihidangkan, tangannya siap menyuap dengan perlahan. Butir demi butir nasi dimasukkan ke dalam mulutnya penuh dengan perasaan.

Tatkala ada sebutir saja nasi yang jatuh, langsung diambilnya lalu dimakan tanpa sungkan. Jika tak memungkinkan, karena terlalu kotor, mungkin itu menjadi rizki bagi ayam yang harus ia beri makan. Sang murid kesayangan pun menjadi terheran-heran. Dengan sungkan, terpaksa murid itu (Habib Luthfi bin Yahya) mengutarakan: "Maaf Bah, kenapa setiap kali mau makan Abah selalu demikian?"

Sang guru diam sejenak, sembari tersenyum dijawab: "Kamu lihat di sebutir nasi ini? Ternyata untuk menjadi nasi tidak sesederhana ketika kita memakannya. Di dalamnya ada peluh keringat kerja keras para buruh tani, mulai dari yang membuat bibitnya, mencangkul tanahnya, membajak sawahnya, menanam benihnya, menyiraminya, merabuknya, merawatnya, memanennya, menjemurnya, menumbuknya, memasaknya, barulah menjadi sebutir nasi ini. Aku melakukan ini demi untuk menghormati mereka," pungkas Mbah Malik dengan air mata berlinangan.

Kita jadi mafhum, bagaimana Nabi Saw. dalam sabdanya dengan tegas berpesan: "Innama tunsharuna waturzaquna illa bidhu'afaikum", sungguh tidaklah kalian meraih pertolongan dan rizki terkecuali hanya karena para dhuafa (kaum lemah) diantara kalian. (Sya'roni As-Samfuriy, Cikarang).

Membincang Polemik Shalat Tarawih Cepat-Kilat (1)

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Minggu, 28 Juni 2015 | 21.59


Ada beberapa teman bertanya mengenai shalat Tarawih tercepat yang menyebar di media akhir-akhir ini. Bagaimana hukumnya ditinjau dari segi fiqh? Dalam membicarakan persoalan hukum, kita tidak bisa menghukumi suatu perkara kalau tidak melihat secara menyeluruh. Karena dalam hal ini (Tarawih cepat) saya tidak melihat secara lengkap, maka hanya dapat memberi batasan sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama.

Sebelumnya mohon maaf, karena bukan maqam (pangkat) saya untuk berbicara mengenai hukum shalat Tarawih tersebut. Dikarenakan beberapa kali ada pertanyaan yang sama, akhirnya (karena saya bukan seorang yang faqih) sebagai santri awam berusaha memuthala’ah kembali kitab fiqh.

Mengenai shalat tersebut, saya pribadi belum bisa menghukumi shalat tersebut sah tidaknya dari kacamata fiqh. Karena saya tidak mengetahui/mengikuti secara keseluruhan shalat tersebut. Yang ada dalam video hanya tampak beberapa gerakan cepat saja.

Dalam status ini, ada sedikit catatan yang menurut saya perlu diperhatikan bagi yang mengikuti shalat tersebut atau setidaknya pernah mengikuti shalat Tarawih tersebut. Sebenarnya memang tidak ada batasan waktu kecepatan dalam shalat. Dalam pandangan fiqh, selagi seseorang memenuhi syarat dan rukun shalat, berarti sah shalatnya. Namun terkadang yang perlu diperhatikan adalah proses dalam memenuhi rukun tersebut.

Mungkin beberapa hari sebelumnya telah beredar pembahasan dari sisi thuma’ninah. Masih debatable antara beberapa tokoh, ada yang menghukumi Tarawih tersebut sudah memenuhi thuma’ninah dan ada yang menyatakan belum memenuhi thuma’ninah.

Bagi pribadi saya, walaupun memang thuma’ninah juga bagian dari rukun shalat -yang apabila ditinggalkan tidak sah shalat-, saya hanya ingin bertanya dari segi rukun lainnya; yaitu terkait bacaan al-Fatihah. Apakah dalam shalat Tarawih tersebut telah memenuhi secara sempurna bacaan al-Fatihah, baik dari segi huruf atau tasydidnya tidak ada yang terlewatkan? Kalau iya (memenuhi bacaan al-Fatihah) berarti tidak ada masalah. Namun kalau tidak, maka dalam kacamata fiqh bermasalah.

Dalam kitab Fath al-Qarib disebutkan: “...barangsiapa yang gugur bacaan Fatihah satu huruf atau tasydid atau mengganti satu huruf dengan huruf lainnya -seperti ‘ain dengan alif- maka tidak sah bacaan dan shalatnya ketika dilakukan dengan sengaja, adapun ketika tidak sengaja, maka baginya harus mengulang bacaan tersebut.”

Jadi, apakah shalat tersebut telah memenuhi syarat dan rukun shalat? -hal ini tidak bisa dijawab kecuali yang mendirikannya-. Apabila dalam shalat Tarawih tersebut masih menjaga rukun-rukunnya seperti sempurna bacaan Fatihahnya dst. maka sah shalatnya dalam kacamata fiqh. Namun ketika tidak dapat memenuhi syarat dan rukun shalat, maka tidaklah sah shalat tersebut. Wallahu a’la wa a’lam. (Ust. Taufiq Zubaidi Khartoum, PCI NU Sudan).

Yang Lebih Dahsyat dari Setan

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 26 Juni 2015 | 06.36


Rasulullah Saw. pernah memberi informasi kepada kita ummatnya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan sudah sangat masyhur: “Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan diikat setan-setan.”

Tapi bagaimana kita lihat kenyataannya? Seakan-akan tidak ada pengaruhnya diikatnya setan di bulan Ramadhan dengan berjalannya terus jaring-jaring setan yang menimbulkan dosa dan kealpaan (yang dikhawatirkan akan menimbulkan malapetaka bagi ummat dan bangsa ini).

Ternyata ada yang lebih dahsyat dari setan, yaitu hawa nafsu. Sebagaimana diinformasikan oleh Rasulullah Saw.:

أَعْدٰى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِيْ بَيْنَ جَنْبَيْكَ

“Musuhmu yang paling berat adalah nafsumu yang ada di badanmu.” (HR. at-Tirmidzi).

النَّفْسُ أَخْبَثُ مِنْ سَبْعِيْنَ شَيْطَانًا

“Nafsu itu lebih jahat daripada 70 syetan.” (Al-Hadits)

Langkah-langkah Penyelamat

          Orang yang beriman kepada Allah mengetahui hidup di dunia satu kali dan sementara penuh dengan ujian pasti mendambakan selamat dunia akhirat, dan untuk mencapai keselamatan dunia akherat harus melakukan langkah membentengi diri dari jaringan-jaringan setan dan hawa nafsu. Langkah yang paling utama untuk menyelamatkan diri dari jaringan hawa nafsu adalah:

1. Mengenal Hawa Nafsu

          Para pakar tafsir dari berbagai ayat-ayat Allah menyebutkan sederet sifat-sifat hawa nafsu, namun sebagaimana dikatakan oleh al-Imam ash-Shawi Ra.: “Setiap manusia mempunyai satu nafsu dan nafsu mempunyai tiga sifat. Tiga sifat hawa nafsu tersebut yaitu;

a. Nafsul Ammarah Bissu’ (النفس الأمارة بالسوء). Hawa nafsu yang selalu mengajak kepada perbuatan yang jelek. Allah Swt. berfirman dalam QS. Yusuf ayat 3:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.”

Dalam menghadapi hawa nafsu yang seperti ini harus selalu berjuang memeranginya. Diriwayatkan suatu ketika Rasulullah Saw. bersama para sahabatnya pulang dari suatu peperangan, maka para sahabat di belakang Rasulullah Saw. berbisik-bisik: “Kita pulang dari peperangan yang cukup besar.”

Ketika Rasulullah Saw. mendengar, langsung Rasulullah Saw. mengatakan: “Kami pulang dari peperangan yang kecil menuju peperangan yang besar.”

Para sahabat terkejut, “perang yang seperti apa wahai Rasulullah?”

Rasulullah Saw. mengatakan: “Peperangan yang besar adalah peperangan melawan hawa nafsu”.

Jika sesorang selalu memerangi hawa nafsu yang jelek, maka Nafsul Ammarah Bissu’ akan berpindah sifat menjadi,

b. Nafsul Lawwamah  (النفس اللوامة). Nafsu yang menyesali kejelekan yang telah lalu dan mengajak menuju kebaikan. Allah berfirman dalam QS. al-Qiyamah ayat 2:

وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri.”

Menghadapi hawa nafsu yang seperti ini butuh perjuangan juga yaitu semangat mewujudkan ajakan yang menuju kebaikan. Jika ajakan-ajakan menuju kebaikan dari Nafsul Lawwamah terus berusaha diwujudkan, maka hawa nafsu akan berubah lagi menuju,

c. Nafsul Muthmainnah  (النفس المطمئنة). Allah berfirman dalam QS. al-Fajr ayat 27-30:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ، ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي، وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surgaKu.”

Jika seseorang yang telah berjuang memerangi Nafsul Ammarah Bissu’ dan berhasil merubah sifatnya menjadi Nafsul Lawwamah yang harus diperjuangkan untuk diikutinya, maka akan mendapatkan sukses besar keindahan dan kebahagiaan hidup dunia akhirat dengan Nafsul Muthmainnah, disaat harus berpindah dari alam dunia, saat-saat awal memasuki kehidupan akhirat mendapat panggilan langsung dari Allah Swt.

Doa Penunjang Usaha Merubah Sifat Hawa Nafsu untuk Mewujudkan Nafsul Muthmainnah

          Setelah berusaha secara fisik dengan berjuang sekuat tenaga, maka harus ada usaha sentuhan ruhani dengan memohon kepada Yang Mahabisa merubah segala-galanya. As-Sayyid Hasan Fad’aq Ra., Mufti asy-Syafi’iyah di Makkah al-Mukarramah, dalam kitabnya “Fawaid al-Hisan” meriwayatkan doa dari sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. yang sungguh istimewa untuk memohon kepada Allah Swt. dalam berusaha meraih Nafsul Muthmainnah.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ نَفْسِى نَفْسًا طَيِّبَةً مُطْمَئِنَّةً طَائِعَةً حَافِظَةً تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ وَتَرْضٰى بِقَضَائِكَ وَتَخْشَاكَ حَقَّ خَشْيَتِكَ لآ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ

“Ya Allah, jadikanlah nafsuku nafsu yang baik, yang tenang, yang taat, yang terjaga, yang percaya akan berjumpa denganMu, dan menerima dengan pemberianMu, rela dengan keputusanMu, takut kepadaMu dengan sebenar-benarnya, dan tidak ada kekuatan kecuali dari Allah, Dzat Yang Maha Luhur lagi Maha Agung.”

          Doa ini dibaca setiap selesai shalat satu kali dan bagi yang mempunyai sifat was-was diusahakan sewaktu-waktu dibaca 41 kali. (Oleh: Syaikh KH. Sholeh Basalamah Jatibarang Brebes)

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template