Latest Post

Awal Perjumpaan Habib Luthfi dengan Mbah Malik

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 27 Mei 2016 | 11.36



Pertamakali Maulana al-Habib Luthfi bin Yahya berjumpa dengan Mbah Malik saat Habib Luthfi masih mondok di Kiai Bajuri Kndramayu. Kiai Bajuri adalah sosok yang sangat luas ilmunya, khususnya dalam bidang fiqih. Setiapkali Kiai Bajuri menjawab permasalahan dalam ilmu fiqih, beliau menjelaskannya dengan empat madzhab sekaligus. Dan hampir tidak terlihat perbedaan antar empat madzhab setiap kali beliau menjelaskan permasalahan, karena saking luasnya ilmu dan kepandaian beliau dalam menempatkan persoalan fiqih.

Begitu juga maqam (derajat) kewaliian Kiai Bajuri sangat tinggi. Beliau adalah termasuk wali autad, dalam dunia tasawuf wali autad hanya ada 4 dalam 1 abad. Seminggu sebelum Kiai Bajuri wafat, kaki beliau tertusuk oleh paku hingga tembus ke atas. Dan beliau dawuh kepada Habib Luthfi: "Anu Yik (Habib), setiap orang dapat rizkinya berbeda-beda."

Sontak perkataan Kiai Bajuri itu membuat Habib Luthfi kaget, "Orang tertusuk paku kok dibilang rizki?"

"Tapi tidak usah khawatir Yik, nanti ada guru yang lebih hebat dari saya. Beliau adalah guru saya, namanya Mbah Malik. Tapi jangan kaget ya Yik, beliau orangnya berambut gondrong," kata Kiai Bajuri.

Setelah wafatnya Kiai Bajuri, Habib Luthfi langsung menuju ke tempat Mbah Malik di Kedung Paruk, Purwokerto. Sesampainya di sana Habib Luthfi disambut oleh Mbah Malik. Dengan tersenyum Mbah Malik bertanya kepada Habib Luthfi, "Bagaimana Yik dengan Kiai Bajuri?"

Lagi-lagi Habib Luthfi dibuat kaget, dalam hati berkata, "Kedua orang ini kapan ketemunya, dan kapan ngobrolnya?"

Selama Habib Luthfi bin Yahya mondok di Kedung Paruk beliau lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkhidmah kepada gurunya, Mbah Malik. Bahkan beliau bercerita ketika dulu sewaktu mondok di Kedung Paruk beliau tidak sempat mengkhatamkan kitab al-Ajurumiyah dan Safinah. Akan tetapi ketika menjelang Mbah Malik wafat, Habib Luthfi-lah yang diamanati oleh Mbah Malik untuk meneruskan kemursyidannya. (Sumber cerita: Ust. Syahudi/ نقشبندي ناظمي).

KISAH SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI, HABIB LUTHFI BIN YAHYA, DAN SUHARTO

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Kamis, 26 Mei 2016 | 23.55



Dalam salah satu rihlahnya ke Singapura, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki ditemui oleh seseorang. Setelah lama duduk bersimpuh di hadapan Sayyid Muhammad dan berbincang-bincang lama, sesaat kemudian orang tersebut berpamitan untuk berangkat ke Indonesia hendak menemui salah satu habib yang terkenal di Indonesia yakni Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan Jawa Tengah.

Kemudian Sayyid Muhammad bertanya kepada orang tersebut, "Kenapa kamu ingin menemui Habib Luthfi bin Yahya?”

"Beliau (Habib Luthfi bin Yahya ) adalah salah satu wali min auliyaillah yang terkenal. Saya ingin barokah dari beliau," jawabnya.

Sejenak kemudian Sayyid Muhammad berkata kepadanya: "Kenapa kamu repot-repot datang ke Indonesia? Sebentar lagi yang kamu maksudkan itu akan datang ke sini untuk menemui saya."

Tidak lama kemudian, benar juga apa yang dikatakan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Tiba-tiba Habib Luthfi bin Yahya muncul di hadapannya ketika orang tersebut hendak pergi.

Habib Luthfi bin Yahya lalu berkata kepada orang tersebut: "Selama masih ada Abuya Sayyid Muhammad ini, kamu tidak perlu repot-repot mendatangi saya. Beliau adalah al-‘allamah waliyullah dan seorang Quthub di masanya."

Melihat kejadian itu orang tersebut tercengang dan hanya tertunduk diam.


Sayyid Muhammad Tahu Suharto Akan Lengser 4 Tahun Sebelumnya

Pada musim haji tahun 1994, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri -menantu Habib Hasan Baharun Bangil- melaksanakan ibadah haji bersama dengan rombongan dari Indonesia. Sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar jamaah haji Indonesia, beliau juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke pondok Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki.

Sayyid Muhammad memanggil salah satu santrinya yang bernama Mustafa Husain al-Jufri untuk melakukan suatu tugas. Setelah menyelesaikan tugasnya ia dipanggil menghadap Abuya Sayyid Muhammad. Kemudian beliau bertanya kepada Habib Abdullah yang saat itu sedang duduk di hadapannya, "Apa kamu kenal dengan orang ini?" sambil manunjuk pada Habib Mustafa.

"Ya, Abuya. Dia Mustafa Husain al-Jufri," jawab Habib Abdullah al-Jufri.

Abuya melanjutkan, "Bagaimana kalian bisa saling kenal, sementara Mustafa semenjak kecil sudah di sini. Apakah ada hubungan keluarga?”

Habib Abdullah menjawab, "Kami baru saja berkenalan sesaat sebelum bertemu dengan Abuya."

"Oh, ya”, ucap Abuya. "Tahukah wahai Habib Abdullah, bahwa Mustafa adalah tiangnya pondok ini. Ia tidak akan meninggalkan pondok ini kecuali setelah Suharto (mantan Presiden Indonesia) dilengserkan."

Mereka berdua menanggapi perkataan Abuya itu dengan senyuman manis. Mereka berfikir mungkin Abuya sedang bercanda, karena sepertinya Suharto tidak mungkin dilengserkan. Namun di luar dugaan, sekitar 4 tahun kemudian ketika Habib Mustafa al-Jufri diizinkan pulang, waktu itu adalah saat dimana terjadi demo besar-besaran yang menuntut Suharto lengser.

Ketika Habib Mustafa telah berada di Indonesia dan bertemu dengan Habib Abdullah al-Jufri dalam suatu kesempatan, mereka memperbincangkan kembali apa yang pernah diucapkan oleh Abuya Sayyid Muhammad 4 tahun silam. "Sungguh perkataan Abuya itu tidak main-main. Subhanallah." Ungkap keduanya. (Dimoderasi dari kitab al-Injaz fi Karamat Fakhr al-Hijaz karya Habib Mustafa Husain al-Jufri).

Logo dan Masjid Ussisa Littaqwa Kedawung Karangdawa Margasari








28 DAWUH KH. MAIMOEN ZUBAIR

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Kamis, 19 Mei 2016 | 01.31


Berikut adalah sebagian dawuh Mbah Maimoen Zubair yang sempat saya kumpulkan sewaktu ngaji:

1. "Sampeyan sekolah model apapun, seng penting ojo ninggalno ngaji." (Anda sekolah yang bagaimanapun, terpenting jangan tinggalkan ngaji).

2. "Dzurriyatur Rasul kebanyakan tak terlihat, maka jangan menjelek-jelekkan orang Islam."

3. "Kulo gadah (punya) guru namine (namanya) KH. Abdullah bin Nuh. Beliau kalau mau mengajar harus muthalaah dahulu, padahal beliau sangat alim."

4. "Wong koq neng omah terus kaprahe ora sehat, mulane sekali-kali refreshing." (Umumnya orang yang kebanyakan di rumah itu tidak sehat, maka sesekali perlu refreshing).

5. "Kelompok yang menguasai dataran tinggi Golan maka akan menguasai dunia. Seperti yang terjadi saat ini, Yahudi sekarang yang menguasai dataran itu."

6. "Wong iku kudu duwe jiwa Nasionalis." (Orang itu harus punya jiwa Nasionalis).

7. "Jangan mengatakan negara Uni Soviet itu komunis. Pemerintahannya saja yang komunis. Karena dulu Uni Soviet itu terdiri dari banyak daerah seperti Uzbekistan, Turkmenistan, dll. yang mayoritas Muslim. Dan banyak ulama besar lahir di sana seperti Imam Bukhari, Imam Samarkandi, dll. Cuma Rusia yang non-Muslim."

8. "Setelah shalat Shubuh jangan tidur lagi, karena bisa menyebabkan faqir."

9. "Kalau kamu ditanya alamat oleh seseorang jawablah dengan alamat desamu, jangan kotamu dulu. Karena ulama-ulama itu bangga dengan desanya."

10. "Kiai iku kudu iso moco kitab kosongan." (Kiai itu harus bisa membaca kitab kuning gundul).

11. "Ora kudu pinter bercakap-cakap bahasa Arab. Seng kudu iku biso moco tulisan Arab lan paham." (Tidak harus pandai bercakap bahasa Arab. Yang harus adalah bisa membaca tulisan Arab dan paham).

12. "Syaikh Ihsan Jampes iku ngalim, iso ngarang kitab Sirajut Thalibin. Ngalime koyo ngono tapi ngomong-ngomong Arab gak patek lancar." (Syaikh Ihsan Dahlan Jampes Kediri itu alim, mampu mengarang kitab Siraj ath-Thalibin. Beliau yang begitu alimnya saja dalam percakapan bahasa Arab kurang begitu lancar).

13. "Wong wareg iku angel ngalime." (Orang yang kenyang itu sulit menjadi alim).

14. "Gusti Allah ojo mbok tuntun." (Allah Swt. jangan didikte).

15. "Wong seng apik iku wong seng ora berubah waktu seneng utowo susah." (Orang yang baik itu orang yang tidak berubah sewaktu suka ataupun susah).

16. "Al-Quran keterangane kadang dibolan-baleni. Mulane wong koq bosen karo al-Quran berarti lemah imane." (Al-Quran keterangannya terkadang diulang-ulang. Maka, jika ada orang yang bosan terhadap al-Quran pertanda lemah imannya).

17. خير الامور وسط # حب التناهي غلط . "Yang terbaik dalam segala sesuatu adalah yang moderat (pertengahan) # Sedangkan suka pada penghinaan adalah suatu kesalahan."

18. "Nek arep ngomong ojo waktu jengkel." (Kalau mau berbicara jangan di saat marah).

19. "Orang yang kamu ikuti itu kudu seng pinter agomo (harus yang pandai agama/seorang ulama).

20. "Kanjeng Nabi walaupun sebagian paman-pamane kafir lan mungsuhi (memusuhi), tetapi Beliau (Saw.) tetap bersilaturahim pada mereka."

21. "Kudu biso moco (harus bisa baca kitab) Fathul Mu'in lan Fathul Qarib."

22. "Biso parek karo Allah iku dengan bil ilmi wattaqwa." (Bisa dekat dengan Allah itu dengan ilmu dan ketakwaan).

23. "Ora do iso moco kitab koq arep gawe Khilafah." (Tidak bisa baca kitab kuning koq mau membuat/mendirikan Khilafah!).

24. "Ora usah sombong, seng kurikulum ben kurikulum, pancen wes wayahe. Seng penting Sampeyan ngaji." (Tidak usah sombong, yang memakai sistem kurikulum biarkan saja dipakai, memang sudah waktunya. Yang penting Anda ngaji).

25. "Wong-wong sholeh walaupun faqir mereka tetep nyaman seperti Syaikh Abil Hasan asy-Syadzili."

26. "Apik-apike ke-futuh iku melek dalu karo moco kitab kerono Allah Ta'ala." (Terbukanya hati (futuh) itu paling baiknya terjaga di malam hari sambil baca kitab dengan ikhlas).

27. "Omah nek dinggoni sholat sunnah jembar rizqine." (Rumah jika dipakai untuk shalat sunnah maka rizkinya luas).

28. "Duwe anak iku apike jumlahe sedengan, yo ora akeh yo ora sitik. Mergo Kanjeng Nabi pernah ditakoi sahabat tentang urip susah. Nabi jawabe: كثرت العيال وقلة المال. (Punya anak sebaiknya berjumlah yang cukup/sedang, tidak banyak juga tidak sedikit. Karena Nabi pernah ditanya oleh sahabat tentang hidup susah, maka jawab Nabi Saw.: "Banyak anak sedikit rizki/harta.").

(Diolah dari: fb Si Pitung Masakini).

HABIB LUTHFI BIN YAHYA YANG SAYA SAKSIKAN

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Senin, 02 Mei 2016 | 18.07


Tepat di bulan Ramadhan tahun kemarin, kami serombongan sowan menghadap Habib Luthfi bin Yahya di kediamannya di Pekalongan. Ba'da Isya kami serombongan berlima menghadap Habib Luthfi di ruangan yang biasa beliau menerima para tamu. Di sana sudah banyak tamu yang berjejer mengantri mengutarakan maksud dan keperluan.

Sebelum rombongan kami dipersilakan, Habib Luthfi lebih dulu mempersilakan salah seorang santri Lirboyo yang hendak meminta "tash-hih" (koreksi) atas buku karya ilmiah tamatannya. Perlu diketahui, di Pesantren Lirboyo setiap jenjang akhir (tamatan) aliyah ada tim kodifikasi yang ditugasi menyusun karya-karya ilmiah dan menerbitkannya menjadi sebuah buku. Per-tahunnya minimal ada 3 jilid besar karya baru yang berhasil ditelorkan para santri tamatan. Kembali ke cerita, santri itu lalu membuka buku yang hendak ditash-hih dan mengutarakan inti pembahasan pada Habib Luthfi.

Saya yang tepat di belakangnya tentu bisa melihat betul dan menyimak dengan jelas. Pertanyaan inti yang diutarakan santri itu, sehingga memerlukan koreksi Habib Luthfi, sudah barang tentu bukan pertanyaan ringan. "Kron...", panggil Abah Habib kepada Syukron Ma'mun Cirebon yang duduk persis di sampingku. "Ambilkan kitab ini... di rak sekian... lalu buka pada bab ini, halaman sekian dan baris ke sekian", lanjut Abah Habib menyebut dengan detail kitab yang dimaksud; judul, letak, bab, halaman dan barisnya, di luar kepala.

Dengan segera Kang Syukron mengambilkan kitab tersebut di perpustakaan pribadi milik Habib Luthfi, yang kemudian disuruh menyerahkannya pada si santri. Kitab itu lalu dibuka pada bab, halaman dan baris sesuai petunjuk Abah Habib di atas. "Tolong baca," pinta Habib Luthfi.

Si santri lalu membacakannya, Habib Luthfi yang menjelaskan kemudian. Sesekali keduanya seakan sedang adu argumen, hanya saja Habib Luthfi sangat mumpuni menjabarkannya dengan sangat detail di luar kepala. Kira-kira setengah jam kemudian baru selesai, tibalah rombongan kami yang dipersilakan menghadap.
Bisa jadi seperti inilah cerminan para ulama-kiai terdahulu. Mereka alim 'allamah, pun lama studi di Timur Tengah, tapi tidak suka obral dalil saat ceramah. Karena kalau mau obral dalil bukan di ceramah tempatnya, melainkan di LBM (Lajnah Bahtsul Masail). (Syaroni As-Samfuriy).

SEJARAH PERJUANGAN SAYYID AWUD BIN YAHYA (MURID KIAI SAMPARWADI) NGALIAN WONOSOBO

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Minggu, 24 April 2016 | 11.27



DAFTAR ISI
1. Kata Pengantar
2. Muqadimah
3. Silsilah/Nasab Sayyid Awud bin Husain bin Yahya
4. Sejarah Singkat Berdirinya Desa Ngalian
5. Sejarah Perjalanan Hidup Sayyid Awud Sampai ke Desa Ngalian
6. Narasumber Sejarah

Kata Pengantar

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته

Alhamdulillah wasyukrullillah, tim penyusun sampaikan kehadirat Allah Swt. karena dengan izin dan ridhaNya serta ijin dari pihak keluarga yang diwakili oleh Maulana Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan, akhirnya kami dapat menyusun buku "Sejarah Perjuangan Sayyid Awud bin Husain bin Yahya” yang makamnya ada di Desa Ngalian Kec. Wadaslintang Kab. Wonosobo.

Adapun maksud dan tujuan buku ini agar kalangan santri, keluarga santri dan masyarakat pada umumnya dapat membaca dan mengetahui sehingga dapat menteladani laku-lampahnya dalam keimanan, kesabaran, keistiqamahan dalam beribadah menuju mardhatillah, serta perjuanganya dalam membela agama dan negara, yang pada waktu itu tiada mengenal lelah dan pamrih hanya semata-mata mencari ridha Allah Swt.

Dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terimakasih khususnya kepada: Sayyid Maulana al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan, Simbah Kiai Abdurrokib Sesepuh dan Pengasuh PP Riyadhus Sholihin Ngalian Wadaslintang Wonosobo, Segenap sesepuh dan para ulama serta semua pihak yang telah memberikan sumbangsih fikiran dan informasi dengan tulus dan ikhlas demi lancarnya penyusunan buku ini.

Kami sangat menyadari bahwa penyusunan buku ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan kami. Maka dari itu kami sangat mengharapkan saran dan masukan dari semua pihak yang bersifat membangun demi perbaikan buku ini.

Semoga buku "Sejarah Perjuangan Sayyid Awud bin Husain bin Yahya” ini dapat memberikan kemanfaatan kepada kita semua khususnya bagi semua pengurus makam dan keluarganya serta masyarakat pada umumnya, di dunia hingga akhirat. Amin.

Wonosobo, 27 Shafar 1432/2 Februari 2011

Ketua Tim Penyusun
Abdulloh

Muqaddimah

الحمد لله الذى خلق السموات وِالارض وجعل من الظلمات الى النور
والصلاة والسّلام على سيد الانبياء والمرسلين سيدنا ومولانا وحببينا
محمّد رسول الله وعلى اله وصحبه اجمعن اما بعد

Segala puji hanya milik Allah Swt., yang telah menjalankan hambaNya dari perjalanan yang sangat gelap gulita (tidak menemukan cahaya kebenaran) menuju kepada cahaya yang sangat terang, jelas nan indah yaitu perjalanan para anbiya, auliya dan shalihin, serta memberikan petunjuk perjalaan ma’rifat kepada orang-orang yang dikehendaki. Dan kami bersaksi bahwa tiada yang wajib disembah dengan sebenarnya kecuali Allah Swt. dan kami bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. utusan Allah Swt.

Shalawat serta salam barakah kami haturkan keharibaan beliau, sanjungan para nabi dan para utusan, sanjungan para umat semuanya yaitu Nabi Besar Muhammad bin Abdullah Saw. Semoga Allah Swt. selalu memberikan pertolongan kepada kami dan para pembaca buku sejarah ini, untuk bisa mengambil hikmah yang tercantum dalam buku sejarah ini dan semoga mendapatkan syafa’at dari beliau Nabi Muhammad Saw.

Shalawat serta salam barakah Allah Swt. juga kami haturkan pula kepada para auliya khususnya kepangkuan “Sayyid Awud bin Husain bin Yahya". Mudah-mudahan kita semua mendapatkan pancaran nadzrah dari para beliau tersebut khususnya dari Sayyid Awud bin Husain bin Yahya.

Adapun tentang para wali Allah Swt. atau orang-orang yang menjadi pilihan Allah, di dalam al-Quran Allah berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (QS. Yunus ayat 62-63). Sudah jelas bagi kita untuk menghormati dan mengikuti apa yang para beliau kerjakan.

Dengan kehadiran buku ini semoga dapat mejadikan pegangan dalam melaksanakan tabarukan kepada Allah Swt., serta mencontoh perjalanan  auliya menuju mardhatillah. Dan sekali lagi tim panyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku ini. Dengan harapan semoga buku ini memberi manfaat di bidang agama, dunia dan akhirat. Amin.

Silsilah/Nasab Sayyid Awud bin Yahya

1. Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw.
2. Sayyidina Ali bin Abi Thalib wa Sayidatina Fathimah az-Zahra
3. Sayyidina Husain as-Sibthi
4. Sayyidina Ali Zainal Abidin
5. Sayyidina Muhammad al-Baqir
6. Sayyidina Ja’far ash-Shadiq
7. Sayyidina Ali al-Uraidhi
8. Sayyidina Muhammad an-Naqib
9. Sayyidina Isa an-Naqib
10. Sayyidina Ahmad al-Muhajir
11. Sayyidina Ubaidillah
12. Sayyidina Alwi
13. Sayyidina Ali Khali' Qasam
14. Sayyidina Muhammad Shahib Mirbath
15. Sayyidina Ali
16. Sayyidina Muhammad Faqih al-Muqaddam
17. Sayyidina Alwi
18. Sayyidina Ali
19. Sayyidina Muhammad Mauladawilah
20. Sayyidina Alwi an-Nasik
21. Sayyidina Ali al-'Inaz
22. Sayyidina Hasan al-Ahmar al-Wara'
23. Sayyidina Yahya
24. Sayyidina Hassan
25. Sayyidina Muhammad
26. Sayyidina Idrus
27. Sayyidina Hassan
28. Sayyidina Awud
29. Sayyidina Hassan
30. Sayyidina Awud
31. Sayyidina Husain
32. Sayyidina Awud (Ngalian).

Sejarah Berdirinya Desa Ngalian

Pada awalnya desa Ngalian pada abad 18 adalah adalah sebuah kawasan hutan belantara dan masuk dalam kawasan Kawedanan Kaliwiro yang pada waktu itu dikepalai seorang wedono yang bernama R.T. Selomanik utusan dari Mataram.

Setelah Mataram memperluas daerahnya sampai wilayah Wonosobo, setelah menjadi kecamatan maka desa Ngalian masuk dalam wilayah Kecamatan Wadaslintang. Dan setelah itu kawasan hutan belantara diganti dengan hutan pohon jati. Tapi setelah Belanda masuk maka oleh Belanda diganti dengan pohon kopi.

Di saat itulah maka Belanda dibantu pejabat Mataram membutuhkan banyak tenaga kerja tani untuk mengurusi hutan kopi. Maka dibangunlah sebuah gudang kopi yang bertempat di Desa Ngalian yang sampai saat ini bangunan gudang kopi masih ada.

Setelah banyaknya petani kopi, yang pada waktu itu kebanyakan dari orang Kebumen dan Purworejo dan sedikit dari Sepuran masuk, di wilayah Wadaslintang khususnya di Desa Ngalian maka dibutuhkan seorang pemimpin. Dan yang pertama memimpin adalah seorang gelondong bernama R. Ca Menggala dan diteruskan oleh anak keturunan beliau. Dan yang mejadi lurah atau demang pada waktu itu adalah Mbah Kiai Noyogati (Glondong Pekrok), tapi pada waktu masih bernama Desa Gumelam dan diganti lagi Desa Cagak Wesi. Dan setelah itu maka Desa Ngalian berdiri.

Waktu itu kurang lebih sekitar tahun 1900-an awal, diantara pendiri Desa Ngalian tokoh-tokohnya yaitu:
1. Mbah Kiai Ali Murtojo pendatang dari Sepuran, bertempat di Dukuh Blawong sampai wafat.
2. R. Wiro Atmojo dari Kebumen, beliau juga di Dukuh Blawong sampai wafat.
3. Mbah Kiai Ali Mashud dari Sigedong Sepuran, beliau menetap di Dukuh Larangan.
4. Mbah Mustofa dari Kebumen.
5. Mbah Ilham dari Kebumen, beliau menetap di Desa Ngadisono dan wafat di Ngadisono.
6. R. Singo Menggolo (Mbah KH. Hanafi) dari Keraton, menetap di Dukuh Gedongan dan dimakamkan di depan Masjid Gedongan.

Kemudian dibangunlah pasar pada tahun 1919, mulai saat itulah Pemerintahan Desa Ngalian mulai berjalan sampai saat ini. Para beliau ini adalah para pejuang yang mengikuti perjuangannya Pangeran Negoro Mbah Kiai Suryan dari Beduk Ngambal.

Diantara orang yang pernah menjadi lurah di Desa Ngalian dari dulu hingga sekarang adalah:
1. Mbah Kasan Murja
2. Mbah Noyogat (Glondong Pekrok bin Singo Menggolo)
3. Mbah Demang Larangan Maryo
4. Mbah Dullah Hadi
5. Mbah Joyo Sumargo
6. Bpk. Ikhsanudin
7. Bpk. Suwandi
8. Bpk. Samin
9. Bpk. Slamet Tiono
10. Bpk. Pramono

Demikianlah sekelumit sejarah Ngalian. Pasti banyak kekurangannya mohon maaf sebesar-besarnya dan mohon saran sertapetunjuk kepada semua pihak, terimakasih.

Asal-Muasal Sayyid Awud bin Husain bin Yahya

Sayyid Awud adalah keturunan dari Nabi Muhammad Saw. generasi ke-34. Dilahirkan di Desa Wirodeso dari seorang ibu yang bernama Raden Ajeng Ayu, putri bupati Batang yang bernama R.T. Jayeng Rono atau Bupati Wiroto. Beliau juga kakak dari bupati Batang yang bernama R.T. Sido Rawuh, ayah dari R. Muhammad Isa atau Mbah Batang yang wafat di Kec. Kaliwiro dan dimakamkan di Kaliwiro. Maka Sayyid Awud dengan R. Muhammad Isa adalah sepupu.

Ayah Sayyid Awud adalah Sayyid Syarif Husain Yahya, yang pada waktu itu beliau mengasuh salah satu pondok pesantren di Kec. Wirodeso serta wafat di Wirodeso dan dimakamkan di pemakaman umum Kec. Wirodeso. Sayyid Syarif Husain Yahya mempunyai beberapa putra yaitu:
1. Sayyid Alwi Syarif Bustaman yang terkenal dengan Ki Ageng Purworejo. Beliau wafat di Purworejo  dan dimakamkan di Desa Kedung Pucang Kec. Bener Kab. Purworejo.
2. Sayyid Awud atau Ndoro Sayyid yang ada di Desa Ngalian.
3. Sayyid Sholeh yang terkenal dengan sebutan R. Saleh, pelukis peta Indonesia dan terkenal sampai mancanegara. Beliau wafat di Jakarta  dan dimakamkan di Bogor sekitar tahun 1880.
4. Sayyid Ali Murtadho, beliau berjuang mengikuti jejak kakaknya yaitu Sayyid Awud. Beliau wafat di Ngalian dan dimakamkan di Desa Ngalian bersebelahan dengan makamnya Sayyid Awud.
5. Syarifah Ruqayah yang menjadi istri Habib Abdurrahman Jakarta bapak dari Habib Ali al-Habsyi Kwitang Jakarta.

Ketika Sayyid Awud masih kecil ia diasuh oleh kakaknya yaitu Sayyid Alwi Bustaman hingga dewasa. Setelah itu beliau mulai mencari ilmu pertama dari bapaknya sendiri, orang yang sangat alim dan bersahaja yaitu Sayyid Husain bin Yahya. Kemudian dilanjutkan belajar pada kakaknya yang sangat terkenal kealiman dan ketinggian ilmu agamnya serta pencetak pejuang-pejuang Pantai Selatan dan Utara, namanya sangat disegani, beliau adalah Sayyid Alwi Syarif Bustaman Kiai Agung Purworejo.

Beberapa diantara guru-guru Sayyid Awud yang lain adalah seorang satria yang gagah berani, yang terkenal pula tentang keluasan ilmunya dan wawasannya dan lagi seorang wali quthb yaitu Sayyid Hasan bin Thoha bin Yahya Semarang yang dikenal dengan Mbah Sayyid Kramat Jati atau Pangeran Sumodiningrat. Dan beliau juga mengambil ilmu kepada seorang yang sangat alim lagi banyak karomahnya yang bernama Sayyid Hasan bin Muhsin Al Ba'bud Purworejo yang bergelar Tumenggung Samparwadi.

Selanjutnya Sayyid Awud meneruskan mencari ilmu kepada seorang pembesar para wali yakni Sayyid Abdullah Bafaqih. Tidak lupa pula beliau medapatkan ilmu dari beberapa tokoh para kiai di zaman itu. Setelah beliau mendapatkan ilmu dan ijazah dalam mengajar dan berdakwah dan lain sebagainya, beliau tinggal di Pekalongan menggantikan ayahnya.

Sayyid Awud melakukan apa yang diperintahkan para gurunya untuk mengajar dan berdakwah. Beliau selalu tetap memegang teguh prinsip al-Quran dan as-Sunnah dan selalu mengikuti jejak para salafnya yang sangat shaleh. Beliau merupakan penganut Thariqah Syathariyah Alawiyah. Setelah itu beliau terpanggil untuk berjuang melepaskan dari belenggu penjajah dan kebodohan. Maka beliau bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro, Kiai Mojo, Ali Basyah Sentot Prawirodirjo dan tokoh yang lain.

Pertempuran demi pertempuran berjalan mengikuti Kanjeng Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro terrtangkap, maka setiap pengikutnya meneruskan perjuangannya dengan segala cara. Akan tetapi tetap dalam landasan tuntunan Baginda Nabi Muhammad Saw. Sayyid Awud tidak terlepas dicurigai bahkan dikejar-kejar dimanapun beliau berada. Disamping itu beliau cukup besar pengaruhnya di kalangan masyarakat dan sangat disegani. Maka beliau sering berpindah-pindah tempat dan berganti nama untuk mengelabuhi Belanda.

Yang terakhir beliau membuat pertahanan dan meneruskan untuk dakwah di suatu desa yang bernama Gumelam. Maka setelah kedatangan beliau Gumelam dikenal dengan "Ngalian" atau hijrah beliau di situ, berdakwah dan berjuang sampai akhir hayatnya.

Kedatangan Sayyid Awud ke desa itu dengan menyamar. Atas segala keberanian dan ilmu yang dimilikanya, maka diangkatlah beliau oleh bupati Wonosobo menjadi kepala mandor kopi. Beliau terkenal dengan kebijaksanaan dan kearifannya. Walaupun beliau sangat ditakuti oleh para jagoan atau para centeng dan warok akan tetapi beliau tidak manunjukan kesombongannya. Beliau terkenal sangat lemah lembut, yang mana tadinya situasi dan kondisi sangat rawan akhirnya timbul rasa aman dan nyaman karena tumbuhnya kesadaran. Itulah salah satu bentuk perjuangan beliau sampai wafat.

Ada suatu kejadian sangat menarik yang pada waktu itu Sayyid Awud atau Mbah Arjodwiryo diprotes oleh salah satu pejabat pemerintah. Tugas beliau sebagai mandor hutan kopi kenapa kerjanya hanya duduk di dalam rumah atau mushalla terus? Maka dijawab oleh beliau: "Insya Allah hutan kopi akan aman."

Dan ternyata Allah Swt. menolong. Disaat para pencuri dan gerombolan perampok mau memasuki hutan kopi dan gudang kopi meraka ketakutan dan lari tunggang-langgang dikarenakan mereka melihat harimau yang sangat besar. Dan itu diyakini sebagai ciri khas kewalian atau khadamnya Sayyid Awud bin Husain bin Yahya.

Dan kejadian itu berulangkali, walaupun mereka sudah berpindah-pindah tempat untuk memasuki kawasan hutan kopi. Sehingga akhirnya para pencuri tersebut sadar dan ada yang bertaubat. Sejak kisah itu menyebar ke seluruh wilayah Wadaslintang dan Kaliwiro maka situasi dan kondisi hutan kopi dan keadaaan masyarakat jadi tentram. Dan sejak saat itu juga penjajah Belanda tidak bisa memasuki wilayah Wadaslintang khususnya Ngalian.

Diantara nama Sayyid Awud ketika dalam penyamaran adalah Mbah Arjodwiryo, Raden Gondo Kusumo dan Mbah Kiai Wiroto. Belanda baru mengetahui dan mengerti bahwa nama samaran tersebut di atas sebenarnya adalah Sayyid Awud bin Husain bin Yahya, senopatinya Pangeran Diponegoro, setelah wafatnya beliau.

Setelah Sayyid Awud wafat jenazahnya dimakamkan di pemakaman khusus keluarga priyayi dan santri di Dusun Blawong Desa Ngalian, kurang lebih 400 m dari jalan raya pada tahun 1898 M. Dan yang sering menziarahi makam beliau pada waktu itu adalah keluarga dari bupati Kebumen yang bernama KRT. Istikno Sosro Busono, sekitar tahun 1950.

Hingga pada tahun 1973 ada seorang yang terkenal kewaliannya, yaitu Mbah Kiai Abu Na'im, ziarah ke makam Sayyid Awud. Pada waktu itu masyarakat belum mengetahui siapa Sayyid Awud. Mereka hanya mengetahui dengan sebutan Ndoro Sayyid. Maka Mbah Abu Na'im mengatakan bahwa Ndoro Sayyid adalah termasuk waliyullah.

Dikarenakan penduduk sekitar makam tidak mengetahui siapa Sayyid Awud atau makam di Blawong maka sejak dulu jarang yang menziarahi ke makam itu. Tapi setelah dijelaskan oleh ahli keluarganya, yaitu Maulana Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, pada waktu diadakan haul yang pertama pada akhir Jumadil Akhir tahun 1431 H. Siapa sebenarnya Ndoro Sayyid atau Sayyid Awud, mulai saat itu ramai dikunjungi para peziarah dari masyarakat sekitar Wadaslintang dan dari luar daerah dan sering dikunjungi oleh kalangan habaib dari Wonosobo, Pekalongan, Cirebon, dan sebagainya.

Maka dari itu tidak disangsikan lagi bahwa Sayyid Awud adalah pejuang Negara sekaligus keluarga dari Rasulullah Saw. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari sejarah ini.

Sejarah Perjalanan Sayyid Awud Sampai ke Desa Ngalian 

Kedatangan Sayyid Awud ke Desa Ngalian sebenarnya pada masa itu terjadi krisis ekonomi atau sulitnya mencari nafkah. Maka situasi hutan kopi pun menjadi tidak aman. Terjadilah pencurian dan perampokan hasil dari hutan kopi tersebut yang dilakukan oleh orang di sekitar Wadaslintang dan Kaliwiro. Sehingga pemerintah waktu itu merasa rugi dan menimbulkan kegelisahan.

Dan akhirnya pihak pemerintah pada waktu itu mengadakan musyawarah yang dihadiri oleh seluruh mandor hutan kopi dan seluruh gelondong kecamatan Kaliwiro dan Wadaslintang. Adapun tempat yang digunakan untuk musyawarah kala itu adalah di kantor Kawedanan Kaliwiro.

Disaat musyawarah berlangsung, diantara yang hadir ada yang mengusulkan untuk menghadirkan orang pintar atau sesepuh yang intinya supaya diusahakan secara batiniah agar hutan kopi tersebut menjadi aman. Dan ternyata usulan tersebut disetujui oleh peserta musyawarah pada waktu itu.

Secara kebetulaan diantara yang hadir ada yang mengenal seorang sesepuh yang bernama Mbah Arjodwiryo asli orang Pekalongan dan kemudian diminta untuk hadir di Kawedanan Kaliwiro Wadaslintang. Ternyata beliau menyetujui apa yang menjadi keinginan pemerintah. Tapi beliau mengajukan suatu permintaan, agar didirikan mushalla.

Pihak pemerintah waktu itu pun menyetujui. Sehingga berdirilah mushalla yang bertempat di pertigaan jalan menuju Desa Kalidadap. Setelah itu Mbah Arjodwiryo (Sayyid Awud) mengumumkan kepada seluruh masyarakat sekitar Wadaslintang dan Kaliwiro: "Barangsiapa mengambil kopi untuk kepentingan hidup, maka diperbolehkan. Tapi jika untuk hura-hura atau maksiat maka tidak boleh."

Setelah Sayyid Awud berada di Desa Ngalian, maka beliau bertempat tinggal di Dukuh Blawong. Tepatnya di kediaman Mbah Sinder Sepuh atau kepala mandor hutan kopi, yang lokasinya berada di bawah pasar Ngalian atau di bawah gudang kopi pada waktu itu.

Hari-hari berikutnya Sayyid Awud memanfaatkan waktunya dengan cara mengajar ngaji kepada penduduk sekitar Wadaslintang dan Kaliwro. Terkadang pula beliau berkeliling ke tempat terpencil seperti ke Desa Lamuk, Desa Lancar dan sebagainya.

Sayyid Awud berjuang di wilayah Wadaslintang Kaliwiro tidaklah sendirian melainkan dibantu oleh teman seperjuangannya, antara lain Sayyid Ali Murtadho (adik beliau), Mbah Kiai Muhammad Fadlil dari Sepuran yang kemudian menetap dan wafat tahun 1917 di Wadaslintang, Mbah Ali Murtojo, Mbah Kiai Muhammad Isa di Kaliwiro, dan masih banyak lagi.

Dan mulai saat itu agama Islam mulai kelihatan gerakannya. Pesantren-pesantren mulai didirikan meski masih berskala kecil. Karena situasi pada waktu itu belum stabil dan masih banyak terjadi pertempuran, akhirnya mereka ada yang gugur dalam medan perang, wafat di tempat pengungsian dan ada yang karena memang sudah tua, hingga masa kemerdekaan.

Demikianlah sejarah waliyullah Sayyid Awud bin Husain bin Yahya dalam melaksanakan ibadah dan perjuangan dalam membela agama dan negaranya sampai beliau wafat pada tahun 1898 M. Semoga kita bisa meneruskan perjuangannya maupun apa yang beliau cita-citakan. Amin.

Daftar Narasumber Sejarah:
1. Maulana Habib M. Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.
2. Simbah Kiai Abdurrokib.
3. Sesepuh Kecamatan Wadaslintang dan Kaliwiro.

Wonosobo, 27 Shafar 1432/02 Februari 2011

Ketua Tim Penyusun: Abdulloh

(Diedit ulang oleh: Sya'roni As-Samfuriy, Tegal 25 April 2016).
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template