Latest Post

Kisah Dahsyatnya Doa Wali Mastur Habib Syaikh Bin Yahya, Habib yang Mencintai Petani

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Sabtu, 24 September 2016 | 07.30



Dulu di negeri Yaman pernah terjadi fitnah (konflik) yang sangat dahsyat, antar qabail (suku) saling terlibat kontak senjata. Meskipun para ulama sudah turun tangan menasihati mereka untuk secepatnya melakukan gencatan senjata namun tampaknya mereka tidak menggubris nasehat para ulama tersebut. Para ulama khawatir jika konflik dibiarkan terus-menerus dan tidak secepatnya diredam maka bala’ (musibah) akan turun.

Akhirnya para ulama min ahlil kasyf (ulama-ulama yang waskito) baik dari kalangan habaib maupun non-habaib semuanya berkumpul di kota Tarim. Mereka mencaritahu siapa kiranya orang yang bisa meredam konflik yang terus berkepanjangan. Padahal waktu itu wali-wali besar seperti Syaikh Abu Bakar bin Salim masih hidup. Dan setelah mereka berhasil menemukan orangnya yaitu Habib Syaih bin Ahmad bin yahya, akhirnya para ulama Yaman sepakat menunjuk beliau sebagai taskitul fitan (peredam konflik). Konon Syaikh Abu Bakar bin Salim lah yang menunjuk beliau sebagai peredam konflik.

Habib Syaih bin Ahmad bin Yahya adalah “Wali Mastur”. Kewalian beliau tidak begitu terkenal seperti wali-wali yang lain. Wali Mastur artinya wali yang tersembunyi, namun bukan berarti tidak terlihat, beliau ada di tengah-tengah masyarakat tapi identitas kewaliannya tidak bisa diketahui oleh orang lain kecuali orang-orang tertentu.

Saat itu beliau tinggal di kampung Masileh, dan daerah yang sedang dilanda perang saudara ada di daerah Gharrat. Setelah mendapat tugas dari para ulama Yaman untuk meredam konflik beliau langsung bergegas menuju kampung Gharrat. Setibanya di sana beliau memohon kepada Allah agar perang saudara yang sedang menimpa negerinya segera berakhir.

Tak berapa lama kemudian langit yang sebelumnya diliputi oleh awan berwarna hitam pekat yang sangat gelap bercampur api berwarna merah yang siap meluluhlantakan negeri Yaman akhirnya lenyap seketika dan diiringi dengan turunnya hujan yang sangat deras. Dan berkat doa beliau semua suku yang terlibat kontak senjata pun akhirnya menyerah dan minta diatur sama Habib Syaikh bin Ahmad bin Yahya. Berkat doa beliau pula negeri yang dulunya dilanda perang saudara akhirnya mulai berangsur kondusif. Sehingga beliau terkenal sebagai juru damai dan Taskitul Fitan (peredam fitnah/konflik).


Sampai akhir hayatnya beliau menetap di kampung Gharrat dan dimakamkan di kampung tersebut. Catatan ini berdasarkan penuturan dari Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya saat Pengajian Ramadhan tahun 2016. Dua tahun sebelumnya, yakni di Pengajian Ramadhan tahun 2014, Maulana Habib Luthfi bin Yahya menuturkan bahwa al-Quthb al-Habib Syaikh bin Ahmad bin Yahya adalah wali yang mencintai petani. “Barangsiapa bertani, bertawassullah pada Habib Syaikh, insya Allah taninya hasil.” Tutur Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya. (Sumber: Ust. Syahudi, Ust. Syukron Ma’mun dan IBJ).

3 BUKU KARYA BARU SANTRI LIRBOYO

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Kamis, 15 September 2016 | 22.59



1.      MENGHAYATI AGAMA, ISLAM & ASWAJA
“Saya sebagai mutakahrrij (alumni) Lirboyo, sangat-sangat menghargai atas hasil kajian-kajian tersebut yang merupakan gambaran sebagai terang sinar pancaran hati yang berilmu menurut ajaran as-salaf ash-shalih min Ahlissunnah wal Jama’ah. Semoga hasil kajian ini dapat kiranya mengembalikan ummatan wahidah bittiba’i ma huwa ‘alaihi as-sawad al-a’dzam minhum (umat yang bersatu dengan mengikuti kelompok mayoritas dari golongan Ahlussunnah wal Jama’ah), dan semoga menjadi bukti bahwa Islam datang benar-benar bertujuan rahmatan lil ‘alamin. Serta menjadi sababul futuh dan dicatat sebagai amal shalih.” (KH. Maimoen Zubair – Pengasuh Pond. Pes. Al-Anwar Sarang Rembang).
_____________
Tebal : xxiv + 452 halaman; 15,5 x 23,5 cm
Harga: Rp. 65.000,- (dari harga asli 72.000,-)


2.      AKHLAKE KANG! WASILAH MENJADI INSAN MULIA
“Buku ini merupakan solusi umat dalam mengatasi moral yang sudah kelewat batas dan sebagai pondasi untuk menata ruang gerak kehidupan yang lebih baik, baik dalam tataran vertikal maupun horizontal. Buku ini adalah karya tulis yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di zaman sekarang. Kehadirannya menjadi oase penghilang dahaga bagi masyarakat yang sedikit menyimpang dari nilai-nilai uhur bangsa.” (KH. Miftahul Akhyar Surabaya - Wakil Ra’is Am PBNU).
_____________
Tebal : xxxii + 372 halaman; 15,5 x 23,5 cm
Harga: Rp. 60.000,- (dari harga asli Rp. 68.000,-)


3.      FIQIH KANGE; SUMBER RUJUKAN PROBLEMATIKA FIQIH
“Adalah hal yang tidak mudah bagi kita untuk menjawab dan menuntaskan problematika keagamaan dan berbagai masalah keseharian. Semakin hari permasalahan semakin kompleks, rumit dan ruwet seperti yang dapat kita saksikan dalam forum Bahtsul Masail. Kehadiran karya santri Lirboyo mutakharrijin 2016 yang berjudul ‘Fiqih Kange’, semoga menjadi pemacu kembali semangat umat Islam agar terus menggeluti khazanah kelimuan para ulama salaf.” (Habib Novel bin Muhammad Alaydrus – Pendiri dan Pimpinan Majelis Ar-Raudhah Solo).
____________
Tebal :
§  (Jilid 1) xxxviii + 462 halaman; 15,5 x 23,5 cm
§  (Jilid 2) cxxiv + 458 halaman; 15,5 x 23,5 cm
Harga: (2 Jilid) Rp. 135.000,- (Rp. 152.000,-)


PAKET HEMAT: 3 judul buku (4 jilid) hanya Rp. 250.000,- (dari harga asli Rp. 292.000,-). Harga belum termasuk ongkir. DIKIRIM LANGSUNG DARI PONDOK PESANTREN LIRBOYO KEDIRI. Hubungi kami di: 085774858808 (SMS), 083861381266 (WA), dan D0D2F3D5 (BB).

Batik Pekalongan dan Koko IBJ

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Sabtu, 10 September 2016 | 19.17


1. Batik Pekalongan IBJ

Hem Batik Ekslusive dan Hem Monochrome Eksklusive




- Harga: Rp. 70.000
- Bahan: Katun halus.
- Berat: 200 gram.
- Detail Ukuran: 
 M = Lebar dada: 48cm | Lebar bahu: 42cm | Panjang baju : 68cm | Panjang lengan :25cm.
 L = Lebar dada: 52cm | Lebar bahu: 47cm | Panjang baju: 71cm | Panjang lengan: 27cm.
 XL = Lebar dada: 57cm | Lebar bahu: 48cm | Panjang baju: 74cm | Panjang lengan: 27cm.



2. Koko IBJ

Koko Lengan Panjang
- Harga: Rp. 60.000
- Bahan: Katun minyak.
- Berat: 200 gram.
- Detail Ukuran: 
 M = Lebar dada: 48cm | Lebar bahu: 42cm | Panjang baju : 68cm | Panjang lengan :25cm.
 L = Lebar dada: 52cm | Lebar bahu: 47cm | Panjang baju: 71cm | Panjang lengan: 27cm.
 XL = Lebar dada: 57cm | Lebar bahu: 48cm | Panjang baju: 74cm | Panjang lengan: 27cm.


Koko Lengan Pendek
- Harga: Rp. 55.000
- Bahan: Katun minyak.
- Berat: 200 gram.
- Detail Ukuran: 
 M = Lebar dada: 48cm | Lebar bahu: 42cm | Panjang baju : 68cm | Panjang lengan :25cm.
 L = Lebar dada: 52cm | Lebar bahu: 47cm | Panjang baju: 71cm | Panjang lengan: 27cm.
 XL = Lebar dada: 57cm | Lebar bahu: 48cm | Panjang baju: 74cm | Panjang lengan: 27cm.


Pemesanan hubungi: 085774858808 (SMS), 083861381266 (WA), atau D0D2F3D5 (BB).

RAGAM SINGKATAN DAN MAKNA SANTRI


سنتري

A
سَافِقُ الخَيْرِ  
(Pelopor kebaikan).
نَاسِبُ العُلَمَاءِ
(Penerus para ulama).
تَارِكُ الْمَعَاصِى
(Meninggalkan kemaksiatan).
رِضَى اللهِ
(Ridha Allah).
اَلْيَقِيْنُ
(Keyakinan)

B
ستر العورة
(Menutup aurat)
نائب العلماء
(Generasi para ulama)
ترك المعاصي
(Meninggalkan kemaksiatan)
رئيس الأمة
(Pemimpin ummat)

C
ساتر العيوب والعورة
(Penutup aib dan aurat, yakni aib sendiri maupun orang lain).
أمين في الأمانة
(Bisa dipercaya dalam megemban amanat).
نافع العلم
(Bermanfaat ilmunya).
تَارك الْمعصية
(Meninggalkan kemaksiatan).
رِضَى بمشيئة اللهِ
(Ridha dengan apa yang diberikan Allah).
اخلاص في جميع الأفعال
(Ikhlas dalam setiap perbuatan).

D
سالك في العبادة
(Penempuh jalan ibadah).
نائب عن الشيوخ
(Wakil para guru).
تائب عن الذنوب
(Tobat dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan).
راغب في الخيرات
(Senang dalam hal kebaikan).
يقين على من أنعم الله معه
(Yakin Allah sudah memberikan jatah rizki tetapi wajib dibarengi dengan usaha).

E
ستر العورة
(Menutup aurat, lahir dan bathin).
نهى عن المنكر
(Mencegah kemunkaran).
توفيق
(Kuat menjaga diri).
رئيس الأمة
(Pemimpin ummat)
يأكل قليل
(Sedikit makan, tidak berlebihan).

F
سالك الى الأخرة
(Penempuh jalan akhirat).
نائب عن المشايخ
(Generasi para guru/ulama).
تَارك عن المعاصى
(Meninggalkan kemaksiatan).
راغب في الخيرات
(Senang dalam hal kebaikan).
يرجو السلامة في الدين والدنيا والأخرة

(Mengharapkan keselamatan agama, dunia dan akhirat).




SHALAWAT; PENGHANTAR MA’RIFAT DAN IBADAH YANG PASTI DITERIMA

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Kamis, 08 September 2016 | 17.53



Seorang murid pernah bertanya kepada Syaikh Ali Jum’ah, Mufti Mesir: “Syaikh, dalam buku Anda tertulis bahwa membaca shalawat adalah satu-satunya ibadah yang pasti diterima oleh Allah. Apakah benar demikian? Mohon penjelasannya.”

Syaikh Ali Jum’ah menjawab: “Ya benar, saya menulis demikian. Bershalawat Nabi adalah amalan yang pasti diterima oleh Allah. Jika kamu bersedekah, dan kamu ingin dipuji, maka sedekahmu sia-sia. Begitu pula jika kamu shalat karena ingin diperhatikan manusia, shalatmu tanpa pahala. Tapi jika kamu bershalawat, walaupun kamu riya, kamu tetap akan mendapatkan pahala, karena shalawat berhubungan dengan Nabi Allah yang agung, yaitu Nabi Muhammad Saw.”

Shalawat, Satu-satunya Ibadah yang Pasti Diterima

Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah, Syaikh Abdul Wahab asy-Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Imam asy-Syadzili berkata:

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ؟ قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً

“Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad Saw. Aku bertanya, “Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?” Nabi Saw. menjawab, “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca.”

Allah Swt. memerintahkan para malaikatNya untuk senantiasa memohonkan doa kebaikan dan ampunan bagi orang tersebut (yang membaca shalawat). Terlebih jika ia membaca dengan hati yang hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya. Bahkan, ada sebuah keterangan apabila kita berdoa tidak dimulai dengan memuja Allah Swt., tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا. ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.

Baginda Nabi Saw. mendengar ada seseorang yang sedang berdoa tapi tidak dibuka dengan memuja Allah Swt. dan tanpa membaca shalawat, Nabi Saw. bersabda, “Orang ini terburu-buru.” Kemudian Nabi mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati, “Jika diantara kalian berdoa, maka harus diberi pujian kepada Allah Swt., membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Apalagi jika bertepatan dengan hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat di dalamnya. Karena Nabi Saw. bersabda dalam sebuah hadits:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود.

“Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepadaku.”

Ulama sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah Saw. Ada penyair yang berkata:

أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ  #  فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ
أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا # اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Senantiasalah membaca shalawat, sebab shalawat pasti diterima. Adapun amal yang lain mungkin saja diterima atau ditolak, kecuali shalawat pasti diterima.”

Shalawat Penghantar Ma’rifat

واعلموا أن العلماء إتفقوا على وجوب الصلة والسلام على النبي صلى الله عليه وسلم , ثم اختلفوا في تعيين الواجب فعند مالك تجب الصلوة والسلام في العمر مرة وعند الشافعي تجب في التشهد الأخير من كل فرض, وعند غيرهما تجب في كل مجلس مرة وقيل تجب عند ذكره وقيل بجب الإكثار منها من غير تقييد بعدد, وبالجملة فالصلاة على النبي أمرها عظيم وفضلها جسيم. وهي أفضل الطاعات وأجل القربات حتى قال بعض ال عارفين إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ لأن الشيخ والسند فيها صاحبها ولاأنها تعرض عليه ويصلي على المصلي بخلاف غيرها من الأذكار فلا بد فبها من الشيخ الارف و لا دخلها الشيطان ولم ينتفع صاحبها بها.

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya para ulama telah sepakat atas diwajibkannya membaca shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad Saw. Kemudian mereka berselisih pendapat mengenai kapan kewajiban ini harus dilakukan. Menurut Imam Malik, cukup satu kali dalam seumur hidup. Menurut Imam Syafi’I, wajib dibaca pada waktu tasyahud akhir dalam setiap shalat fardhu. Menurut ulama lainnya, wajib dibaca satu kali dalam setiap majelis. Ada juga ulama yang berpendapat wajib membaca shalawat setiap kali mendengar nama Nabi Saw. disebut. Dan ada juga yang mengatakan untuk memperbanyak shalawat tanpa dibatasi bilangan tertentu. Secara umum, membaca shalawat kepada Nabi Saw. merupakan hal yang sangat agung dan keutamaannya sangat banyak.”

“Membaca shalawat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum ‘arifin mengatakan: “Sesungguhnya shalawat itu bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat billah meskipun tanpa guru spiritual (mursyid). Karena guru dan sanadnya langsung melalui Nabi Saw.” Ingat, setiap shalawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada Nabi Saw. dan beliau Saw. membalasnya dengan doa serupa. Hal ini berbeda dengan dzikir-dzikir (selain shalawat) yang harus melalui guru spiritual (mursyid), yang sudah mencapai maqam ma’rifat. Jika tidak demikian maka akan dimasuki setan dan pengamalnya tidak akan mendapat manfaat apapun.” (Hasiyah ash-Shawi ‘ala al-Jalalain juz 3 hlm. 287).

Abdurrahman bin Samrah meriwayatkan sebuah hadits yang dituturkan oleh Sa’id bin al-Musayyab, bahwa Nabi Saw bersabda, “Kulihat seorang dari umatku berjalan di atas shirath, kadang merangkak-rangkak dan kadang bergelantung. Kemudian datanglah shalawat (yang diucapkannya dahulu ketika hidup di dunia) lalu membangunkannya hingga dapat berdiri dan berjalan dengan kakinya, lalu ia diselamatkan oleh shalawatnya.” (HR. Abu Musa al-Madini dalam at-Targhib wa at-Tarhib, hadits hasan jiddan).

Wasiat-Nasehat Para Ulama tentang Shalawat

Imam Abul Hasan asy-Syadzilli pernah berkata, “Di akhir zaman tidak ada amalan yang lebih baik daripada bershalawat kepada Rasulullah Saw.”

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan, “Tidak tertolak shalawat atas Nabi Saw.”

Al-Hafidz asy-Syaraji berkata, “Semua dzikir tidak diterima kecuali dengan khusyuk dan hadir hatinya kecuali shalawat, maka akan diterima meskipun tanpa khusyuk dan hadirnya hati. Karena itu Abul Hasan al-Bakri berpesan: “Seharusnya tiap hari seseorang jangan kurang membaca shalawat dari 500 kali.”

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani pernah berwasiat, “Dengan membaca shalawat, seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Swt., memperoleh kebahagiaan dan restu Allah Swt., berkah-berkah yang dapat dipetik, doa-doa yang terkabulkan, bahkan dia bisa naik ke tingkatan derajat yang lebih tinggi, serta mampu mengobati penyakit hati dan diampuni dosa-dosa besarnya.”

Adapun Syaikh Ibn Athaillah as-Sakandari berkata, “Siapa yang (merasa) tidak memiliki amalan shalat dan puasa yang banyak untuk menghadap Allah di hari kiamat, maka hendaknya ia perbanyak membaca shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad Saw.”

Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menyebutkan bahwasanya para ulama berkata, “Satu shalawat dari Allah cukup untuk seorang hamba, dunia dan akhirat.”

As-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki pernah berpesan, “Jangan tinggalkan membaca shalawat kepada Rasulullah Saw. Karena bacaan shalawat itu merupakan kunci segala kebaikan dan pintu segala keutamaan untuk agama, dunia dan akhirat.”


Al-Habib Umar bin Hafidz mengatakan, “Sesungguhnya apabila engkau melakukan ketaatan kepada Allah seumur hidupmu, bahkan Allah berikan di atas umurmu adalah umurnya seluruh manusia untuk digunakan dalam ketaatan kepadaNya, maka sesungguhnya lebih hebat satu shalawat dari Allah Swt.” (*Ibj)

TIMUN DALAM AL-QURAN DAN HADITS

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 07 September 2016 | 10.15



Timun atau mentimun sebagai sayuran dan pelengkap makanan, ternyata banyak manfaat yang dikandung oleh sayuran ini, baik untuk kecantikan maupun kesehatan. Di zaman Rasulullah Saw., sayuran ini sudah dipakai sebagai salah satu bahan untuk kesehatan. Terdapat sebuah anjuran dikatakan bahwa:

كلوا القثاء وأحبوا القثاء لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم يأكله ويحبه

“Makan dan sukailah timun, karena Rasulullah Saw. memakan dan menyukainya.”

Dalam al-Quran, timun disinggung dalam surat al-Baqarah ayat 61:

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَن نَّصْبِرَ عَلَىَ طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنبِتُ الأَرْضُ مِن بَقْلِهَا وَقِثَّآئِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَ

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw. sering memakan timun dengan kombinasi kurma segar untuk menjaga kesehatan.

كَانَ يَأْكُلُ الْقَثَاءَ بِالرُّطَبِ

“Dari Aisyah Ra. bahwasanya Rasulullah Saw. sering makan timun dicampur dengan kurma basah.” (HR. Bukhari dan at-Tirmidzi).

Selain untuk menjaga kesehatan, kombinasi keduanya juga untuk meningkatkan berat badan dan mengubah bentuk tubuh yang semula kurus ceking menjadi lebih berisi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Aisyah Ra. ketika hendak dipertemukan dengan Rasulullah Saw., rutin mengkonsumsi timun dan kurma basah untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Konon, ketika itu tubuh Aisyah kecil dan kurus. Sayyidah Aisyah berkata:

أَرَادَتْ أُمِّي أَنْ تُسَمِّنَنِي لِدُخُولِي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقْبَلْ عَلَيْهَا بِشَيْءٍ مِمَّا تُرِيدُ حَتَّى أَطْعَمَتْنِي الْقِثَّاءَ بِالرُّطَبِ فَسَمِنْتُ عَلَيْهِ كَأَحْسَنِ السَّمْنِ

“Ibu mengobatiku agar kelihatan gemuk saat dia hendak mempertemukanku dengan Rasulullah, dan usaha itu tidak membuahkan hasil sehingga aku memakan timun dengan kurma basah. Kemudian aku menjadi gemuk dengan bentuk yang ideal.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Selain itu, mengkonsumsi kurma dan mentimun bisa memperbesar ukuran payudara bagi kaum wanita. Dalam ilmu pengobatan Islam, sayur yang memiliki nama ilmiah cucumis sativus ini dikenal dengan nama qitsa’ atau khiyar. Hasil penelitian modern menyebutkan bahwa mentimun mengandung 0,65% protein, 0,1% lemak, dan 2,2% karbohidrat. Selain itu, juga mengandung zat bermanfaat lain, seperti kalsium, zat besi, magnesium, fosforus, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin C.

Beberapa khasiat lain dari mentimun juga dibahas dalam beberapa hadits Nabi maupun dalam al-Quran yang pada dasarnya berkhasiat untuk kesehatan, kebugaran dan kecantikan. Riset kesehatan menemukan kandungan air yang tinggi hingga 90% membuat timun memiliki efek memperlancar buang air kecil, membantu menghilangkan dan menetralkan toksin (racun), serta membantu menggelontorkan bakteri-bakteri disepanjang usus dan dinding kandung kemih.

Kandungan air dan mineral kalium dalam timun juga mengeluarkan kelebihan asam urat dan sisa metabolisme melalui ginjal.Cara penyajiannya yaitu dengan makan buah segar setiap hari kurang lebih 400 gr sehari dua kali. Selain memakannya secara langsung juga dapat disajikan dalam bentuk lain yaitu dengan cara dijuz atau diparut. Jus timun bersifat mendinginkan badan dan menurunkan panas saat demam. Juga menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi, serta menyehatkan saluran pencernaan.

Ia juga merupakan peluruh kencing yang baik. Sementara irisan timun yang dikompreskan pada kelopak mata saat terpejam dapat menghilangkan noda hitam pada kantung mata akibat kurang tidur. Masker wajah dengan timun yang dihaluskan merupakan ramuan alami untuk meremajakan sel-sel kulit wajah agar tetap awet muda dan mencegah keriput. Sementara bila secara teratur dioleskan/dibalurkan pada pangkal paha atau bagian pantat, bisa berkhasiat menghilangkan selulit.


Jus timun juga bisa sebagai obat menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Jus timun mengandung hormon yang dibutuhkan oleh sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin. Para peneliti juga menemukan bahwa beberapa senyawa yang disebut sterol dalam mentimun dapat membantu mengurangi kadar kolesterol. (Ibj)

OBAT MALAS BERIBADAH

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Minggu, 04 September 2016 | 08.26



Asy-Syaikh al-Munawar Abdul Kabir bin Abdullah Bahmid pernah bertanya: “Apakah obat bagi orang yang merasa berat untuk melakukan kebaikan dan cenderung memperturutkan hawa nafsu, meskipun ia mencintai kebaikan serta para pelakunya dan membenci kejahatan serta para pelakunya?”

Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad Ra. Menjawab: “Malas beribadah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu dapat disebabkan oleh 4 hal:
1.      Kebodohan, mengatasinya dengan mencari ilmu yang bermanfaat.
2.      Lemah iman, mengobatinya dengan bertafakkur mengenai kekuasaan Allah di langit dan bumi serta tekun beramal saleh.
3.      Panjang angan-angan[1], mengobatinya dengan mengingat mati dan menyadari bahwa kematian dapat datang setiap saat.
4.      Makan sesuatu yang syubhat, cara mengatasinya dengan bersikap wara’ (menjaga diri dari kesyubhatan) dan sedikit makan.

Siapapun yang berhasil menghilangkan penyakit-penyakit tersebut dengan cara di atas, maka ia tidak akan mudah merasa bosan dalam beribadah dan beramal saleh di setiap waktu. Dan ia tidak akan memperturutkan hawa nafsu serta tidak terlalu mengejar kenikmatan duniawi.

Janganlah mengharapkan kenikmatan ibadah pada tahap awal perjuangan, sebab hal itu tidak mungkin dapat dicapai sebelum seseorang benar-benar bermujahadah. Begitulah sunnatullah:

وَ لَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً

“Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan perubahan pada sunnatullah.” (QS. al-Ahzab ayat 62).

Tahap awal perjuangan adalah menjauhi hal-hal yang diharamkan syariat, mengendalikan hawa nafsu dan memaksanya untuk taat kepada Allah. Semua ini akan terasa berat dan sulit.[2] Apabila Allah Swt. telah mengakui kesungguhan hatinya, ketulusan niatnya untuk menyucikan jiwa, dan kelurusan budinya, maka saat itulah Allah akan melindungi orang itu dan meliputinya dengan luthf-Nya yang tersembunyi. Sehingga dalam beribadah dan beramal, ia dapat merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tiada tara, kenikmatan yang tidak akan membuatnya lalai lagi dari Allah. Sebaliknya, ia akan merasakan kepedihan yang dalam ketika bermaksiat[3]; ia tidak akan tergoda dan tertipu oleh nafsunya. Allah mewahyukan:

ذلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشآءُ

“Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.”  (QS. al-Jumu‘ah ayat 4).

وَ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَناَ

“Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan Kami), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. al-Ankabut ayat 69).

وَ تَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَآئِيْلَ بِمَا صَبَرُوْا

“Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.”  (QS. al-A’raf ayat 137).

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِيْ اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.” (QS. an-Nur ayat 55).

(Sumber: An-Nafais al-‘Ulwiyyah fi al-Masail ash-Shufiyyah hal.23-24 karya al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Disarikan dari: kyaijawab.com. Download kitabnya di sini: http://maktabahkita.blogspot.co.id/2015/12/blog-post_6.html).




[1] Panjang angan-angan: menunda-nunda tobat karena merasa umurnya masih panjang, terus-menerus terbuai dalam angan-angan meraih kemewahan dunia.
[2] Panjang angan-angan: menunda-nunda tobat karena merasa umurnya masih panjang, terus-menerus terbuai dalam angan-angan meraih kemewahan dunia. (Al-Habîb ‘Abdullâh al-Haddâd, Risâlah Âdâb Sulûk al-Murîd hal. 34)
[3] Orang yang memiliki nafsu muthmainnah merasa heran ketika melihat sebagian manusia durhaka kepada Allâh Swt., padahal dalam ketaatan terdapat perasaan nyaman, kelapangan dada dan kenikmatan. Orang-orang durhaka melakukan maksiat dan memperturutkan syahwat, padahal dalam kemaksiatan itu tersembunyi perasaan sedih, duka dan ketidaktentraman.  Orang yang sudah mencapai tingkat nafsu muthmainnah menyangka bahwa orang-orang lain tentu juga telah mencapai dan merasakan apa-apa yang ia rasakan.  Kemudian setelah ia mawas diri dengan mengingat kembali segala yang pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu ketika ia mengecap berbagai kenikmatan dalam memperturutkan hawa nafsunya, yaitu ketika ia merasakan pahit-getirnya ketaatan, maka barulah ia sadar, bahwa ia tidak sampai ke tingkatnya sekarang ini melainkan setelah melalui perjuangan panjang dan inayah yang banyak dari Allâh Swt. (Al-Habîb ‘Abdullâh al-Haddâd, Risâlah Âdâb Sulûk al-Murîd hal. 35)
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template