Latest Post

Innalillah Ulama Besar Syria; Syaikh Rajab Dieb Wafat

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 15 Juni 2016 | 10.43



Innalillahi wainna ilaihi raji'un. Dunia Islam hari ini kembali kehilangan salah seorang ulama kharismatik Syria. Sosok ulama ahli tafsir, hadits, guru besar thariqah Naqsyabandiyah, al-Allamah asy-Syaikh DR. Rajab Dieb. Semoga Allah Swt. mengampuni seluruh dosa dan kesalahannya dan diterima seluruh amal shalihnya serta ditempatkan di surga Firdaus bersama para gurunya. Amin.

Profil Singkat Syaikh Rajab Dieb

Syaikh Rojab Dieb dilahirkan di Damaskus pada tahun 1931 M. Beliau mulai menuntut ilmu sejak berumur 7 tahun, dan beliau juga selalu aktif menghadiri pengajian-pengajian di Masjid Besar Umawy. Berguru kepada ulama-ulama besar pada saat itu, dan mendapatkan ijazah keilmuan dari para ulama tersebut hingga beliau memasuki jenjang kuliah di Fakultas Dakwah Islamiyah cabang Damaskus. Beliau berhasil menyelesaikan kuliahnya dan lulus dengan predikat Jayyid (baik) pada tahun 1988, dan beliau meraih gelar Doktor dari Pakistan.

Sampai saat ini Syaikh Rajab dipercayai sebagai pengajar ilmu agama di Majlis Fatwa Kementrian Wakaf Syria. Beliau seorang penghafal al-Quran, dan saat ini beliau sudah menghafal lebih dari 40.000 hadits.

Kiprah beliau dalam bidang dakwah Islamiyah yang moderat sudah tidak diragukan lagi, baik di level lokal maupun internasional. Banyak sekali negara-negara yang telah beliau kunjungi, mulai dari Amerika, Perancis, Maroko, Pakistan, termasuk Indonesia dan kesemuanya adalah untuk menyebarkan ajaran Islam dan mengajak seluruh umat Islam untuk berdzikir (ingat) kepada Allah, karena hanya dengan itulah umat Islam bisa maju dan berkembang.

Di Indonesia Syaikh Rajab tercatat sudah mengunjungi Pondok Pesantren Modern Darunnajah Jakarta, Pondok Pesantren Darul Quran Ustadz Yusuf Mansyur, Pondok Pesantren al-Hikam KH. Hasyim Muzadi dan Pondok Pesantren Salaf lainnya. Selain itu, beliau juga sudah sering diundang dalam rangka kegiatan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang dibawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama terutama lembaga Jam'iyah Ahlut Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) di bawah pimpinan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya.

Dalam sebuah pertemuan dengan jamaah, Habib Luthfi bin Yahya pernah mengatakan bahwa Syaikh Rajab Dieb merupakan wali Allah daerah Suriah (Syria). Wallahu a'lam. (Sumber: Habib Muhdor Ahmad Assegaf).

NABI SAW. MEMBOLEHKAN MEMBANGUN MAKAM PARA WALI DAN ORANG SHALEH

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Senin, 13 Juni 2016 | 11.57



Ketika Nabi Saw. memakamkan Syuhada Uhud terutama Sayyidina Hamzah, Nabi Saw. memberinya dengan tanda batu pada makam sejumlah orang yang meninggal pada waktu itu. Ini adalah indikasi Nabi Saw. memperbolehkan membangun makam-makam para auliya dan salaf shaleh. Selain memang tekstur tanah Arab berupa padang pasir, untuk menandai, maka diletakkanlah bebatuan di sekitar makam Syuhada Uhud. Padang pasir merupakan tekstur tanah yang sering terjadi pergeseran.

Perilaku Sayyidina Umar Ra. menghilangkan kubah makam pada waktu Nabi Saw. masih hidup, karena untuk mengagungkan Nabi Saw. Sehingga dengan ini tidak melampaui kebesarannya. Penghancuran ini bukanlah meratakan kuburan melainkan hanya kubahnya saja. Ketika kubah tersebut tidak dihancurkan maka dapat memicu sifat kesukuan yang terlalu berlebihan sehingga kebesaran Rasulullah Saw. dikalahkan dan Islam menjadi lemah.

Esensi ziarah kubur bukanlah melalaikan kebesaran Rasulullah Saw. Sehingga menurut Ibnu Hajar pembangunan makam tidaklah bertentangan dengan syariat. Padahal Allah Swt. sendiri dalam firmanNya mengagungkan mereka dan orang-orang yang hafal al-Quran dengan mengutuhkan jasad mereka walaupun telah terkubur. Indikasi ini adalah sebagai dalil pembangunan makam Nabi Saw., sahabat dan auliya diperbolehkan dalam rangka untuk mengagungkannya. Wallahu a'lam.

(Dikutip dari buku "Secercah Tinta" karya Maulana al-Habib M. Luthfi bin Yahya, halaman 296-297, bertajuk Pembangunan Masjid dan Pemakaman Sahabat Nabi Saw.).

Edisi Khusus dan Terbatas "Beli 2 Gratis 1", lebih hemat Rp. 27.000,-
1. "Secercah Tinta" (ST) karya Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Halaman: 366 hal. Harga: Rp. 60.000,-
2. "Sejarah Maulid Nabi" (SM) karya Ust. Ahmad Tsauri murid Habib Luthfi bin Yahya. Halaman: 288 hal. Harga: Rp. 55.000,-
3. (Gratis) "Membela Orang Tua Nabi" karya Syaikh Ishaq Azuz Mekah al-Mukarramah, buku yang direkomendasikan oleh Habib Luthfi bin Yahya untuk dibaca masyarakat luas. Halaman: 108 hal. (senilai Rp. 27.000,-)

Cara Pemesanan:
Ketik: NAMA LENGKAP_ST/SM_ALAMAT LENGKAP
Kirim melalui SMS ke nomor: 085774858808


https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib/photos/a.356613851095960.85503.347695735321105/1027060097384662

KISAH SEEKOR KAMBING SUJUD PADA NABI (SAW.) DAN TUNDUK PADA HABIB LUTHFI

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 10 Juni 2016 | 02.07



1. Seekor Kambing Sujud pada Rasulullah Saw.

Ketika Rasulullah Saw. hijrah bersama Abu Bakar ash-Shiddiq Ra., terlihat seekor kambing bersujud kepada Rasulullah Saw. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. pun ikut bersujud kepada Rasulullah Saw. Lalu Rasulullah Saw. menarik pundak sahabat Abu Bakar dan berkata, “Wahai Abu Bakar, jangan engkau bersujud kepadaku."

Maka Abu Bakar Ra. berkata, “Wahai Rasulullah, kami lebih berhak bersujud kepadamu daripada hewan karena kami adalah ummatmu dan hewan bukanlah ummatmu."

Ketahuilah bahwa sujud adalah ungkapan ta’dzim (memuliakan). Di zaman Nabi Yusuf As. dijelaskan bahwa saudara-saudara Nabi Yusuf bersujud kepada Nabi Yusuf dan kepada ayahnya. Maka sujud adalah suatu penghormatan dan bukanlah hal yang syirik. Namun Rasulullah Saw. melarang ummatnya untuk bersujud kepada beliau atau kepada ummat sesama, dan menjadikan sujud hanya kepada Allah. Sedangkan di masa ummat-ummat terdahulu ada sujud yang dimaksudkan untuk pengagungan, bahkan kita ketahui bahwa malaikat pun sujud kepada Nabi Adam, namun bukan menyembahnya. Di masa lalu pengagungan dilakukan dengan cara bersujud, namun di zaman ini pengagungan dilakukan dengan cara pujian atau yang lainnya namun bukan dengan sujud.

Hal yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini adalah pengagungan terhadap makhluk yang diagungkan oleh Allah telah dilakukan Allah sejak zaman Nabi Adam As. hingga zaman Nabi Muhammad Saw., dimana semua pohon dan bebatuan pun sujud kepada Nabi Saw. Sebagaimana Sayyidina Abu Bakar pun sujud kepada Nabi Saw., namun hal tersebut dilarang oleh Nabi Saw.

Maka perbuatan untuk pengagungan bukanlah suatu yang kultus, namun yang disebut kultus adalah pengagungan yang berlebihan yang mengarah pada penyembahan. Pengagungan adalah hal yang luhur, dimana itu adalah perbuatan para sahabat kepada Rasulullah Saw. Wallahu a`lam. (Oleh: Habib Mundzir al-Musawa Pendiri Majelis Rasulullah).

2. Seekor Kambing Tunduk pada Habib Luthfi bin Yahya

Pada awalnya Maulid Nabi di Kanzus Shalawat diadakan setiap Jum'at Kliwon. Waktu itu pengajian Jum'at Kliwon belum seramai saat ini dan belum ada Gedung Kanzus Shalawat. Menurut KH. Zakaria Anshar (santri senior Habib Luthfi yang mulai ngaji sejak 1985 sebelum masuk ke pesantrennya Mbah Maimun Sarang), Habib Luthfi sudah melaksanakan peringatan Maulid Nabi Saw. sejak tinggal di Noyontaan Gang 7, tepat di belakang Gedung Kanzus Shalawat sekarang, sebelum pindah ke Gang 11. Menurut Kiai Zakaria, Habib Luthfi telah menyelenggarakan Maulid Nabi di kediamannya jauh sebelum tahun itu.

Ada cerita menarik pada saat Maulana Habib Luthfi mengadakan Maulid Nabi di Gang 7, jauh sebelum Gedung Kanzus Shalawat berdiri, dan sebelum pindah ke Gang 11. Bapak Abidin (Habib Luthfi memanggilnya Din Towil) saksi mata mengisahkan kepada penulis.

Pada Maulid perdana Habib Luthfi hendak menyembelih seekor kambing. Kambing tersebut di pohon "jaran". Saat tiba waktu disembelih, Mbah Jufri (teman seperguruan Habib Luthfi pada saat ngaji di KH. Abdul Fatah Jenggot Pekalongan) yang ditugaskan mengambil kambing terkejut, karena saat ditarik kambing itu lari.

Habib Luthfi bin Yahya hanya tertawa sambil berkata, "Wedus go ngormati Kanjeng Nabi kok mlayu (Kambing untuk menghormati Nabi kok malah kabur)."

Tak lama setelah Habib Luthfi berkata demikian kambing itu menghampiri Habib Luthfi dan menjatuhkan diri di hadapan beliau. Kambing itu lalu disembelih sendiri oleh Habib Luthfi bin Yahya tanpa perlu bantuan orang.

Mbah Jufri kemudian berteriak, "Kambing wae weruh Kanjeng Nabi, ingsun menungso ora paham! (Kambing saja tahu kedudukan Kanjeng Nabi, aku manusia tapi tidak paham!)". (Dikutip dari buku "Sejarah Maulid Nabi, Meneguhkan Semangat Keislaman dan Kebangsaan Sejak Khaizuran (173 H) hingga Habib Luthfi bin Yahya (1947-Sekarang)", halaman 192 karya Ust. Ahmad Tsauri).

Tebal buku: 288 halaman. Dapatkan buku ini dengan harga spesial Ramadhan hanya Rp. 55.000,- (belum termasuk ongkir). Untuk pemesanan bisa hubungi: 085774858808 (hanya SMS) atau inbok di fanspage (fp) Kumpulan Foto Ulama dan Habaib atau inbok ke akun pribadi Syaroni As-Samfuriy. No. Rek. BRI 6066-01-001921-500 a.n. Syaroni.

Mengintip Rutinitas Habib Luthfi Selama Ramadhan

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Minggu, 05 Juni 2016 | 07.34



Apa saja kesibukan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng selama bulan suci Ramadhan? Hampir-hampir tak ada waktu luang, termasuk kesibukannya sebagai Rais Aam Jam'iyyah Ahlit Thariqah an-Nahdliyyah.

Memasuki bulan Ramadhan, Habib Luthfi bin Yahya mengubah total kegiatannya. Selama sebulan, pada bulan suci, dia memanfaatkan waktunya untuk beribadah total. Sehari-hari, ia mengaku hanya tidur 2-3 jam. Lainnya, untuk tadarus al-Quran, shalat, dzikir, doa, dan sesekali ceramah agama di wilayah Pekalongan. Karena itu, jangan heran jika Habib Luthfi mampu mengkhatamkan al-Quran dalam waktu sehari semalam.

"Selama bulan Puasa, kami menolak undangan ceramah di luar kota. Saya kira, sudah cukup saya ceramah di luar kota selama 11 bulan. Sedangkan sebulan ini, kami meningkatkan ibadah dengan mencegah hawa nafsu dan membersihkan diri dari dosa," kata Habib Luthfi menjawab pertanyaan Suara Merdeka sebelum diminta mengisi mauidzah hasanah dalam peringatan Nuzulul Quran di Kantor BNI, Pekalongan.

Apa kegiatan sehari-hari selama bulan Ramadhan? Habib mengaku setiap habis Ashar membuka al-Quran untuk dibaca. Sebab, membaca al-Quran pada bulan Ramadhan pahalanya ditingkatkan. Hingga pukul 17.00, Habib baru berhenti. Selama sore itu, dia mengaku minimal membaca tiga juz. Setelah itu, istirahat untuk bertemu dengan keluarga. Sesekali keluar rumah untuk menghirup udara segar dan menyaksikan keadaan di luar yang membuat badannya lebih fresh sambil menunggu waktu Maghrib, saatnya berbuka puasa.

Kendati siang menahan lapar, bukan berarti kiai kharismatik itu langsung makan nasi seperti orang pada umumnya. Ulama thariqah yang dikenal sebagai pemersatu umat itu mengaku hanya minum teh, lalu makan tiga buah kurma. 

Meski demikian, bukannya dia meninggalkan anak dan istrinya dalam berbuka. Habib ternyata juga sangat perhatian terhadap keluarganya. Karena itu, selama berbuka, dia menunggui anak dan istrinya sampai selesai. Bahkan sambil menunggu waktu Isya, ia bersama keluarganya kumpul bareng membicarakan berbagai hal untuk menambah keakraban dengan anak dan istri. 

Habib mendengarkan cerita anggota keluarganya dan sesekali memberikan nasihatnya. Sampai adzan Isya berkumandang, Habib dan keluarganya langsung menuju mushala keluarga untuk shalat berjamaah. Diawali shalat Isya, kemudian dilanjutkan shalat Tarawih hingga 23 rakaat. "Ini saya jalani terus sehingga salat Tarawih itu selesai sekitar pukul 21.00," kata Habib.

Baru pukul 22.00 atau 23.00, ulama kharismatik itu tadarus kitab suci lagi. Ibarat mobil, makin malam jalannya makin kencang. Demikian pula dalam membaca al-Quran, ulama tingkat nasional itu tancap gas hingga beberapa jam tanpa istirahat. "Kami baru istirahat ketika akan sahur pukul 03.00."

Apakah mata tidak capai dan tidak menimbulkan kebosanan kalau kegiatan itu dilakukan sehari-hari? Habib mengaku tidak capai. Untuk memberikan semangat kepada dirinya, dia selalu memunculkan pertanyaan untuk hatinya bahwa kita kalau nonton TV selama tiga jam atau lebih betah (tahan). "Itu hanya nonton TV. Padahal al-Quran adalah kitab suci yang menjadi pedoman umat Islam se-dunia," katanya.

Karena itu, ketika di hatinya muncul keinginan untuk istirahat sebentar, dia mengingat prinsip tersebut sehingga muncul kembali semangat untuk membaca lagi. Namun, itu dorongan untuk pribadi, bukannya mengkritik masyarakat. "Prinsip itu diperlukan agar seseorang bisa meningkatkan amal ibadahnya. Kenyataannya, saya kuat membaca mulai pukul 23.00 sampai pukul 03.00 tanpa mengantuk," katanya.

Pukul 03.00, keluarga mulai bangun dan mengajak Habib untuk sahur. Seperti menjelang shalat Isya, tokoh pemersatu umat itu sehabis sahur juga berbincang-bincang dengan keluarga sambil menunggu waktu Shubuh untuk shalat berjamaah.

Sehabis shalat Shubuh, Habib bukannya langsung tidur seperti kebanyakan orang, meski semalam belum tidur. Lelaki yang dikenal komunikatif dengan siapa pun itu bukannya mengantuk kemudian tidur sampai pagi. Itu tidak dia lakukan. Sebaliknya, dia malah tancap gas membaca al-Quran lagi sampai pukul 10.00 hingga khatam 30 juz dalam sehari semalam. Setelah itu, Habib baru tidur hingga waktu Dzuhur. Meski baru tidur 2-3 jam, ulama yang juga pendiri Pencinta Merah Putih Indonesia (PMPI) itu tidak mengantuk lagi. Mendengar adzan, dia langsung bangun. (Sumber: Suara Merdeka).

Kisah Mbah Maimun Zubair dan Santri (Seorang Habib) yang Tawadhu'

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 03 Juni 2016 | 04.14



Cerita dalam cerita. Belum lama ini saya terlibat perbincangan dengan saudara saya di Kauman, Surakarta. Sambil menunggu tokonya, kami terhanyut dalam pembicaraan begitu hangat. Tiba-tiba, entah arah pembicaraannya kemana, lalu saudara saya ini bercerita tentang sosok Mbah Maimun Zubair, Sarang.

Dulu saya sering bolak-balik ke Bandung, ke tempatnya Habib Abdullah Zaky al-Kaff. Nah, suatu ketika Habib Zaky ini bercerita ke saya saat dirinya hendak mondok ke Mbah Maimun Zubair. Sebelum berangkat ke pondok, Habib Zaky dikasih tahu oleh pamannya, "Nanti kalau sudah di sana, jangan kasih tahu Mbah Maimun kalau kamu ini masih dzuriyah (cucu Nabi) ya?!"

Sesampainya di sana, Habib Zaky sowan ke Mbah Maimun Zubair. Kemudian, ia ditanya oleh Mbah Maimun, "Nama kamu siapa?"

"Nama saya Zaky," jawab Habib Zaky menutup-nutupi jatidirinya. Selain juga karena wajah Habib Zaky tidak begitu ke-Arab-an. Walhasil, saat perkenalan para santri usai mulailah aktifitas seperti biasanya. Semua kembali ke kamar masing-masing untuk tidur dan beristirahat.

Singkat cerita, saat waktu tengah malam, kamar Habib Zaky digedor-gedor. Para santri pun kaget, ternyata yang menggedor-gedor pintu kamar adalah Mbah Maimun Zubair. "Mana yang namanya Zaky? Kamu tidak ngaku ya, kalau kamu masih dzurriyah Nabi?! Saya barusan didatangi Rasulullah di dalam mimpi. Lalu, Rasulullah berpesan kepada saya untuk nitip cucunya."

Kemudian Mbah Maimun Zubair melanjutkan, "Kalau kamu masih tidak mengaku dzurriyah Nabi, pilih mana mondok di tempat saya atau keluar dari pondok saya?!" (Diolah dari: pcnupati.or.id).

Refreshing Wisata Guci

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Kamis, 02 Juni 2016 | 10.04





Habib Luthfi bin Yahya: Kita Butuh Kiai-kiai yang Ekonom



Pesantren harus bisa menjawab tantangan zaman. Salah satunya, dengan kemandirian ekonomi. Hal itu disampaikan oleh ulama terkemuka Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan di hadapan 200-an kiai muda pengasuh pondok pesantren se-Jawa Tengah, di Pondok Modern Tazakka, Sedayu, Bandar, Batang, (Rabu/1/6/2016). “Kita butuh kiai-kiai yang ekonom, kiai-kiai yang petani agar pesantren punya kemandirian,” kata Habib Luthfi.

Habib Luthfi juga menekankan pentingnya persatuan dan sinergi antar pesantren dalam rangka membangun kemandirian umat. Karena itu, Habib Luthfi mengapresiasi acara silaturahim yang digelar oleh Forum Silaturahmi Kiai-kiai Muda Pengasuh Pondok Pesantren se-Jawa Tengah di Pondok Modern Tazakka yang diasuh oleh KH. Anang Rikza Mashadi, MA tersebut.

Apresiasi serupa datang dari ulama besar Syria, Syaikh Dr. Rajab Dieb dalam sambutannya yang dibacakan oleh Guru Besar Universitas Kuftaro Damaskus, Dr. Mahmut Shahata. “Pesantren harus kuat dan terus bersinergi satu sama lainnya agar menjadi benteng peradaban Islam,” tuturnya.

Menurut Syaikh Rajab, berkumpulnya kiai-kiai muda pengasuh pesantren se-Jawa Tengah dalam sebuah forum silaturahim tersebut merupakan sebuah langkah cerdas dan perlu didukung oleh seluruh elemen umat Islam Indonesia. “Kita butuh jiwa-jiwa kepemudaan yang cerdas, visioner dan penuh semangat untuk membina umat,” katanya.

Namun demikian, Syaikh Rajab mengingat agar para kiai-kiai muda tetap selalu membangun komunikasi dengan para ulama sepuh. “Kita juga butuh keteladanan dan hikmah orang-orang tua untuk menjadi acuan dan rujukan,” ungkapnya. Maka, kata dia, keteladanan orang tua dan semangat anak muda itu harus bertemu. “Betapun, kita tidak bisa menafikan keteladanan Habib luthfi dan hikmahnya KH. Maemun Zubair,” katanya.

Menurut Ketua Forum Silaturahmi Kiai-kiai Muda Pengasuh Pesantren se-Jawa Tengah, Gus H. Akomadhien Shofa, Lc, acara silaturahim yang akan berlangsung dari 1-2 Juni tersebut akan mendiskusikan sejumlah strategi yang perlu dilakukan oleh pesantren untuk menjawab tantangan zaman.

Beberapa tokoh yang akan hadir sebagai narasumber adalah KH. Lukman Haris Dimyati (Pondok Pesantren Tremas, Pacitan Jawa Timur), Ketua PWNU Jawa Tengah, KH. Abu Hapsin. MA Phd dan akan ditutup dengan ceramah ilmiah oleh KH. Dr. A. Hasyim Muzadi. Hadir pula dalam acara pembukaan Wakil Bupati Batang, Wakil Bupati Kendal, Kapolres dan Dandim Batang. (Sumber: Menit.co).
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template