Latest Post

Kisah Kiai Hasyim Asy'ari Dicegah Habib Abdullah Alattas Tinggal di Tanah Suci

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Selasa, 29 Desember 2015 | 12.42



Ada kisah menarik mengenai keputusan Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari untuk tetap tinggal di Indonesia (tidak menetap di Mekkah) yang tidak termuat dalam lembaran buku-buku sejarah. Berikut adalah sebagaimana yang pernah dituturkan oleh al-Habib Ahmad bin Abdullah Alattas Bojonegoro.

Alkisah setelah Kiai Hasyim Asy'ari lama belajar agama di tanah suci beliau pulang ke Indonesia. Namun setelah beberapa waktu tinggal di Indonesia, beliau merasa tidak kerasan dan ingin kembali ke tanah suci. Di sana majelis ilmu hidup, tiap hari bisa menimba ilmu langsung dari para ulama Allah yang mutafannin (ahli dalam berbagai bidang ilmu agama), bisa beribadah dengan pahala yang berlipat-lipat, bisa hidup bersama-sama ahli ibadah dan ahli ilmu. Keadaan yang sangat menyenangkan para ahli ilmu dan ahli khair (kebaikan). Sangat bertolak-belakang dengan keadaan di Indonesia yang carut-marut, banyak maksiat dan sepinya majelis ilmu serta kurangnya keinginan orang-orang untuk bertafaqquh fiddin (mendalami dan mengamalkan ilmu agama).

Beliau lalu mengkabarkan 'azamnya (keinginan) ini kepada keluarga dan teman-teman dekat beliau. Ketika berita ini didengar oleh al-Habib Abdullah Alattas (ayah dari Habib Ahmad Alattas, beliau adalah sahabat dekat dari Kiai Hasyim Asy'ari), maka langsung saja sang habib berangkat ke Jombang bersama al-Habib Ahmad (yang waktu itu masih kecil) menuju Tebu Ireng untuk menemui Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari.

Al-Habib Ahmad menuturkan bahwa pada saat itu beliau tidak diperkenankan masuk oleh ayahandanya, tetapi disuruh menunggu di luar ruangan (namun beliau bisa melihat dan mendengar isi pembicaraan kedua ulama ini). Beliau melihat tas-tas yang sudah dipack/diikat siap untuk dibawa pergi. Pada saat itu al-Habib Abdullah mengambil posisi duduk di hadapan Kiai Hasyim Asy'ari dengan kaki yang saling menempel sambil berkata (yang intinya): "Ya Syaikh, ilmu Njenengan (Anda) itu sangat diperlukan di sini. Kalau Njenengan kembali ke tanah suci, di sana sudah banyak orang alim. Ilmu jenengan tidak begitu diperlukan di sana. Indonesia sangat butuh ulama seperti Njenengan!"

Mendengar apa yang disampaikan oleh al-Habib Abdullah Alattas ini lalu KH. Hasyim Asy'ari menangis kemudian merangkul beliau dan mengurungkan keinginannya untuk kembali tinggal di tanah suci. Wallahu A'lam. (Sumber: Ali Abdurahman Al Habsyi atau darussolihin.net).

Syaikh Ahmad Deedat Mengungkap Syiah dan Iran

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Selasa, 24 November 2015 | 09.33


Dalam al-Quran yang mulia, Allah Swt. berfirman: “Dialah yang telah mengutus rasulNya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. at-Taubah ayat 33), walaupun Amerika Serikat, Rusia dan seluruh adidaya tidak menyukainya. Janji Allah tidak bergantung pada kekuatan para adidaya. Dalam pengertian luas, pergerakan Islam menjangkau seluruh umat. Dalam pengertian sempit, pergerakan Islam merepresentasikan bagian dari umat yang paling cepat dalam perjuangannya untuk menjadikan Islam sebagai jalan hidup.

Beberapa tahun yang lalu tidak ada yang menyadari seorang pemimpin tunggal dalam pergerakan Islam. Semua itu menjadi pemandangan negatif yang menutupi wajah umat sebagai pergerakan sejarah menuju akhir abad ke-14 hijriah. Namun dunia tidak menyadari pergerakan Islam di Iran. Iran di bawah eks-Syah (Syah Reza Pahlevi) telah mencederai Islam. Iran berada dalam posisi lemah. Kita adalah Sunni dan kebodohan kita pada masa itu sangat jelas. Dengan seketika revolusi Islam di Iran menjadi berita utama pada awal tahun 1978.

Mayoritas umat Islam yang menyebut diri mereka Sunni juga tidak menyadarinya. Propaganda Syah adalah dengan menyalahkan ulama Islam. Media Barat dan media Islam yang dimanipulasi Barat, serta rezim di negara-negara Islam, menganggap kejadian di Iran sebagai hal kecil. Kita semua terlambat dalam menyadari realita baru di Iran. Telah ada usaha sistematis untuk menodai Islam Iran. Media Barat sengaja memberitakan kabar palsu tentang Revolusi Islam yang dipimpin Ayatullah Khomeini, pendiri dan pemimpin Republik Islam Iran.

Kampanye dalam menyerang Iran bukan hal baru. Sejak awal, kepentingan pribadi telah membawa kampanye tiada akhir dalam melawan Revolusi Islam Iran. Tamu pembicara kita malam ini, Syaikh Ahmed Deedat, yang merupakan ulama terkemuka Islam dan baru saja kembali dari perjalanannya ke Iran, akan menceritakan kepada kita perjalanan pertamanya ke Iran. Saya panggilkan Tuan Ahmed Deedat untuk berbicara kepada kalian.

Ceramah Syaikh Ahmed Deedat:

Aku berlindung (kepada Allah) dari godaan setan yang terkutuk. Dengan Nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. “Jika kamu berpaling (dari Islam dan ketaatan kepada Allah), Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad ayat 38). Mahabenar Allah.

Saudara-saudara sekalian, kita meragukan keajaiban dari sebuah negara yang terlahir kembali. Janji Allah yang tidak dapat ditawar telah terbukti dalam kebangkitan dan keruntuhan sebuah bangsa yang disebutkan dalam ayat yang saya baca kepada Anda dari surah Muhammad. Bagian akhir dari ayat tersebut memperingatkan kita bahwa jika kalian berbalik dari kewajiban dan tanggungjawab, maka Dia akan menggantikan kalian dengan bangsa lain.

Peribahasa Urdu menggunakan kalimat indah ini ketika menggambarkan beberapa musibah yang terjadi di sebuah umat dan berbicara tentang sebuah negara yang dapat menggantikan mereka. Sebenarnya ini adalah bahasa al-Quran dan benar-benar terjadi melalui sejarah yang berulang. Pertama, Allah Swt. memilih Yahudi Bani Israel sebagaimana yang Dia katakan dalam al-Quran: “Wahai Bani Israel, ingatlah nikmatKu yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini.” (QS. al-Baqarah ayat 47).

Dengan kemuliaan itu seharusnya mereka menjadi pembawa obor pengetahuan Tuhan untuk dunia. Ini merupakan kehormatan, ini merupakan hak istimewa dan ini merupakan yang pertama bagi kaum Yahudi. Tapi karena mereka tidak mematuhi kewajiban, seorang Yahudi diantara kaum Yahudi pengikut Nabi Isa As. sebagaimana direkam di kitab Kristiani mengatakan kepada mereka: “Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Mattius 21: 43), dan bangsa yang akan bangkit adalah umat Islam. Hal itu diambil dari bangsa Yahudi dan diberikan kepada umat Islam.

Umat Islam kemudian, diantara mereka yang pertamanya adalah bangsa Arab, diberikan oleh Allah hak istimewa sebagai pembawa obor cahaya dan pengetahuan untuk dunia. Namun karena mereka bersantai dan gagal membawa hasil, Allah mengganti mereka dengan bangsa lain. Dalam sejarah, kita mengingat orang Turki dan Mongol menghancurkan kerajaan Islam dan ketika mereka menerima Islam, mereka menjadi pembawa obor cahaya dan pengetahuan bagi dunia.

Sebagaimana Iqbal menggambarkan situasi ini dengan indah, “Wahai kalian orang Muslim, kalian tidak akan binasa jika Iran atau Arab binasa. Kekuatan anggur tidak bergantung kemurnian botolnya. Botolnya adalah bangsa kita. Batasan kita dan kekuatan Islam tidak bergantung pada batasan geografi atau bangsa.” Inilah yang Allah kehendaki lagi; Dia memilih Yahudi lalu memilih Arab dan ketika mereka menjadi lemah, Dia memilih Turki dan ketika mereka menjadi lemah bangsa lain… dan seterusnya merupakan proses berlanjut.

Jika kalian tidak mengerjakan kewajiban, Allah Swt. akan memilih bangsa lain yang ingin. Di dunia saat ini ada ratusan juta lebih umat Muslim. Miliaran kalau kita ingin berbangga! Sembilan puluh persen dari satu miliar merupakan Sunni. Kita telah berhenti memberikan kebaikan maka Allah memilih sebuah bangsa yang kita anggap remeh. Bangsa Iran! Orang Syiah! Sejarah buruk menimpa saudara seiman kita di Iran dimana Syah menjadi penguasa, dan nama dia kebetulan saja Muhammad. Bayangkan! Orang ini bernama Muhammad dan bukan orang yang beriman. Sulit bagi kita untuk membayangkannya saat ini, tapi sekali saja pergi ke negara itu, mencari hingga detail, lihatlah apa yang sedang terjadi.

Orang Iran ini yang terlihat seperti Syah (raja) sebenarnya hanyalah orang asing. Jika Hitler menaklukan bangsa ini dan menyerang mereka, kita dapat memahaminya. Jika Rusia menaklukan rakyat itu, kita dapat mengertinya. Tapi di sana ada orang Iran, berbahasa Persia, yang namanya Muhammad. Tapi, lihatlah ke arah mana ia membungkuk? Enambelas tahun dia melarang shalat Jum'at. Enambelas tahun! Kita telah menyamakan Iran dengan Syah dan Syah dengan Iran. Bagi kita mereka adalah istilah yang sama. Tapi jika Anda melihat lebih jauh, kita tahu bahwa Syah dan rakyat Iran terpisah. Mereka dalam realitasnya bagaikan orang asing satu sama lain.

Sekarang tentang kunjungan dan kesan saya terhadap Iran. Saya mulai dengan tempat dimana saya merasakan keharuman persaudaraan rakyat Iran pertama kali terhadap kami. Kebetulan ini terjadi di Roma. Saya yang pertama merasakan dan kemudian beberapa teman saya merasakannya pula di bandara udara Roma. Kami sedang menunggu pesawat, dan kami mendapat sejumlah masalah dengan visa dan salah seorang dari kami bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah ini.

Kemudian dia menuju kantor Iran Air dan mengatakan masalahnya kepada wanita muda yang mengenakan pakaian Islam lengkap dan tertutup. Wallah sangat indah melihatnya. Yang saya maksud adalah ketika Anda melihat orang-orang dengan pakaian seperti itu (chodur) mereka adalah orang-orang yang cantik. Jadi di sana ada seorang wanita dan kalian harus melihat bagaimana dia menangani masalah tersebut. Seseorang datang kepada kami dan mengatakan, “Tuan, jika Anda ingin melihat wanita Muslim Iran yang sesungguhnya maka datanglah (ke Iran).” Saya dan beberapa orang pun pergi dan kami melihatnya. Itu adalah aroma pertama yang kami rasakan dari umat Islam Iran di Roma.

Ketika kami mendarat di Iran, kami memilih hotel bintang lima yang dahulu sebelum revolusi dikenal sebagai Hotel Hilton tapi sekarang bernama Hotel Istiqlal. Kemudian kami berkeliling ke tempat-tempat menarik dan saya akan menceritakan kepada Anda beberapa hal yang kami lihat dan saya akan menggambarkan perasaan dan pengalaman kami. Jika saya mengingat dengan benar, tempat pertama yang kami datangi adalah pemakaman Behesht Zahra. Behesht berarti “surga” dalam bahasa Persia dan Zahra adalah gelar dari Fathimah az-Zahra yang merupakan putri Nabi Muhammad Saw. Zahra berarti cahaya. Jadi nama tempat pemakaman tersebut adalah Surga yang Bercahaya.

Sebelum tiba di Iran, saya pernah membaca di koran tentang pemakaman Behesht Zahra. Saya ingat ketika Imam Khomeini tiba di Teheran beliau berkunjung ke pemakaman. Saya berpikir, kenapa dia pergi ke pemakaman? Untuk berdoa? Ya! Untuk orang yang meninggal? Ya! Ketika Anda memikirkan pemakaman di sini, Afrika Selatan, Anda mengingat jalan Brook, Riverside, dan lainnya. Anda tidak bisa membayangkan bahwa pemakaman (Behest Zahra) ini luasnya berkilo-kilo. Anda tidak bisa membayangkannya!

Ini adalah tanah terbuka yang dapat menampung satu atau dua juta manusia. Orang berkumpul di sini karena ini adalah tempat termudah untuk meluapkan emosi dan beban spiritual karena di sana Anda memiliki syuhada. Ada 70.000 lebih syuhada dalam peristiwa revolusi dan 100.000 luka-luka. Masyarakat dengan slogan “Allahu Akbar” sebagai senjata mereka telah menghancurkan kekuatan militer terbesar di Timur Tengah. Jadi kami pergi ke pemakaman ini dan terdapat lebih dari satu juta orang di sana. Pria, wanita dan anak-anak termasuk kami benar-benar terinspirasi oleh antusiasme dan perasaan saudara-saudari kami di sana.

Saat itu pertengahan musim dingin, pria, wanita, dan anak-anak duduk di tanah yang dingin selama berjam-jam. Pertengahan musim dingin di bawah tanpa karpet atau kursi! Sebuah bangsa yang dapat menahan disiplin berjam-jam, dan Anda hanya dapat membayangkan takdir Allah apa yang direncakan bagi mereka. Satu atau dua hari kemudian dalam program kunjungan, saya membaca pemakaman Behesht Zahra, lagi. Pertama kali kami pergi untuk ceramah, kami melihat di kuburan orang-orang membaca puisi kesedihan dan doa dan saya pikir kunjungan kedua ini akan berlebihan. Tapi kenapa harus pergi dua kali? Saya telah melihat pemakaman ini. Tapi seluruh teman saya pergi dan saya pikir kalau semua orang pergi, ini tidak akan baik bagi saya untuk tetap di hotel bersantai ketika seluruh teman saya pergi dengan bus menuju pemakaman.

Kemudian saya pergi dan saya menjadi sangat bahagia. Karena kunjungan kedua ini adalah ketika Kamis sore dan Kamis di Iran seperti Sabtu bagi kita. Puluhan ribu orang berada di pemakaman. Ini hal biasa. Seperti hari raya raya ('ied). Puluhan ribu orang di sana, tidak lain kecuali untuk mengisi baterai spiritual mereka. Ini merupakan hal yang tidak akan terlupakan. (Ucapan) “Putraku memberikan hidupnya bagi Islam” atau “Ayahku memberikan jiwanya untuk Islam” menunjukkan bahwa mereka memberikan hidup mereka untuk Islam. Dengan cara seperti ini, setiap Kamis merupakan suntikan spiritual dan pengingat bahwa mereka akan memberikan hidup untuk Islam.

Ketika berkeliling, terdapat sebuah balai kota yang dapat menampung 16.000 orang, dibandingkan dengan balai kota di Afrika Selatan, yaitu Good Hope Center di Capetown, yang hanya dapat menampung 8.000 orang. Bangunan itu didirikan oleh Syah untuk menyombongkan “Mitos Aria”-nya. Dia membanggakan tidak hanya bahwa dia Shahanshah atau raja seluruh raja, tapi juga bahwa dia sebagai Aryamehr, cahaya orang-orang Aria. Inikah penyakit orang-orang Aria?

Ingat bualan Hitler tentang menjadi Aria karena orang Jerman adalah orang Aria. Kemudian orang Hindu membual bahwa mereka orang Aria. Jika masyarakat saya, orang Gujarat, bukan Muslim maka mereka akan membual juga untuk menjadi Aria seperti mereka. Mantan Syah ini menyatakan diri sebagai cahaya orang-orang Aria dan membangun monumen ini sebagai penghormatan. Dia membangun monumen lainnya dengan menghabiskan biaya jutaan untuk memperingati leluhurnya Cyrus Agung, seorang penyembah berhala, musyrik dan memboroskan kekayaan negara untuk kepentingannya.

Tahun 1984 dia berencana mengadakan Olimpiade di Teheran untuk menyombongkan egonya. Di balai kota ini kami melihat atletik dan akrobatik. Wallah, sayangnya kita, Muslim Afrika Selatan, seperti orang yang lemah dan membuat kita lebih buruk lagi dari hal itu. Pemuda kita tidak melakukan aktivitas seperti itu. Di sana dilakukan atletik, gimnastik, akrobatik yang tidak kita lakukan. Hal seperti itu bukan untuk kita; yang melakukan jogging, Anda tahu, anak-anak muda yang ketika saya bertemu mereka saya berjabat tangan dengan mereka dan mereka seperti orang lemah.

Tapi hampir setiap pemuda yang Anda temui di Iran terlihat seperti atlet. Mereka melakukan olahraga yang biasa dan hal itu membuat kami senang karena mereka tidak membicarakan Iran. Mereka tidak bicara tentang Iran “Kami orang Iran, kami orang Aria” justru mereka berbicara tentang Islam, Islam dan Islam. Tidak ada satu pun wanita setengah telanjang, tidak ada satu pun. Jika Syah mempunyai caranya, jika dia masih hidup dan menjalankan rencananya, Anda bisa bayangkan akan ada wanita setengah telanjang di sana yang setiap orang bisa melihat hingga puas.

Di Iran segala sesuatu berhubungan dengan Islam untuk memperkuat moral masyarakat, membangkitkan ribuan pria dan wanita. Kami tergetar melihat anak-anak kami, kami merasa mereka anak-anak kami, saudara kami sendiri, dan kami benar-benar tergetar. Kami melihat hal itu sebagai hal yang anak-anak kita juga bisa lakukan. Kemudian kami pergi melewati parade militer dengan berbagai kelompok lelaki Iran dan tidak ada kekurangan kekuatan di sana.

Anda tahu, beberapa orang ingin pergi dan menolong saudara seiman kita di Iran. Alhamdulillah di sana tidak kekurangan kekuatan; yang mereka inginkan hanya alat dan senjata. Jika bangsa Iran memiliki senjata militer seperti yang Israel miliki, seluruh Timur Tengah akan bebas dari intervensi asing dalam sekejap. Inilah bangsa yang bisa melakukannya. Semangat jihad ada pada setiap dan seluruh pria dan wanita di negara itu. Seluruh masyarakat terlibat dalam mempromosikan Islam. Kita berbicara tentang 20 juta orang yang mampu mewujudkannya. Jika mereka memiliki senjata dan materi, setiap wanita pria dan anak-anak akan pergi berjihad.

Kemudian kami mengunjungi tawanan perang Irak. Sebagaimana yang Anda tahu perang ini dimulai oleh Irak dengan menyerang Iran. Seluruh negara dalam keadaan kacau. Irak merasa bahwa jika Yahudi dapat melakukannya ke bangsa Arab dalam waktu 6 hari, maka mereka bisa melakukannya kepada Iran dalam waktu 3 hari. Seluruh dunia berpikir dalam waktu satu minggu Iran akan hancur berkeping-keping.

Tahukah Anda sudah berapa lama sekarang ini? Ini sudah setengah tahun dan bahkan lebih. Alhamdulillah, di awal perbandingannya 20 berbanding 1 dalam hal pasukan dan material, namun bangsa Iran membalikan posisi dan menjadikannya 1 berbanding 3 bagi mereka. Mereka mampu memukul balik (Irak). Mereka memiliki kembali seluruh wilayah mereka dan sebuah bukit yang dinamai Allahu Akbar. Alhamdulillah mereka melakukannya dengan baik.

Sebelum saya pergi ke Iran, Dr. Kalim Shiddiqui dari Inggris mengatakan kepada saya seraya bercanda, “Kalian memiliki separuh peluang untuk menjadi syahid.” Itu hanyalah gurauan tapi hampir menjadi kenyataan. Ketika kami sedang keluar kota saat perang terjadi, terdapat sebuah lapangan penuh dengan tank. Para pemuda kami keluar dari bus dan mulai memanjat tank serta mengambil gambar untuk ditunjukkan kepada orang-orang di rumah.

Kemudian sebuah tank keluar dari lapangan untuk latihan uji coba dan tiba-tiba kami mendengar suara tembakan. Dari kejauhan kami melihat asap di beberapa tempat dan beberapa pemuda kami lari ketakutan dan berlindung di belakang bus. Ternyata kami berada dalam serangan orang-orang Irak. Ledakan bom berada di sekeliling kami dan Allah menyelamatkan kami. Ingat bahwa Kalim telah mengatakan bahwa ada separuh peluang kami menjadi syahid, dan itu hampir menjadi kenyataan.

Kami mengunjungi mereka yang terluka di perang dan tidak ada satupun yang mengeluh tentang apa yang terjadi pada mereka. Seorang lelaki telah diamputasi kakinya tapi tidak ada air mata. Saya tidak pernah melihat setetes air mata dari siapa pun, dan justru mereka bertanya apakah ada kemungkinan untuk kembali ke pertempuran. Penyesalan mereka bukan karena luka, tapi mengapa mereka tidak bisa kembali ke garis depan untuk berjuang dan menjadi syahid. Inilah ambisi dari setiap Muslim di sana.

Ketika kami mengunjungi tawanan, Iran telah menangkap sekitar 7.800 tawanan perang Irak dan mereka terlihat sehat dengan pakaian dan makanan yang baik. Seorang teman saya tertarik untuk mencari tahu apa yang tawanan Irak rasakan tentang kondisi mereka. Setiap orang yang dia tanya menjawab bahwa mereka terjaga dengan baik. Lalu saya punya ide. Beberapa orang ada di sini selama setahun dan yang lainnya berbulan-bulan, saya ingin tahu ada berapa orang yang melakukan bunuh diri? Saya tanyakan ke setiap kelompok tawanan perang berapa orang yang melakukan bunuh diri? Mereka mengatakan tak satu pun. Tidak ada satu pun tawanan yang melakukan bunuh diri.

Jika kita melihat kepada apa yang disebut sebagai peradaban negara Barat di Afrika Selatan, ada 46 orang yang melakukan bunuh diri di tawanan hanya untuk tahun ini. Mereka makan, berpakaian dengan baik dan memiliki sel sendiri tapi sejauh ini sudah 46 orang melakukan bunuh diri. Jika orang-orang tidak diperlakukan dengan baik maka beberapa orang akan mencari jalan keluar termudah, tapi tidak ada seorang pun yang melakukan bunuh diri diantara 7.800 tawanan perang.

Kami pergi mengunjungi imam, Ayatullah Ruhollah Musawi Khomeini. Ada sekitar 40 orang dari kami menunggu imam dan imam datang dan berada sekitar sepuluh meter dari tempat saya. Saya melihat imam. Dia menyampaikan ceramah kepada kami sekitar setengah jam, dan tidak ada sesuatu apapun kecuali al-Quran. Orang ini seperti al-Quran yang terkomputerisasi. Pengaruh luar biasa yang dia miliki di setiap orang; kharismanya sungguh menakjubkan. Anda cukup melihat ke arahnya dan air mata mengalir di pipimu. Anda cukup melihatnya dan Anda akan menangis. Saya tidak pernah melihat orang tua yang lebih tampan darinya dalam hidupku; tidak foto, video atau televisi yang dapat menilai orang ini. Orang tua paling tampan yang pernah saya lihat dalam hidup saya adalah dia.

Ada hal yang juga menarik tentang namanya. Pertama dia disebut Imam Khomeini. Kata “imam” bagi kita merupakan kata yang murah. Ke mana pun kita pergi ke suatu tempat kita bertanya siapa imam masjid di sana. Bagi Syiah hanya ada satu imam di dunia dan itu adalah Dua Belas Imam. Mereka percaya pada konsep imamah dan imam merupakan pemimpin spiritual umat. Imam pertama menurut pemikiran ini adalah Hadhrat Ali Ra. Kemudian Imam Hasan sebagai imam kedua, Imam Husain ketiga seterusnya hingga imam kedua belas, Imam Muhammad (Imam Mahdi) yang gaib pada umur 5 tahun dan mereka menanti kedatangannya. Mereka menggunakan istilah “ghaibah” (occultation), seperti tidur-spiritualnya Ashabul Kahfi. Karena itu beliau dinantikan untuk kembali dan dia satu-satunya orang di dunia yang bisa disebut imam.

Kebanyakan ulama mereka disebut mullah dan ayatullah berarti allamah, seorang alim besar. Ayatullah Khomeini disebut imam tapi tidak mengurangi rasa hormat mereka terhadap penantian imam sesungguhnya untuk muncul. Ruhollah merupakan nama yang diberikan ayahnya, dan tahukah Anda artinya? Rûhullâh berarti “spirit Allah” dan ini merupakan gelar Hadhrat Isa As. dalam al-Quran. Kemudian beliau adalah Ayatullah yang merupakan gelar lain dari Hadhrat Isa dalam al-Quran. Al-Musawi berasal dari keluarga Musa dan dari kota Khomein yang menjadi nama akhirnya yang menunjukkan asalnya. Dia sudah berusia 80 tahun...(Kerusakan audio pada menit 41:05).

Tapi mereka masih menanti Mahdi, dan bukan Khomeini. Mereka ingin menciptakan kestabilan dan persiapan untuk kemunculan Mahdi. Di dunia Sunni, kita juga menunggu kedatangan Mahdi tapi kita ingin agar beliau yang menciptakan kestabilan bagi kita, menjadikan kita pemilik dunia dan duduk di atas singgasana. Sampai situ kita hanya bisa menangani pertengkaran kecil. Apapun yang kita lakukan sekarang, hanya Imam Mahdi yang bisa membersihkan dunia bagi kita. Ini garis pikir Sunni. Khomeini di satu sisi mengatakan kepada pengikutnya bahwa kita harus membantu menyiapkan jalan sehingga ketika Imam Mahdi datang segalanya sudah siap baginya untuk bertindak. Sementara kita, dunia Sunni, menunggu Imam Mahdi untuk bersusah-payah melepaskan diri kita dari kesulitan, sedang orang Syiah menyiapkan dunia untuk kemunculannya.

Anda tahu terdapat banyak orang yang bersama kita dari seluruh dunia. Saya menemukan bermacam-macam orang sakit, sakit mental lebih tepatnya. Saya bertemu dengan orang alim dari Pakistan dan dia berpikir bahwa ada yang salah dengan saudara Syiah kita. Anda melihat di Iran ketika seseorang berceramah dan nama Khomeini disebut, orang-orang diam dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Saw. tiga kali. Tapi ketika nama Muhammad Saw. disebut mereka mengirim shaawat satu kali. Tapi orang alim dari Pakistan ini berkata, “Coba lihat orang-orang ini. Muslim jenis apa mereka itu?! Ketika nama Muhammad Saw. disebutkan mereka mengirim shalawat kepada Nabi satu kali tapi ketika nama Khomeini disebutkan mereka mengirim shalawat kepada Khomeini tiga kali.”

Saya berkata, “Apa yang mereka katakan? Apa yang mereka katakan sehingga Anda mengatakan ‘shalawat kepada Khomeini’?” Dia mengatakan, “Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad (Shalawat bagi Muhammad dan keluarga Muhammad).” Saya katakan lagi, “Siapa Muhammad? Khomeini? Siapa yang bilang Khomeini sebagai Muhammad? Mereka shalawat kepada Muhammad dan Anda bilang kepada Khomeini?” Anda tahu? Inilah penyakit. Terdapat banyak orang terdidik (alim) tapi pikiran mereka penuh dengan buruk sangka. Mereka hanya mencari-cari kesalahan dan mencela.

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah Mahaluas (pemberianNya), lagi Mahamengetahui." (QS. al-Mâidah ayat 54).

Contoh lain adalah ketika saudara Syiah melaksanakan shalat, mereka mempunyai sebuah tanah (turbah) sebagai tempat sujud. Dan dia (alim Pakistan) berkata, “Lihatlah apa yang mereka lakukan. Ini adalah syirik. Mereka menyembah lempengan tanah.”

Saya berkata, mengapa Anda tidak bertanya kepada mereka kenapa mereka menaruh kening di lempengan tanah dan pelajari alasan logis di balik semua ini. Anda tahu, pengalaman pertama saya tentang hal ini terjadi saat di Washington. Pelajar Iran di sana mengundang saya untuk memberikan ceramah di universitas tempat mereka belajar di Amerika. Pada saat itu, waktu untuk Isya dan kami shalat. Setiap orang diberikan lempengan tanah. Saat itu saya berpikir hal ini lucu, maka saya taruh di samping dan saya shalat dengan pelajar Iran.

Setelah shalat, saya ingin tahu tentang hal ini dan saya tanya mereka, “Mengapa Anda membawa potongan tanah di kantong kemanapun Anda pergi?” Mereka menjawab, “Kami harus sujud di atas bumi Allah dengan kening kami menyentuh tanah. Kami mengucapkan 'Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih' tiga kali dengan kening kami menyentuh tanah.”

Jadi Syiah sesungguhnya ingin menyentuh tanah dengan kening mereka dan bukan kepada karpet buatan manusia. Mereka benar-benar ingin menunjukkan ekspresi shalat dengan kening menyentuh bumi Allah. Anda lihat mereka tidak menyembah potongan tanah sebagaimana banyak orang salah berpikir. Ini merupakan sesuatu yang sering orang Sunni jadikan lelucon dan ejekan terhadap Syiah.

Dalam perjalanan pulang saya dari Tehran, di seberang lorong pesawat ada dua orang Syiah yang ketika waktu shalat datang salah seorang dari mereka mengambil lempengan tanah dari kantongnya dan 'Allâhu Akbar' dia melakukan shalat di tempat duduknya, dan ketika selesai ia memberikan tanah tersebut ke sebelahnya dan dia shalat. Hal ini terlihat seperti lelucon bagi kita. Ya, kan? Di pesawat itu terdapat banyak kaum Sunni dan hanya pemuda itu yang shalat, dan pemuda itu bukan saya. Tapi kami menertawakan mereka (Syiah—pent.). Dia duduk di sana dan melakukan hal yang lebih baik dari kami dan kami menertawakan mereka sambil duduk menghakimi.

Dia mungkin tidak sesopan atau sebaik kita di Afrika Selatan. Anda tahu, kita Muslim di Afrika Selatan sangat sopan dan baik dalam shalat. Orang Arab tidak cocok dengan kita, orang Iran tidak cocok dengan kita. Amerika, negro mereka semua tidak cocok dengan kita. Dengan orang Arab saat Anda membungkuk rukuk, orang di sebelah Anda mendorong Anda untuk menjauhkannya. Siapa yang tahu, mungkin ini benar, kita tidak tahu.

Anda tahu, diantara empat madzhab Sunni; Hanafi, Hanbali, Maliki dan Syafi'i, terdapat lebih dari 200 perbedaan dalam satu shalat. Anda tahu? Dua ratus! Tapi kita menerimanya sebagai hal yang benar. Syafi'iyah mengucapkan 'Amin' dengan keras dan kita mengucapkannya dengan pelan. Mereka mengucapkan bismillah dengan keras, kita mengucapkan pelan dan tidak ada masalah. Semasa kecil, ayah saya mengulang rumus masyhur yang dia pelajari dari ayahnya: “Seluruh madzhab adalah sama-sama benar dan sebuah kebenaran bagi mereka berdasarkan hadits dan al-Quran.” Maka kita menerimanya.

Ketika hal itu terjadi pada Syafi'i, Hanbali, Hanafi dan Maliki kita bersikap toleran. Tapi ketika hal itu terjadi pada Syiah, rumus yang kita pikirkan sewaktu kecil tidak berlaku, sehingga keanehan kecil apapun yang ada antara kita dan mereka, kita tidak bisa bertoleransi dan menolaknya. Kita mengatakan hal itu karena kita terprogram untuk meyakini hanya empat madzhab. Tapi kita menerima keanehan di antara yang empat itu.

Saya katakan, kenapa Anda tidak bisa menerima saudara Syiah sebagai madzhab kelima? Hal yang mengherankan adalah Syiah mengatakan kepada Anda bahwa dia ingin bersatu dengan Anda. Dia tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Dia berteriak “Tidak ada Sunni atau Syiah, hanya ada satu, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah-belah kita. Bisakah Anda membayangkan, kita Sunni adalah 90% dari Muslim dunia. Dan 10%-nya adalah Syiah yang ingin menjadi saudara seiman, tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan? Mereka yang seharusnya ketakutan!

Seharusnya Anda tahu perasaan yang mereka miliki untuk Anda. Saat shalat Jum'at di Iran, terdapat jutaan orang. Anda harus melihat cara mereka melihat kepada Anda saat Anda berjalan. Mereka sadar bahwa Anda orang asing dan tidak satu dari mereka yang air matanya tidak mengalir di pipi mereka. Inilah perasaan yang mereka miliki untuk Anda, tapi Anda mengatakan tidak. Anda ingin mereka tetap di luar, takut kalau mereka mengeluarkan Anda (dari madzhab Anda—pent.). Anda hanya bisa keluar kalau ada hal yang lebih baik dari yang Anda miliki. Saya tidak tahu, mungkin diantara kalian berpikir saya seorang Syiah, tapi saya masih di sini bersama kalian.

Ada apa dengan semua ketegangan Sunni–Syiah ini? Semuanya adalah politik. Semua permusuhan yang kita miliki sekarang adalah politik. Jika ikhwan (saudara) Sunni di suatu tempat melakukan kesalahan, Anda mengatakan “Oh, orang itu tidak Islami, dia kafir”, tapi jika satu orang Syiah melakukan kesalahan, Anda menyalahkan seluruh komunitas Syiah. Seluruh negara dan bangsa yang jumlahnya jutaan, dan mengatakan mereka semua sampah hanya karena satu orang Syiah berbuat tidak Islami. Pada saat yang sama, kita melihat dengan cara yang berbeda jika salah seorang dari saudara Anda melakukan kesalahan serius karena dia ayah atau paman Anda. Satu kelompok Sunni mengatakan kepada yang lain “Anda bukan Muslim”, kelompok Sunni lain mengatakan “Anda bukan Muslim, Anda kafir.” Lihat hal itu di sekeliling kita, dan kita bertengkar di antara sesama. Bahkan beberapa orang dari kita melakukan hal yang konyol.

Saya bertemu seorang teman yang mengatakan kepada saya, “Kalau Anda pergi ke Newcastle, temui tuan fulan dan fulan dan Insya Allah segala hal akan diatur untukmu.” Lalu saya pergi ke orang itu dan seperti yang ia katakan kepada saya, saya diajak ke rumahnya untuk makan siang. Ketika saya duduk di meja makan saya melihat di dinding terdapat “burat”. Anda tahu apa itu “burat”? Sejenis binatang keledai dengan wajah seorang wanita yang bertujuan untuk memberikan tenaga listrik. Saya katakan kepadanya ini tidak benar. “Allah menciptakan tenaga listrik, Anda tidak bisa menciptakannya dengan patung keledai berwajah wanita.” Lalu dia terlihat kecewa. Tapi dia seorang Sunni, dia saudara dan tetap saudara saya.

Ketegangan Sunni-Syiah adalah pekerjaan setan untuk memecah-belah kita. Izinkan saya mengatakan sesuatu tentang Iran. Apa yang saya temukan adalah segala sesuatu berorientasi pada Islam. Seluruh negara diarahkan menuju Islam, dan mereka berbicara tidak lain hanya al-Quran. Saya belum pernah memiliki pengalaman dengan orang Iran yang menyangkal saya ketika saya berbicara tentang al-Quran. Sebaliknya saudara seiman kita bangsa Arab, semakin sering Anda mengutip al-Quran maka mereka akan menyangkal Anda dengan al-Quran lagi. Mereka bangsa Arab, mereka mengira lebih tahu banyak tentang al-Quran daripada kita, tapi orang Iran terlihat searah dengan al-Quran. Segala yang dia lakukan dan pikirkan adalah tentang al-Quran.

Anda ingat Tabas, ketika orang Amerika meminta membebaskan para tawanan. Negara paling berkuasa dalam bidang kemajuan teknologi di muka bumi; negara yang dapat mendaratkan manusia di bulan dan mengembalikannya; negara yang mengatakan kepada Anda bagian mana dari bulan, mereka akan mendaratkan dan membawanya kembali, mereka mengirim satelit ke Mars dan Jupiter. Sebuah negara yang memperingatkan Pakistan tentang gelombang pasang tragedi dan mereka tidak mengindahkan peringatan itu. Negara itu tidak bisa mendarat di Iran!

Bayangkan, mereka pergi ke sana dengan helikopter dan menghancurkan serta membunuh diri mereka sendiri. Bayangkan! Sebuah negara yang mendarat di bulan dan kembali lagi, tidak bisa mendarat di Iran. Rakyat Iran tidak berada dalam posisi untuk melakukan hal tertentu kepada mereka. Orang Amerika dapat pergi dan mengakhiri apa yang mereka inginkan. Saya datang dan melihat kedutaan Amerika dan bayangkan itu bangunan yang besar, luas dan tepat berada di tengah Teheran. Mereka dapat dengan mudah pergi dan membawa keluar orang-orang mereka, meski mereka kehilangan beberapa orang. Mereka dapat meraih tujuan mereka. Hal itu sudah direncanakan dengan matang.

Tapi tahukah Anda apa yang terjadi? Kegagalan dan mundurnya pasukan. Imam Khomeini telah mengatakan apa yang telah terjadi. Dia tidak mengatakan Subhanallâh atau Alhamdulillâh. Tahukah Anda apa yang dia katakan? Dia mengutip al-Quran: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah?” (QS. al-Fîl ayat 1). Itulah kalimat yang keluar darinya. Saya telah katakan kepada Anda bahwa dia al-Quran yang terkomputerisasi.

Anda tahu mereka namai apa helikopter besar tersebut? Jumbo helicopters, dan pesawat besar itu dinamai jumbo planes. Anda tahu arti jumbo dalam bahasa Swahili? Gajah! Itu bahasa Swahili. Dari situ mereka menamainya. Jadi helikopter itu berukuran gajah (besar) dan imam berkata: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka itu sia-sia?” (QS. al-Fîl ayat 1-2).

Tapi kita masih ragu, dunia Muslim menjadi sangat skeptis. Kita tidak percaya al-Quran lagi. Kalian tidak benar-benar percaya pada al-Quran. Bagi banyak orang ini semua hanya untuk seremoni, hanya untuk menciptkan perasaan spiritual yang lebih baik ketika Anda membaca al-Quran. Tapi terlihat tidak ada yang peduli dengan petunjuk yang telah Allah berikan. Semoga Allah menjadikan saudara seiman kita, pembawa obor dan cahaya petunjuk hari ini bagi dunia Islam. Inilah sebuah bangsa yang menjalankan tugasnya.

Saat Anda melihat mereka, kesungguhan ada pada diri mereka. Sebuah bangsa yang tidak takut. Anda melihat mereka dengan semangat besar yang mereka miliki. Mereka tidak takut untuk mengatakan “Marg bar Amrika” (Kematian bagi Amerika). Lalu mengatakan “Marg bar Shuravi” (Kematian bagi Uni Soviet). Bayangkan itu! Lalu “Kematian bagi Israel”. Bisakah Anda bayangkan sebuah bangsa melakukan hal itu tanpa takut?

Ini bukan semangat Islam yang ada pada kita, tapi bangsa Iran melakukannya dengan hati dan pikiran. Mereka tidak mengatakan, “Ini revolusi Iran” atau “Kami bangsa Iran.” Mereka berbicara tentang Islam, sebuah Revolusi Islam. Ini bukan Revolusi Iran tapi ini adalah Revolusi Islam. Inilah revolusi bagi Islam dan sedikit pertanyaan mengapa bangsa-bangsa di dunia tidak bisa menerimanya karena Islam yang tidak ingin mereka terima. Maka saudara-saudari sekalian, saya telah mengambil banyak waktu berharga kalian. Dengan kata-kata ini, saya persilakan Anda duduk dan bertanya."

Postingan ini tidak bermaksud membela Syiah, tapi hanya melihat cara pandang seorang pendakwah internasional Sunni asal Afrika Selatan terhadap Syiah, Syaikh Ahmad Husein Deedat. Ceramah ini disampaikan di hadapan banyak audiens berdasarkan pengalaman perjalanan Syaikh Ahmad Deedat ke Republik Islam Iran pada tanggal 3 Maret 1982. Unduh file pidatonya di sini: http://www.inminds.com/ra/deedat.ra
Pentranskrip: Mustafa Mond
Penerjemah: Ali Reza Aljufri Follow @ejajufri dan Fatimah Alkaff Follow @ftkf

http://www.muslimedianews.com/2015/11/syaikh-ahmad-deedat-mengungkap-syiah.html

Nb. Syaikh Ahmad Husein Deedat ini merupakan gurunya Dr. Zakir Naik. Bedanya, Syaikh Ahmad Deedat Sunni-Sufi (Tasawuf) sedangkan Dr. Zakir Naik adalah Salafi-Wahabi yang moderat.

Pernah membaca kisah Ahmed Deedat yang konon membungkam mulut “pendeta” Syiah melalui kata-kata “pada zaman rasul, orang Syiah suka mencuri sandal”? Ternyata kisah itu adalah cerita jiplakan dari kisah asli yang tertulis dalam kitab Munâdzarât fi al-Imâmah. Kitab tersebut mengisahkan tentang seorang ulama Syiah bernama Allamah Hilli yang diundang oleh salah seorang raja Dinasti Ilkhanid bernama Khodabande untuk menjelaskan tentang sebuah perkara fiqih, yakni talak tiga dalam satu lafadz.

Suatu hari sang raja mengumpulkan ulama empat madzhab Ahlusunnah di dalam istana. Ketika Allamah Hilli masuk, ia langsung memberi salam dan membawa masuk sandal bersamanya. Ketika ditanya kenapa Allamah membawa sandalnya masuk, Allamah Hilli mengatakan, “Aku takut sandalku dicuri oleh pengikut Hanafi sebagaimana Abu Hanifah mencuri sandal Rasulullah.” Jawaban Allamah membuat ulama Hanafi bangkit dan memprotes karena bagaimana mungkin hal itu terjadi karena Abu Hanifah lahir 100 tahun setelah Rasul wafat.

Allamah Hilli mengatakan, “Oh, maaf! Imam Syafi'i yang mencuri.” Ini juga diprotes oleh ulama Syafi'i dengan dalil yang sama dengan ulama Hanafi dan seterusnya hingga keempat madzhab. Setelah semuanya protes, Allamah Hilli langsung berbicara kepada raja dan keempat ulama madzhab sependapat bahwa imam-imam mereka tidak hidup pada zaman Rasulullah.

Itulah singkat cerita dari bab ketiga kitab yang ditulis oleh Syaikh Abdullah al-Hasan. Entah bagaimana kisah itu bisa dicatut dan dialamatkan kepada Syaikh Ahmed Hoosen Deedat.

Habib Umar Bin Hafidz Pernah Ceramah dan Shalat di Gereja


Pernah Habib Salim, putera Habib Umar bin Hafidz, seraya bercerita panjang kemudian beliau berkata: "Ayahanda mengunjungi Denmark, negara yang dikenal paling membenci dan menghina Rasulullah Saw. Namun baru saja beliau keluar dari bandara, sudah disambut dengan pembacaan Maulid Nabi Saw. di bandara."

Habib Umar bin Hafidz pun berpaling kepada puteranya itu seraya berkata: “Kau lihat? Pernahkah kau melihat orang yang menyambutku di bandara dengan pembacaan Maulid? Sungguh di seluruh dunia belum pernah terjadi, tapi terjadi di sini, di Denmark, negara yang konon sangat membenci dan menghina Nabi Saw. Belum sampai aku di kotanya, baru di bandara saja lantunan Maulid Nabi Saw. dikumandangkan. Kau lihat bagaimana Allah Swt. Mahamemberi hidayah walau di tempat yang konon paling menghina Nabi Saw.?”

Di Jerman Habib Umar bin Hafidz menyampaikan ceramah (taushiyah) di salah satu forum, hadir diantaranya seorang missionaris Nasrani yang mencuri dengar. Lalu dilaporkannya hal itu pada pimpinan gereja, yaitu guru si missionaris Nasrani itu. Akhirnya pendeta besar memutuskan untuk mengundang Habib Umar bin Hafidz untuk datang ke gereja dan menyampaikan ceramah di sana. Seakan hal itu merupakan tantangan sekaligus pelecehan, kau yang berbicara kerukunan ummat beragama, apa berani masuk gereja?

Ternyata Habib Umar bin Hafidz setuju, datang, bahkan minta izin shalat di dalam gereja. Padahal telah kita pahami bahwa dari seluruh madzhab sebagian mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram, namun sebagian mengatakan boleh jika diharapkan akan berubah menjadi masjid.

Selepas Habib Umar bin Hafidz menyampaikan ceramahnya, maka pimpinan pendeta ditanya: "Bagaimana pendapatmu terhadap Islam?"

Dijawabnya: "Aku benci Islam, namun aku cinta pada orang ini."

"Jika kau mencintaiku, akan datang waktunya kau akan mencintai Islam," kata Habib Umar kemudian.

Lalu ada seseorang yang menegur Habib Umar bin Hafidz, bagaimana melakukan shalat di gereja? Beliau menjawab: "Aku melakukannya karena aku tahu tempat ini akan menjadi masjid kelak."

Kami bertanya, apa yang membuat Guru Mulia (Habib Umar bin Hafidz) masih di dalam bandara, apakah beliau ditahan dan dipersulit? "Ayahanda asyik dengan mereka, mereka tidak tahu Islam dan minta kejelasan. Justru ayahanda senang dan duduk dengan mereka memberi taushiyah serta penjelasan pada staf imigrasi change airport tentang indahnya Islam. Mereka yang awalnya curiga dan ingin menginterogasi, justru menjadi pendengar setia dan terlalu asyik duduk mendengar penyampaian lemah-lembut beliau hingga menghabiskan waktu 90 menit!" Jawab putera Habib Umar, Habib Salim bin Umar bin Hafidz. (Sumber: Ust. Muchamad Khavis Maqmun).

http://www.muslimedianews.com/2015/11/habib-umar-bin-hafidz-pernah-ceramah.html

Habib Umar Bin Hafidz: Bekal Ummat Islam di Akhir Zaman (Masjid Istiqlal 16 November 2015)

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 20 November 2015 | 09.24


Salah satu mukjizat Rasulullah Saw. bisa membelah bulan, yang merupakan tanda Akhir Zaman, dijelaskan dalam surat al-Qamar. Kita umatnya Rasulullah Saw. merupakan pengikut sang pembelah bulan. Mukjizat lainnya yaitu Rasulullah Saw. bisa mengeluarkan air dari jari-jemari mulia beliau. Mukjizat ini tidak ada yang bisa menyamainya, bahkan para nabi lainnya.

Kejadian keluarnya air dari jari-jemari Rasulullah Saw. banyak terjadi. Ketika akan berperang, pasukan dengan jumlah sekitar 1.500 sahabat mengalami kehausan karena perbekalan sudah habis. Rasulullah Saw. memasukan jari beliau ke sebuah mangkuk kecil. Kemudian dari jari-jemari beliau keluar air terus-menerus memenuhi mangkuk. Semua sahabat menampung air yang meluber dari mangkuk kecil itu hingga bisa dibuat minum semua sahabat dan juga untuk berwudhu. Tempat-tempat persediaan air pun dipenuhi.

Sayyidina Anas bin Malik Ra. ditanya berapa jumlah pasukan yang hadir, apakah air tadi cukup untuk memenuhi kebutuhan pasukan? Sayyidina Anas menjawab: "Andaipun jumlah pasukan 100.000 orang maka air tersebut masih cukup."

Itu semua merupakan qadrat (kuasa) Allah Swt. Maknanya, bahwa sesungguhnya kekuatan Allah-lah yang bisa mengeluarkan air dari jari-jemari Rasulullah Saw. Bahkan dari manapun Allah berkehendak, hal itu mudah bagiNya. Mengapa kita bangga dengan teknologi saat ini, padahal tidak ada teknologi yang mampu mengeluarkan air dari jari-jemari manusia? Sedangkan air yang keluar dari jari-jemari Rasulullah Saw. lebih afdhal (utama) dari air manapun di dunia ini.

Kita umat Akhir Zaman merupakan pengikut Rasulullah Saw. yang mempunyai air paling afdhal ini. Majelis-majelis ini adalah perkumpulan paling utama karena meneladani Rasulullah Saw. Kita berharap suatu saat nanti bisa meminum air dari telaga Kautsar karena kita meneladani Rasulullah Saw.

Manusia yang punya jabatan, punya kekayaan dunia, namun itu semua tidak ada kebanggaan bagi mereka selama mereka tidak bisa sampai kepada telaganya Rasulullah Saw. nanti di akhirat. Tidak ada kebanggaan sedikitpun. Demi Allah! tidak ada kemuliaan bagi mereka yang tidak mengikuti keteladanan Rasulullah Saw. Mereka menyesal kelak di akhirat hingga ingin menjadi tanah saja karena saking menyesalnya. Manusia yang membenci Rasulullah Saw. dilarang ke telaga beliau. Muslim yang tidak mau memaafkan Muslim lain juga dilarang ke telaga Rasulullah Saw.

Dua orang yang akan diperangi Allah, dan disebutkan dalam al-Quran dan hadits, yaitu pemakan riba dan orang yang memerangi walinya Allah Swt. Penyebaran bencana di dunia ini adalah karena maraknya praktek-praktek riba dan caci-maki yang dilakukan kepada wali-wali Allah Swt. Bagaimana keadaan para pencaci ahlul bait dan wali Allah? Allah menyatakan perang kepada mereka yang mencaci ahlul bait dan para wali Allah.

Dalam mengatasi bencana yang terjadi, manusia sering melakukan perundingan, rapat-rapat, guna mencari solusinya. Namun bukan bencananya selesai bahkan akan semakin parah. Hal itu karena praktek riba dan hati yang kotor yang digunakan mencaci-maki. Di majelis ini kita dekatkan diri kepada Allah Swt. Kita bersihkan hati kita. Kita cari taubat yang sesungguhnya.

Tentang betapa agungnya keridhaan Allah, lebih daripada dunia dan seisinya, digambarkan oleh Guru Mulia (Habib Umar bin Hafidz) dengan sebuah kisah seorang sahabat bernama “Dzulbijadain” yang mencari keridhaan Allah. Hatinya dipenuhi dengan perasaan ingin mendapatkan ridhanya Allah. Dan dia berkeyakinan bahwa keridhaan Allah adalah yang paling mahal dari apapun di dalam kehidupannya.

Dzulbijadain mencari keridhaan dari sumber keridhaan, dia pun merindukan Rasulullah Saw. Dia asyik duduk bersama Nabi Saw., dan senang mengikuti ajaran Rasulullah Saw. Sedangkan kabilah (suku) di kampungnya sendiri adalah orang-orang non-Muslim. Kabilahnya melarang ia untuk pergi kepada Rasulullah Saw. Mereka menghalangi Dzulbijadain agar jangan sampai keluar kampung pergi ke Madinah. Tetapi Dzulbijadain selalu mencari kesempatan untuk bertemu Rasulullah Saw. di Madinah.

Hingga pada suatu malam dia pun berhasil meloloskan diri dari kampungnya setelah mereka tidak tahu. Namun secara kebetulan ada orang yang melihatnya, maka ditangkaplah Dzulbijadain. Dzulbijadain membujuk orang yang menangkapnya tersebut dengan berkata: “Kalian tidak perlu kepada saya, lepaskanlah, apa yang kalian minta akan aku berikan.”

Kebanyakan orang-orang kafir sering tertipu dengan harta dan benda. Mereka bilang: “Saya mau imbalannya semua asetmu menjadi milik kami!”

“Baik, aku berikan.” Kata Dzulbijadain.

Tanya mereka lagi: “Bahkan semua bekalmu, tinggalkan buat kami?”

Jawab Dzulbijadain: “Ambil semuanya buat kamu, kecuali dua baju yang kupakai.”

Maka dilepaskanlah Dzulbijadain. Dengan hati yang senang, pergilah ia ke Madinah hanya dengan dua lembar baju tersisa yang sudah lusuh, yang menutupi bagian bawah (izar/sarung) dan bagian atas (rida’)nya. Hingga dia dikenal di kalangan sahabat sebagai “Dzulbijadain” (orang yang datang dengan dua lembar baju yang sudah lusuh).

Beliau ini merasakan kenikmatan dengan melihat wajah sang Nabi Saw. Dan beliau sangat merasa nikmat apabila mendengar sabda Nabi dan shalat di belakang Nabi Muhammad Saw. Serta merasa nikmat hadir di majelis Nabi, makan bersama Nabi, dan berjalan bersama dengan Nabi Saw.

Beliau sendiri banyak menghabiskan waktunya di dalam masjid. Pernah suatu ketika Nabi Saw. berjalan melalui masjid, sementara terdengar suara Dzulbijadain berdzikir dengan suara keras. Maka sebagian sahabat bilang: “Jangan-jangan dia ingin riya’ ya Rasulullah?” Rasulullah Saw. mengatakan: “Tidak, itu bukan riya’, tapi sikap orang yang merujuk kepada Allah Swt.”

Suatu peristiwa terjadi, saat Rasulullah Saw. pergi untuk perang Khaibar dan Dzulbijadain ikut pergi bersama dengan Nabi. Di dalam perjalanan pulang (kembali ke Madinah), Dzulbijadain pun meninggal dunia. Para sahabat menggali kuburan untuknya, termasuk yang menggali kuburnya adalah para pembesar sahabat Nabi yaitu Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar Ra.

Begitu sudah selesai digali, Rasulullah Saw. sendiri yang turun ke liang lahat untuk menerima jasad Dzulbijadain dengan tangan mulianya serta meratakan lahat itu. Kemudian Baginda Nabi pun shalat jenazah atasnya. Rasulullah Saw. berdoa: “Ya Allah ridhalah Engkau kepadanya, karena sesungguhnya aku ridha kepadanya.”

Betapa beruntungnya Dzulbijadain, sejak malam itu mendapat ridha Rasulullah Saw. sampai malam ini. Betapa beruntung hidupnya. Apakah ada sedikit penyesalan di hatinya atas harta yang dulu dia berikan untuk menebus dirinya? Mereka yang merampas hartanya justru menyesal karena tidak mengikutinya untuk menemui Nabi Saw.

Ya Allah ridhalah Engkau kepada kami, dan jadikan Nabi Muhammad ridha kepada kami. Ya Allah dengan “tajjali” yang Engkau pancarkan pada Dzulbijadain di malam itu, maka bentangkanlah karuniaMu pada kami saat ini juga. Aamiin. (Ditranskip oleh: Narko Sun, dari ceramah Habib Umar bin Hafidz di acara Tabligh Akbar Majelis Rasulullah Saw. 16 November 2015).

http://www.muslimedianews.com/2015/11/habib-umar-bin-hafidz-bekal-penting.html



HABIB UMAR BIN HAFIDZ: 10 PRINSIP HIDUP DALAM PLURALITAS

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 18 November 2015 | 16.19



Hubungan baik antar manusia dengan berbagai macam keberagaman ras adalah hal pokok dalam kehidupan. Allah Swt. menyatakan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS. al-Hujurat ayat 13).

Dengan mengingat kesatuan asal-muasal manusia, maka ikatan psikologis telah dijalin demi persatuan sosial. Serta mengurangi sebisa mungkin kebanggaan-kebanggan individu yang saling merendahkan satu sama lain. Hal ini berdasarkan pada ayat suci:

وَما أَرْسَلْنا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلينَ إِلاَّ إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعامَ وَ يَمْشُونَ فِي الْأَسْواقِ وَ جَعَلْنا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَ كانَ رَبُّكَ بَصيرا

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Mahamelihat.” (QS. al-Furqan ayat 20).

Setidaknya ada 10 prinsip yang diajarkan syari’ah Islam untuk menata kehidupan sebagai konsep dalam masyarakat yang plural (beragam):

1.      Tidak Ada Pemaksaan dalam Berkeyakinan

Di dalam al-Quran, Allah Swt. menyebutkan:

لآَإِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. al-Baqarah ayat 256).

Perlu dicatat, bagaimanapun, bahwa mendakwahkan agama dan mengkampanyekan kebaikan-kebaikannya tidak akan berhasil dengan paksaan, maka hal tersebut dilarang. Meskipun begitu, dakwah tetap merupakan kewajiban, bahkan menjadi tugas yang pokok bagi kaum Muslimin. Ada perbedaan yang sangat jelas antara menerapkan kekerasan untuk pemaksaan agama dengan perlawanan fisik terhadap hambatan dakwah, yang dimulai dengan argumen-argumen bernas. Ketika memang terjadi hal terakhir itulah, perlu ada perlawanan fisik. Allah Swt. berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim.” (QS. al-Baqarah ayat 193).

Namun tentu saja, sikap perlawanan ini tidak boleh bertentangan dengan ayat sebelumnya, bahwa “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).”

2.      Perlindungan atas Nyawa, Harta dan Kehormatan Setiap Warga

Di dalam al-Quran disebutkan:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الأرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: ‘Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya’.” (QS. al-Maidah ayat 32).

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa membunuh seorang mu’ahad (yakni orang yang dijamin keselamatannya, merujuk kepada orang non-Muslim yang hidup di negeri Muslim), tidak akan mencium wewangian surga, meskipun aroma surga bisa tercium dari jarak 40 tahun perjalanan.”

Maka atas dasar perlindungan terhadap kehidupan, kepemilikan dan kehormatan itulah pentingnya membangun hubungan baik di antara kelompok-kelompok sebagai anggota suatu masyarakat.

3.      Keadilan dalam Setiap Kebijakan Pemerintah terhadap Semua Elemen Masyarakat

Pembawaan emosional maupun kepentingan pribadi tidak diperbolehkan menjadi dasar untuk membuat putusan; baik untuk menegaskan yang salah, maupun untuk membatalkan kebenaran. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Mahamendengar lagi Mahamelihat.” (QS. an-Nisa’ ayat 58).

Disebutkan juga di dalam al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Maidah ayat 8).

Sejarah kejayaan Islam menyebutkan kisah menarik, yakni tentang suatu balapan kuda antara putra ‘Amr bin Ash (gubernur Mesir saat itu) dengan seorang warga Mesir biasa. Karena kalah, putra ‘Amr ini emosi kemudian memukul orang Mesir itu tanpa kendali. Kemudian orang Mesir tersebut melaporkan hal ini kepada Khalifah Umar bin Khattab. Beliau pun memanggil putra ‘Amr dan ayahnya, lalu mempersilakan si orang Mesir untuk membalas sesuai dengan perlakuan yang dialaminya. Lalu Khalifah menegur si pelaku; “Sejak kapan engkau mulai memiliki orang yang terlahir merdeka ke dunia ini?” Lihatlah, kejadian ini menjadi salah satu cerminan prinsip keadilan dan kesetaraan di dalam Islam.

4.      Cinta-kasih dan Kesetiaan vis-a-vis Keadilan dan Kebaikan

Meskipun cinta dan kasih mendalam tidak diperkenankan untuk ditunjukkan kepada mereka yang mengingkari Allah dan RasulNya, namun nilai-nilai kebaikan dan keadilan harus tetap ditegakkan, sebagaimana diajarkan oleh Islam dan merupakan warisan dari Rasulullah Saw. Penjelasan tentang ini nampak jelas di dalam al-Quran:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah ayat 8).

Larangan di dalam ayat ini terkecualikan bagi segelintir orang, yakni mereka yang memobilisasi kekuatan untuk menyerang, menekan dan menjajah, sebagaimana ditekankan dalam ayat al-Quran:

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. al-Mumtahanah ayat 9).

Jika ayat-ayat al-Quran kita lihat secara keseluruhan, maka ayat-ayat semacam ini:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS. at-Taubah ayat 73), ialah merujuk kepada kelompok manusia tertentu yang melakukan penyerangan, menjajah kemerdekaan dan menebarkan kerusakan. Tak perlu dipertanyakan lagi bahwa penjajah memang harus dilawan. Namun perlu dipahami bahwa ada garis-garis tuntunan dalam hal tentang perlawanan ini. Narasi berikut ini sekiranya bisa menggambarkan hal tersebut:

“Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi, dari Abu Imran al-Jauni, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq Ra. suatu kali mengirimkan Yazid bin Abi Sufyan ke Syam (hari ini Suriah dan sekitarnya). Kala itu, Yazid berkata, “Aku tak suka melihat keadaan ini; aku berkendara sedangkan engkau jalan kaki.” Kemudian Abu Bakar menyahut, “Engkau telah keluar sebagai orang yang berperang di jalan Allah, maka aku mengharapkan pahala dari jalan kakiku ini.” Lalu beliau menasehati Yazid, “Jangan membunuh anak-anak, wanita, orang tua, jangan pula menyerang orang terluka dan sakit, maupun para rahib. Pastikan jangan sampai menebang pohon-pohon berbuah, atau merusak wilayah berpenghuni. Jangan bunuh unta-unta atau hewan ternak melainkan sekedar untuk makan, jangan pula tenggelamkan pohon-pohon kurma ke laut atau membakarnya.”

Jika demikian halnya etika yang diteladankan oleh Rasulullah melalui para sahabat terhadap para penyerang dan penjajah, maka bagaimana kiranya akhlaq beliau terhadap mereka yang tidak menyerang?

5.      Mematuhi Kesepakatan dan Mencegah Pengkhianatan

Allah Swt. berfirman:

إِلَّا الَّذِينَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ لَمْ يَنْقُصُوكُمْ شَيْئًا وَلَمْ يُظَاهِرُوا عَلَيْكُمْ أَحَدًا فَأَتِمُّوا إِلَيْهِمْ عَهْدَهُمْ إِلَىٰ مُدَّتِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

“Kecuali orang-orang musyrik yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. at-Taubah ayat 4).

Di dalam kiab sirahnya, Ibnu Hisyam menuliskan bahwa: “Ketika Abu Jandal mendatangi Rasulullah Saw. pada saat perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, Rasulullah Saw. berkata kepadanya; “Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan harapkanlah pahala, sebab Allah akan menyediakan jalan keluar bagimu dan kaum Muslimin yang bersamamu. Kita telah mengikat kepercayaan dengan mereka, kita telah berjanji tidak akan mencederai perjanjian ini dan merekapun demikian atas nama Allah. Maka kita tidak akan mengkhianati perjanjian ini.”

Stabilitas dan keseimbangan jangka panjang hanya bisa diharapkan jika seluruh unsur masyarakat mau berkomitmen terhadap persetujuan bersama. Hal ini kemudian akan menciptakan situasi yang aman, suasana yang nyaman dalam keberagaman, dimana pelaksanaan dan pertukaran kepentingan bersama bisa berlangsung.

6.      Mengenali Pihak-pihak yang Bisa Diajak Bekerjasama

Ketika Rasulullah Saw. meninggalkan Mekkah bersama Abu Bakar Ra., beliau menyewa seorang musyrik yang bisa dipercaya untuk memandu jalan. Bahkan pada saat hendak Perang Badar. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. berpesan kepada para sahabat; “Aku kenal banyak diantara Bani Hasyim dan lainnya yang dipaksa untuk berperang dalam medan ini. Maka jika kalian berhadapan dengan orang-orang dari Bani Hasyim, jangan serang mereka, dan siapapun yang berhadapan dengan Abbas bin Abdul Mutthalib maka jangan sampai membunuhnya karena ia pun telah dipaksa berperang dan tidak atas kemauannya.”

Lebih jauh lagi, saat Rasulullah Saw. kembali dari Tha’if menuju Mekkah, sambil memperkirakan akan muncul banyak serangan sepeninggal Abu Thalib, maka beliau bernaung di bawah perlindungan Muth’im bin ‘Adi, sedangkan Abu Bakar kepada Ibnu Dughunnah.

7.      Membuat Pembedaan antara Ilmu-ilmu Materi dengan Ilmu-ilmu Akidah dan Syari’ah

Dalam ilmu-ilmu materi, semisal bahasa, permesinan, sosiologi matematika, teknik, industri, profesi, dan sebagainya, bisa dipelajari dari siapapun yang memang ahli dalam bidang masing-masing, tentu saja tanpa melalaikan kewajiban syari’ah. Namun dalam ilmu-ilmu akidah dan syari’ah, harus dipelajari melalui sumber-sumber otentik, dengan belajar bersama guru yang bersambung rantai keilmuannya (sanad) kepada Rasulullah Saw. Hal ini diterapkan bagi ilmu-ilmu akidah dan syari’ah, tidak demikian dengan ilmu-ilmu material karena tentu akan sangat menghambat.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menorehkan di dalam Fathul Bari: “Ahmad dan Ibnu Abi al-Bazzar menyampaikan dari riwayat Jabir, bahwa Umar Ra. suatu kali datang kepada Nabi Saw. dengan membawa sebuah buku yang ia dapatkan dari beberapa Ahlul Kitab. Saat ia membacakannya di hadapan Nabi, beliau Saw. pun nampak marah dan berujar, “Telah kubawakan padamu yang suci dan murni. Maka jangan kau minta kepada mereka sesuatu yang tidak jelas, yang mana bisa berupa kebenaran namun kau mengingkarinya, atau berupa kesalahan namun kau mengiyakannya. Demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, jika Musa masih hidup tentu dia tak punya pilihan lain selain mengikutiku.”

Imam Muslim, di dalam mukadimah Shahih-nya, mengatakan ujaran Imam Muhammad bin Sirin bahwa: “Sungguh ilmu ini ialah agama. Maka perhatikan dari mana engkau mengambil agamamu.”

8.      Membalas Kebaikan dengan Kebaikan Pula

Rasulullah Saw., sebagai bentuk penghormatan terhadap para tawanan Perang Badar, mengatakan: “Perlakukan Ibnu ‘Adi dengan baik di antara para tawanan ini, pasti aku akan bebaskan mereka semua sebab dia.” Hal ini dikarenakan Ibnu ‘Adi adalah sosok yang sangat menentang pemboikotan kaum Quraisy terhadap Nabi, serta dialah yang merobek surat kesepakatan yang memutuskan pengasingan Bani Hasyim di Syi’b Abu Thalib selama beberapa tahun, serta dia pulalah yang memberikan perlindungan kepada Nabi ketika kembali dari Tha’if.

Juga harus dicatat, bahwa penolakan segala bentuk rasisme dan kesukuan akan sangat memperkuat kebaikan di antara unsur dalam masyarakat. Abu Dawud meriwayatkan dari Jubair ibn Muth’im, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa mengajak kepada ashabiyyah (fanatisme kesukuan) maka ia bukan dari golongan kami. Barangsiapa yang bertempur sebab ashabiyyah, maka ia bukan dari golongan kami. Barangsiapa yang mati dalam ashabiyyah, maka dia bukan dari golongan kami.”

9.      Menghindari Debat Kusir dan Menyalurkannya Secara Efektif

Salah satu faktor utama penyebab kekisruhan dalam keberagaman adalah pertengkaran dalam debat yang berlebihan, hasutan menuju keributan, serta pergolakan dan kritik-kritik yang tidak penting. Syari’ah jelas telah melarang kita untuk berbantahan, kecuali dengan cara yang baik dan terpuji. Allah Swt. menyatakan:

وَلا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS. al-‘Ankabut ayat 46).

Juga disebutkan di dalam al-Quran:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ قلى اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl ayat 125).

Salah satu cara yang juga bisa menjaga dari perdebatan adalah dengan menyadari bahwa kewajiban dalam dakwah ialah menyampaikan dengan lemah lembut dan luwes, bukan dengan sikap agresif dan dominasi. Kita juga jangan sampai memaksakan kehendak kepada orang-orang, mengukur tingkat keimanan orang lain dan menghakimi apa yang mereka lakukan. Sayangnya perilaku semacam ini kadang kita temukan pada mereka yang mengaku berdakwah, dan menganggapnya sebagai bentuk ghirah dalam beragama.

10.  Membuka dan Menyediakan Ruang bagi Para Pencari Kebenaran

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang diantara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (QS. at-Taubah ayat 6).

Sebagai komentar bagi ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan dalam tafsirnya: “Maksudnya; Allah menitahkan kepada NabiNya; jika orang-orang musyrik yang halal darahnya (sebab penganiayaan yang telah mereka lakukan) itu datang kepadamu untuk meminta perlindungan, maka berilah mereka perlindungan hingga mereka bisa mendengarkan al-Quran. Hal ini memungkinkan bagi mereka untuk menerima kebenaran Islam, serta mengimani Allah Swt. Setelah itu, mereka bisa menetap di tempat yang aman sampai tiba masanya mereka bisa kembali ke kampung halaman. Dan Allah menyatakan hal ini untuk menunjukkan bahwa ada kesempatan bagi mereka untuk memahami pesan-pesan Ilahi dan kemuliaan aturan Islam.”

Inilah sepuluh prinsip hidup dalam keberagaman (pluralitas) yang disampaikan oleh al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syaikh Abi Bakr bin Salim, pengasuh Ma’had Darul Musthafa, Tarim Hadhramaut Yaman. (Sumber: Naseem al Sham, diterjemahkan oleh Zia Ul Haq dari catatan Dr. Muhammad Yasir al-Qadmani atas transkrip ceramah al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz, via www.santrijagad.org).


 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template