Latest Post

Peran Madrasah Hadhramaut Bagi Kamakmuran Bangsa Indonesia dan Seluruh Umat Manusia

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 16 April 2014 | 05.32





Mengetahui semakin maraknya berita yang meliput tentang kerusakan moral Bangsa Indonesia sebagaimana yang sering kita baca, dengar, ataupun lihat dalam berbagai media masa, mulai dari tawuran, pemerkosaan, pencurian, hingga pembunuhan, hati kami merasa tergugah untuk memberi sedikit sumbangan pemikiran dalam sebuah tulisan yang membahas tentang apa yang kami ketahui seputar manhaj madrasah Hadhramaut.

Karena sudah beberapa tahun kami tinggal di Hadhramaut, dan setelah sekian waktu meneliti, memahami, serta merasakan atsar dari madrasah ini, kami bisa menyimpulkan bahwa barangsiapa yang mau mempelajari dan menerapkan manhaj ini dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kebaikan akan senantiasa menyelimuti, hal ini pun bisa menjadi salah satu solusi untuk membangun karakter pendidikan Bangsa Indonesia di kedepannya nanti.

Mengenal Madrasah Hadhramaut

Madrasah Hadhramaut adalah suatu istilah yang belakangan ini mulai populer di kalangan para pecinta habaib di Hadhramaut, khususnya bagi mereka yang telah mereguk ilmu dari para guru yang memiliki sanad keilmuan serta nasab yang bersambung hingga Rasulullah Saw. Istilah ini awal kali dipopulerkan oleh salah satu guru kami yang bernama Habib Abu Bakr bin Ali al-Masyhur al-Adni dalam pengajaran beliau maupun dalam berbagai kitab yang telah beliau karang, seperti kitab ad-Dalail an-Nabawiyyah al-Mu’abbirah ‘an Syaraf al-Madrasah al-Abawiyyah dan kitab-kitab beliau yang lain.

Madrasah dalam hal ini yang dimaksud bukanlah suatu institusi ataupun lembaga tertentu, melainkan yang dimaksud adalah suatu manhaj atau konsep pemikiran yang diusung oleh para pendahulu, yang sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan Thariqah Alawiyyah yang dinisbatkan kepada Habib Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah. Thariqah yang berasaskan pada al-Quran, sunnah, dan kalam-kalam hikmah dari para pendahulu yang shaleh ini memiliki 5 prinsip dalam menyebarkan kebaikan dan kemanfaatan bagi masyarakat. Kelima prinsip tersebut adalah ilmu, amal, wara’, ikhlas dan takut hanya kepada Allah Swt.

Jika kita berbicara tentang Madrasah Hadhramaut, maka kita tidak akan bisa lepas dari berbicara tentang ilmu tasawwuf, yaitu ilmu yang membahas tentang pembersihan jiwa serta perbaikan hati dan akhlak, hal ini sebagaimana yang pernah disampaikan oleh guru kami Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufry dalam suatu pengajaran beliau. Jika kita mau melihat dan merenungi akan permusuhan, peperangan, serta kerusakan moral yang terjadi di sekitar kita, maka kita akan menemukan bahwa penyebab utama dari itu semua tidak lain adalah karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap kebersihan hati serta jiwa mereka.

Guru kami Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz pada suatu kesempatan pernah menuturkan bahwa: “Seandainya hati dan jiwa semua orang sudah bersih, niscaya kerusakan dan peperangan di muka bumi ini tidak akan pernah terjadi.”

Penerapan Manhaj Madrasah Hadhramaut

Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh dia mau untuk berusaha membersihkan jiwa serta hatinya. Barangsiapa yang tekun dalam bermujahadah untuk membersihkan jiwa dan hatinya dari sifat-sifat yang tecela, maka dia adalah orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang tidak mau berusaha untuk membersihkan jiwa dan hati kemudian menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji, maka sungguh dia adalah orang yang benar-benar merugi.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat asy-Syams ayat 7-10 yang maknanya: “Demi jiwa dan kesempurnaan penciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kafasikan dan jalan ketakwaan. Sungguh beruntung bagi orang yang mau membersihkan jiwanya, dan sungguh merugi bagi orang yang telah mengotorinya.”

Dan sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim: “Sesungguhnya di dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, namun jika buruk maka akan buruk pula seluruh anggota tubuh yang lainnya. Segumpal daging itu tidak lain adalah hati.”

1.      Pembersihan Jiwa

Jiwa atau dengan kata lain nafsu, adalah salah satu komponen yang dimiliki oleh semua manusia. Oleh karena itu, setiap manusia berpotensi untuk berbuat kebaikan dan berbuat keburukan, baik muda atau tua, muslim atau kafir, laki-laki ataupun perempuan. Nafsu yang terdidik dan terlatih untuk berbuat kebaikan akan mudah untuk menerima serta mengerjakan kebaikan. Sebaliknya, nafsu yang terlantarkan dan tidak tersucikan akan mudah untuk menerima dan mengerjakan keburukan. Apalagi di dalam al-Quran dijelaskan bahwa nafsu itu memiliki sifat yang selalu condong pada keburukan. Jadi, nafsu yang ada di dalam setiap diri kita, jika tidak kita sibukkan dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkan kita dengan keburukan.

Bagaimanakah cara untuk membersihkan jiwa? Ada 2 tahap, yang pertama adalah mujahadah, yaitu dengan mengekang keinginan hawa nafsu yang selalu mengajak pada keburukan. Syaikh Muhammad al-Bushiri dalam Qashidah Burdahnya menuturkan bahwa: “Jangan harap dengan terus-menerus berbuat maksiat dan menuruti hawa nafsu, engkau akan bisa menundukkan nafsumu, karena nafsu  tak ubahnya seperti anak kecil yang masih menyusu, jika keinginannya untuk menyusu dituruti terus-terusan, maka ia akan terus menyusu sampai besar. Tetapi jika engkau mau menyapih atau menghentikannya, maka barulah ia akan mau berhenti.”

Tahap yang kedua adalah riyadhah, yaitu dengan melatih nafsu secara bertahap dan sedikit demi sedikit untuk diajak dalam berbuat kebaikan. Mengenai hal ini, guru kami Habib Kadzim bin Ja’far Assegaff pernah menuturkan bahwa: “Nafsu itu diibaratkan seperti hewan tunggangan, jika sang pemilik mau melatih dan mendidiknya secara rutin, maka lama-kelamaan ia akan menjadi nurut kepadanya dan menjadi tunduk atas segala perintahnya.”

2.      Perbaikan Hati

Allah Swt. menciptakan hati manusia dan menjadikannya sebagai raja. Sedangkan seluruh anggota tubuh yang lain adalah sebagai bala tentaranya. Jika rajanya baik maka bala tentanya akan ikut baik, namun jika rajanya buruk maka bala tentaranya pun akan ikut buruk. Hati merupakan bagian dari tubuh manusia yang mempunyai peran yang sangat penting, terutama dalam urusan ibadah kepada Allah Swt. Hal itu karena setiap perbuatan manusia tidak bisa dinilai sebagai ibadah kecuali dengan adanya niat, sedangkan niat tempatnya di dalam hati. Selain itu, hati juga merupakan tempat berteduhnya keimanan serta ketakwaan.

Diantara sifat yang dimiliki oleh hati manusia adalah bisa dan mudah untuk berubah-ubah, kadang baik, kadang sakit, dan kadang buruk. Ketika hati baik, maka ia akan mudah untuk menerima kebaikan, ketika sakit, ia akan merasa berat dalam mengikuti kebaikan. Dan ketika buruk, maka ia akan sulit untuk menerima, mencintai, mengikuti dan mendahulukan kebenaran serta kebaikan.

Bagaimanakah cara untuk memperbaiki hati? Guru kami Habib Abdullah bin Muhammad Baharun kurang lebihnya pernah menuturkan bahwa: “Langkah awal dalam proses untuk memperbaiki hati kita adalah dengan belajar, mengenal dan mencari tahu tentang macam-macam penyakit hati. Karena barangsiapa yang bodoh terhadap sesuatu, maka suatu saat dia akan terjerumus ke dalamnya. Kemudian setelah mengetahui, barulah kita akan sadar dan mengakui bahwa hati kita sangatlah butuh untuk diobati.”

Di dalam kitab ar-Risalah al-Jami’ah, Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi menyebutkan beberapa macam penyakit atau maksiat hati, di antaranya adalah ragu terhadap wujudnya Allah Sang Maha Pencipta, merasa aman dari murka dan siksaNya, berputus asa dari rahmatNya, cinta dunia, merasa lebih baik dari orang lain, riya’ atau ingin mendapatkan perhatian, pujian, dan kedudukan dari sesama makhluk, bangga terhadap diri dan atas amal yang telah dikerjakan, hasud, yaitu tidak senang dan merasa berat ketika orang lain mendapatkan nikmat, benci, dendam, dengki, tidak merasa menyesal atas perbuatan buruk dan maksiat yang telah diperbuat, tidak senang dan merasa berat dalam menjalankan perintah Allah Swt., berburuk sangka kepada Allah Swt. dan kepada para makhluk ciptaanNya, dan yang terakhir meremehkan segala sesuatu yang dimuliakan olehNya.

Demikian apa yang bisa kami tulis, semoga bermanfaat. Dan semoga dengan membaca tulisan ini, kita semua semakin sadar akan pentingnya membersihkan jiwa dan memperbaiki hati, sehingga dengan jiwa yang bersih serta hati yang suci, terciptalah masyarakat yang beradab dan berakhlak dalam lingkungan yang aman, makmur, tentram, serta penuh dengan rahmat Ilahi. Aamiin. (Ditulis oleh santri al-Ahqaff Mukalla Hadhramaut: Gus Muhammad Ali Musyaffa).

Film Dokumenter: Nahdlatul Ulama dan Sejarah Kebangsaan

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Selasa, 15 April 2014 | 11.02





Film Dokumenter “Nahdlatul Ulama dan Sejarah Kebangsaan”, produksi Yayasan Ircos Jakarta & Yayasan 135. Film ini memadukan rekaman-rekaman visual sejarah otentik dengan narasi apik dari beberapa narasumber:
1.      KH. A. Musthofa Bisri.
2.      Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, MA.
3.      KH. Muchit Muzadi.
4.      Yenni Wahid, MA.
5.      KH. Hasyim Muzadi.
6.      Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, MH, MU.
7.      Ir. KH. Salahuddin Wahid.
8.      Dr. Andree Feillard.

Sangat patut dan penting untuk ditonton sebagai bahan pembelajaran warga Negara Indonesia, khususnya warga Nahdliyyin dan pesantren. Selamat menyaksikan dengan menonton atau mendownloadnya di sini:

MENJOMBLO YANG IDEAL





Imam Ahmad bin Hanbal Ra. mengatakan:

قال الإمام أحمد بن حنبل : "ما تزوجتُ إلا بعد الأربعين

“Aku tidak menikah kecuali sudah berumur 40 tahun.” (Riwayat Ibnu Abu Ya’la dalam Thabaqat al-Hanabilah juz 1 halaman 63).

وأختار للمبتدىء في طلب العلم أن يدافع النكاح مهما أمكن، فإن الإمام أحمد بن حنبل لم يتزوج حتى تمت له أربعون سنة،وهذا لأجل جمع الهمّ

“Dan dipilih bagi para pelajar untuk menunda pernikahannya. Sebab Imam Ahmad bin Hanbal tidaklah menikah sampai kelulusannya yakni pada usia 40 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk lebih berkonsentrasi dalam menuntut ilmu.” (Ibnu al-Jauzi dalam Shaid al-Khathir ayat 178).

Imam Baidhawi, Imam as-Suyuthi dan Imam al-Qurthubi sepakat bahwa usia 30-40 tahun adalah usia tercapainya kesempurnaan akal seseorang.


 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template