Latest Post

Logo Konferensi Internasional

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 22 Juli 2016 | 22.02



Konferensi Internasional Bela Negara

SYAIKH MAULANA MALIK IBRAHIM BUKAN TERMASUK WALI SONGO

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Senin, 18 Juli 2016 | 18.02



Ada yang menarik pada bedah buku Atlas Wali Songo di Aula Rektorat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, yakni Syaikh Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk jajaran wali sembilan (Wali Songo). Hal itu membuat para hadirin bertanya-tanya. “Fakta sejarah itu tidak harus selalu sama dengan pandangan umum,” jawab KH. Agus Sunyoto, penulis buku tersebut.

Menurut Kiai Agus Sunyoto, justru yang sekarang berkembang ini adalah pandangan masyarakat. “Dan pandangan masyarakat tidak selalu berdasar fakta sejarah, jadi tidak diakui secara akademis. Syaikh Maulana Malik Ibrahim wafat pada 1419 M. Pada saat itu Sunan Ampel, wali tertua kedua dalam tradisi ziarah Wali Songo belum dilahirkan, atau kalaupun sudah lahir, ia masih bayi,” imbuhnya.

“Bukti sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1440 usia Sunan Ampel belum berumur 20 tahun,” katanya. “Jadi secara nalar, tidak mungkin Syaikh Maulana Malik Ibrahim berada satu mimbar dengan Sunan Ampel untuk membahas strategi penyebaran Islam.”

Syaikh Maulana Malik Ibrahim tidak masuk dalam kategori Wali Songo, namun menjadi bagian penting dari penyebaran Islam tahap pertama, seperti juga Fatimah binti Maimun, Syaikh Wasil Setono Gedong dan beberapa ulama lain semasanya. Ada banyak ulama pra-Wali Songo yang dikupas dalam Atlas Wali Songo itu. Makam para penyebar Islam itu diziarahi umat Islam setiap hari.

Sejarah Wali Songo memang cukup rumit. Sunan Muria, anak Sunan Kalijaga malah hidup pada tahun 1500-an, agak jauh dari masa Sunan Ampel. Beberapa peneliti menyebutkan Wali Songo merupakan sebuah dewan yang beranggotakan sembilan ulama. Jika salah seorang meninggal, maka digantikan oleh yang lain.

Dalam buku itu, Kiai Agus Sunyoto berkesimpulan, “Wali Songo baru muncul setelah Sunan Ampel. Sebelum itu belum ada dewan atau semacamnya.” Dalam buku itu juga disebutkan dua orang lagi yang masuk dalam kategori wali, yakni Syaikh Siti Jenar dan Raden Fatah. Usaha Kiai Agus Sunyoto adalah menyajikan Wali Songo sebagai fakta sejarah. Adapun kepercayaan masyarakat biarlah tetap berkembang seperti apa adanya.

Ia mengaku prihatin beberapa kalangan cendekiawan Muslim meragukan aspek kesejarahan para penyebar Islam di Nusantara ini. Dalam pengantar bukunya, misalnya, sejarawan ini menyayangkan tidak adanya entri Wali Songo pada Ensiklopedi dalam Islam yang berjilid-jilid terbitan Ichtiar Baru van Hoeve.

Yang agak lucu, dan sempat disindir dalam bedah buku Atlas Wali Songo, aspek kesejarahan para wali itu digugat secara terang-terangan dalam berbagai karya tulis para akademisi dari kampus-kampus Islam yang memakai nama Wali Songo dan tokoh-tokohnya sebagai nama kampus mereka. (Dikutip dari: nu.or.id)

Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Edisi Revisi Soft Cover)

Jika Anda membaca Ensiklopedia Islam yang tujuh jilid dan mencari informasi tentang Wali Songo, dijamin tidak akan menemukannya. Itu artinya, pada masa depan--kira-kira 20 tahun ke depan—Wali Songo akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak legitimate dalam Ensiklopedia Islam. Wali Songo ke depan akan tersingkir dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang folklore sebagai cerita mitos dan legenda. Anehnya, di dalam Ensiklopedia Islam itu tercantum kisah tiga serangkai haji: Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang sebagai pembawa ajaran Islam (Wahabi) ke Sumatra Barat. Itu berarti, anak cucu Anda kelak akan memiliki pemahaman bahwa Islam baru masuk ke Nusantara pada tahun 1803 Masehi, yaitu sewaktu tiga serangkai haji itu menyebarkan ajaran Wahabi ke Sumatra Barat.

Dalam keserbaterbatasan segala hal, alhamdulillah buku Atlas Wali Songo dengan pendekatan multidisiplin: historis; arkeologi; aetiologis; etno-historis, dan kajian budaya dapat terselesaikan. Isi buku ini sangat membumi dengan proses sinkretisasi-asimilatif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Fakta mencengangkan di buku ini adalah bahwa kerajaan Islam pertama di Jawa bukanlah Kerajaan Demak (abad 15), melainkan Kerajaan Lumajang yang menunjuk kurun waktu awal abad 12, yaitu saat Singasari di bawah Sri Kertanegara.

Dengan prinsip 'bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa para pahlawannya', begitulah penulis berharap anak-anak bangsa di negeri tercinta ini dapat menghargai, menghormati, memuliakan, dan bahkan meneladani keluhuran budi dan kebijaksanaan yang telah diwariskan para ulama penyebar Islam tersebut.

Endorsement:

“Buku ini menarik sekali. Agus Sunyoto tidak tanggung-tanggung dan serius sekali dalam menelusuri, meneliti, dan memperdalam sejarah Wali Songo. Kalau tidak lahir buku seperti ini, kita akan terus menggunakan referensi sejarah buatan Belanda.” (KH. Achmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang).

“Buku ini ujung tonggak, komprehensif tentang dakwah Wali Songo. Dalam dakwah Wali Songo, tidak ada satu dimensi kehidupan manusia yang diabaikan. Jadi dakwahnya itu dakwah kelengkapan seluruh kemanusiaan.” (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun, Budayawan).

“Buku Atlas Wali Songo memberikan pemahaman komprehensif tentang Islam di Nusantara. Tanpa buku ini, masa depan Islam akan sangat formal dan karakternya bukan seperti NU. Tanpa menghargai wali Allah, kita hanya menjadi pribadi mukmin, bukan muhsin.” (Sujiwo Tejo, Dalang dan Penulis Buku).

_______________________
Judul Buku: Atlas Wali Songo (AW)
Penulis: KH. Agus Sunyoto
Jumlah Halaman: 496
Harga: Rp. 126.000 (sudah didiskon 10% dari harga asli 140.000) belum termasuk ongkos kirim. Khusus untuk Pulau Jawa, Buku+Ongkir cukup Rp. 140.000,-
Cara Pesan: NAMA LENGKAP_AW_ALAMAT LENGKAP kirim ke nomor Hp. 085774858808 (Syaroni As-Samfuriy)
Nb.: Persediaan buku Atlas Wali Songo sangat terbatas, barang pesanan akan dikirim serempak pada hari Senin, 25 Juli 2016.


Terbuka untuk Umum; Pameran Ratusan Harta Karun Nusantara akan Dipajang di Pesantren Kudus



Assalamu'alaikum. Hadiri dan kunjungi pameran ratusan harta karun ulama Nusantara bertajuk "PAMERAN TURATS ULAMA NUSANTARA", dalam rangka 1 Abad Qudsiyyah Kudus. Pameran ini diantaranya bertujuan agar masyarakat Nusantara semakin tahu dan cinta atas karya-karya ulama Nusantara. Insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari: Senin-Sabtu
Tanggal: 1-6 Agustus 2016
Jam: 09.00-19.00 WIB
Tempat: Madrasah Aliyyah Qudsiyyah Kudus (Jl. KHR. Asnawi, Gang Kerjasan Kudus - 59315)

Acara ini akan memamerkan lebih dari 200 kitab (turats) karya ulama asli Nusantara dan beberapa manuskrip beserta deskripsi singkat. Selain itu panitia juga melayani pembelian kitab Nusantara, baik aslinya maupun digital. Demikian, atas perhatian dan kehadirannya kami haturkan banyak terimakasih. Wassalamu'alaikum.

NB: Undangan untuk umum (laki-laki dan perempuan). CP: Ust. Nanal Ainal Fauz (082321212922)

http://www.muslimedianews.com/2016/07/terbuka-untuk-umum-pameran-ratusan.html

PROFIL SYAIKH PROF. DR. MUSTHAFA ABU SWAY PALESTINA

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Sabtu, 16 Juli 2016 | 03.08



Syaikh Prof. Dr. Musthafa Abu Sway adalah seseorang yang memiliki andil besar dalam tim studi karya besar Imam al-Ghazali di Masjid al-Aqsha dan al-Quds University (sumbangan dari HM Raja Abdullah II). Abu Sway juga anggota dari Hashemite Fund, sebuah tim penggalang dana untuk pemugaran Kubah Shakhrah dan Masjid al-Aqsha. Dia juga aktif dalam keanggotaan The Royal Aal al-Bayt Institut bidang Pemikiran Islam, Dewan Wakaf Islam, Dewan Tertinggi Islam, Asosiasi Ulama Muslim dan anggota Dewan Masyarakat Akademik Palestina untuk Studi Hubungan Internasional (PASSIA).
Jabatan akademisi ia peroleh dengan menjadi Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, serta Dekan Fakultas Ilmu al-Quran dan Ilmu Islam di al-Quds University. Sebelum bergabung dengan al-Quds University pada tahun 1996, ia mengajar di Universitas Islam Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia selama kurun 1993-1996, termasuk satu tahun di Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam. Dia bahkan aktif dalam Fulbright Visiting Scholar di Wilkes Honor College/Florida Atlantic University selama tahun 2003-2004. Kemudian ia lanjutkan sebagai Visiting Profesor di Bard College, New York selama tiga semester 2008-2010.

Prof. Abu Sway merupakan lulusan dari Universitas Bethlehem (BA) dan Boston College (MA, Ph.D. 1993). Banyak buku yang telah ia tulis, diantaranya tentang Imam al-Ghazali dan berbagai makalah serta artikel tentang masalah Palestina dan berbagai topik Islam. Prof. Abu Sway beberapa kali tampil di al-Jazeera, CNN, BBC, FOX, MSNBC dan media internasional dan lokal lainnya.

Terungkap; Harta Karun Nusantara Ditemukan di Mesir dan Russia!

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 29 Juni 2016 | 15.12



Akhirnya salah satu harta karun yang sejak lama dicari-cari itu dapat ditemukan jua. Katalog kitab-kitab Persi dan Jawi, koleksi Kutubhane Khediviye Misriye, tahun 1886 M disusun oleh Ali Effendi Hilmi Dagestani.

Kutubhane (كتبخانة) adalah Rumah Kitab (Perpustakaan; bahasa Turki/Persi). Ini katalog penting. Di tahun 1886 M kitab-kitab ulama kita sudah memenuhi rak-rak perpustakaan besar Mesir, yang saat itu sebagai salah satu perpustakaan terbesar di dunia Arab. Bahasa "Jawi" menjadi bahasa kedua dunia Islam dalam ilmu pengetahuan, sejajar dengan bahasa Turki dan Persi, setelah bahasa Arab sebagai bahasa utama. 

Tinggal koleksi kitab-kitab Nusantara yang tersimpan di Museum Manuskrip (Mathaf al-Makhtuthath) dan Biblioteka Alexandria (Maktabah al-Iskandariyyah) yang harus jua ditemukan. Diantara koleksi Biblioteka Alexandria adalah novel "Awah Hadzihi al-Ma'murah" yang merupakan terjemah dari "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer, juga diwan puisi Mama Ajengan Abdullah bin Nuh yang berjudul 'Asyiq al-Muhith wa al-Jibal.

Yang menarik juga di sini adalah hubungan-sanad intelektual antara Dagestan di Kaukasus, Russia, dengan Nusantara pada masa itu. Ada kitab yang menghimpun Tarajim Ulama Daghastan. Yang menarik lagi ada beberapa ulama Dagestan yang menjadi guru dan murid dari ulama-ulama Nusantara di Haramain. Salah satunya adalah Syaikh Abdul Hamid asy-Syirwani (asal Sirvan) ad-Daghastani tsumma al-Makki, pengarang Hasyiyah asy-Syirwani 'ala at-Tuhfah (Tuhfah-nya Ibn Hajar al-Haitami al-Makki). Beliau sejawat Syaikh Nawawi Banten.

Nah, putra beliau, yaitu Mahmud bin Abdul Hamid asy-Syirwani, bermigrasi ke Kesultanan Pontianak Dar al-Qadriyah. Di sana ia mengajar di madrasah kesultanan Pontianak dan Sambas, hingga wafat dan dikebumikan di area pemakaman kesultanan. Jaringan intelektual ulama Dagestan-Nusantara pun kini terkubur bersama waktu. Maka janga heran kalau di Chechnya dan Dagestan madzhab Islam yang berkembang adalah madzhab Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah). (Oleh: A. Ginanjar Sya'ban).

http://www.muslimedianews.com/2016/06/terungkap-harta-karun-nusantara.html

Innalillah Ulama Besar Syria; Syaikh Rajab Dieb Wafat

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 15 Juni 2016 | 10.43



Innalillahi wainna ilaihi raji'un. Dunia Islam hari ini kembali kehilangan salah seorang ulama kharismatik Syria. Sosok ulama ahli tafsir, hadits, guru besar thariqah Naqsyabandiyah, al-Allamah asy-Syaikh DR. Rajab Dieb. Semoga Allah Swt. mengampuni seluruh dosa dan kesalahannya dan diterima seluruh amal shalihnya serta ditempatkan di surga Firdaus bersama para gurunya. Amin.

Profil Singkat Syaikh Rajab Dieb

Syaikh Rojab Dieb dilahirkan di Damaskus pada tahun 1931 M. Beliau mulai menuntut ilmu sejak berumur 7 tahun, dan beliau juga selalu aktif menghadiri pengajian-pengajian di Masjid Besar Umawy. Berguru kepada ulama-ulama besar pada saat itu, dan mendapatkan ijazah keilmuan dari para ulama tersebut hingga beliau memasuki jenjang kuliah di Fakultas Dakwah Islamiyah cabang Damaskus. Beliau berhasil menyelesaikan kuliahnya dan lulus dengan predikat Jayyid (baik) pada tahun 1988, dan beliau meraih gelar Doktor dari Pakistan.

Sampai saat ini Syaikh Rajab dipercayai sebagai pengajar ilmu agama di Majlis Fatwa Kementrian Wakaf Syria. Beliau seorang penghafal al-Quran, dan saat ini beliau sudah menghafal lebih dari 40.000 hadits.

Kiprah beliau dalam bidang dakwah Islamiyah yang moderat sudah tidak diragukan lagi, baik di level lokal maupun internasional. Banyak sekali negara-negara yang telah beliau kunjungi, mulai dari Amerika, Perancis, Maroko, Pakistan, termasuk Indonesia dan kesemuanya adalah untuk menyebarkan ajaran Islam dan mengajak seluruh umat Islam untuk berdzikir (ingat) kepada Allah, karena hanya dengan itulah umat Islam bisa maju dan berkembang.

Di Indonesia Syaikh Rajab tercatat sudah mengunjungi Pondok Pesantren Modern Darunnajah Jakarta, Pondok Pesantren Darul Quran Ustadz Yusuf Mansyur, Pondok Pesantren al-Hikam KH. Hasyim Muzadi dan Pondok Pesantren Salaf lainnya. Selain itu, beliau juga sudah sering diundang dalam rangka kegiatan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang dibawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama terutama lembaga Jam'iyah Ahlut Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) di bawah pimpinan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya.

Dalam sebuah pertemuan dengan jamaah, Habib Luthfi bin Yahya pernah mengatakan bahwa Syaikh Rajab Dieb merupakan wali Allah daerah Suriah (Syria). Wallahu a'lam. (Sumber: Habib Muhdor Ahmad Assegaf).

NABI SAW. MEMBOLEHKAN MEMBANGUN MAKAM PARA WALI DAN ORANG SHALEH

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Senin, 13 Juni 2016 | 11.57



Ketika Nabi Saw. memakamkan Syuhada Uhud terutama Sayyidina Hamzah, Nabi Saw. memberinya dengan tanda batu pada makam sejumlah orang yang meninggal pada waktu itu. Ini adalah indikasi Nabi Saw. memperbolehkan membangun makam-makam para auliya dan salaf shaleh. Selain memang tekstur tanah Arab berupa padang pasir, untuk menandai, maka diletakkanlah bebatuan di sekitar makam Syuhada Uhud. Padang pasir merupakan tekstur tanah yang sering terjadi pergeseran.

Perilaku Sayyidina Umar Ra. menghilangkan kubah makam pada waktu Nabi Saw. masih hidup, karena untuk mengagungkan Nabi Saw. Sehingga dengan ini tidak melampaui kebesarannya. Penghancuran ini bukanlah meratakan kuburan melainkan hanya kubahnya saja. Ketika kubah tersebut tidak dihancurkan maka dapat memicu sifat kesukuan yang terlalu berlebihan sehingga kebesaran Rasulullah Saw. dikalahkan dan Islam menjadi lemah.

Esensi ziarah kubur bukanlah melalaikan kebesaran Rasulullah Saw. Sehingga menurut Ibnu Hajar pembangunan makam tidaklah bertentangan dengan syariat. Padahal Allah Swt. sendiri dalam firmanNya mengagungkan mereka dan orang-orang yang hafal al-Quran dengan mengutuhkan jasad mereka walaupun telah terkubur. Indikasi ini adalah sebagai dalil pembangunan makam Nabi Saw., sahabat dan auliya diperbolehkan dalam rangka untuk mengagungkannya. Wallahu a'lam.

(Dikutip dari buku "Secercah Tinta" karya Maulana al-Habib M. Luthfi bin Yahya, halaman 296-297, bertajuk Pembangunan Masjid dan Pemakaman Sahabat Nabi Saw.).

Edisi Khusus dan Terbatas "Beli 2 Gratis 1", lebih hemat Rp. 27.000,-
1. "Secercah Tinta" (ST) karya Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Halaman: 366 hal. Harga: Rp. 60.000,-
2. "Sejarah Maulid Nabi" (SM) karya Ust. Ahmad Tsauri murid Habib Luthfi bin Yahya. Halaman: 288 hal. Harga: Rp. 55.000,-
3. (Gratis) "Membela Orang Tua Nabi" karya Syaikh Ishaq Azuz Mekah al-Mukarramah, buku yang direkomendasikan oleh Habib Luthfi bin Yahya untuk dibaca masyarakat luas. Halaman: 108 hal. (senilai Rp. 27.000,-)

Cara Pemesanan:
Ketik: NAMA LENGKAP_ST/SM_ALAMAT LENGKAP
Kirim melalui SMS ke nomor: 085774858808


https://www.facebook.com/KumpulanFotoUlamaDanHabaib/photos/a.356613851095960.85503.347695735321105/1027060097384662
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template