Latest Post

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)

Written By MuslimMN on Jumat, 22 September 2017 | 06.45

Ramadhan kemarin, ketika saya diundang oleh Kick Andy, dibuatkan sebuah acara bertajuk ‘Dakwah Ramah’ dengan merangkul anak-anak jalanan. Perasaan saya dan istri serta beberapa penonton di ruangan itu, melihat tidak ada yang salah dengan pernyataan saya.

Namun ada perasaan tidak enak di hati saya. Melihat yang sudah-sudah sekelas Ketua Umum PBNU saja (Kyai Said Aqil) dibully terus-terusan, tapi beliau bandel. Hingga saya pernah bertanya, “Kyai kok tenang-tenang saja?” Jawab Kyai Said enteng, “Lha wong HP saya jadul.” Jadi selama ini beliau tidak bermedsos seperti twitter, facebook ataupun lainnya.

Giliran Gus Mus yang saya tanya, “Abah tenang-tenang saja?” Jawab Gus Mus, “Lha iya, kita mikirnya Allah saja, kenapa mikir manusia?” Beliau kalau ke saya sangat luwes.

Saya juga pernah bertanya kepada Mbah Mun (KH. Maimoen Zubair), karena sekelas beliau ada saja yang menyerang. Namun jawab Mbah Mun,“Saya itu senang aja dikomentari, mau jelek atau tidak.” Habib Luthfi Bin Yahya pun mengalami hal serupa dengan para pimpinan NU tersebut.

Jadi setelah para pimpinan NU diserang tapi tidak mempan,maka serangan mulai ke tingkat bawah, yaitu saya sebagai Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Jadi waktu itu saya sudah tahu akan diserang. Betul saja, MCA (Muslim Cyber Army) menyerang dengan narasi yang tidak pernah saya ucapkan, “Perhatikan, adakah yang salah dari video ini?” Mereka mengambil (potongan) video yang satu menit, lalu mereka membuat narasi, “Kyai Maman menyamakan semua agama”.

Apakah itu ada di pernyataan saya? Saya cek tidak ada. Dan dibully selama kurang lebih seminggu. Kalau saya sih biasa-biasa saja dibully, tapi yang tidak biasa adalah staf-staf saya di LDNU. Hingga putri saya yang sedang mesantren di Bahrul Ulum Jombang ikut marah, ngomong ke ibunya, “Mah, Papa sedang diserang, apa perlu kita bacain doa di sini, istighatsahan agar yang nyerang Papa mati semua?” Istri saya hanya menjawab, “Papamu tidak pernah mengajarkan untuk membalas orang yang membenci.”

Anak-anak santri saya yang sedang keluar sering diomongi oleh salah satu guru yang kebetulan hari ini kampungnya terkenal dengan tertangkapnya seorang teroris. Kata dia Kyai Maman tidak pernah shalat, mengajarkan keagamaan yang ngacau, sering ziarah kubur, dlsb. Jadi tuduhan-tuduhan seperti itu sudah sangat biasa bagi saya.

Singkat cerita, bully-an terhadap saya pasca acara Kick Andy, selesai setelah satu minggu. Tiba-tiba ada yang telepon ke Bang Andy (host acara Kick Andy), “Mas Andy, bolehkah saya minta nomor teleponnya Pak Maman?” Jawab Bang Andy, “Saya harus telepon dulu Kang Mamannya.”

Kemudian Bang Andy telepon saya, katanya, “Kang, ada yang minta nomor telepon.” “Ini haters atau lovers?” tanya saya. Kata Bang Andy, “Aku tidak tahu.” Lalu saya jawab, “Ya sudah, kasih saja.”

Beberapa saat kemudian orang itu menelepon saya, “Pak Maman, bolehkah saya berkunjung ke rumah?”

Bayanganku langsung teringat dulu saat tragedi di Monas, saya digebukin sampai kepala saya dijahit dengan 18 jahitan, dagu 4 jahitan dan dada saya diinjak-injak. Saya juga teringat saat Gus Dur datang ke tempat saya dirawat, beliau nampak bersedih. Waktu itu kepala saya masih menetes darah, kemudian tangan Gus Dur diusapkan ke darah itu lalu dicium di hidungnya seraya berkata, “Tidak boleh ada lagi darah yang mengucur untuk membela keragaman, membela kebhinnekaan.” 

Namun kemudian Gus Dur tersenyum dan berkata, “Tapi bersyukur saja Kang Manan, Anda hanya 18 jahitan tapi jadi terkenal seluruh Indonesia.”

Saya terus-terusan difitnah, pesantren saya diprovokasi, dan lain sebagainya. Ada saja orang yang percaya bahwa saya salah. Ada beberapa tokoh NU yang datang dari Tanjungsari, Tasikmalaya, untuk klarifikasi. Saya jawab, “Tidak ada yang salah. Saya yakin dengan Islam. Dst.”

Singkat cerita orang yang menelepon saya datang bersama istrinya ke tempat saya di Jatiwangi Majalengka. Orang itu ternyata beretnis China, non-Muslim, datang ke ayah saya seraya bilang, “Saya mau ketemu Pak Maman.” Ayah saya menjawab, “Pak Mamannya tidak ada, sedang di Jakarta.” “Saya ingin tahu, benar atau tidak di sini ada pesantrennya,” kata orang China tadi kemudian.

Lalu mereka diajak keliling ditunjukkan di mana anak-anak jalanannya, di mana kepengurusan Paket C, dan lain sebagainya. “Tempat ini bagaimana cara membangunnya?” tanyanya kemudian. Dijawab, “Dibangun sedikit-demi sedikit.” Jadi tidak seperti pesantren-pesantren yang pinjam uang dulu ke bank puluhan milyar, baru dicarikan santrinya dengan biaya SPP puluhan juta perbulan. Kita pesantren-pesantren NU benar-benar dimulai dari nol, bahkan terkadang harus menggratiskan biaya para santrinya.

Akhirnya orang China itu bilang, “Pak Haji, bilang ke Pak Maman, apa yang dibutuhkan?” Ayah mertua saya hanya bilang, “Di sini sering ada acara Fatayat, Muslimat, IPPNU dan semuanya tingkat Jawa Barat. Jadi butuh Aula.”

Lalu orang China itu berkata, “Ok, saya akan bangun Aula. Saya nonton sepanjang acara Kick Andy. Saya tahu persis bagaimana perasaan Pak Maman ketika dibully. Saya hanya ingin mengatakan akan bantu kepada siapapun yang berjuang di jalan Tuhan.” Tanpa berpanjang kata dan tanpa proposal yang rumit, orang itu menyumbangkan dananya sebesar 1 Milyar. Saya meyakini itu bagian dari keberkahan.

Menyambungkan ke cerita sebelumnya, saya menikah tahun 1994 dengan Ibu Hj. Upik Rofiqoh. Dulu saya beserta istri sering sowan ke Ibu Nyai Khadijah Bahrul Ulum Jombang. Kepala kami sering dielus-elus oleh Ibu Nyai seraya didoakan. Sampai sekarang masih sangat terasa keberkahan doa-doa itu.

Singkat kata, semoga anak-cucu kita meneruskan estafet perjuangan ini, tetap mesantren di pesantren-pesantren NU, dan tetap jadi Sarkub (Sarjana Kuburan). Jangan sampai ada lulusan Pesantren Tambakberas tiba-tiba jadi anti ziarah kubur. Lanjut nanti ke bagian 3 kisah menarik Gus Dur dengan para kyai NU...

*Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (bag. 1)

Written By MuslimMN on Kamis, 21 September 2017 | 02.27

Sewaktu awal saya mondok 6 tahun di Baitul Arqom al-Islami Ciparay Bandung, pada Kyai Ali Imron Faqih, adik iparnya Kyai Ilyas Ruhiyat. Setelah itu melanjutkan ke Kyai Mudzakir di Banyurip Pekalongan, murid dari Mbah Dimyathi Termas, saya dapat ijazah Dalail dari beliau. Anehnya oleh adik Kyai Mudzakir –sosok unik yang selama 40 tahun tidak pernah keluar kamar- saya diajarkan cara berdebat dan cara mempertahankan Ahlussunnah wal Jama’ah lewat surat yang ditulis sangat bagus oleh beliau, termasuk diajarkan mencintai para habaib.

Dari Kyai Mudzakir lah saya dipertemukan dengan Habib Luthfi Bin Yahya, yang waktu itu masih muda, dan Habib Ali Alattas (guru Habib Luthfi) saat itu masih hidup. Habib Ali Alattas adalah habib sepuh di Pekalongan yang unik. Tidak bisa melihat tapi mampu mengajar kitab Syarah Bukhari, yang berarti beliau hafal kitab tersebut di luar kepala. Dari Habib Luthfi saya minta petunjuk, dan dijawab oleh beliau, “Nanti setelah beres dari Kyai Mudzakir harus berangkat ke Kyai Abdullah Salam.”

Lalu saya pun (berguru) membaca al-Quran di Kyai Abdullah Salam, sekaligus kepada putra beliau Kyai Nafi’ Abdillah Salam Kajen Pati. Di sana tiba-tiba saya bertemu Mbah Lim. Dan Kyai Abdullah Salam dawuh, “Wis toh Man, ojo suwe-suwe ning Pati. Cukup puasa di sini 4 bulan, ziarah ke Mbah Mutamakkin, jangan lupa terus-menerus khatamin al-Quran, lalu kamu harus ke Tambakberas. Dan 40 hari jangan lepas baca Yasin Fadhilah di makamnya Kyai Wahab Hasbullah. Setelah itu jangan lama-lama mesantrennya, segeralah nikah!”

Akhirnya dari Mbah Mutamakkin saya lanjut ke Tambakberas, ke ar-Raudhah, di situ ada Abah Taufiqul Fattah. Ternyata di sana sudah ada santri putri yang dulu juga pernah 3 tahun mondok di Baitul Arqom Bandung. Akhirnya saya sering minta maaf ke Gus Roqib –yang saat itu Kepala Keamanan Pesantren Putri Tambakberas-  dan beliau bertanya mau ke mana Man, saya jawab “ke adik saya Gus!” Yang lalu dipersilakan masuk oleh beliau.

Mengingat masa-masa itu, Gus Roqib selalu tertawa, “Aku iki diapusi Maman terus-terusan. Saya kira dia itu adiknya beneran, ternyata pacarnya! Untung saja nikah.” Setiap kali saya ketemu Gus Roqib pasti tersenyum-senyum sendiri. 

Dari spirit itulah, sebenarnya ketika saya di Baitul Arqom Kyai Ali Imron terus-menerus menyuruh saya berziarah ke suatu makam leluhur beliau dan satu sumur yang sangat terkenal. Di pesantren pertama saya inilah tempat ditangkapnya Kartosuwiryo. Kyai Ali Imron sering bilang, “Dek,” panggilan beliau kepada saya. “Suatu saat kamu akan berhadapan dengan kelompok-kelompok seperti Kartosuwiryo. Orang bodoh tapi cita-citanya tinggi. Orang yang teriak-teriak Islam tetapi dia tidak mau mengaji. Orang yang kemana-mana ngomong syariat tapi kemana-mana dia bawa keris. Dia lebih percaya kepada keris daripada percaya kepada shalat. Itulah Kartosuwiryo, sahabatnya Bung Karno yang sama-sama belajar di Surabaya pada Pendiri SI (Sarekat Islam).”

Sampai hari ini saya sering datang ke Baitul Arqom karena adik bungsu saya menikah dengan putranya Kyai Ali Imron. Maka pesantren saya al-Mizan, Pesantren Baitul Arqom dan Pesantren Cipasung menjadi bersaudara karena pernikahan itu. Disamping tentu karena nasab keilmuan. 

Begitupula setelah saya di Banyurip Pekalongan, saya terus-menerus disuruh untuk berziarah ke beberapa makam termasuk Habib Ahhmad bin Abdullah bin Thalib Alattas di Sapuro. Sampai sekarang saya masih disuruh untuk mandi di suatu tempat di Banyurip dan Makam Sapuro.

Dan juga saat di Mbah Mutamakkin, yang mana di sana terdapat sumur-sumur keramat dan makamnya Mbah Mutamakkin. Tentu sejarah Mbah Mutamakkin sudah banyak yang membaca dan mengetahuinya. Bagaimana dulu beliau pernah berdebat dengan seorang penghulu Kudus, karena Mbah Mutamakkin memelihara anjing yang diberi nama nama sang penghulu tadi. Kita tahu sejarah mencatat Mbah Mutamakkin dianggap kalah, tetapi sejarah juga mencatat bahwa Mbah Mutamakkin lah yang menang dengan melahirkan Mbah Sahal Mahfudz dan melahirkan begitu banyak tokoh. Inilah NU, yang kadang-kadang disalahkan dalam tulisan sejarah namun realitanya NU-lah yang memenangkan pertarungan besar dalam segala jaman. 

Dan akhirnya sampailah saya di Tambakberas, disuruh mandi juga di salah satu sumur dekat al-Muhajirin. Ada tempat sampah di sana yang di belakangnya terdapat sumur keramat. Di Tambakberas ini mulai kenal dan dekat dengan Gus Dur.

Gus Dur akhirnya menjadi sejarah yang tak terlupakan. Tiba-tiba Gus Dur datang ke Cirebon, memegang erat-erat tangan saya sangat lama. Lalu beliau berkata, “Saya akan datang ke tempat Anda!” Gus Dur selalu menyebut kata ‘Anda’ ke saya waktu itu. “Dan akan menitipkan ruhnya Mbah Fattah di tempat Anda,” lanjut Gus Dur.

Jadi Gus Dur lah yang pertama-tama datang ke pesantren dan Gus Dur tidak pernah mau masuk ke dalam. Tiga kali hanya sekadar duduk di depan gerbang pesantren. Kata Gus Dur, “Pesantren ini akan didatangi banyak tokoh!” dan terbukti begitu banyak tokoh, beberapa menteri, beberapa duta besar, termasuk Presiden Jokowi datang ke pesantren saya. Itu semua hanya karena (berkat) doa Gus Dur. 

Dan Gus Dur waktu itu hanya menancapkan satu benda yang itu menjadi sumber air sampai sekarang. Saya sempat terpikir juga kenapa pesantren saya tidak besar-besar, ada makam di belakang pesantren yang entah makam siapa. Saya pernah bilang ke Gus Dur, “Pak, kadang-kadang Bapak perlu ke sana, cari tahu itu makam siapa.” Padahal Gus Dur bisa saja ngarang waktu itu, tapi beliau malah menjawab, “Tidak usah. Allah akan memberi keberkahan.”

Nah, dari Tambakberas lah memberikan kepada saya begitu banyak anugerah. Dari sana saya dipertemukan dengan wanita yang menjadi istri saya, juga dipertemukan dengan Gus Dur. Dan akhirnya Allah memberikan kemudahan pada saya ketika membangun pesantren yang diberi nama al-Mizan, berdiri tahun 1999.

Saya masih ingat ketika Ayip Rosyidi, seorang tokoh Jatiwangi Majalengka, dengan nyinyir mengatakan, “Sampai kiamat pun tidak akan pernah ada pesantren di tempat ini. Sampai kiamat pun tidak akan pernah ada santri yang mau mondok di pesantrenmu. Itu tempat merah, kotor, dlsb.” Tetapi dengan keramatnya Tambakberas ternyata santri semakin bertambah banyak yang mondok di Pesantren al-Mizan. Allah memudahkan itu semua.

Dari itu yang ingin saya tekankan adalah bahwa Tambakberas bukanlah sekadar nama, bukan sekadar tempat mencari ilmu, tetapi Tambakberas itu barokah. Tanah Tambakberas dalam klasifikasi tanah, itu tanah universitas. Jadi jika kita ingin membangun pesantren, tanyalah dulu kepada ahli hikmah (kyai yang bijak-bestari), “Tanah kita itu tanah tingkat apa?”

Karena ada tanah yang kita habis-habisan; orangnya pintar semua, di pondok dia hebat, menikah dengan istri yang hebat, tetapi tiba-tiba menempati tanah yang derajatnya hanya TK. Yang ada kemudian hanya pertengkaran, kekacauan, dan tidak berkembang. Makanya rata-rata pesantren itu menempati tempat yang klasifikasi tanahnya universitas. Masih ada kyai-kyai kita yang ahli hikmah.

Jadi berkah itu ‘ziyadatul khair’, bertambahnya kebaikan. Jadi Saya yakin sekali ketika Gus Dur bilang menitipkan Mbah Fattah di tempat ini, maka Allah memberikan banyak kemudahan. Ini salah satu kemudahan.

(Syaroni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

HABIB LUTHFI BIN YAHYA; CARA RIDHA (MENERIMA) QADHA ALLAH SWT.

Written By MuslimMN on Sabtu, 25 Februari 2017 | 12.13



Bab ini sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan kita sebagai orang awam turut belajar menerima ridha apa yang dikehendaki Allah Swt. Tidak berarti ridha meninggalkan ikhtiar. Ridha tetap di dalam perjalanan ikhtiar. Misalnya dalam hari ini atau kapanpun, kita diberi oleh Allah sebuah kesulitan dalam mencari rizki. Karena timbul sebab-musabbab orang bisa menerima bukan masalah pribadinya saja, tapi karena ditangisi atau takut disalahkan oleh keluarga terutama istri, ibu anak-anak yang melihat keberadaan para anak-anak dalam segala kekurangannya untuk hari itu khususnya.

Protes selalu dilontarkan, bukan karena tidak menerima qadha tetapi karena sebab melihat putra-putrinya yang mana juga belum siap untuk menerima qadha (kehendak) Allah Swt. Bagi seorang suami menitikberatkan, “Alhamdulillah kita mendapat rizki hari ini walaupun kurang, cukuplah asal anak-anak kita tidak kelaparan”, dari hitungan segi materiil. Karena keberadaan mencari sesuatu yang wajib untuk dijadikan nafkah keluarga maka pasang surut itu pasti ada. Surut terkadang sampai menipis (kritis), sehingga kita hampir saja mengeluh mendapatkan kesukaran ketika mencari rizki. Ini satu contoh, bukan sedang menceritakan tentang penyakit atau cobaan keluarga karena terlalu tinggi. Ini saja yang kaitannya dengan duniawi, hampir kita semuanya tidak ingin mengalami terkena gelombang tersebut.

Kita dididik untuk ‘menerima ridha’. Kalimat ‘menerima ridha’ sebetulnya untuk menjernihkan hati kita dahulu supaya setan tidak masuk ke hati kita, lebih-lebih nafsu. Terus akal kita juga berputar, “Padahal saya tadi demikian-demikian, kok hebat yah tidak laku, apa sih sebabnya?” Untuk beberapa hari, maaf-maaf saja yang akan saya ucapkan karena sebetulnya saya tidak ada niat untuk menyinggung, ‘karena tidak ada pengajian yang menyinggung’. Di kitab itu sudah ada garis-garisnya, ketentuan-ketentuannya. Tapi maklum saja kalau kaki atau tangan ada bengkaknya biasanya kalau kena obat perih, padahal itu obat.

Maksudnya, karena tidak didasari ridha maka yang muncul adalah suudzan, perasangka dulu yang akan muncul. Misal saya punya dagangan. Toko saya sudah dibuka dari tadi, anehnya beberapa hari ini orang kok lewat saja seolah-olah di situ tidak ada toko atau barang dagangan saya. Satu kali masih belum kena goyangan hatinya. Dua kali masih lumayan. Tiga kali mulai datang ke kiai. Kalau tidak datang ke kiai datangnya ke dukun. Kalau ke kiai masih Alhamdulillah. Kalau dukunnya benar masih baik, seumpanya benar.

Begitu datang ke kiai, “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam, silakan. Dari mana Bapak?” jawab kiainya. “Dari sini…” jawab tamu. “Alhamdulillah,” kalau orang shaleh, “Hari ini saya gembira Pak. Berarti saya menambah persaudaraan ‘al-Mu’min akhu al-Mu’min al-Muslim akhu al-Muslim’. Kita punya kenalan baru saudara Muslim, Alhamdulillah. Semoga pertemuan perkenalan ini jangan sampai membawa mafsadat atau kerugian yang membawa dalam dunia ini sampai akhirat nanti. Semoga keukhuwahan kita terjalan sampai dunia-akhirat.”

“Kenapa begitu Kiai?” tanya tamu. “Iya, kan kelak di kubur ditanya setelah man Rabbuka waman Nabiyyuka wama qiblatuka sampai waman ikhwanuka. Kan kita ditanya sama Allah Swt. dengan melalui malaikatNya Munkar dan Nakir, ‘man ikhwanuka? siapa teman-temanmu?’. Pasti kita akan menjawab ‘ikhwaniy mu’minin wal mu’minat wal muslimina wal muslimat’.”

Cara Menggalang Persaudaraan dari Hidup sampai Mati

Orang yang tulus, dalam kubur adalah yang mampu untuk menjawabnya, pasti akan mudah menjawabnya. Tapi kalau di dunianya ini tidak menggalang keukhuawahan/persaudaraan, kita sama kita tidak akur karena sesuatu dan lain-lainnya, sehingga banyak dari teman-teman menjauhi diri kita. Maka dari sebab itu ketika kita ditanya “Man ikhwanuka”, muamalah (perbuatan) tadilah yang akan menjawab. Tidak mampu akan menjawabnya, sebab menjawabnya sesuai jawaban ketika hidup di dunianya. Tapi kalau orang yang lapang dada, banyak persaudaraan, banyak keukhuwahan, pasti akan menjawab ‘ikhwaniy’ dengan bangganya karena persaudaraan itu yang muncul. Dengan bangga dan senang akan menjawab, “Saudaraku adalah mu’min wal mu’minat, muslimin wal muslimat”.

Bahkan persaudaraan ini di dalam kematian, dimanapun saja, biasanya masih ada. Misal diantaranya dilontarkan oleh ahli waris, kalau tidak wakilnya, atau salah satu ulama untuk menyaksikan, “Ketahuilah para saudara-saudara, ini mayit baik ya?” Spontan dengan kelapangan hati akan menjawab, “Baik” karena merasa kehilangan saudara, merasa teman yang baik hilang, dan orang itu tidak pernah suudzan. Walaupun terkadang pernah menyakiti, tapi tidak pernah melihat kejelekannya, selalu melihat kebaikannya. Tapi jarang, insyaAllah ada.

Padahal ketika kita menyatakan “Baik”, logika bernalar, “Kita tahu perbuatan si A, kejelekannya kita tahu, sering melanggar apa yang dilarang oleh Allah Swt., seringkali kesurupan botol (isinya/miras), kita tahu bukan katanya. Tapi apapun beliau sudah meninggal, saudara kita ini, kita menyatakan baik.” Baik di sini artinya ‘ma’fu’, memaafkan. Dengan itu akan meringankan beban di alam kuburnya terhadap seseorang yang meninggal. Dan ketika kita sadari telah menyatakan baik, akan menutup semua buku-buku hitam yang dimiliki oleh yang meninggal. Tutup buku, selesai, finish. Kita hanya mengatakan, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”.

 Kalau mendengar orang yang meninggal tadi tidak baik, kita jawab, “Allah yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”. Karena kita sudah menyatakan baik. Sudah tutup buku. Tapi terkadang kita kurang bijaksana ketika seseorang meninggalkan anaknya atau dalam majelis kita lupa menceritakan orang atau kebusukan orang yang sudah meninggal padahal sudah tutup buku kita menyatakan baik, tidak ada realisasinya. Kalau si A ini yang meninggal punya anak lelaki atau perempuan, paling tidak kalau kita sudah berani menyatakan baik, akan menolong regerenasi atau keturunannya.

Anaknya cantik atau ganteng, kebetulan ada yang mencintainya. Yang namanya orang lelaki atau perempuan yang normal ingin dibuai, disayang, disanjung, wajar namanya manusia normal. Ada seseorang yang mendengar, yang terkadang shahibul usil, datang dari rumah hanya ingin tahu. Tanya, “Nak, benar kamu atau bapaknya ini?” “Benar.” “Saya dengar katanya kamu mau meminang si A atau si Fulanah?” “Iya, doakan saja.” “Apa tidak ada perempuan lain!?” Nah inilah, padahal dia yang pernah menyatakan baik tapi tetap masih mengungkit alamarhum atau yang sudah meninggal, masih dibuka sehingga mengorbankan kepada anak perempuannya.

Tapi bagi orang yang bijaksana menjawabnya ketika datang, “Mas, saya dengar katanya kamu anak lelaki yang ingin meminang si A.” “Iya benar, kenapa?” “Alhamdulillah, syukur, tolong titip, dibina dan dididik. Udahlah itu saja. Terimakasih sekali kalau kamu sampai ke sana, berarti luar biasa. Hebat kalau begitu.” Hilanglah shahibul usil kalau bisa begitu.

Ada lagi anaknya terkadang di pesantren. Karena ibunya baik, ibunya tidak mau anaknya meniru bapaknya (yang sudah meninggal) maka dipesantrenkan sambil sekaloh. Eh datang ke tempat kasepuhan atau yang pantas dituakan, begitu datang dia ditanya, “Lho dari mana Nak, kamu kok lama tidak kelihatan?” “Njeh Pak, saya sekarang di pesantren dan sekolah.” “Bagus, luar biasa. Ini kampung memerlukan generasi muda seperti kalian untuk meneruskan. Bapak kan sudah tua, kan yang meneruskan nanti di pundak kalian. Jangan kayak Bapakmu!” Ini namanya sudah diangkat lalu dibanting. Padahal orang itu ketika itu (meninggalnya si bapak anak tadi) telah menyatakan baik.

Orang yang bijak jawabnya lain, “Di mana Nak? Saya dengar sekarang kamu di pesantren dan meneruskan sekolah di situ.” “Iya Pak betul, doanya.” “Jangan khawatir! Saya bangga, ingin mempunyai anak seperti kamu.” “Lho kenapa Pak?” “Karena kamu anak yang bisa mengangkat nama baik orangtua. Saya ingin kamu teruskan dan teruskan, sebab di kampung ini memerlukan orang-orang atau para pemuda seperti kalian.” Itulah hebatnya, jawabannya mantap.

Ulama Seharusnya Menjadi Penenang

Nah ulama-ulama ini harusnya bisa menjadi penenang. Maaf, jangan menjadi orang yang suka menakut-nakuti. Ada orang datang (membawa) masalah, perut anaknya yang sudah besar. Mending kalau hamil, ternyata bukan perempuan melainkan anak laki-laki. Matanya sudah coklat, ini liver, hepatitis. Begitu datang, “Kiai, minta barokahnya supaya Allah memberikan kesehatan kepada saya.” “Sakitnya apa kata dokter?” “Katanya liver, hepatitis A, B atau C.” “Maka dari itu kamu makannya yang benar. Jangan makan melulu. Ini nih akibtanya, kena luh liver! Udah ingat mati baru datang ke kiai!” La ilaha illallah, ini mau cari penenang malah dimarahi.

Tapi orang (ulama) yang bijak lain lagi, “Kenapa kamu kok perutnya besar?” “Kata dokter hepatitis, Kiai. Obatnya sulit.” “Siapa bilang? Obat itu bukan Tuhan, penyakit bukan Tuhan, sembuh pun bukan Tuhan. Obat mencari sarana Allah supaya memberi kesembuhan, sebagaimana orang makan mencari kenyang, orang minum mencari pelepas dahaga. Kalau seumpanya beri’tiqad penyakit itu mematikan, itu syirik. Karena penyakit itu bukan Tuhan.” Bisa menghibur, karena yang datang adalah saudara kami saudara mu’min-muslim.

Kalau tidak, secara manusiawi kalau bukan Muslim pun harus kita besarkan hatinya. Karena mereka menanggung istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang tidak berdosa. Pandangannya harus luas. Itu diantaranya. “Sudahlah, insyaAllah akan ada obatnya. Yang besar hati. Tawakkal kepada Allah Swt. Jangan tinggal ikhtiar. Saya doakan insyaAllah kamu sembuh.”

Meraup Hikmah dari Ujian yang Datang

Begitu juga seperti si pedagang yang datang kepada ulama atau orang yang shaleh. “Masa orang yang lewat tidak bisa lihat?” “Iya, kayak tidak wajar Kiai.” “Lha tidak wajarnya bagaimana, apa orang itu kalau lewat tidak punya mata?” “Ya punya mata, Kiai.” “Lha iya, jangan begitu, jangan suudzan dulu. Memang belum rizkinya, jangan berperasangka buruk. Saya doakan. Ini dibaca munajat kepada Allah, insyaAllah nanti Allah Swt. akan membuka yang besar usahanya. Terima kehendak Allah nanti kamu dibuka.” Bersih hatinya.

Tapi kalau datangnya (kepada orang yang) salah, “Menurut hitungan saya ada yang membuat. Wajar!” Ini datang husnudzannya untuk mengurangi dosa malah tambah dosa. Akhirnya si setan kulonuwun, tanpa salam masuk saja. Bayangannya muncul,‘khayaliyah’ yang dibawa nafsu dan setan.

Tapi kalau datangnya kepada orang yang shaleh maka jawabannya seperti di atas tadi, “Sudahlah, mesin kendaraan itu kalau jalan terus tidak pernah dikir atau turun mesin, lambat atau cepat akan rusak. Makanya harus turun mesin dulu supaya diperbaiki menjadi baik, olinya dan lain sebagainya terkontrol dengan baik lalu dipasangkan lagi mesinnya. Mungkin sudah mendapat hasil yang baik maka nanti jalannya akan baik. Mari kita sekarang ini masih turun mesin dalam bidang ekonomi, insyaAllah mesinnya akan baik. Amin.”

Ridha itu di situ. Kalau kita menerima ridha justeru kita ini lapang, lapang sekali, bersih dari perasangka-perasangka yang kurang terpuji. Itulah diantaranya makna ridha. Kalau para auliya, aduuh bukan pangkat kita. “Allahummaj’alna minhum,” semoga kita menjadi orang yang seperti mereka (para wali Allah). Dan Allah Swt. memberikan kekuatan. Amin.

(Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017).
   
Video dokumentasi bisa dilihat dan didownload di sini: https://youtu.be/2q7eN59Php8


SEBUAH PENULISAN SEJARAH YANG HARUS DILURUSKAN

Written By MuslimMN on Kamis, 23 Februari 2017 | 13.03



Banyak sekali penulisan sejarah yang tidak tepat yang harus diluruskan, baik itu yang berkaitan dengan sejarah Nabi, sahabat maupun sejarah para ulama, auliya dan orang-orang shaleh. Hal itu terjadi karena mungkin keterbatasan pustaka penulisnya atau juga sumber yang tidak akurat, atau juga mungkin kurangnya pengetahuan si penulisnya.

Salah satunya adalah penulisan sejarah tentang menyesuaikan arah kiblat pada pembangunan Masjid Jami' Pekojan Jakarta Kota, yang terjadi antara al-Allamah Mufti Batafia (Betawi) as-Sayyid al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya Jati Petamburan Jakarta dan al-Allamah Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani, yang ditulis dengan berbagai judul, tema dan redaksi, seperti cerita yang dinukil singkat dalam buku "Pujangga Islam, Syaikh Nawawi Al-Bantani", karya Sayyid Chaidar,1978 yang tertulis dengan judul "Teladan Tawadhu' antara Kiai dan Habib" dan seterusnya, dimana di dalamnya penuh dengan kejanggalan dan berbagai kesalahan yang harus diluruskan. 

Begitu pula dengan buku yang ditulis oleh Kiai Abdul Aziz dari Lasem kalau tidak salah, seorang pengarang sejarah tentang riwayat Syaikh Nawawi Banten, pada halaman 100 cetakan lama, bab masalah Kiblat Masjid Pekojan, tentang karomah Syaikh Nawawi Banten. Dimana diterangkan di sana bahwa Sayyid Utsman ketika membuat Masjid Pekojan dinyatakan kiblatnya kurang pas. Dalam buku tersebut juga diterangkan bahwa Sayyid Ustman sudah berusia 70 tahun, sedangkan Syaikh Nawawi masih anak-anak, artinya belum mencapi umur 15 tahun.

Oleh karena itu, kami mencoba untuk meluruskan sejarah tersebut dengan data yang sangat valid yang kami peroleh secara langsung dari pakar sejarah dan guru besar kita Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan.

Dalam kitab “Bughyat al-Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dh al-Aimmah al-Muta-akhkhirin" sebuah kitab fiqh yang menghimpunkan ringkas dari berbagai fatwa para ulama madzhab Syafi’i yang muta-akhirin, karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba ‘Alawi al-Hadhrami (1250-1320), seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkenal dan Mufti negeri Hadhramaut, Yaman pada zamannya, bab pertama, halaman 7-9, pembahasan tentang kedudukan masalah "Ijtihad wa al-ifta wa at-taqlid". Kita dapat baca di sana diterangkan oleh Sayyid Muhammad al-Qurthubi dari Imam asy-Syafi'i Ra. bahwa seorang mufti tidak boleh bermain-main (lahwun) di dalam memberikan fatwa.

Sepertihalnya al-Allamah as-Sayyid al-Habib Utsman bin Yahya, beliau disamping seorang Mufti besar yang memiliki gelar al-Allamah yang berhak menyandang kedudukan Mufti, beliau juga adalah seorang Mursyid Kamil (sempurna) dalam Thariqah Alawiyyah dan Qadiriyyah Naqsabandiyyah, juga beliau adalah seorang Wali Quthub di zamanya, yang dalam ilmu ma'rifat serta kekasyafannya diakui oleh jumhur ulama, dimana fatwanya wajib ditaati sesuai keterangan dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dh al-Aimmah al-Muta-akhkhirin.

Al-Allamah as-Sayyid al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi lahir di Betawi pada tahun 1238 H. Pada usia 17 tahun setelah mendapat pendidikan secara langsung dari kakeknya, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Ahmad al-Misri, hingga beliau menjadi seorang hafidzul Qur'an dan menguasai beberapa kitab tafsir.

Lalu di usia 17 tahun tersebut beliau berangkat ke Mekkah al-Mukarromah dan di sana beliau juga berziarah kepada datuknya, Baginda Nabi Saw. di Madinah al-Munawwaroh. Di Mekkah Habib Utsman bin Yahya mengambil ilmu kepada ayahnya yaitu Sayyid Abdullah bin Aqil bin Yahya dan pamannya yang menjadi ulama besar di Haramain (Mekkah dan Madinah).

Setelah 4 tahun, beliau berangkat ke Negeri Hadhramaut Yaman pada usia 21 tahun. Di sana beliau belajar kepada para ulama yang sangat mahir dalam ilmu agama dan tinggi maqam kewaliannya seperti diantaranya kepada:

1. Al-Imam al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba'alawi, yang wafat pada tahun 1273 H. Pengarang kitab Sullamuttaufiq yang disyarahi oleh Syaikh Nawawi Banten.
2. Al-Habib Hasan bin Shaleh al-Bahr, seorang wali Quthbul Ghauts di jamanya yang wafat pada tahun 1273 H.
3. Al-Imam al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, seorang mufti Hadhramaut Yaman yang sangat terkenal ilmu dan maqam (kedudukan) kewaliannya. Pengarang kitab al-Fatawa yang sangat masyhur dan juga pengarang kitab Safinatunnaja atau Safinatush Shalah, yang juga disyarahi oleh Syaikh Nawawi Banten, serta banyak lagi karangan kitabnya, yang wafat pada tahun 1265 H.
4. Al-Habib Abdullah bin Husain Balfaqih.
5. Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Syihab.
6. Al-Habib Abdullah bin Abubakar Maula Buthaihah.
7. Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan.
8. Syaikh Abdullah bin Sa'ad bin Sumair al-Hadhrami.

Dan beberapa lagi dari para ulama di Tarim khususnya. Juga beliau mengembara untuk mengambil ilmu serta berziarah ke Mesir, Istanbul Turki, Aljazair, Maroko dan lain-lain. 

Al-Allamah as-Sayyid al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya sewaktu di Hadhramaut dinikahkan dengan seorang syarifah dari marga Maulakhelah Ba 'Alawi. Dan setelah beberapa tahun baru beliau kembali ke Jawa terus diangkat menjadi Mufti menggantikan Syaikh Abdurrahman dari Padang Sumatra yang tinggal di Masjid Pekojan sebelum Sayyid Utsman bin Aqil bin Yahya yang akhirnya Sayyid Utsman dijuluki "Mufti Betawi". Habib Utsman bin Yahya wafat pada tahun 1333 H bertepatan dengan tahun 1912 M.

Coba kita lihat, Sayyid Utsman bin Yahya dilahirkan pada 1238 H sedangkan Syaikh Nawawi Banten dilahirkan pada tahun 1230 H, terpaut tujuh tahun. Usia Sayyid Utsman bin Yahya lebih muda dari Syaikh Nawawi Banten, sedangkan Syaikh Nawawi Banten di usia 15 tahun sudah berangkat ke Mekkah sampai wafat tidak pernah pulang ke Jawa. Seandainya dalam peristiwa Masjid Pekojan Syaikh Nawawi Banten berusia 14 tahun, maka usia Sayyid Utsman bin Yahya adalah 7 tahun, lalu apakah perlu ditambah 0 (nol) supaya jadi 70 tahun?

Cerita ini seperti ada:

1. Sejarah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. pada perang Khandaq ada sejarah yang menerangkan bahwa dalam peristiwa perang Khandaq tersebut Sayyidina Ali bin Abi Thalib berusia 8 tahun. Maka berarti saat menggantikan Baginda Nabi Saw. berumur 1 tahun, apakah demikian?

2. Perang Khandaq terjadi 7 tahun setelah hijrah dan usia Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah 28 tahun, akan tetapi ada yang berpendapat usia 8 tahun. Lantas angka '2'-nya ke mana?

Maaf ini bukan pembelaan, oleh karena itu, mari kalau membaca sejarah yang jeli dan teliti! Maaf sumber sejarah Anda dari mana?

Sepertinya Anda membaca sejarah yang ditulis oleh Kiai Abdul Aziz. Yang saya tahu beliau tidak bertanya kepada keluarga Sayyid Utsman bin Yahya, tapi hanya berfoto, berpose di makam Sayyid Utsman bin Yahya di Tanah Abang dahulu. "Dan ketika pengarang sejarah tersebut (Kiai Abdul Aziz) masih hidup beberapa kali saya ingin menemui beliau," tutur Maulana Habib Luthfi bin Yahya, "untuk memberikan keterangan yang valid, tapi tidak pernah mendapatkan jawaban. Hanya melalui orang lain yaitu Alm. Gus Dur dan Alm. KH. Fuad Hasyim Buntet Cirebon dengan jawaban 'Nanti akan diralat'."

Wallahu a'lam. Mohon maaf barangkali ada penyebutan nama atau apa saja yang salah. Kami sadur dari al-Mukarram Ustadz Abu Muhammad Syamlawi Pemalang dari dawuh langsung Maulana habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. (Habib Muhdor bin Ahmad Assegaf, Padepokan sang guru malam Jum'at Kliwon dini hari 24/02/2017. Semoga bermanfaat).

http://www.muslimedianews.com/2017/02/sebuah-penulisan-sejarah-yang-harus.html

Terjemah Kitab Ta’lim Muta’allim Az-Zarnuji (Bag. 2)

(Terjemah Kitab Ta’lim Muta’allim Az-Zarnuji (Bag. 2

فصل
فى الجد والمواظبة والهمة
FASAL V; SUNGGUH-SUNGGUH, KONTINUITAS DAN CITA-CITA LUHUR

A.    Kesungguhan Hati 

ثم لا بد من الجد والمواظبة والملازمة لطالب العلم، وإليه الإشارة فى القرآن بقوله تعالى: يا يحيى خذ الكتاب بقوة. وقوله تعالى: والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا. وقيل: من طلب شيئا وجد وجد، ومن قرع الباب ولج ولج. وقيل: بقدرما تتعنى تنال ما تتمنى. وقيل: يحتاج فى التعلم والتفقه إلى جد ثلاثة: المتعلم، والأستاذ، والأب، إن كان فى الأحياء. أنشدنى الشيخ الإمام الأجل الأستاذ سديد الدين الشيرازى للشافعى رحمهما الله:
الجـــد يــدنـى كــل أمـر شـاسـع            والـجــد يفــتـح كــل باب مــغـلـق
وأحق خلق الله تعالى بالهم امرؤ            ذو هــمـة يــبلـى بـعــيـش ضـيـق
ومن الدليل على القضاء وحكمه            بؤس اللبيب وطيب عيش الأحمق
لكن من رزق الحجا حرم الغنى            ضـدان يــفـــتـرقــان أى تــفــرق
وأنشدت لغيره:
تمـنيت أن تمسى فـقيها مناظـرا                بغـير عناء والجـنون فنون
وليس اكتساب المال دون مشقة                تحملها فالعلم كـيف يكون؟
قال أبو الطيب المتنبى:
ولم أرى فـى عيوب الناس عيبا            كنقص القادرين على التمام
ولا بد لطالب العلم من سهر الليالى كما قال الشاعر:
بقـدر الـكــد تكــتـسـب المـعالى             ومـن طـلـب الـعـلى سـهـر اللـيالى
تــروم الــــعــز ثـم تنــام لــــيلا            يغوص فى البحر مـن طلب اللآلى
علـو الـكــعـب بالهـمـم الـعـوالى            وعـن الـــمـرء فـى ســهـر اللـيالى
تركــت الــنوم ربى فى اللــيالى            لأجــل رضـاك يامــولـى الـمـوالى
ومــن رام الــعـلى مـن غـير كد            أضاع الـعـمـر فى طـلب المـحــال
فــوفـقـنى إلـى تحــصــيل عـلـم            وبلـغــنـى إلـى أقــصـى الـمـعــالى
قيل: اتخذ الليل جملا تدرك به أملا. قال المصنف وقد اتفق لى نظم فى هذا المعنى شعر:
مـن شاء أن يحـتوى آماله جـملا            فلـيتـخـذ لــيله فـى دركــها جــمـلا
إقلل طعامك كى تحظى به سهرا            إن شئت يا صاحبى أن تبلغ الكملا
وقيل: من أسهر نفسه بالليل، فقد فرح قلبه بالنهار.

Selain itu semua, pelajar juga harus bersungguh hati dalam belajar serta kontinyu (terus-menerus). Seperti itu pula ditunjukkan firman Allah Swt.: “Dan orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami.” (QS. al-Ankabut ayat 69). Ada dikatakan pula: “Siapa bersungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu.” “Barangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki.” Dikatakan pula: “Sejauhmana usahamu, sekian pula tercapai cita-citamu.”

Dikatakan juga: “Dalam mencapai kesuksesan mempelajari ilmu dan fiqh itu diperlukan kesungguhan tiga pihak, yaitu guru, pelajar dan wali murid jika masih ada.” Syiir gubahan Imam asy-Syafi’iy dikemukakan kepadaku oleh Ustadz Sadiduddin asy-Syairazi:
“Dengan kesungguhan, hal yang jauh jadi dekat. Pintu terkunci pun jadi terbuka. Titah Allah yang paling berhak bilang sengsara, yang bercita-cita tinggi namun hidupnya diuji miskin. Di sini bukti kelestarian taqdir dan hukumNya, bila si pandai hidup sengsara sedang si bodoh cukup berharta. Tapi yang hidup akalnya, tidak diberi harta dan benda. Keduanya saling berpisah, satu di sini satu di sana.”

Syiir gubahan lain Imam asy-Syafi’i yang dikemukan padaku:
“Kau idamkan menjadi faqih penganalisa, padahal tidak mau sengsara, macam-macam sajalah penyakit gila. Tidak bakal engkau memboyong harta, tanpa menanggung kepayahan dan derita, ilmu begitu pula.”

Abut Thayib berkata: “Tak kulihat aib orang sebagai cela, bagaikan orang kuasa yang tak mau memenuhi apa mestinya.” Pelajar pula harus sanggup tidak tidur bermalam-malam sebagaimana kata penyair:
“Seukur kesulitan, ukuran keluhuran. Siapa ingin luhur, jangan tidur semalaman. Kau ingin mulia, tapi tidur di malam hari. Dengan menyelam laut, permata kan didapati. Keluhuran derajat, dengan hikmah yang tinggi, keluhuran seseorang, dengan berjaga di malam hari. Oh tuhan, kubuang tidurku di malam hari, demi ridhaMu ya Maulal Mawali. Siapa tanpa mau sengsara inginkan keluhuran, mengulur umur yang takkan kedapatan. Tolonglah saya agar mendapat ilmu, sampaikan saya di kemuliaan sisiMu. Jadikanlah malam, unta tunggangan buat kau dapat yang kau citakan.”

Ada nadzam yang semakna dengan syiir-syiir di atas, yaitu:
“Barangsiapa ingin semua maksudnya tercapai, jadikanlah malam sebagai tunggangan untuk mencapai. Kurangilkah makan agar kau mampu berjaga. Bila kau idamkan, mendapat sempurna.”

Dikatakan: “Barangsiapa tidak tidur di malam hari, hatinya bahagia di siang hari.”

B.     Kontinuitas dan Mengulang Pelajaran

ولا بد لطالب العلم من المواظبة على الدرس والتكرار فى أول الليل وآخره، فإن ما بين العشائين، ووقت السحر، وقت مبارك. قيل فى هذا المعنى:
يا طالب العـلم باشـر الورعا    وجـانب الـنوم واترك الشبعـا
وداوم على الدرس لا تفارقه    فإن العلم بالدرس قام وارتفعا
فيغتنم أيام الحداثة وعنفوان الشباب، كما قيل:
بقـدر الـكــد تعــطى ما تروم    فـمــن رام المـنى لــيلا يقـوم
وأيام الـحــداثـة فـاغـتـنـمـهـا    ألا إن الــحــــــداثــة لاتــدوم

Tidak boleh tidak, pelajar harus dengan kontinyu sanggup dan mengulangi pelajaran yang telah lewat. Hal itu dilakukan pada awal dan akhir waktu malam. Sebab waktu di antara Maghrib dan Isya serta waktu sahur puasa adalah membawa berkah. Dikatakan:
“Hai pelajaran, patuhilah wara’. Singkiri tidur, dari perut kenyang. Langgengkan belajar, jangan kau rusak. Dengan belajar, ilmu tegak dan makin menanjak.”

Hendaknya pula mengambil kesempatan masa muda dan awal remajanya. Syiir mengemukakan:
“Sebesar sengsara, itulah kesuksesan citamu. Siapa menuju cita-cita, jangan tidur di malam berlalu. Sempatkan dirimu, di masa muda. Dan ingat, masa itu tak lama berada.”

C.    Menyantuni Diri

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ألا إن هذا الدين متين فأوغل فيه برفق، ولا تبغض نفسك فى عبادة الله تعالى فإن المنبت لا أرضا قطع ولا ظهرا أبقى. وقال عليه السلام: نفسك مطيتك فارفق بها

Jangan membuat dirinya sendiri bersusah payah, hingga jadi lemah dan tak mampu berbuat apa-apa. Ia harus selalu menyantuni dirinya sendiri. Kesantunan itu mendasari kesuksesan segala hal. Rasulullah Saw. bersabda: “Ingatlah, bahwa Islam itu agama yang kokoh. Santunilah dirimu dalam menunaikan tugas agama, jangan kau buat dirimu sengsara lantaran ibadahmu kepada Allah. Karena orang yang telah hilang kekuatannya itu, tiada bisa memutus bumi dan tiada pula kendaraan tunggangannya.” Nabi Saw. juga bersabda: “Dirimu itu kendaraanmu, maka santunilah ia.”

D.    Cita-cita Luhur

فلا بد لطالب العلم من الهمة العالية فى العمل، فإن المرء يطير بهمته كالطير يطير بجناحيه. وقال أبو الطيب رحمه الله:
على قدر أهل العزم تأتى العـزائم            وتأتى على قـدر الكـرام المكارم
وتعظم فى عين الصغير صغارها            وتصغر فى عين العظيم العظائم
والركن فى تحصيل الأشياء الجد والهمة العالية، فمن كانت همته حفظ جميع كتب محمد بن الحسن، واقترن بذلك الجد والمواظبة، فالظاهر أنه يحفظ أكثرها أو نصفها، فأما إذا كانت له همة عالية ولم يكن له جد، أو كان له جد ولم تكن له همة عالية لا يحصل له العلم إلا قليلا. وذكر الشيخ الامام الأجل الأستاذ رضى الدين النيسابورى فى كتاب مكارم الأخلاق أن ذا القرنين لما أراد أن يسافر ليستولى على المشرق والمغرب، شاور الحكماء وقال: كيف أسافر بهذا القدر من الملك، فإن الدنيا قليلة فانية، وملك الدنيا أمر حقير، فليس هذا من علو الهمة. فقال الحكماء: سافر ليحصل لك ملك الدين والآخرة. فقال: هذا أحسن. وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله يحب معالى الأمور ويكره سفسافها. وقيل : فلا تعجل بأمرك واستدمه فما صلى عصاك كمستديم. قيل: قال أبو حنيفة رضى الله لأبى يوسف: كنت بليدا أخرجتك المواظبة، وإياك والكسل فإنه شؤم وآفة عظيمة. قال الشيخ الإمام أبو نصر الصفار الأنصارى:
يا نفس يا نفس لا ترخى عن العمل        فى البر والعدل والإحسان فى مهل
فـكـل ذى عـمـل فى الخـير مـغـتبط        وفـى بـلاء وشــؤم كــل ذى كــسـل
قال المصنف: وقد اتفق لى فى هذا المعنى شعر:
دعى نـفـسى الـتكــاسـل والـتـوانـى         وإلا فـاثـــبــتـى فـى ذا الـــهـــوان
فلم أر للـكــسـالـى اـلحـظ [ يعطى]        ســوى نــدم وحــــرمــان الأمــانـى
وقيل: كـم مـن حـياء وكم عـجـز وكـم نـدم        جــم تــولـــد للإنـسـان مــن كـــسـل
إياك عن كسل فى البحث عن شبه        فـمــا علـمـت وما قـد شذ عنك سل
وقد قيل : الكسل من قلة التأمل فى مناقب العلم وفضائله،
Pelajar harus luhur cita-citanya dalam berilmu. Manusia itu akan terbang dengan cita-citanya, sebagaimna halnya burung terbang dengan kedua sayapnya. Abu ath-Thayyib berucap:
“Seberapa kadar ahli cita, si cita-cita kan didapati. Seberapa kadar orang mulia, kemuliaan kan ditemui. Barang kecil tampaknya besar, di mata orang bercita-cita kecil. Barang besar di mata orang bercita-cita besar, tampaknya kecil.”

Pangkal kesuksesan adalah kesungguhan dan himmah yang luhur. Barangsiapa berhimmah menghapalkan seluruh kitab Muhammad bin al-Hasan, disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tak kenal berhenti, maka menurut ukuran lahir pasti akan bisa menghapal sebagian besar atau separohnya. Demikian pula sebaliknya, bila cita-citanya tinggi tapi tidak ada kesungguhan berusaha atau sungguh-sungguh tetapi tidak bercita-cita tinggi, maka hanya sedikit pula ilmu yang berhasil didapatkannya.

Di dalam kitab Makarimul Akhlaq, Syaikhul Imam al-Ustadz Ridhaddin an-Naisaburi mengemukakan, bahwa Kaisar Dzul Qarnain dikala berkehendak menaklukan Dunia Timur dan Barat bermusyawarah dengan para hukama, katanya: “Bagaimana saya harus pergi untuk memperoleh kekuasaan dan kerajaan ini, padahal dunia ini hanya sedikit nilainya, fana dan hina, yang berarti ini bukan ita-cita luhur?” Hukama menjawab: “Pergilah Tuan, demi mendapat dunia dan akhirat.” Kaisar menyahut: “Inilah yang baik.”

Rasulullah Saw. bersabda: “Sungguh, Allah senang perkara-perkara yang luhur tetapi benci yang hina.” Syiir dikatakan:
“Jangan tergesa menangani perkaramu, senantiasalah begitu. Tak ada yang bisa meluruskan tongkatmu, seperti yang meluruskannya selalu.”

Ada dikatakan, Imam Abu Hanifah berkata kepada Abu Yusuf: “Hati dan akalmu tertutup, tapi engkau bisa keluar dari belenggu itu dengan cara terus-terusan belajar. Jauhilah malas-malas yang jahat dan petaka itu.” Syaikh Abu Nashr ash-Shaffar al-Anshari berkata:
“Diriku oh diriku, janganlah kau bermalas-malasan. Untuk berbakti, adil, berbuat bagus perlahan-lahan. Setiap yang beramal kebajikan, untung kan didapat. Tapi yang bermalasan, tertimpa bala’ dan keparat.”

Ada syiir gubahanku yang semakna itu:
“Tinggalkanlah oh diriku, bermalasan dan menunda urusan. Kalau tidak, letakkan saja aku, di jurang kehinaan. Tak kulihat, orang pemalas mendapat imbalan. Selain sesal, dan cita-cita menjadi gagal.”

Syi’ir diucapkan:
“Bertumpuk malu, lemah dan sesal. Kebanyakan dari akibat orang malas beramal. Buanglah segan untuk membahas yang belum jelas. Segala yang kau tahu, dan yang masih ragu akibat malas.”

Kata mutiara diucapkan: “Sikap malas adalah timbul dari akibat jarang menghayati kemuliaan dan keutamaan ilmu.”

E.     Usaha Sekuat Tenaga

فينبغى أن يتعب نفسه على التحصيل والجد والمواظبة بالتأمل فى فضائل العلم، فإن العلم يبقى [ببقاء المعلومات] والمال يفنى، كما قال أمير المؤمنين على بن أبى طالب كرم الله وجهه:
رضـينا قسمة الجـبار فينا            لـنا علم وللأعـداء مال
فإن المال يفنى عن قريب            وإن العلم يبقى لا يزال
والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته فغنه حياة أبدية. وأنشدنا الشيخ الإمام الأجل ظهير الدين مفتى الأئمة الحسن بن على المعروف بالمرغينانى:
الجـــاهـلـون مـوتـى قـبل مـوتـهــم        والعـالمـون وإن ماتوا فأحياء
وأنشدنى الشيخ الإمام الأجل برهان الدين رحمه الله:
وفى الجهل قبل الموت موت لأهله            فـأجــسامهـم قبل القبور قبور
وإن امــرؤ لم يحـــيى بالعلم مــيت            فـليس له حــين النشور نشور
وقال غيره:
أخـو الـعـلم حـي خــالـد بـعـد مــــــوتـه            وأوصـاله تحـت التراب رمـيم
وذو الجهل ميت وهو يمشى على الثرى            يظهر مـــن الأحياء وهوعديم
وأنشدنى أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمة الله عليه شعرا:
ذا العلم أعلى رتبة فى المــــــــراتب        ومن دونه عز العلى فـى المواكــب
فذو العلم يبقــى عزه متضــاعفـــــــا        وذو الجهل بعد الموت فـى الترائب
فـهــيات لا يرجــو مـداه مـن ارتـقى        رقى ولى الملك والـى الكــــــــتائب
سأملى عليكــم بعض ما فيه فاسمعوا        فبى حصر عن ذكر كـل المــــناقب
هو النور كل النور يهدى عن العمى        وذو الجهل مر الدهر بين الغــياهب؛
هو الـذروة الشماء تحمى مـــن التجا        إليها ويمشى آمـــــنا فـى الـــنـوائب
به ينتجــــى والناس فى غفلاتـــــهـم        به يرتجـــــى والـروح بين الترائب
به يشفع الإنسان مــن راح عاصـــيا        إلى درك النيران شـر العـــــــواقب
فمن رامه رام المآرب كلــــــــــــــها        ومـــــن حازه قد حاز كـل المطالب
هو المنصب العالى يا صاحب الحجا        إذا نلته هون بفــــــــوت المـناصب
فإن فاتك الدنيا وطيب نعيمـــــــــــها        [ فغمض] فإن العلم خير المواهب
وقيل فى هذا المعنى:
إذا مـــــــا اعتز ذو علم بعــــــــــلم        فعلم الفقــــــــه أولـــــــــى باعتزاز
فكـــــــــــم طيب يفوح ولا كــمسك        وكــــــــــــم طير يطير ولا كبازى
وأنشدت أيضا لبعضهم:
الفقه أنفس كل شيئ أنت ذا خـــــره        مــن يدرس العلم لم تدرس مفاخره
فاكسب لنفسك ما أصبحت تجهــــله        فأول العلم إقبال وآخـــــــــــــــــره
وكفى بلذة العلم والفقه والفهم داعيا وباعثا للعاقل على تحصيل العلم.

Hendaklah pelajar bersungguh-sungguh sampai terasa letih guna mencapai kesuksesan, dan tak kenal berhenti, dan dengan cara menghayati keutamaan ilmu. Ilmu itu kekal, sedang harta adalah fana, seperti yang dikemukakan oleh Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib Ra.:
“Kami rela, bagian Allah untuk kami. Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami. Dalam waktu singkat, harta jadi musnah. Namun ilmu, abadi takkan sirna.”

Ilmu yang bermanfaat akan menjunjung tinggi nama seseorang, tetap harum namanya walaupun ia sudah mati. Dan karena begitu, ia dikatakan selalu hidup abadi. Syaikhul Ajall al-Hasan bin Ali al-Marghinani membawakan syiir buat kami:
“Kaum bodoh, telah mati sebelum mati. Orang alim, tetap hidup walaupun mati.”

Demikian pula Syaikhul Islam Burhanuddin berkata:
“Kebodohan membunuh si bodoh sebelum matinya. Belum dikubur, badannya telah jadi pusara. Orang hidup tanpa berilmu, hukumnya mati. Bila bangkit kembali, takkan bisa bangkit kembali.”

Syiir lainnya:
“Orang berilmu, hidup kekal setelah mati. Ruas tubuhnya telah hancur lebur ditimbun duli. Orang bodoh, jalan di bumi mati hukumnya. Dikira hidup, nyatanya mati.”

Syaikhul Islam Burhanuddin membawakan syiir buat kita:
“Kalau sang ilmu, tingkat tertinggi tuk tempat singgah. Kalau lainnya, meninggi bila banyak anak buah. Orang berilmu, namanya harum berlipat tinggi. Orang bodoh, begitu mati tertimbun duli. Mendaki tinggi, ke puncak ilmu, mustahil bias. Bila maksudnya, bagai komandan pasukan kuda. Dengarkan dulu, sedikit saja dikte buatmu. Cuma ringkasan, kemuliaan ilmu yang aku tahu. Ia cahaya, penerang buta, terang-benderang. Tapi si bodoh, sepanjang masa gelap menantang. Dia puncak, menjulang tinggi, pelindung siapa berlindung. Makanya aman dari segala aral melintang. Juru penyelamat, dikala insan terjerat tipu. Harapan manis, kala sang nyawa di ambang pintu. Ia sarana, guna menolong teman durhaka. Yang jalan bengkok, akibat bobrok, lapis neraka. Yang bertujuan ilmu, berarti telah menuju “segala”. Yang dapat ilmu, artinya telah dapat segala. Wahai kaum berakal, ilmu itu pangkat mulia. Bila telah didapat, pangkat lain lepas tak mengapa. Bila engkau meninggalkan dunia dengan segala nikmatnya. Pejamkan mata, cukuplah ilmu jadi anugerah berharga.”

Syiir gubahan sebagian para ulama dibawakan buatku:
“Jikalau karena ilmu, orang alim menjadi mulia. Ilmu fiqih membawa mulia kan lebih bias. Banyak semerbak yang dengan misik tidak menandingi. Banyak penerbang yang tak seperti raja wali.”

Dibawakan lagi untukku:
“Fiqh itu ilmu termahal, engkaulah yang memungut. Siapa belajar, takkan habis hikmah didapat. Curahkan dirimu, mempelajari yang belum tahu. Awal bahagia, akhir pun bahagia, itulah ilmu.”

Bagi orang yang berakal, telah cukuplah merasa terpanggil Menuju kesuksesan berilmu oleh sebagaimana kelezatan-kelezatan ilmu, fiqh dan kebahagian yang timbul bila sedang faham terhadap suatu masalah.

F.     Sebab Kemalasan

وقد يتولد الكسل من كثرة البلغم والرطوبات، وطريق تقليله، تقليل الطعام.قيل: اتفق سبعون طبيبا على أن النسيان من كثرة البلغم، وكثرة البلغم من كثرة شرب الماء، وكثرة شرب الماء من كثرة الأكل، والخبز اليابس يقطع البلغم، وكذلك أكل الزبيب على الريق، ولا يكثر منه، حتى لايحتاج إلى شرب الماء فيزيد البلغم. والسواك يقلل البلغم، ويزيد الحفظ والفصاحة، فإنه سنة سنية، تزيد فى ثواب الصلاة، وقراءة القرآن، وكذا القيء يقلل البلغم والرطوبات

Sikap malas itu bisa timbul akibat dari lendir dahak atau badan berminyak yang disebabkan orang terlalu banyak makan. Adapun cara mengurangi dahak itu sendiri adalah bisa dilakukan dengan cara mengurangi makan. Ada dikatakan: “Tujuh puluh orang nabi sependapat bahwa sering lupa itu akibat dahak terlalu banyak. Dahak terlalu banyak karena minum terlalu banyak. Dan biasanya minum terlalu banyak itu karena makan yang terlalu banyak pula.”

Makan roti kering dan menelan buah anggur kering dapat juga menghilangkan dahak. Namun jangan terlalu banyak, agar tidak mengakibatkan ingin minum, yang kesudahannya memperbanyak lendir dahak pula. Bersiwak juga dapat menghilangkan dahak, disamping memperlancar hapalan dan kefasihan lisan. Demikianlah, perbuatan itu termasuk sunnah Nabi yang bisa memperbesar pahala ibadah shalat dan membaca al-Quran. Muntah juga dapat mengurangi lendir dahak, dan mengurangi perminyakan badan (yang disebabkan makan terlalu banyak).

G.    Cara Mengurangi Makan

وطريق تقليل الأكل التأمل فى منافع قلة الأكل هى: الصحة والعفة والإيثار. وقيل فيه شعر:
فعار ثم عار ثم عار    شقاء المرء من أجل الطعام
وعن النبى عليه السلم أنه قال: ثلاثة يبغضهم الله من غير جرم: الأكول والبخيل والمتكبر. وتأمل فى مضار كثرة الأكل وهى: الأمراض وكلالة الطبع، وقيل: البطنة تذهب الفطنة. حكى عن جالينوس أنه قال: الرمان نفع كله، والسمك ضرر كله، وقليل السمك خير من كثرة الرمان. وفيه أيضا: إتلاف المال، والأكل فوق الشبع ضرر محض ويستحق به العقاب ودار الآخرة، والأكول بغيض فى القلوب. وطريق تقلييل الأكل: أن يأكل الأطعمة الدسمة ويقدم فى الأكل الألطف والأشهى، ولايأكل مع الجائع إلا إذا كان له غرض صحيح، بأن يتقوى به على الصيام والصلاة والأعمال الشاقة فله ذلك.

Cara mengurangi makan bisa dilakukan dengan cara menghayati faedah dan manfaat yang timbul dari makan sedikit. Antara lain adalah badan sehat, lebih terjaga dari yang haram dan berarti pula ikut memikirkan nasib orang lain. Dalam hal ini ada syiir menyebutkan:
“Celaka, celaka dan celaka. Karena makan, manusia jadi celaka.”

Hadits Nabi Saw. menyebutkan : “Tiga orang yang dibenci Allah bukan karena ia berdosa, yaitu orang pelahap makan, orang kikir dan orang sombong.”

Bisa pula dengan cara menghayati madharat yang timbul dari akibat makan terlalu banyak, antara lain sakit dan tolol. Ada dikatakan: “Perut kenyang, kecerdasan hilang.” Dikatakan oleh Galinus: “Semua buah delima bermamfaat, semua ikan laut madharat. Tetapi masih lebih bagus makan ikan laut sedikit daripada delima tapi banyak, karena bisa menghabiskan harta. Makan lagi setelah perut kenyang hanyalah membawa madharat, dan mendatangkan siksa kelak di akhirat. Orang terlalu banyak makan itu dibenci setiap orang.”


Caranya lagi untuk mengurangi makan, adalah dengan makanan yang berlemak atau berzat pemuak. Makanlah mana yang lebih lembut dan disukai terlebih dahulu. Dan jangan bersama-sama orang yang sangat lapar selain bila hal itu justru harus dilakukan karena bertujuan baik. Misalnya agar kuat berpuasa, mengerjakan shalat atau perbuatan-perbuatan lain yang berat, bolehlah dilakukan. []
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template