Latest Post

Tegal Berduka, Wafat Tokoh NU KH. Muhammad ABS

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 29 Agustus 2014 | 11.38



Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Jum’at pagi, 29 Agustus 2014, Tegal berduka karena kehilangan salah seorang tokoh dan pengayomnya. Seorang tokoh NU yang aktif dan menjadi tumpuan masyarakat bertanya, KH. Muhammad Abu Su’ud (ABS). Selain mengelola lembaga pendidikan swasta di desanya, Sutapranan, beliau juga aktif mengisi pengajian di banyak majelis ta’lim seputar Tegal.

Salah seorang jamaahnya, Rizki Adi Prianto mengenang sambil berkaca-kaca berkata: “Terakhir berjumpa dan bersalaman kala sepulang dari jamiyah akbar NU yang dijadikan promosi PKB untuk Pileg di Gor Trisanja. Ia yang masih aktif menjabat Wakil Ketua Syuriah PCNU Kabupaten Tegal, nampak berjalan sendirian tanpa pengawalan siapapun. Pribadi yang sederhana. Saya beranikan diri menghampiri dan menyalaminya.”

Pengasuh MT Nurul Qulub Randugunting, al-Habib Moeh Alattas, memberikan persaksian bahwa almarhum adalah orang yang baik. Aktif menularkan ilmu agama di majelis yang ia asuh. Pribadi yang bersahaja dan muhibbin sejati. Bukan hanya dengan dzahirnya saja, tapi hatinya pun benar-benar muhibbin dengan habaib. Kekaguman ini sudah ada pada diri saya sejak pertama saya mengenal beliau. Ya Allah, perbanyak orang-orang seperti beliau,” tutur Habib Muh penuh harap.

Beliau adalah salah satu kyai yang dekat dengan almarhum Pengasuh MT al-Hikmah Ketitang Talang, al-Habib Qasim bin Hasan bin Husein BSA. Dari beliaulah muncul kesaksian bahwa Habib Qasim BSA akan pulang berkumpul dengan datuknya Saw. sebelum Rajab. “Kalau melihat jamaah maulid seperti ini, saya jadi pengin ngumpul dengan Kanjeng Nabi, Kyai. Doakan semoga sebelum bulan Rajab sudah bisa berkumpul.” Kata Habib Qasim kepada Kyai Muhammad ABS.

Dialog singkat beliau berdua kala menghadiri majelis maulid. Sekarang dua kawan yang saling mencintai itu, yang sama-sama memelihara majelis peninggalan al-Walid al-Habib Hasan BSA, sudah kmbali bersama, berkumpul di belakang panji sang kekasih Rasulullah Saw. “Wa muhibbuna ma zala tahta liwana” (Dan yang mencintai kami, akan selalu berada dalam panji kami (para kekasih).

Sya’roni As-Samfuriy



Ragam Kaligrafi Arab, Teknik Word dan Photosop









Para Sahabat Nabi Penulis Wahyu; Al-Quran

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Selasa, 26 Agustus 2014 | 08.21



كتاب الوحي


كُتَّابُ الْوَحْيِ لِرَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مِنْهُمْ فِيْ مَكَّةِ الْمُكَرَّمَةِ :عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ، وَعُثْمَانُ بْنُ عَفَّانٍ، وَأَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، وَخَالِدُ ابْنُ سَعِيْدٍ بْنُ الْعَاصِ، وَعَامِرُ بْنُ فَهِيْرَةٍ، وَالْأَرْقَمُ بْنُ أَبِى الْأَرْقَمِ، وَأَبُوْ سَلَمَةٍ عَبْدُ اللّٰهِ بْنُ عَبْدِ الْأَسَّدِ الْمَخْزُوْمِىْ، وَجَعْفَرُ بْنُ أَبِى طَالِبٍ، وَحَاطِبُ بْنُ عَمْرُوْ، وَالزُّبَيْرُ ابْنُ الْعَوَّامِ، وَطَلْحَةُ ابْنُ عُبَيْدِ اللّٰهِ، وَعَبْدُ اللّٰهِ بْنُ أَبِىْ بَكْرٍ.

وَأُضِيْفَ إِلَيْهِمْ فِي الْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ :أَبُوْ أَيُّوْبٍ الْأَنْصَارِىْ، وَخَالِدُ بْنُ زَيْدٍ، وَأُبَىُّ ابْنُ كَعَبٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَعَبْدُ اللّٰهِ بْنُ رَوَاحِةٍ، وَمُعَاذُّ بْنُ جَبَلٍ، وَمُعَيْقِبُ بْنُ أَبِىْ فَاطِمَةٍ الدُّوْسِى، وَعَبْدُاللّٰهِ بْنُ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ أُبَىِّ بْنِ سَلُوْلٍ، وَعَبْدُاللّٰهِ بْنُ زَيْدٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةٍ، وَبُرَيْدَةُ بْنُ الْحُصَيْبِ، وَثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ بْنِ شَمَّاسٍ، وَحُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ، وَحَنْظَلَةُ بْنُ الرَّبِيْعِ، وَعَبْدُاللّٰهِ بْنُ سَعَدِ بْنِ أَبِىْ سَرَحٍ.

وَزَادَ بَعْدَ الْحُدَيْبِيَّةِ :أَبُوْ سُفْيَانٍ صَخْرٍ بْنُ حَرْبٍ، وَيَزِيْدُ بْنُ أَبِىْ سُفْيَانٍ، وَمُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِىْ سُفْيَانٍ، وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيْدِ، وَجُهَمُ بْنُ سَعَّدٍ، وَجُهَمُ بْنُ الصَّلْتِ ابْنِ مُخْرَمَةٍ، وَالْحَصِيْنُ بْنُ النَّمِيْرِ، وَحُوَيْطِبُ بْنُ عَبْدِ الْعُزّٰى، وَعَبْدُ اللّٰهِ بْنُ الْأَرْقِمِ، وَالْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِالْمُطَّلِبِ، وَأَبَانُ بْنُ سَعِيْدِ بْنِ الْعَاصِ، وَسَعِيْدُ بْنُ سَعِيْدِ بْنِ الْعَاصِ، وَالْمُغِيْرَةُ بْنُ شُعْبَةٍ، وَعَمْرُو بْنُ الْعَاصِ، وَشَرْحَبِيْلُ بْنُ حَسَنَةٍ، وَالْعَلَّاءُ الْحَضْرَمِىْ.

اَلْمَرَاجِعُ: (اَلتّاَرِيْخُ الْإِسْلَامِىُّ ـ مَحْمُوْدٌ شَاكِرٌ ص 937،  و الْفُصُوْلُ فِيْ اخْتِصَارِ سِيْرَةِ الرَّسُوْلِ - أَبُو الْفِدَاءِ إِسْمَاعِيْلِ بْنِ كَثِيْرٍ ص 380)

44 SAHABAT PENULIS AL-QURAN

Di Makkah al-Mukarramah:
1.   Ali bin Abi Thalib
2.   Utsman bin Affan
3.   Abu Bakar ash-Shiddiq
4.   Umar bin Khatthab
5.   Khalid bin Said bin al-Ash
6.   Amir bin Fahirah
7.   Arqam bin Abi al-Arqam
8.   Abu Salamah Abdullah bin Abdul Assad al-Makhzumi
9.   Ja’far bin Abi Thalib
10.       Hathib bin Amr
11.       Zubair bin al-Awam
12.       Thalhah bin Ubaidillah
13.       Abdullah bin Abu Bakar.

Di Madinah al-Munawwarah:
14.       Abu Ayyub al-Anshari
15.       Khalid bin Zaid
16.       Ubai bin Ka’ab
17.       Zaid bin Tsabit
18.       Abdullah bin Rawahah
19.       Mu’adz bin Jabal
20.       Mu’aiqib bin Abi Fathimah ad-Dusi
21.       Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul
22.       Abdullah bin Zaid
23.       Muhammad bin Maslamah
24.       Buraidah bin al-Hushaib
25.       Tsabit bin Qais bin Syammas
26.       Hudzaifah bin al-Yaman
27.       Handzalah bin ar-Rabi’
28.       Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah.

Tambahan Pasca Hudaibiyyah:
29.       Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb
30.       Yazid bin Abi Sufyan
31.       Mu’awiyah bin Abi Sufyan
32.       Khalid bin al-Walid
33.       Juham bin Sa’ad
34.       Juham bin ash-Shalt bin Mukhramah
35.       Al-Hashin bin an-Namir
36.       Huwaithib bin Abdul Uzza
37.       Abdullah bin al-Arqam
38.       Al-Abbas bin Abdul Mutthalib
39.       Aban bin Said bin al-Ash
40.       Said bin Said bin al-Ash
41.       Al-Mughirah bin Syu’bah
42.       Amr bin al-Ash
43.       Syarhabil bin Hasanah
44.       Al-‘Alla’ bin al-Hadhrami.

Referensi: (At-Tarikh al-Islamiy halaman 380 dan 937 karya Syaikh Mahmud Syakir dan al-Fushul fi Ikhtishar Sirat ar-Rasul karya Ibn Katsir).

Catatan: Dikatakan bahwa, jumlah penulis al-Quran yang sampai di sebagian ahli sejarah hanya 26. Kemudian berkembang di sejarawan lainnya menjadi berjumlah 42 bahkan lebih dari 56, sebagaimana yang akan dipaparkan berikut ini.

Rekaman dan Penyusunan Al-Quran

1.   Selama Periode Mekah

Kendati diwahyukan secara lisan, al-Quran sendiri secara konsisten menyebut sebagai kitab tertulis. Ini memberi petunjuk bahwa wahyu tersebut tercatat dalam tulisan. Pada dasarnya ayat-ayat al-Quran tertulis sejak awal perkembangan Islam, meski masyarakat yang baru lahir itu masih menderita berbagai permasalahan akibat kekejaman yang dilancarkan oleh pihak kafir Quraisy. Berikut cerita Umar bin al-Khattab sejak ia masuk Islam yang akan kita pakai sebagai penjelasan masalah ini:

“Suatu hari Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Shafa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Diantaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamzah, Abu Bakr, Ali, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia. Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana Umar hendak pergi. “Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraisy khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci-maki tata cara kehidupan, agama dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia.”

“Engkau hanya akan menipu diri sendiri Umar,” katanya. “Jika engkau menganggap bahwa Bani Abdu Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga Anda dan selesaikan permasalahan mereka.”

Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa keluarganya. Nu’aim menjawab: “Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa’id serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika Anda kembali menghubungi mereka.”

Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khaubah sedang membaca surat Thaha dari sepotong tulisan al-Quran. Saat mereka dengar suara Umar, Khaubah lari masuk ke kamar kecil, sedang Fathimah mengambil kertas kulit yang bertuliskan al-Quran dan diletakkan di bawah pahanya.” (Ibn Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 343-346).

Kemarahan Umar semakin membara begitu mendengar saudara­saudaranya masuk Islam. Keinginan membunuh orang yang beberapa saat sebelum itu ia tuju semakin menjadi-jadi. Masalah utama dalam cerita ini berkaitan dengan ‘kulit kertas bertulisan al-Quran’. Menurut Ibn Abbas ayat­ayat yang diturunkan di Mekah terekam dalam bentuk tulisan sejak dari sana, seperti dapat dilihat dalam ucapan az-Zuhri. (Ibn Durais dalam Fadhail al-Quran halaman 33 dan az-Zuhri dalam Tanzil al-Quran halaman 32).

Abdullah bin Sa’d bin Abi as­Sarah, seorang yang terlibat dalam penulisan al-Quran sewaktu dalam periode ini, dituduh oleh beberapa kalangan sebagai pemalsu ayat-ayat al-Quran (suatu tuduhan yang seperti telah saya jelaskan sama sekali tak berdasar). Orang lain sebagai penulis resmi adalah Khalid bin Sa’id bin al-Ash, dimana ia menjelaskan: “Saya orang pertama yang menulis ‘Bismillahirrahmanirrahim.” (Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah juz 5 halaman 340, Ibn Hajar dalam Fath al-Bari juz 9 halaman 22, as-Suyuthi, ad-Durr al-Mantsur juz 1 halaman 11 dan M.M. al-A’zami dalam Kuttab an-Nabi, Edisi ke-3, Riyadh, 1401 (1981), halaman 83-89).

Al-Kattani mencatat peristiwa ini: “Sewaktu Rafi’ bin Malik al-Anshari menghadiri Bai’at al-‘Aqabah, Nabi Muhammad menyerahkan semua ayat-ayat yang diturunkan pada dasawarsa sebelumnya. Ketika kembali ke Madinah, Rafi’ mengumpulkan semua anggota sukunya dan membacakan di depan mereka.” (Al-Kattani dalam at-Taratib al-Idariyah juz 1 halaman 44).

2.   Selama Periode Madinah

Penulis Wahyu Nabi Muhammad

Pada periode Madinah kita memiliki cukup banyak informasi termasuk sejumlah nama, kurang lebih 65 sahabat yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad bertindak sebagai penulis wahyu. Sebagaimana dituliskan oleh M.M. al-A’zami dalam Kuttab an-Nabi halaman 83-89.Mereka adalah:
1)   Abban bin Said
2)   Abu Umamah
3)   Abu Ayyub al-Anshari
4)   Abu Bakr ash-Shiddiq
5)   Abu Hudzaifah
6)   Abu Sufyan
7)   Abu Salamah
8)   Abu Abbas
9)   Ubay bin Ka’b
10)        al-Arqam
11)        Usaid bin al-Hudair
12)        Aus
13)        Buraidah
14)        Bashir
15)        Tsabit bin Qais
16)        Ja’far bin Abi Thalib
17)        Jahm bin Sa’d
18)        Suhaim
19)        Hatib
20)        Hudzaifa
21)        Husain
22)        Handzalah
23)        Huwaitib
24)        Khalid bin Said
25)        Khalid bin al-Walid
26)        Az-Zubair bin al-Awwam
27)        Zubair bin al-Arqam
28)        Abdullah bin al-Arqam
29)        Zaid bin Tsabit
30)        Sa’d bin ar-Rabi’
31)        Sa’d bin Ubadah
32)        Said bin Said
33)        Shurahbil bin Hasna
34)        Thalhah
35)        ‘Amir bin Fuhaira
36)        Abbas
37)        Abdullah bin Abu Bakr
38)        Abdullah bin Rawahah
39)        Abdullah bin Zaid
40)        Abdullah bin Sa’d
41)        Abdullah bin Abdullah
42)        Abdullah bin Amr
43)        Utsman bin Affan
44)        Uqbah
45)        Al­‘Alla bin Uqbah
46)        Ali bin Abi Thalib
47)        Umar bin al-Khatthab
48)        Amr bin al-Ash
49)        Muhammad bin Maslamah,
50)        Mu’adz bin Jabal
51)        Muawiyah
52)        Ma’in bin ‘Adi
53)        Mu’iaqib bin Mughirah
54)        Mundzir
55)        Muhajir
56)        Yazid bin Abi Sufyan.

Nabi Muhammad Mendiktekan Al-Quran

Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu. Zaid bin Tsabit menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, ia seringkali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun. (Abu Ubaid dalam Fadhail halaman 280, Ibn Hajar dalam Fath al-Bari juz 9 halaman 22, Ibn Abi Daud dalam al-Masahif halaman 3 dan al-Bukhari dalam Shahihnya bab Fadhail al-Quran halaman 4).

Sewaktu ayat al-Jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Tsabit membawa tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya. ‘Amr bin Ummi Maktum al-A’ma duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad: “Bagaimana tentang saya? Karena saya sebagai orang yang buta.” Dan kemudian turun ayat “ghair uli adh-dharar”. (Ibn Hajar dalam Fath al-Bari juz 9 halaman 22, Minhat al-Ma’bud juz 2 halaman 17, as-Suli dalam Adab al-Kuttab halaman 165 dan al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaid juz 1 halaman 52).

Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah mendiktekan. Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks. (Imam Muslim dalam Shahihnya bab az-Zuhd: halaman 72 dan Ibn Daud dalam al-Masahif halaman 4).

Tradisi Penulisan Al-Quran di Kalangan Sahabat

Praktik yang biasa berlaku di kalangan para sahabat tentang penulisan al­Quran, menyebabkan Nabi Muhammad melarang orang-orang menulis sesuatu darinya kecuali al-Quran: “Dan siapa yang telah menulis sesuatu dariku selain al-Quran, maka ia harus menghapusnya.”14 Beliau ingin agar al-Quran dan hadits tidak ditulis pada halaman kertas yang sama agar tidak terjadi campur aduk serta kekeliruan. Sebenarnya bagi mereka yang tak dapat menulis selalu hadir juga di masjid memegang kertas kulit dan minta orang lain secara suka rela mau menuliskan ayat al-Quran. (Imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra juz 6 halaman 16).

Berdasarkan kebiasaan Nabi Muhammad memanggil juru tulis ayat-ayat yang baru turun, kita dapat menarik anggapan bahwa pada masa kehidupan beliau seluruh al-Quran sudah tersedia dalam bentuk tulisan. (Selengkapnya baca dalam “Sejarah Teks Al-Quran dari Wahyu Sampai Kompilasinya karya Prof. Dr. M.M al-A’zami).



 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template