Latest Post

Shireen Sungkar Tak Terima Teuku Wisnu Disebut Wahabi

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Kamis, 03 September 2015 | 10.18


Tegal, Kamis (3/9), terjadi percakapan di twitter antara Ust. Imron Rosyadi Tegal dengan Shireen Sungkar, istri Teuku Wisnu, dalam rangka mengupayakan klarifikasi (tabayyun) terkait berita yang sedang booming dan telah beredar di jagad maya. Mereka berdua kemudian membuat suatu kesepakatan, sebagaimana berikut:

1. Shireen Sungkar meminta kepada saudara-saudara semuanya untuk berhenti menuduh Teuku Wisnu itu Wahabi.

2. Mengenai posisi Teuku Wisnu dalam acara Beriman Trans TV dia hanya host (Pembawa Acara) yang sudah disetting oleh team, dan semua ini 'salah team manajemen' acara, sayangnya hanya Teuku Wisnu yang diserang karena penampilannya berbeda.

3. Perlu diluruskan bahwa saya (Ust. Imron) tidak pernah mengatakan Teuku Wisnu itu Wahabi. Silakan baca postingan pertama saya, hanya kebetulan saja statement Teuku Wisnu hampir sama dengan perkataan para ulama Wahabi.

4. Saya meminta kepada Shireen Sungkar untuk menasehati suaminya, Teuku Wisnu, agar tidak lagi melemparkan statement agama yang berbau kontroversial.

5. Kami sudah sama-sama saling meminta maaf, dan kami berharap kepada semuanya untuk 'tidak memperpanjang' masalah ini lagi. Saya dan teman-teman admin website Aswaja di seluruh Indonesia 'akan siap mengawal' semua hal yang menyudutkan amaliyah warga Nahdliyin baik di media cetak maupun elektronik.

Berikut ini adalah transkrip lengkapnya percakapan antara Ust. Imron Rosyadi dengan Shireen Sungkar:

shireen sungkar @shireensungkar 
Mudah mudahan allah memafkan anggota mu yg terlanjur menanamkan diotak mereka kalo wisnu wahabi @Imron_Rosyadi 

Imron Rosyadi @Imron_Rosyadi 
@shireensungkar Perhatikan baik-baik postingan sy yg pertama, apa sy pernah menyebut om Wisnu Wahabi ?? TIDAK... 

shireen sungkar @shireensungkar 
@Imron_Rosyadi jangan gampang menjudge seseorang dari satu kesalahan manusia itu g ada yg sempurna jujur serem baca nya jadi g respect 

Imron Rosyadi @Imron_Rosyadi 
@shireensungkar Sy tdk prnah brkt bahwa om Wisnu Wahabi,sy memuat dalil dari ulama wahabi yg kbetulan sama dgn statemen om wisnu&Zaskia 

Imron Rosyadi @Imron_Rosyadi 
@shireensungkar Apabila tidak ingin disebut 'wahabi',minta tolong sampaikan kpd suami anda agar jgn melemparkan sesuatu yg berbau khilafiyah

shireen sungkar @shireensungkar 
@Imron_Rosyadi anggota mu ,,saya cuma kecewa kenapa ditulis wisnu membidahkan ? Padahal di videonya wisnu g ngomong gt

Imron Rosyadi @Imron_Rosyadi 
@shireensungkar Oke, nanti akan saya luruskan lagi dgn catatan, jgn sampai om Wisnu & mbak Zaskia bikin statement yg kontroversial lagi

shireen sungkar @shireensungkar 
@Imron_Rosyadi inshallah engga itu salah smua team tp hanya wisnu yg diserang karena penampilan nya diasing kan diagamanya sendiri 

Imron Rosyadi @Imron_Rosyadi 
@shireensungkar Kami punya dalil, dan anda punya dalil, jangan sampai BERIMAN TRANSTV spt KHAZANAH TRANS7 yg kami adukan ke KPI

shireen sungkar @shireensungkar 
@Imron_Rosyadi mereka salah saya akuin bgttttt tifak seharusnya menayangkan kaya gt tp toh jangn jadi wisny nya yg dihakimi 

Imron Rosyadi @Imron_Rosyadi 
@shireensungkar Baik, akan kami sampaikan kpd sahabat-sahabat dunia maya semuanya, sekali lagi MOHON MAAF.

shireen sungkar @shireensungkar 
@Imron_Rosyadi sama sama

Kharisma di Tubuh NU

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 05 Agustus 2015 | 20.44

Padhang-mbulan.org ~
Pidato Gus Mus yang fenomenal dan mampu meredam konflik di antara muktamirin, ternyata tak semua merespon positif, setidaknya aku mendengar langsung ucapan ini dari seseorang yang aku kenal dekat, "Bahasa politiknya; beliau pintar curi start, kampanye menarik simpatik, Gus Mus berpolitik untuk leading satu point dari rivalnya di Syuriah."

Aku bergegas meninggalkan alun-alun, melintasi pesantren tebuireng, melewati Cukir lalu menuju keheningan Desa Belimbing, aku mau melanjutkan tulisan yang tertunda tadi karena keharuan yang memenuhi ruang hati; NU antara kharisma ruhiyah dan kharisma ilmiyah.

Kini, aku menjadi mengerti dengan jelas, kharisma itu bukan diciptakan, ia memang boleh jadi hasil dari tempaan laku batin yang istiqomah lalu Tuhan menghadiahi kewibawaan ruhiyah yang melintasi rata-rata. Faktanya, kekhawatiran "politisasi" ala Gus Mus tak terjadi. Beliau dengan ketawadhu'annya tetap menolak jabatan Rois 'Am meskipun 9 Kyai Kharismatik di jajaran Ahlil Halli wal 'Aqdi telah menetapkan beliau.

Mbah Yayi Mustofa Bisri meyakinkan kita bahwa pidatonya yang menyatakan, "Rais 'Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH. Sahal Mahfudz, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini, saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya. Dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi anda. Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki anda semua agar mengikuti akhlakuk karimah, Akhlak KH Haysim Asy'ari dan pendahulu kita. Saya panggil kiai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kiai-kiai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita."

Ini sungguh-sungguh kharisma ruhiyah yang tidak dibuat-buat, bukan prilaku lebay yang sedang mengemis sehingga mendapat perhatian dan simpati muktamirin. Ia menegaskan semua itu demi keutuhan Nahdhatul 'Ulama. Faktanya, keretakan di Perahu Besar NU itu segera tertambal oleh pidato yang hanya beberapa menit itu.
Kini, jabatan paling prestisius di struktural NU itu telah dialihkan kepada KH. Ma'ruf Amin, posisi sebelumnya sebagai wakil ketua umum dengan segera menghantarkan beliau mencapai puncak setelah Gus Mus memastikan pengunduran dirinya. Posisi ini juga bukan kehendak pribadi KH. Ma'ruf Amin, ini amanat ahlil halli wal aqdi yang telah diberi mandat oleh muktamirin. Beliau sesungguhnya sedang menjalani peran seperti Gus Mus dulu saat NU ditinggal wafat Mbah Yayi Sahal Mahfudz.
Sore hari setelah pidato Gus Mus, aku berkesempatan mendengar langsung pidato Kyai Ma'ruf Amin di arena Bahtsul Masail Maudhu'iyyah di Pesantren Tambak Beras persis di saat pertikaian pendapat belum jua reda mengenai metodologi penetapan hukum manhaj nahdhiyyah.

Suasana di arena Bahtsul Masâil Maudhû'iyyah ini juga tak kalah seru. Setelah Kyai Afifuddin Muhajir menyampaikan Draft kajian yang akan dibahas, sidang yang dipandu oleh moderator Kyai Moqsith Ghazali itu segera menampilkan kericuhan "khas NU", entah apa jadinya bila wartawan media online arrahmah dot com atau pkspuyengan meliput bagian ini, mungkin akan beredar berita mengenaskan, "Kericuhan tak hanya di Arena Muktamar, NU juga pecah kongsi di Bahtsul Masâil."
Duduk perkara dalam sidang bahtsul masâil itu ditekankan pada amanat Munas Alim Ulama Lampung 1992 yang menghendaki ditentukannya metodologi penetapan hukum bagi kalangan NU terutama pada kasus-kasus yang sama sekali belum ditemukan landasan hukum atau bahkan sekedar 'ibarat (ungkapan) dalam nash atau referensi kitab yang mu'tabar.

KH. Afifuddin Muhajir dalam draft bahtsul masâil menguraikan dengan gamblang dan jelas keharusan NU memutuskan proses Istinbâth al-ahkâm lewat tiga metode; bayâni, qiyâshi, maqâshidi. Beliau juga mensyaratkan proses istinbâth ini harus memenuhi lima syarat;
1. Mengetahui asbab an-nuzul dan asbab al-wurud
2. Memperhatikan kaedah-kaedah bahasa
3. Mengaitkan satu nash dengan nash yang lain karena nash itu satu ketersatuan yang tidak dapat dipisahkan
4. Mengaitkan nash yg dibahas dengan maqashid asy-syari'ah (hasil istiqra atau penelitian induktif para ulama terdahulu atas nash-nash syariat) agar nash bisa difahami secara kontekstual tidak hanya tekstual.
5. Melakukan takwil ketika diperlukan.

Betapa krusialnya menetapkan sebuah hukum yaaa? Ya karena itu, hanya Nahdlatul Ulama yang concern pada persoalan ini, maka dalam agenda Muktamar selalu disertakan komisi khusus yang membahas persoalan-persoalan agama. Nah, untuk membahas apalagi menetapkan hukum atas suatu perkara jelas bukan hal mudah, dibutuhkan bukan hanya keilmuan yang mumpuni tapi juga keahlian istiqrâi sehingga tidak terjebak pada nash yang terhidang (tekstual) tapi maksud-maksud yang dikandung dibalik teks (kontekstual). Karena itu metodologi penetapan hukum menjadi penting dan mendesak diputuskan.

Tapi tak semua bisa menerima gagasan ini, kekisruhan pendapat segera terjadi. Sebagian dipicu oleh "ketakutan" sebagian peserta menyebut diri sebagai mustanbith atau mujtahid padahal masih berada di level muqallid, sebagian peserta lain "ketakutan" NU akan kebablasan dalam menetapkan suatu hukum.
Kericuhan dalam perspektif NU itu adalah Ikhtilaf dalam hal pendapat, biasanya sih karena belum mengerti substansinya, jadi meskipun Kyai Moqsith berkali-kali menjelaskan substansi persoalan, ada saja peserta yang "ngotot" menolak Draft istinbâth ini.

Hingga kemudian, di tengah kekisruhan itu datanglah Kyai Ma'ruf Amin yang kemudian dipersilahkan oleh Kyai Moqsith untuk menjelaskan kronologi hasil Munas Lampung. Dan beginilah Pidato singkat Kyai Ma'ruf Amin yang merupakan penegasan kembali dari apa yang sudah berkali-kali dijelaskan oleh Kyai Moqsith dan Kyai Afifuddin Muhajir, "Hasil Munas Lampung itu memang memberi mandat untuk melakukan Istinbath Jama'i, karena kita ini masih kategori Muqallid, kita ini nda seberani Imam Nawawi Banten yang meskipun bukan Mujtahid lalu berkata pada penetapan hukum mengenai zakat, seandainya imam syafi'i hidup beliau akan berfatwa seperti aku, karena memang tidak ada 'ibarat hukum yang didapati di kitab-kitab mu'tabar. Karena itu, metodologi penetapan hukum ini menjadi penting, itu yang harus dirumuskan segera. Karena kita ini "pengecut" maka ya mari kita lakukan ramai-ramai ini namanya istinbath jama'i."

Di jejeran bangku belakang, aku yang duduk bersama para ulama NU lain dari Kalimantan dan Jawa Barat berbisik ringan, "fauqa kulli dzî ilmin 'alîm_di atas langit masih ada langit. Kekisruhan berakhir oleh wibawa ilmiyah." Seorang Kyai dari Kalimantan membalas bisikan saya, "Mereka yang tidak faham substansi, akhirnya toh bisa menerima, jadi perdebatan yang menampilkan maraji' tadi, seperti musabaqoh qirâatil kutub saja." Kami tersenyum lalu Kyai Moqsith menutup sidang dengan ketuk palu dan membaca surat al-fâtihah.

Begitulah di tubuh Nahdhatul Ulamâ ada dua kharisma agung; kharisma rûhiyah dan 'ilmiyah yang masing-masing dibalut oleh ketawadhu'an sikap rendah hati yang membumi. Pada karakter mereka tidak arogan memburu jabatan, bahkan akhirnya Gus Mus menolak dan mengundurkan diri dari penetanpannya sebagai Rais 'Aam, sementara pada bidang keilmuan, Kyai Ma'ruf Amin sebagaimana juga Kyai Abdul Moqsith Ghazali dan Kyai Afifuddin berulang kali menegaskan keterbatasan ilmu untuk menetapkan suatu hukum, namun situasi menghendaki para ulama berani melakukan istinbath baru berdasar keilmuan yang mumpuni.

Maka, mari kita ambil dua pelajaran hebat ini, kharisma itu tidak bisa direkayasa, ia muncul dari keluasan ilmu dan hati yang telah menyamudera, para ulama NU meskipun telah cukup syarat sebagai mujtahid namun tak berani langsung menetapkan hukum tanpa mekanisme istinbâth yang jelas, bandingkan dengan sebagian ustadz belakangan ini yang sembrono dalam berfatwa, saya rasa Muktamar Nahdhatul Ulama merupakan pukulan telak bagi kalangan Wahabiyyin yang arogansi intelektual mereka membuat begitu berani menetapkan hukum tanpa istinbâth, semua dianggap selesai dengan jargon "ar-rujû' ilal quran was sunnah_kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah."

Para ulama Nahdhatul Ulama telah menampilkan teladan tinggi sekelas Imam Madzhab yang tidak saling menjatuhkan apalagi mencaci maki, mereka bermujahadah untuk menyusun mekanisme penetapan sebuah hukum. Anda bisa bayangkan bila untuk sebuah hukum syari'at saja perlu istinbâth yang panjang dan berjenjang maka bagaimana pula dengan peristilahan sederhana seperti "Islam Nusantara", tanpa kemauan menerima penjelasan, kalangan Wahabiyyin -yang belakangan mendapat dukungan dari sebagian ustadz NU yang dangkal pengetahuan atau enggan menerima penjelasan- langsung menuding bahwa ini peristilahan baru yang akan memecah-belah Islam sebab hanya ada Satu Islam.
Para ulama seperti Kyai Afifuddin Muhajir yang diakui sebagai jawara ushul fiqh ataupun Kyai Mustofa Bisri yang diakui Kharisma Ruhiyahnya, tak lelah dan tak merasa malu menjelaskan mengapa mereka mendukung istilah Islam Nusantara, bahkan keduanya sampai merasa harus menjelaskannya dari perspektif semantik dan kebahasaan, padahal ini langkah paling dasar dalam proses Istinbâth. Jadi, semoga Anda bisa mengerti sekarang, apa dasar keilmuan mereka yang mencaci-maki ulama Islam Nusantara? Selain kesombongan dan kebencian kepada Nahdlatul Ulama, yang tersisa hanya kosong yang melompong.

Selamat kepada Nahdlatul Ulama yang telah menyelesaikan Muktamar ke-33, dinamika muktamar yang elegant telah menampilkan kekhasan NU dalam menyelesaikan masalah. Selamat berjuang Gurunda KH. Ma'ruf Amin dan Syaikhi KH. Said Aqil Siradj juga untuk seluruh jajaran pengurus PBNU yang akan segera terbentuk, nama saya nda perlu dimasukkan yaa, biar saja saya menjadi penggembira yang mencintai Nahdhatul Ulama.

Terakhir, yakinlah Mbah Yayi Mustafa Bisri tidak pernah mengundurkan diri, karena seperti kata Cak Nun, "Jadi, saya Ketua-NU-kan dia, kalau perlu seumur hidup. SEUMUR HIDUP." Salam Ukhuwwah Nahdhiyyah. (Oleh: KH. Nurul Huda (Enha) Bekasi).

Mbah Maimoen Zubair NU Sejak Sebelum Lahir

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 17 Juli 2015 | 10.26



KH. Abdullah Ubab, putra Mbah Maimoen, mengatakan bahwa ayahnya sudah menjadi NU semenjak sebelum lahir. Ketika Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari hendak pergi ke suatu tempat untuk mengurus masalah Nahdlatul Ulama, beliau sering mampir di kediaman kakek dan buyutnya KH. Maimoen Zubair, yakni Kyai Ahmad bin Syu’aib dan Kyai Syu’aib bin Abdurrazaq. Begitu juga dengan KH. Wahab Hasbullah yang sering mampir di Sarang untuk berkunjung di kediaman Kyai Zubair bin Dahlan, ayah dari Kyai Maimoen.

Dari keakraban hubungan leluhur KH. Maimoen Zubair dengan pendiri Nahdlatul Ulama ini, maka tidak mengherankan jika NU-nya Kyai Maimoen itu dikatakan sejak beliau belum dilahirkan. Sebab sebelum beliau lahir ada tiga tokoh NU, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisri Syansuri, telah berkenan meludahi air (nyuwuk) yang diambil oleh Kyai Ahmad yang nantinya akan diminumkan kepada ibunda Kyai Maimoen saat mengandung dirinya supaya mendapatkan keberkahan dari ketiga ulama tersebut.

Mbah Maimoen Zubair dan Nahdlatul Ulama

Berikut adalah ulasan yang disarikan dari ceramah KH. Maimoen Zubair pada acara Muskerwil PWNU di PP. Al-Anwar Sarang Rembang tahun 2013, tentang Nahdlatul Ulama.

“Organisasi Nahdlatul Ulama itu tidak bisa dipisahkan dengan organisasi Nahdlatut Tujjar dan Nahdlatul Wathan. Peran Nahdlatul Wathan ini sangat vital sekali. Hal ini terbukti ketika di Negeri Haramain terjadi pergantian kekuasaan dari Daulah Asyraf (tahun 1924-an) yang kemudian diganti dengan Raja Abdul Aziz. Organisasi Nahdlatul Wathan ini mengirimkan delegasi kepada Sultan Abdul Aziz ke Makkah. Delegasi yang dikirim oleh Nahdlatul Wathan ini dinamakan dengan Komite Hijaz.

Dari nama Komite Hijaz ini, kemudian menjadi Muktamar yang diselenggarakan pada pada tanggal 31 Januari 1926 yang menghasilkan organisasi yang dinamakan dengan Nahdlatul Ulama dengan Rais Akbarnya KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Faqih Mas Kumambang sebagai wakilnya. Ulama-ulama yang ada di barisan Nahdlatul Ulama itu mempunyai peran besar untuk membangun bangsa dan negaranya dengan ilmu yang bersumber dari al-Quran.

Allah telah menurunkan al-Quran yang diibaratkan seperti air yang dapat menghasilkan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Adanya bermacam-macam ilmu pengetahuan ini disebabkan karena adanya seorang ulama yang diumpamakan seperti gunung-gunung yang warnanya ada yang Merah dan Putih. Kedua warna ini persis dengan warna bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Allah Swt. berfirman:

الَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفاً أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ * وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ

“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).” (QS. Fathir ayat 27-28).

Warna Merah melambangkan ‘Nasionalisme’ bangsa Indonesia yang penuh dengan keberanian, sedangkan Putih melambangkan ‘Keikhlasan’ dalam berjuang. Dari kedua warna ini, jiwa bangsa Indonesia itu harus diwarnai dengan Nasionalisme dan Keikhlasan.

Nikmat agung tersebut itu tidak akan terwujud kecuali dengan ilmu. Nikmat Allah yang agung yang diperuntukan bagi bangsa Indonesia adalah nikmat yang berupa kemerdekaan. Merdeka yang dimulai pada tanggal 17 Agustus 1945.

Angka-angka yang menandai kemerdekaan bangsa Indonesia ini adalah angka-angka keberuntungan. Angka 17 menunjukan jumlahnya rakaat shalat wajib yang dikerjakan oleh umat Islam dalam sehari semalam. Angka 17 terdiri dari 1+7. Jika kedua angka ini ditambahkan maka jumlahnya akan menjadi 8 (bulan ke delapan adalah bulan Agustus). Hal ini sesuai dengan jumlah surga yang disediakan Allah bagi hambaNya yang mau mengerjakan shalat.

Adapun angka 45 akhir dari 1945 itu merupakan angka yang sempurna. Sebab, 4+5=9. Angka Sembilan ini persis dengan jumlah bintang yang digunakan sebagai lambangnya organisasi Nahdlatul Ulama.

Selain rahasia di atas, jika lafal Nahdlatul Ulama dihitung dengan memakai standar Abajadun, maka jumlahnya adalah 17. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa antara NU dengan perjuangan bangsa Indonesia itu ada keterkaitan. Untuk makna dadung (tali yang melingkar) yang ada pada lambang Nahdlatul Ulama, itu menunjukan arti hubungan antara manusia dengan Tuhannya.” (Padhang-mbulan.org)


Cara Mbah Hasyim Asy’ari Mengajari Perbedaan Hari Raya

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 15 Juli 2015 | 13.32



KH. Maksum Ali Seblak Jombang adalah diantara ulama pesantren yang ahli falak (astronomi). Sudah menjadi kelaziman bagi ahli falak untuk melakukan puasa dan lebaran sesuai hasil hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi atau melihat hilal)-nya sendiri.

Suatu hari sesuai dengan hasil perhitungannya, Kyai Maksum Ali memutuskan untuk ber-Idul Fitri sendiri yang ditandai dengan menabuh bedug bertalu-talu. Mendengar keriuhan itu, sang mertua, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari kaget. Setelah tahu duduk perkaranya, ia menegur: “Bagaimana ini, belum saatnya lebaran kok bedug-an duluan?”

Mendapat teguran dari mertuanya itu Kyai Maksum segera menjawab dengan hormat: “Kyai, Kyai, saya melaksanakan Idul Fitri sesuai dengan hasil hisab yang saya yakini ketepatannya.”

“Soal keyakinan, ya keyakinan, itu boleh dilaksanakan. Tetapi jangan woro-woro (diumumkan dalam bentuk tabuh bedug) mengajak tetangga segala,” gugat Mbah Hasyim, pendiri NU tersebut.

“Tetapi, bukankah pengetahuan ini harus di-ikhbar-kan (diwartakan), Romo?” tanya Kyai Maksum.

“Soal keyakinan itu hanya bisa dipakai untuk diri sendiri. Dan nabuh bedug itu artinya sudah mengajak, mengumumkan kepada masyarakat, itu bukan hakmu. Untuk mengumumkan kepastian Idul Fitri itu haknya pemerintah yang sah,” tutur Mbah Hasyim.

“Inggih (iya) Romo,” jawab Kyai Maksum setelah menyadari kekhilafannya.


(Sumber: KH. Ghazalie Masroerie, Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama).

7 Tahapan Islam Dari Era Nabi Hingga Kini (Tafsir QS. Al-Fath)

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Selasa, 14 Juli 2015 | 08.17



Dalam surat al-Fath ayat paling akhir disebutkan ‘Tahapan Islam’ sebagai berikut:

1.      Saat Nabi Muhammad lahir, tumbuh remaja, berkeluarga, kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul di Kota Makkah diisyaratkan dengan: محمد رسول الله

2.      Saat Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah dan bertempat di Madinah sehingga berkumpul antara sahabat Muhajirin dan Anshar diisyaratkan dengan: والذين معه

3.      Saat Kekhilafahan yang dimulai oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, dan diteruskan pada Kekhilafahan Bani Umayyah di Syam. Mereka menyebarluaskan Islam dan menghalau pasukan musuh yang menghadang langkah penyebaran Islam dan kelihatan kekuasaan di Syam diisyaratkan dalam: أشداء على الكفار
Ketiga Tahap ini diisyaratkan dalam kitab Taurat dan disebutkan oleh Ka’b al-Akhbar dan diriwayatkan kisahnya dalam kitab Maulid ad-Diba’i: مولده بمكة وهجرته بالمدينة وسلطانه بالشام

4.      Munculnya para imam ahli ijtihad, yang dimulai Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka adalah para ahli ilmu yang mempunyai simbol Rahmat (belas kasih). Seperti halnya kisah Nabi Musa bertemu Nabi Hidhir dalam surat al-Kahfi juga disimbolkan dengan Rahmat: فوجدا عبدا من عبادنا آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما
Bahkan hadits pegangan ahli ilmu adalah hadits rahmat: الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء
Diisyaratkan dengan: رحماء بينهم

5.      Muncul para wali besar setelah Imam Ghozali (500 H) yaitu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Syaikh Abil Hasan asy-Syadzily, Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi dan yang lain. Mereka adalah orang dekatnya Allah karena banyak rukuk dan sujud mengharap anugerah dan ridha Allah. Diisyaratkan dengan: تراهم ركعا سجدا يبتغون فضلا من الله ورضوانا

6.      Daulah Turki, Eropa Timur, Kroasia, Serbia dan Bosnia. Pada negara-negara ini hukum Islam tidak berjalan, akan tetapi yang kelihatan berupa shalat yang dilaksanakan di masjid-masjid. Diisyaratkan dengan: سيماهم في وجوههم من أثر السجود ذلك مثلهم في التورة

7.      Indonesia dan sekitarnya, setelah munculnya Israel. Proklamasi Indonesia ada setelah Perang Dunia II dan munculnya Israel. Disimbolkan dengan tanaman padi. Padi yang aslinya mempunyai anak tujuh tangkai dan setiap tangkai terdapat 100 biji. Induk padi memelihara anaknya, menirakati anaknya sehingga anaknya kuat dan mampu berdiri sendiri, tidak bergantung kepada induknya. Sehingga bisa berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Begitu juga bangsa Indonesia kalau sudah berdikari maka akan menjadi bangsa yang kuat, mandiri dan tidak bergantung kepada bangsa lain. Diisyaratkan dengan: ومثلهم في الإنجيل كزرع أخرج شطأه فآزره فاستغلظ فاستوى على سوقه يعجب الزراع ليغيض بهم الكفار

(Sumber: Kanthongumur dari mau’idzah KH. Maimoen Zubair Sarang Rembang).


Istighfar Resep Manjur-Mujur (Kisah Syaikhona Kholil Bangkalan)



Suatu hari Kyai Kholil kedatangan tiga tamu yang menghadap secara bersamaan. Sang kyai bertanya kepada tamu yang pertama: “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya pedagang, Kyai. Tetapi hasil tidak didapat, malah rugi terus-menerus,” ucap tamu pertama.

Beberapa saat Kyai Kholil menjawab mantap: “Jika kamu ingin berhasil dalam berdagang, perbanyak baca istighfar!”

Kemudian kyai bertanya kepada tamu kedua: “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya sudah berkeluarga selama 18 tahun, tapi sampai saat ini masih belum diberi keturunan,” kata tamu kedua.

Setelah memandang kepada tamunya itu, Kyai Kholil menjawab: “Jika kamu ingin punya keturunan, perbanyak baca istighfar!”

Kini, tiba giliran pada tamu yang ketiga. Kyai juga bertanya: “Sampeyan ada keperluan apa?”

“Saya usaha tani, Kyai. Namun, makin hari hutang saya makin banyak, sehingga tak mampu membayarnya,” ucap tamu yang ketiga dengan raut muka serius.

“Jika kamu ingin berhasil dan mampu melunasi hutangmu, perbanyak baca istighfar!” pesan kyai kepada tamu yang terakhir.

Beberapa murid Syaikhona Kholil yang melihat peristiwa itu merasa heran. Masalah yang berbeda, tapi dengan jawaban yang sama, resep yang sama, yaitu menyuruh memperbanyak membaca istighfar.

Kyai Kholil mengetahui keheranan para santri. Setelah tamunya pulang, maka dipanggillah para santri yang penuh tanda tanya itu dengan dibacakan ayat al-Quran:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢(

 “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu. Dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh ayat 10-12).

Mendengar jawaban kyai ini, para santri mengerti bahwa jawaban itu memang merupakan janji Allah bagi siapa yang memperbanyak baca istighfar. Memang benar. Tak lama setelah kejadian itu, ketiga tamunya semuanya berhasil apa yang dihajatkan.

Doa Tawassul dengan Syaikhona Kholil

يَا شَيْخَنَا يَا خَلِيْل * وَيَا شِفَاءَ الْغَلِيْل
يَا طِبَّ كُلِّ عَلِيْل * فَدَاوِنِي بِالْوِصَالْ

“Wahai Syaikhona Kholil, wahai penyembuh lara. Wahai obat tiap yang sakit, obati aku dengan berjumpa.”

يَا عَابِدَ اللهِ يَا * مُعَلِّماً وَافِيَا
نَادَيْتُكُمْ رَاجِيَا * نَدٰى جَرَى كُلَّ حَالْ

“Wahai yang menghamba pada Allah, wahai guru yang menjanjikan. Kupaggil engkau seraya berharap pertolongan yang mengalir tiap saat.”

أَحْتَاجُ وُدَّكَ لِي * إِنِّي لَذُوْ وَجَلِ
لِلذَّنْبِ يَا خَجَلِي * إِنَّ الذُّنُوْبَ جِبَالْ

“Aku butuh cintamu untukku, sungguh aku takut akan dosa yang kutanggung. Oh betapa malu diriku, besar dosaku bagai gunung-gunung.”

اُدْعُوْا لِيَ اللهَ كَيْ * أَكُوْنَ فِي اللُّطْفِ حَيْ
وَالْعَفْوِ عَنْ كُلِّ شَيْ * مِنَ الْخَطَا وَالْضَلاَلْ

Berdoalah pada Allah untukku, agar aku hidup dalam kelembutanNya. Dan ampunan atas segala sesuatu yang berupa kesalahan dan kesesatan.”

أَنْتُمْ وَسِيْلَتُنَا * بِكُمْ فَضِيْلَتُنَا
تَضِيْقُ حِيْلَتُنَا * إِنْ تَبْخَلُوا بِالنَّوَال

“Engkau tawassul kami, sebab engkau kemuliaan kami. Rapuh keadaan kami, jika engkau tak memberikan pemberian.”

يَا شَيْخَنَا يَا وَلِي * غَوْثاً وَغَيْثاً جَلِي
عَوْناً لِـأَجْلِ الْعَلِي * دَوْماً بِدُوْنِ زَوَالْ

Wahai guru kami wahai wali Allah, tolong dan hujani jalan kami. Bantu kami karena Allah Yang Maha Tinggi, selamanya tanpa ada putus-putusnya.”

وُجُوْدُ جُوْدِكُمُ * وَجَاهُ وَجْهِكُمُ
لِيْ سُلَّمٌ سَالِمُ * لِفَضْلِ رَبِّ الْجَلاَل

Adanya kedermawananmu, dan pangkat luhur dirimu. Bagiku adalah tangga yang aman, menuju anugrah Allah Yang Maha Agung.”

عَسَى بِنَعْمَائِهِ * نُعْطٰى وَآلآئِهِ
نَحْظٰى وَجَدْوَائِهِ * نُهْدٰى فَيَصْفُوَ بَالْ

Semoga dengan nikmat-nikmatNya kami diberi, dan dengan karunia-karuniaNya kami memperoleh. Dan dengan kemurahan-kemurahanNya kami dihadiahi, kemudian sebab itu hati kami bersih nan shaleh.”

اَللهُ يَكْفِي الْعَنَا * عَنَّا وَيُدْنِي اْلمُنَى
مِنَّا وَيُبْقِي الْهَنَا * بِقُرْبِكُمْ يَا رِجَالْ

Semoga Allah mencukupkan kesusahan dari kami, dan mendekatkan harapan kepada kami. Dan melanggengkan kebahagiaan, dengan berdekat padamu wahai Rijalallah Waliyullah.”


(Sumber: Muhammad Ismail, Haul Syaikhona Kholil 27 Romadhan 1436H).
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template