Latest Post

Teguran untuk NUGL dari Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Kamis, 25 Agustus 2016 | 07.08



Untuk ikhwani yang menamakan diri “NU Garis Lurus” hafidzakumullah...

أوصيكم وإيايا بتقوى الله

Sebagai salah seorang nahdhiy (nahdliyin), saya sangat yakin antum semua adalah pecinta NU sebagai jam’iyyah mubarakah dinan wajtima’an. Dan karena didorong oleh ghirah dakwah yang tinggi, antum selama ini gigih mengkritisi pemikiran dan pemahaman yang menurut antum menyimpang dari manhaj as-salaf ash-shalih. Terutama akhir-akhir ini pemikiran-pemikiran Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj.

Namun demikian, atas dasar kecintaan kita terhadap NU, akan lebih baik jika ketidaksepakatan dengan pemangku jabatan di NU tersebut dituangkan dalam kritik dengan bahasa yang lebih santun dan elegan tanpa membawa-bawa NU secara jam’iyyah atau lembaga.

Menamakan diri sebagai NUGL dan membuat logo NU dengan penambahan NUGL, menambah nama dan logo jam’iyyah yang kita cintai ini dari yang sudah disepakati oleh ulama-ana al-mutaqaddimin. Padahal, untuk membuat nama dan logo NU itu mereka sepakati dengan hasil istikharah dan isyarah rabbaniyyah. Karena mereka, Syaikhona Kholil, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah wa man fi thabaqatihim bukan ulama sembarangan. Keilmuan, kewara’an serta keihlasan perjuangan mereka untuk umat sudah teruji. Mereka orang-orang yang tsiqah, yang tak akan kita jumpai dari generasi saat ini. رضي الله عنهم وجزاهم عن الأمة خير ماجزى به عباده الصالحين.

Disamping itu, ini bisa menimbulkan faksi dalam tubuh NU serta membuka peluang yang lain akan membuat istilah-istilah baru dengan membawa-bawa nama NU. Tidak tertutup kemungkinan nanti akan ada yang bikin istilah NU Garis Miring, NU Garis Netral sampai NU Tanpa Garis dan seterusnya.

Jika ini terjadi, maka ini sama sekali tidak menguntungkan NU, Nahdliyyin dan kelompok Aswaja. Yang diuntungkan justru kelompok-kelompok di luar NU, seperti Wahabiyah wa khulafaihim. Silakan mengkritik, tapi tetaplah santun. Tanpa menyerang person dengan umpatan dan caci maki. Jangan gunakan cara-cara orang di luar NU dan tanpa membuat istilah NU yang baru (tanpa bikin bid’ah).

Manfaatkan NU semaksimal mungkin untuk memberikan manfaat kepada umat dan menjaga aqidah mereka dari ahlul bid’ah wa adh-dhalalah. Mari kita teladani cara-cara ulama salaf dalam ber-ikhtilaf. Dan mari kita berusaha menjadi khairu khalaf li khairi salaf.

وما توفيقي إلا با الله. عليه توكلت وإليه أنيب

Ttd,

Abu Bakar Hasan Assegaf

(Wakil Rais Syuriah PCNU Kab. Pasuruan)

MATAN dan JATMAN Kaltim Sosialisasikan “Bela Negara” di Hari Kemerdekaan

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Senin, 22 Agustus 2016 | 12.48



Serangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 Tahun 2016 oleh MATAN (Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) Kalimantan Timur dimeriahkan dengan berbagai rangkaian kegiatan. Pada kegiatan tersebut terlihat ada yang berbeda dari kegiatan tahun sebelumnya, yaitu kader muda bangsa, kader muda thariqah dari berbagai aliran thariqah berkumpul menjadi satu dan disatukan dalam wadah MATAN memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bersama-sama.

MATAN Kalimantan Timur menyelenggarakan HUT RI ke-71 Tahun ini di beberapa lokasi dan berpusat di Pondok Pesantren Asy-Syifa, Kota Balikpapan. Rangkaian kegiatan dimulai sejak selasa 16 Agustus 2016, Tim Merah Putih yang terdiri dari berbagai unsur diantaranya santri, gerakan mahasiswa pecinta alam IAIN, aksi lintas pecinta alam UNU Kalimantan Timur dan warga melakukan kirab Bendera Merah Putih dan napak tilas perjuangan pahlawan dan ulama. Tim Merah Putih napak tilas pertama mendatangi makam Habib Hasyim bin Musyayakh bin Yahya atau yang dikenal sebagai Pangeran Tunggang Parangan dilanjutkan mengirab ke Samarinda, Kutai Kartanegara dan terakhir finish di Balikpapan.

Masih pada tanggal yang sama, pada malam harinya, di masjid Pondok Pesantren Asy-Syifa Balikpapan sudah berkumpul 500-an jamaah baik dari ulama thariqah, guru mursyid, warga sekitar, dan santri untuk bersama-sama mendoakan para pahlawan yang telah gugur dalam upaya merebut kemerdekaan. Doa dan tahlil dipimpin oleh Guru Syaifuddin dari Samarinda yang juga badal mursyid thariqah Junaidiyah al-Baghdadi. Selanjutnya penyerahan bendera suci Merah Putih yang telah dikirab pagi harinya kepada Mudir Idarah Wustha JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah) Kalimantan Timur al-Ustadz H. Susianto, MM didampingi KH. Abdurrahman sebagai pimpinan Ponpes.

Setelah Tahlil dan doa jamaah antusias mendengarkan testimoni kemerdekaan yang disampaikan dari perwakilan JATMAN, pondok pesantren, dan aparat kepolisian. Susianto mengingatkan kepada seluruh jamaah agar tetap berhubugan baik dengan sesama warga Indonesia walaupun berbeda-beda agama, suku dan bahasa.


“Banyak anak-anak kita sekarang sangat akrab dengan pitza, donat, hamburger, tapi siapa yang tahu gegetas?” Tanya mudir JATMAN kepada jamaah. “Tidak tau kan, kita harus kembali menghidupkan sumber daya alam kita, hasil bumi kita itu bentuk kemerdekaan sesungguhnya,” imbuhnya.


Keesokan harinya, pada 17 Agustus 2016 di halaman lapangan diadakan Upacara Bendera Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71. Yang bertindak sebagai inspektur upacara adalah KH. Abdurrqhman. Upacara berjalan dengan lancar dan penuh khidmat. Setelah upacara selesai dilanjutkan dengan penyerahan Piagam Konsensus “Bela Negara” yang merupakan amanat organisasi dan bentuk ta’dzim kepada guru-guru mursyid beliau Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Konsensus tersebut merupakan hasil dari Konferensi Ulama Internasional di Pekalongan bulan Juli lalu, yang melibatkan lebih dari 59 ulama berpengaruh dari 40 negara, dan ribuan ulama kharismatik, pondok pesantren, thariqoh di Indonesia.


Mandataris MATAN Kaltim Abdullah Qohhar MT saat ditemui mengatakan, “Peringatan HUT RI ke-71 ini kami laksanakan sebagai bentuk ta’dzim dan taat pada guru, menghormati perjuangan para pejuang Bangsa, dan bentuk syukur pada Allah Swt. atas berkah yang diberikan kepada Bangsa Indonesia ini. Dengan momentum kemerdekaan ini upaya kami mengajak generasi muda untuk menguri-uri sejarahnya, dan jangan mengikuti aliran-aliran baru dan radikal atas nama agama apapun, karena itu berbahaya.”


Rangkaian kegiatan HUT RI ke-71 di Kaltim meliputi: 1) Mengirab bendera merah putih dari Kutai Lama – Samarinda – Kukar – Balikpapan. 2) Napak Tilas perjuangan pahlawan kemerdekaan. 3) Tahlil Kemerdekaan dalam upaya berterimakasih dan syukur kepada Allah Swt. atas berkah bangsa Indonesia. 4) Upacara Proklamasi Kemerdekaan bersama ulama, santri, TNI/Polri, mahasiswa dan warga. 5) Penyerahan piagam konsensus Bela Negara hasil Konferensi Ulama Internasioal di Pekalongan sebagai upaya MATAN/JATMAN mensosialisasikan ke penjuru Kalimantan Timur. (*Aq/Ibj)


WAWANCARA IMAJINER DENGAN HADHRATUS SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 17 Agustus 2016 | 12.31



Oleh: KH. A. Musthofa Bisri bin KH. Bisri Musthofa bin KH. Musthofa, Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang

Ungkapan saya ‘berkangen-kangenan’ mungkin kurang tepat meskipun sekadar imajiner, karenanya saya beri tanda kutip. Soalnya yang kangen hanya saya dan saya tidak ‘menangi’ (pernah bertemu-red) tokoh yang saya kangeni itu. Dari apa yang saya dengar tentang Hadhratus Syaikh dan rekaman-rekaman buah pikiran beliau yang berhasil saya kumpulkan sampai saat ini, saya memperoleh gambaran yang demikian jelas mengenai Bapak NU ini sehingga seolah-olah saya ‘menangi’ beliau.

Ketika saya, baru-baru ini dihadiahi oleh Kiai Muchith Muzadi sebuah copy kitab susunan Sayyid Muhammad Asad Syihab (cetakan Beirut) berjudul “al-‘Allamah Muhammad Hasyim Asy’ari Waadhi’u Labinati Istiqlali Indonesia” (Mahakiai Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia) dan dua khutbah Hadhratus Syaikh, ‘kangen’ saya pun kian menjadi-jadi.

Keinginan untuk melakukan wawancara imajiner dengan beliau pun tidak bisa saya ‘empet’ (tahan-red). Tiba-tiba saya sudah berada dalam majelis yang luar biasa itu. Suatu halaqah raksasa yang menebarkan wibawa bukan main mendebarkan. Kalau saja tidak karena senyum-senyum lembut yang memancar dari wajah-wajah jernih sekalian yang hadir, niscaya saya tak akan tahan duduk di majelis ini. Mereka yang duduk berhalawah dengan anggun di sekeliling saya tampak bagaikan sekelompok gunung yang memberikan rasa teduh dan damai. Sehingga rasa ‘ngeri’ dan gelisah saya berkurang karenanya.

Begitu banyak wajah ratusan atau bahkan ribuan memancarkan cahaya, menyinari majelis, ada yang sudah saya kenal secara langsung atau melalui foto dan cerita-cerita, ada yang sebelumnya hanya saya kenal namanya dan masih banyak lagi yang namanya pun tidak saya ketahui. “Itu tentu Kiai Abdul Wahab Hasbullah!” Wajahnya yang kecil masih tetap berseri-seri menyembunyikan kekuatan yang tak terhingga.

Duduk di sampingnya Kiai Bishri Syansuri, Kiai Raden Asnawi Kudus, Kiai Nawawi Pasuruan, Kiai Ridhwan Semarang, Kiai Maksum Lasem, Kiai Nahrowi Malang, Kiai Ndoro Munthah Bangkalan, Kiai Abdul Hamid Faqih Gresik, Kiai Abdul Halim Majalengka (salah seorang perintis PUI), Kiai Ridhwan Abdullah, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz dan Kiai Abdullah Ubaid dari Surabaya.

Yang pakai torpus tinggi itu tentu Syaikh Ahmad Ghanaim al-Mishri dan yang disampingnya itu Syaikh Abdul ‘Alim ash-Shiddiqi. “Oh, itu Kiai Saleh Darat, Kiai Subki Parakan, Kiai Abbas Abdul Jamil Buntet, Kiai Ma’ruf Kediri, Kiai Baidlowi Lasem, Kiai Dalhar Magelang, Kiai Amir Pekalongan, Kiai Mandur Temanggung!” kembali batinku memekik.

Yang asyik berbisik-bisik itu pastilah Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Kyai Mahfudz Shiddiq, Kiai Dahlan dan Kiai Ilyas. Saya melihat juga Kiai Sulaiman Kurdi Kalimantan, Sayyid Abdullah Gathmyr Palembang, Sayyid Ahmad al-Habsyi Bogor, Kiai Djunaidi dan Kiai Marzuki Jakarta, Kiai Raden Adnan dan Kiai Mayud Sala, Kiai Mustain Tuban, Kiai Hambali dan Kiai Abdul Jalil Kudus, Kiai Yasin Banten, Kiai Manab Kediri, Kiai Munawwir Jogja, Kiai Dimyati Termas, Kiai Cholil Lasem, Kiai Cholil Rembang, Kiai Saleh Tayu, Kiai Machfud Sedan, Kiai Zuhdi Pekalongan, Kiai Maksum Seblak, Kiai Abu Bakar Palembang, Kiai Dimyati Pemalang, Kiai Faqihuddin Sekar Putih, Kiai Abdul Latif Cibeber, Haji Hasan Gipo, Haji Mochtar Banyumas, Kiai Said dan Kiai Anwar Surabaya, Kiai Muhammadun Pondohan , Kiai Siradj Payaman, Kiai Chudlori Tegalrejo, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, Kiai Badruddin Honggowongso Salatiga, Kiai Machrus Ali Lirboyo, Kiai, Kiai…

Di tengah-tengah lautan kiai dan tokoh-tokoh NU itu, Hadhratus Syaikh bersila dengan agung, dengan wajah teduh yang senantiasa tersenyum. Namun, betapa pun jernih wajah-wajah meraka, saya masih melihat sebersit keprihatinan yang getir. Karenanya pertanyaan pertama yang saya ajukan setelah berhasil mengalahkan rasa rendah diri yang luar biasa adalah, “Hadhratus Syaikh, saya melihat Hadhratus Syaikh dan sekalian masyayikh yang berada di sini begitu murung. Bahkan di kedua mata Hadhratus Syaikh yang teduh, saya melihat air mata yang menggenang. Apakah dalam keadaan yang damai dan bahagia begini, masih ada sesuatu yang membuat Hadhratus Syaikh dan sekian masyayikh berprihatin? Apakah gerangan yang diprihatinkan?”

Hampir serentak, Hadhratus Syaikh dan sekian masyayikh tersenyum. Senyum yang sulit saya ketahui maknanya. Tampaknya Kiai Abdul Wahab Hasbullah sudah akan menjawab pertanyaan saya, tapi buru-buru Hadhratus Syaikh memberi isyarat dengan lembut. Ditatapnya saya dengan senyum yang masih tersungging, seolah-olah beliau hendak membantu mengikis kegelisahan saya akibat wibawa yang mengepung dari segala jurusan. Baru kemudian beliau berkata dengan suara lunak namun jelas. “Cucuku, kau benar. Kami semua di sini, Alhamdulillah hidup dalam keadaan damai dan bahagia. Seperti yang kau lihat, kami tidak kurang suatu apa. Kalau ada yang memprihatinkan kami, itu justru keadaan kalian. Kami selalu mengikuti terus apa yang kamu lakukan dengan dan dalam jam’iyyah yang dulu kami dirikan. Kami sebenarnya berharap, setelah kami, jam’iyyah ini akan semakin kompak dan kokoh. Akan semakin berkembang. Semakin bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Semakin mendekati cita-citanya. Untuk itu kami telah meninggalkan bekal yang cukup. Ilmu yang lumayan, garis yang jelas dan tuntunan yang gamblang.”

“Jam’iyyah ini dulu kami dirikan untuk mempersatukan ulama Ahlussunnah wal Jama’ah dan pengikutnya, tidak saja dalam rangka memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengajarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga bagi khidmah kepada bangsa, negara dan umat manusia.”

“Sebenarnya kami sudah bersyukur bahwa khittah kami telah berhasil dirumuskan dengan jelas dan rinci sehingga generasi yang datang belakangan tidak kehilangan jejak para pendahulunya. Dengan demikian, langkah-langkah perjuangan semakin mantap. Tapi kenapa rumusan itu tidak dipelajari dan dihayati secara cermat untuk diamalkan? Kenapa kemudian malah banyak warga jam’iyyah yang kaget, bahkan seperti lepas kendali? Satu dengan yang lain, saling bertengkar dan saling mencerca. Tidak cukup sekadar berbeda pendapat (ikhtilaf), saling ‘ungkur-ungkuran’ (tadabur), bahkan saling memutuskan hubungan (tawathu’). Padahal mereka, satu dengan yang lain bersaudara. Sebangsa. Setanah-air. Se-agama. Se-Ahlussunah wal Jama’ah. Se-jam’iyyah.”

“La haula wala quwwata illa billah…”, gumam semua yang hadir serempak, membuat tunduk saya semakin dalam. Saya merasakan berpasang-pasang mata menghujam ke diri saya bagai pisau-pisau yang panas. Sementara Hadhratus Syaikh melanjutkan masih dengan nada yang lembut, penuh kebapakkan. “Yang sedang bertikai itu sebenarnya masing-masing sedang membela kemuliaan apa? Mempertahankan prinsip apa? Sehingga begitu ringan mengorbankan prinsip persaudaraan yang agung?”

“Sejak awal saya kan sudah memperingatkan, baik dalam Muqaddimah al-Qanuun al-Asasi maupun di banyak kesempatan yang lain, akan bahayanya perpecahan dan pentingnya menjaga persatuan. Dengan perpecahan tak ada sesuatu yang bisa dilakukan dengan baik. Sebaliknya dengan persatuan, tantangan yang bagaimana pun beratnya Insya Allah akan dapat diatasi.”

“Perbedaan pendapat mungkin dapat meluaskan wawasan, tetapi tabaghudh, tahasud, tadabur dan taqathu’, apapun alasannya hanya membuahkan kerugian yang besar dan dilarang oleh agama kita.”

“Kalau di dalam organisasi, tabaghudh, tahasud, tadabur dan taqathu’ itu merupakan malapetaka. Maka apa pula itu namanya jika terjadi dalam tubuh organisasi ulama dan para pengikutnya?” Hadhratus Syaikh menarik nafas panjang, diikuti serentak oleh ribuan gunung kiai. Suatu tarikan nafas yang disusul gemuruh dzikir dalam nada keluhan, “La haula wala quwwata illa billah…”

Saya sedang mengumpulkan kebenaran untuk mengatakan kepada Hadhratus Syaikh bahwa warga jam’iyyah baik-baik saja. Kalaupun ada sedikit ketegangan itu wajar, kini sudah membaik tak ada yang perlu diprihatinkan. Ketika beliau berkata, “Engkau tidak perlu menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya. Kami tahu semuanya. Mungkin keadaan yang sebenarnya tidak separah yang tampak oleh kami. Namun yang tampak itu sudah membuat kami prihatin. Kami ingin khidmah yang dilakukan oleh jam’iyyah ini sebanding dengan kebesarannya.”

“Lalu apa nasphat Hadhratus Syaikh?” pertanyaan ini meluncur begitu saja tanpa saya sadari.

“Nasihatku, lebih mendekatlah kepada Allah. Bacalah lagi lebih cermat khittah jam’iyyah. Pahami dan hayati maknanya, lalu amalkan! Waspadalah terhadap provokasi kepentingan sesaat! Itu saja.”

Mendengar nasihat singkat itu, tanpa saya sadari, saya melayangkan ke wajah-wajah jernih berwibawa di sekeliling saya. Semuanya mengangguk lembut seolah-olah meyakinkan saya bahwa nasihat Hadhratus Syaikh itu tidaklah sesederhana yang saya duga.

“Dan belajarlah berbeda pendapat!” seru sebuah suara yang ternyata adalah suara Kiai Abdul Wahid Hasyim. “Berbeda pendapat dengan saudara adalah wajar. Yang tidak wajar dan sangat kekanak-kanakan adalah jika perbedaan pendapat menyebabkan permusuhan di antara sesama saudara.”

Sekali lagi semuanya mengangguk-angguk lembut. Saya tidak bisa dan tidak ingin lagi meneruskan wawancara. Saya hanya menunggu. Ingin lebih banyak lagi nasihat. Tapi yang saya dengar kemudian adalah ayat al-Quran yang dibaca dengan khusyuk oleh –masya Allah- Kiai Abdul Wahab Hasbullah.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi dan petang hari mengharapkan keridhaanNya dan jangan palingkan kedua matamu dari mereka karena mengharap gemerlap kehidupan dunia ini dan jangan ikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami dan menuruti hawa nafsunya serta adalah keadaannya melampaui batas.”


Dan dengan berakhirnya bacaan ayat 28 al-Kahfi itu, saya tak mendengar lagi kecuali dzikir dan dzikir yang gemuruhnya serasa hendak mengoyak langit. (Diedit ulang dari http://www.kmnu.or.id/)

Logo Konferensi Internasional

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Jumat, 22 Juli 2016 | 22.02



Konferensi Internasional Bela Negara

SYAIKH MAULANA MALIK IBRAHIM BUKAN TERMASUK WALI SONGO

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Senin, 18 Juli 2016 | 18.02



Ada yang menarik pada bedah buku Atlas Wali Songo di Aula Rektorat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, yakni Syaikh Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk jajaran wali sembilan (Wali Songo). Hal itu membuat para hadirin bertanya-tanya. “Fakta sejarah itu tidak harus selalu sama dengan pandangan umum,” jawab KH. Agus Sunyoto, penulis buku tersebut.

Menurut Kiai Agus Sunyoto, justru yang sekarang berkembang ini adalah pandangan masyarakat. “Dan pandangan masyarakat tidak selalu berdasar fakta sejarah, jadi tidak diakui secara akademis. Syaikh Maulana Malik Ibrahim wafat pada 1419 M. Pada saat itu Sunan Ampel, wali tertua kedua dalam tradisi ziarah Wali Songo belum dilahirkan, atau kalaupun sudah lahir, ia masih bayi,” imbuhnya.

“Bukti sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1440 usia Sunan Ampel belum berumur 20 tahun,” katanya. “Jadi secara nalar, tidak mungkin Syaikh Maulana Malik Ibrahim berada satu mimbar dengan Sunan Ampel untuk membahas strategi penyebaran Islam.”

Syaikh Maulana Malik Ibrahim tidak masuk dalam kategori Wali Songo, namun menjadi bagian penting dari penyebaran Islam tahap pertama, seperti juga Fatimah binti Maimun, Syaikh Wasil Setono Gedong dan beberapa ulama lain semasanya. Ada banyak ulama pra-Wali Songo yang dikupas dalam Atlas Wali Songo itu. Makam para penyebar Islam itu diziarahi umat Islam setiap hari.

Sejarah Wali Songo memang cukup rumit. Sunan Muria, anak Sunan Kalijaga malah hidup pada tahun 1500-an, agak jauh dari masa Sunan Ampel. Beberapa peneliti menyebutkan Wali Songo merupakan sebuah dewan yang beranggotakan sembilan ulama. Jika salah seorang meninggal, maka digantikan oleh yang lain.

Dalam buku itu, Kiai Agus Sunyoto berkesimpulan, “Wali Songo baru muncul setelah Sunan Ampel. Sebelum itu belum ada dewan atau semacamnya.” Dalam buku itu juga disebutkan dua orang lagi yang masuk dalam kategori wali, yakni Syaikh Siti Jenar dan Raden Fatah. Usaha Kiai Agus Sunyoto adalah menyajikan Wali Songo sebagai fakta sejarah. Adapun kepercayaan masyarakat biarlah tetap berkembang seperti apa adanya.

Ia mengaku prihatin beberapa kalangan cendekiawan Muslim meragukan aspek kesejarahan para penyebar Islam di Nusantara ini. Dalam pengantar bukunya, misalnya, sejarawan ini menyayangkan tidak adanya entri Wali Songo pada Ensiklopedi dalam Islam yang berjilid-jilid terbitan Ichtiar Baru van Hoeve.

Yang agak lucu, dan sempat disindir dalam bedah buku Atlas Wali Songo, aspek kesejarahan para wali itu digugat secara terang-terangan dalam berbagai karya tulis para akademisi dari kampus-kampus Islam yang memakai nama Wali Songo dan tokoh-tokohnya sebagai nama kampus mereka. (Dikutip dari: nu.or.id)

Atlas Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah (Edisi Revisi Soft Cover)

Jika Anda membaca Ensiklopedia Islam yang tujuh jilid dan mencari informasi tentang Wali Songo, dijamin tidak akan menemukannya. Itu artinya, pada masa depan--kira-kira 20 tahun ke depan—Wali Songo akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak legitimate dalam Ensiklopedia Islam. Wali Songo ke depan akan tersingkir dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang folklore sebagai cerita mitos dan legenda. Anehnya, di dalam Ensiklopedia Islam itu tercantum kisah tiga serangkai haji: Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang sebagai pembawa ajaran Islam (Wahabi) ke Sumatra Barat. Itu berarti, anak cucu Anda kelak akan memiliki pemahaman bahwa Islam baru masuk ke Nusantara pada tahun 1803 Masehi, yaitu sewaktu tiga serangkai haji itu menyebarkan ajaran Wahabi ke Sumatra Barat.

Dalam keserbaterbatasan segala hal, alhamdulillah buku Atlas Wali Songo dengan pendekatan multidisiplin: historis; arkeologi; aetiologis; etno-historis, dan kajian budaya dapat terselesaikan. Isi buku ini sangat membumi dengan proses sinkretisasi-asimilatif dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Fakta mencengangkan di buku ini adalah bahwa kerajaan Islam pertama di Jawa bukanlah Kerajaan Demak (abad 15), melainkan Kerajaan Lumajang yang menunjuk kurun waktu awal abad 12, yaitu saat Singasari di bawah Sri Kertanegara.

Dengan prinsip 'bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa para pahlawannya', begitulah penulis berharap anak-anak bangsa di negeri tercinta ini dapat menghargai, menghormati, memuliakan, dan bahkan meneladani keluhuran budi dan kebijaksanaan yang telah diwariskan para ulama penyebar Islam tersebut.

Endorsement:

“Buku ini menarik sekali. Agus Sunyoto tidak tanggung-tanggung dan serius sekali dalam menelusuri, meneliti, dan memperdalam sejarah Wali Songo. Kalau tidak lahir buku seperti ini, kita akan terus menggunakan referensi sejarah buatan Belanda.” (KH. Achmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin, Rembang).

“Buku ini ujung tonggak, komprehensif tentang dakwah Wali Songo. Dalam dakwah Wali Songo, tidak ada satu dimensi kehidupan manusia yang diabaikan. Jadi dakwahnya itu dakwah kelengkapan seluruh kemanusiaan.” (Emha Ainun Nadjib/Cak Nun, Budayawan).

“Buku Atlas Wali Songo memberikan pemahaman komprehensif tentang Islam di Nusantara. Tanpa buku ini, masa depan Islam akan sangat formal dan karakternya bukan seperti NU. Tanpa menghargai wali Allah, kita hanya menjadi pribadi mukmin, bukan muhsin.” (Sujiwo Tejo, Dalang dan Penulis Buku).

_______________________
Judul Buku: Atlas Wali Songo (AW)
Penulis: KH. Agus Sunyoto
Jumlah Halaman: 496
Harga: Rp. 126.000 (sudah didiskon 10% dari harga asli 140.000) belum termasuk ongkos kirim. Khusus untuk Pulau Jawa, Buku+Ongkir cukup Rp. 140.000,-
Cara Pesan: NAMA LENGKAP_AW_ALAMAT LENGKAP kirim ke nomor Hp. 085774858808 (Syaroni As-Samfuriy)
Nb.: Persediaan buku Atlas Wali Songo sangat terbatas, barang pesanan akan dikirim serempak pada hari Senin, 25 Juli 2016.


Terbuka untuk Umum; Pameran Ratusan Harta Karun Nusantara akan Dipajang di Pesantren Kudus



Assalamu'alaikum. Hadiri dan kunjungi pameran ratusan harta karun ulama Nusantara bertajuk "PAMERAN TURATS ULAMA NUSANTARA", dalam rangka 1 Abad Qudsiyyah Kudus. Pameran ini diantaranya bertujuan agar masyarakat Nusantara semakin tahu dan cinta atas karya-karya ulama Nusantara. Insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari: Senin-Sabtu
Tanggal: 1-6 Agustus 2016
Jam: 09.00-19.00 WIB
Tempat: Madrasah Aliyyah Qudsiyyah Kudus (Jl. KHR. Asnawi, Gang Kerjasan Kudus - 59315)

Acara ini akan memamerkan lebih dari 200 kitab (turats) karya ulama asli Nusantara dan beberapa manuskrip beserta deskripsi singkat. Selain itu panitia juga melayani pembelian kitab Nusantara, baik aslinya maupun digital. Demikian, atas perhatian dan kehadirannya kami haturkan banyak terimakasih. Wassalamu'alaikum.

NB: Undangan untuk umum (laki-laki dan perempuan). CP: Ust. Nanal Ainal Fauz (082321212922)

http://www.muslimedianews.com/2016/07/terbuka-untuk-umum-pameran-ratusan.html

PROFIL SYAIKH PROF. DR. MUSTHAFA ABU SWAY PALESTINA

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Sabtu, 16 Juli 2016 | 03.08



Syaikh Prof. Dr. Musthafa Abu Sway adalah seseorang yang memiliki andil besar dalam tim studi karya besar Imam al-Ghazali di Masjid al-Aqsha dan al-Quds University (sumbangan dari HM Raja Abdullah II). Abu Sway juga anggota dari Hashemite Fund, sebuah tim penggalang dana untuk pemugaran Kubah Shakhrah dan Masjid al-Aqsha. Dia juga aktif dalam keanggotaan The Royal Aal al-Bayt Institut bidang Pemikiran Islam, Dewan Wakaf Islam, Dewan Tertinggi Islam, Asosiasi Ulama Muslim dan anggota Dewan Masyarakat Akademik Palestina untuk Studi Hubungan Internasional (PASSIA).
Jabatan akademisi ia peroleh dengan menjadi Dekan Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, serta Dekan Fakultas Ilmu al-Quran dan Ilmu Islam di al-Quds University. Sebelum bergabung dengan al-Quds University pada tahun 1996, ia mengajar di Universitas Islam Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia selama kurun 1993-1996, termasuk satu tahun di Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam. Dia bahkan aktif dalam Fulbright Visiting Scholar di Wilkes Honor College/Florida Atlantic University selama tahun 2003-2004. Kemudian ia lanjutkan sebagai Visiting Profesor di Bard College, New York selama tiga semester 2008-2010.

Prof. Abu Sway merupakan lulusan dari Universitas Bethlehem (BA) dan Boston College (MA, Ph.D. 1993). Banyak buku yang telah ia tulis, diantaranya tentang Imam al-Ghazali dan berbagai makalah serta artikel tentang masalah Palestina dan berbagai topik Islam. Prof. Abu Sway beberapa kali tampil di al-Jazeera, CNN, BBC, FOX, MSNBC dan media internasional dan lokal lainnya.
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template