Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Foto-foto Ulama dan Habaib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Foto-foto Ulama dan Habaib. Tampilkan semua postingan

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 3/Habis)

Written By MuslimMN on Selasa, 26 September 2017 | 00.17


Delapan tahun saya dekat dengan Gus Dur. Saya punya rekaman 95 menit dengan Gus Dur, dan itu tidak dimiliki oleh yang lain. Saat itu tiba-tiba Gus Dur minta dibawakan tim media saya. Gus Dur hanya memakai celana pendek sambil tiduran di ruang tamu minta direkam. “Pak sudah siap,” kata saya.

“Ya sudah,” jawab Gus Dur.

“Mohon Bapak pakai sarung,” protesku karena tak pantaslah Gus Dur sebagai narasumber hanya memakai celana pendek.

Kata Gus Dur, “Lhoh, kan sumber utamanya Anda. Anda yang harus rapih. Saya hanya mendampingi.”

Akhirnya saya minta Mas Munif, menantunya Mbah Abdul Jalil Mustaqim, untuk mengambilkan sarung. Lalu sarung itu diberikan ke Gus Dur dan hanya ditutupkan di atas celana. 90 menit tiba-tiba Gus Dur cerita soal kuliah dan belajar beliau.

Gus Dur itu sosok pendendam yang baik. Dulu pernah saya di pesawat bersama Gus Dur, saya ijin, “Mohon maaf, Nurcholis Majid mau ke rumah saya di Jatiwangi.”

“Iya, dia mau jadi presiden. Tapi nggak mungkin,” jawab Gus Dur.

“Tapi Cak Nur bilang Pak,” kata saya. “Apa sih yang salah dengan saya? Gus Dur itu baca satu ayat dua ayat, tapi terkenal dan diaku jadi wali. Tapi saya padahal sudah menyebutkan ayat, surat, tafsir dan referensinya masih saja disalahpahami.” Kata Cak Nur yang saya tirukan.

Gus Dur hanya diam, sama sekali tidak bertanya kepada saya. Hingga kemudian saat Gus Dur bertemu saya di kediaman Tuan Guru Turmudzi Lombok NTB, beliau tiba-tiba ceramah dengan membaca 10 ayat yang panjang-panjang sekaligus menyebutkan ayat serta suratnya. Juga tiba-tiba Gus Dur membaca qasidah-qasidah dan puisi-puisi lama (berbahasa Arab) yang sangat panjang, beserta keterangannya lengkap. Waktu itu saya tidak tahu ada apa dengan Gus Dur yang tiba-tiba seperti itu.

Pas waktu pulang, saat di pesawat Gus Dur tiba-tiba memegang tangan saya dan berkata, “Anda dengerin ceramah saya di Lombok?”

“Dengar Pak!” jawabku.

“Catat, saya lebih hebat dari Cak Nur!”

Waktu itulah saya baru sadar saat di pesawat sebelumnya beliau hanya diam ternyata karena tidak terima dengan perkataan Nurcholis Majid yang saya sampaikan ke beliau. Gus Dur benar-benar sosok pendendam yang baik.

Saya belajar dari Gus Dur juga bahwa jadi manusia itu sangat berat. Saya teringat dan waktu itu saya baru sadar, ternyata shalatnya Gus Dur itu setelah wudhu kemudian duduk menghadap kiblat. Beliau juga mendawamkan wirid Ratibul Haddad menjelang akhir hayatnya.

Saya juga teringat saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu saya dan Gus Dur sedang di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur. Lalu saya tanya, “Ada apa Bib?”

“Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir.

Tiba-tiba Gus Dur bertanya kepada saya, “Itu siapa?”

“Habib Mundzir, Pak,” jawab saya.

“Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.

Gus Dur sudah menyebut Habib Mundzir al-Musawa akan meninggal dunia dalam usia yang sangat muda.

Gus Dur terkadang kalau marah itu menarik. Tiba-tiba saya disuruh bacain surat kabar, ada beberapa kiai yang menolak Gus Dur. Kemudian Gus Dur berkata, “Apa salah saya yah Kang Maman? Padahal saya tidak pernah berbuat salah kepada kiai-kiai itu.”

Dalam masalah uang, saya pernah ceramah bareng Gus Dur. Waktu itu Gus Dur dapat amplop 50 juta, saya 5 juta. Ternyata punya saya yang 5 juta itu pun diminta Gus Dur,“Sini yang 5 juta Kang Maman!”

Lalu tiba-tiba oleh Gus Dur uang itu dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, dan dimasukkan ke dalam amplop. Gus Dur kemudian meminta saya untuk menuliskan satu persatu nama-nama kiai di amplop itu sesuai yang diucapkan Gus Dur; kiai anu dari Kalimantan, kiai anu dari Sulawesi, kiai anu dari perbatasan Sulawesi, dst.

Jadi Gus Dur tidak pernah punya dompet dan uang pun kadang-kadang selalu habis untuk dibagi-bagikan. Makanya sampai sekarang makam yang paling ramai dikunjungi orang Indonesia adalah makamnya Gus Dur. Gus Dur itu manusia, yang mampu memanusiakan manusia.

“Kenapa sewaktu Muktamar di Solo saya diusir pakai anjing?” Gerutu Gus Dur tidak terima.

Tapi saat turun ke bawah di Bandara Adi Sucipto, ada wartawan yang bertanya, “Gus, itu ada beberapa kiai yang menolak Anda.”

Cara bertahan Gus Dur menarik. Gus Dur tiba-tiba tersenyum dan menjawab, “Ah kata siapa? itu yang bilang paling tukang becak pakai sorban.”

Gus Dur mengijazahkan kepada saya di detik-detik terakhirnya, tanggal 7 Desember 2009, Ayat Kursi. Di kalimat “Wala Ya-uduhu dst...” dibaca 7 kali. Saya tanya, “Untuk apa Pak?”

“Untuk penjagaan saja. Indonesia akan mengalami masa-masa sulit, gonjang-ganjing, sampai tahun 2030-an.” Jawab Gus Dur


*Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

JAUHI SENJATA! SERUAN HABIB UMAR BIN HAFIDZ DI JAMAN FITNAH

Written By MuslimMN on Kamis, 02 Februari 2017 | 13.43



Di dalam buku kecil karya al-‘Allamah al-Habib Umar bin Hafidz BSA Yaman berjudul “Wala Tanaza’u Fatafsyalu Watadzhaba Rihukum  (Janganlah Kamu Berselisih Sehingga Menyebabkan Kamu Gentar dan Lemah)”, beliau menulis sebagai berikut:

إن الجهاد في سبيل الله على أوضح مجالاته وحالاته، لو قام فدخل في النية ذرة من قصد غير الله لضاع صاحبه، قال صلى الله عليه وسلم:(( من غزا وهو ينوي عقلا فله مانوى)) رواه أحمد والنسائي والطبراني والحاكم‘ فكيف إذا كان الأمر ليس بواضح القيام فيه على حقيقة من الدين ولا حقيقة من النور ولا حقيقة من الجهاد في سبيل الله تبارك وتعالى إلا ما يدعيه أصحاب كل فرقة أنهم مجاهدون ضد طائفة أخرى. إنها الفتن العمياء الصماء، إنها الفتن المظلمة، لاتكن فيها طرفا من الأطراف يقضي فيها الكافر والفاجر غرضه، أو يتخذه جسرا لينال شيأ من مراده، ولا بلغ الله أعداءه مرادا فينا ولا في أحد من أهل الملة ولا في أحد من أهل القبلة. يجب أن يتألم قلبك أن أصبح الناس من أهل هذا الدين العظيم عرضة لأن يسيروا ويدبروا من قبل قوى الكفر ليضعفوا بعضهم البعض ويؤذوا بعضهم البعض ويقتلوا بعضهم البعض ويتطاولوا على بعضهم البعض. ويسبوا بعضهم البعض من أباح لهم ذلك؟ من زين لهم ذلك؟ وعلى أي أساس يقيمون ذلك؟

“Jika jihad di jalan Allah dinilai sia-sia karena niat yang tidak ikhlas, maka bagaimana dengan tindakan yang belum tentu termasuk jihad di jalan Allah kecuali menurut klaim klompok yang suka memerangi klompok lain? Sungguh ini adalah fitnah yang buta dan tuli. Sungguh ini adalah fitnah yang bisa mencelakakan. Janganlah sampai kamu diperalat orang-orang kafir dan orang-orang jahat demi kepentingan mereka. Jangan sampai tujuan busuk musuh-musuh Allah terhadap kita dan satupun dari ahlul millah dan ahlul qiblah itu tercapai.

Wajib bagimu merasa prihatin karena umat Islam dijadikan boneka oleh orang-orang kafir untuk saling melemahkan, saling menjelekkan, saling mencaci bahkan saling membunuh. Siapa yang memperbolehkan tindakan tersebut? Siapa menganggap baik tindakan tersebut? Atas dasar apa mereka melakukannya?”

Lalu bagaimana petunjuk Nabi Muhammad Saw. dalam berinteraksi dengan fitnah tersebut? Dalam hal ini, al-Habib Umar bin Hafidz menampilkan sebuah hadits yang menjelaskan tentang akan terjadinya fitnah di akhir zaman. Tatkala fitnah itu terjadi, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berdiri. Orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan. Dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berusaha.

Artinya, semakin dekat seseorang kepada fitnah tersebut maka ia dinilai semakin buruk. Dan semakin jauh seseorang dari fitnah tersebut maka ia dinilai semakin baik. Tatkala itu, sabda Nabi Saw., “Pecahkan busur panahmu. Putus-putuslah senarnya. Patahkan pedangmu dengan batu. Dan jika ada seseorang yang dimasuki untuk dibunuh maka hendaknya dia menjadi seperti anak yang baik dari dua putra Nabi Adam (Habil dan Qabil).”

Yang dimaksud anak yang baik disini adalah Habil yang perkataannya diceritakan di dalam al-Quran: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

Setelah menyebutkan hadits ini, Habib Umar bin Hafidz menulis sebagai berikut:

أنجد أنصح منه؟ أم نجد بيانا أفصح من بيانه؟ إنه أشجع الخلق ، وأكرم الخلق والذي علم الناس تقديم الأنفس والأموال لله خالصة مخلصة نياتهم طيبة بها قلوبهم ونفوسهم، يبين هذا لبيان ويقول: أبعدوا عن استعمال الأسلحة، فليس الوقت وقتها ولا المجال مجالها وليست مؤدية إلى خير، فكسروا قسيكم وقطعوا أوتاركم واضربوا بسيوفكم الحجارة، صلوات ربي وسلامه عليه وهو سيد المجاهدين وهو خير المجاهدين.

“Adakah yang lebih bisa memberi nasihat daripada Nabi Muhammad? Adakah penjelasan yang lebih fasih daripada penjelasannya? Beliau adalah hamba Allah yang paling berani. Beliau adalah hamba Allah yang paling mulia. Dan beliau adalah seorang nabi yang telah mengajarkan untuk berkorban jiwa dan harta dengan ikhlas karena Allah. Namun beliau Saw. menjelaskan penjelasan ini dan berkata: “Jauhkan dirimu dari menggunakan senjata. Sekarang bukan waktunya. Di sini bukan ruangnya. Penggunaan senjata tidak akan mengantarkan kepada kebaikan. Maka pecahkan busur panahmu. Putus-putuslah senar-senar busurmu. Patahkan pedangmu dengan batu.”

Semoga rahmat dan salam Tuhanku selalu terlimpahkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., pemimpin dan sebaik baik pejuang.” (Mohammad Mahrus Ali, tokoh muda NU Madura mantan Rais Syuriah PCI NU-Yaman dan alumnus al-Ahgaff University).


AJARAN KEBANGSAAN HABIB LUTHFI BIN YAHYA

Written By MuslimMN on Kamis, 01 Desember 2016 | 10.59


Banyak sufi sepanjang beratus-ratus tahun sudah meninggalkan cerita mengenai kebijaksanaan mereka terkait dengan raja-raja serta penguasa. Cerita Imam al-Bashri dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, al-Junaid, al-Bisthami serta al-Karkhi dengan tokoh penguasa semasanya. Walau demikian, sekarang ini masihlah ada beberapa kiai yang mengambil posisi senantiasa berhadap-hadapan, mengritik petinggi dengan argumen itu yang diajarkan beberapa ulama kita dulu selalu untuk mengambil posisi berjarak dengan pemerintah. Lantaran argumen itu, masihlah ada penceramah yang menjamah kehormatan petinggi serta mencabik-cabik nama baiknya di hadapan khalayak, dengan argumen mengritik pejabat merupakan ajaran beberapa ulama dulu serta yang sudah mereka contohkan. Habib Luthfi mengecam keras pandangan seperti itu. Menurut Habib Luthfi, para ulama dulu sebagian bersikap demikian lantaran sistem pemerintah waktu itu tidak sama dengan saat ini. Dulu berbentuk monarki serta rakyat sekalipun tidak bisa ikut serta dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Sekarang ini kita hidup dalam alam demokrasi, dimana peran aktif orang-orang serta tokoh agama begitu perlu untuk memberikan pertimbangan pada beberapa petinggi pemerintah dalam memastikan kebijakan. Lantaran lewat masukan orang-orang serta beberapa input dari golongan cerdik pandai pemerintah dapat mengambil policy yang pas. Pendirian Habib Luthfi seperti ini pada masa Orde Baru pasti tak populis. Nyaris semuanya kiai mengambil posisi berhadap-hadapan atau sekurang-kurangnya acuh pada penguasa. Seorang sufi besar, Ahmad bin Amad al-Barnasi al-Maghribi yang dikenal dengan Syaikh Zaruq (w. 899 H) menyampaikan: “...menjaga kestabilan itu hukumnya wajib. Serta memerhatikan kemaslahatan umum itu berbentuk pasti. Oleh karenanya beberapa ulama setuju kalau lakukan ‘makar’ pada pemimpin yang sah itu haram hukumnya, baik dalam perkataan ataupun perbuatan. Bahkan juga beberapa ulama setuju (ijma’; konsensus) sah shalat di belakang seseorang petinggi maupun orang umum yang baik ataupun yang dzalim sepanjang kefasikannya itu tak dikerjakan waktu shalat. Oleh karenanya Nabi Saw. bersabda, “Tidak mencemooh satu golongan orang-orang pada pemerintah mereka terkecuali mereka bakal terhambat dari kebaikan pemerintahnya itu.” Imam at-Tirmidzi meriwayatkan, “Tidak melakukan perjalanan satu golongan orang-orang menuju tempat pemerintah dengan maksud menjelek-jelekan pemerintah, terkecuali Allah bakal mengejekkan mereka".” Habib Luthfi memanglah cuma menyampaikan kita mesti menghormati pemerintah. Mesti menghormati Presiden. Sebab Presiden itu lambang Negara. Serta beberapa lambang Negara punya sifat sakral. Di balik ajarannya itu, nyatanya ada landasan filosofis serta didasarkan atas sebagian alasan syariat. Seperti dijelaskan dalam keterangan Syaikh Ahmad Zaruq di muka kalau menghormati pemerintah tidak cuma menjadi keharusan yang berasaskan kearifan budaya tetapi ajaran Nabi Saw. Nabi mengingatkan barangsiapa yang mencemooh pemerintah, Allah bakal mengejekkannya. Bila petinggi itu dapat dibuktikan lakukan tindak pidana, menurut Habib Luthfi ada mekanisme serta cara perlakuannya. Walau demikian pada prinsipnya jangan pernah mengakibatkan kerusakan kesakralan beberapa lambang Negara. Dalam pandangan Habib Luthfi menghormati pemerintah yaitu sisi yang tidak terpisahkan dari bentuk kecintaan pada Bangsa serta Negara. Jalinan baik Habib Luthfi dengan pemerintah dapat dilihat dari kehadiran Presiden RI pada perayaan Maulid Nabi Kanzus Shalawat pada tahun 2004 serta 2014. Gubernur serta Wakil Gubernur dari beragam provinsi, serta menteri-menteri dalam perayaan Maulid Nabi. (Dikutip dari buku “Sejarah Maulid Nabi; Meneguhkan Semangat Keislaman serta Kebangsaan Mulai sejak Khaizuran 173 H sampai Habib Luthfi bin Yahya 1947 M-Sekarang)

Habib Seggaf Bin Mahdi BSA; Habib Ramah di Balik Jubah

Written By MuslimMN on Selasa, 29 November 2016 | 08.15



Tanggal 15 Agustus 1945 lahirlah seorang bayi mungil dengan senyum manis di pangkuan ibunya di daerah Dompu, NTB (Nusa Tenggara Barat), dari pasangan Habib Mahdi dan Syarifah Balgis, beliaulah Habib Seggaf kecil. Dalam asuhan kedua orangtuanya, Habib Seggaf kecil tumbuh besar dan memasuki bangku pendidikan sampai SMP.

“Nanti kamu jadi ulama besar dan kaya raya. Kamu masuk pondok saja. Berangkatlah tawakkaltu,” demikian nasihat Habib Shaleh bin Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar ulama besar dari Bondowoso, Jawa Timur usai ‘meneliti’ kaki Seggaf bin Mahdi yang masih berusia 14 tahun.

Namun Seggaf muda masih ragu. Pasalnya sejak kecil ia tak pernah mondok. “Kepala seperti mau pecah mendengar perintah itu. Tapi saya pergi juga ke Pesantren Darul Hadits di Malang,” kenang Habib Seggaf, panggilan akrab Habib Seggaf bin Mahdi bin Syaikh Abu Bakar.

Di depan pintu ponpes, Seggaf diterima pendiri Darul Hadits, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. “Kamu musti belajar baca al-Quran,” kata Habib Abdul Qadir seraya memegang kuping Seggaf. Sontak, sakit kepala dan keraguan Seggaf hilang. “Hati saya terbuka. Ini guru saya. Apa pun yang terjadi, saya harus belajar di sini,” tekad Seggaf muda.

Seggaf pun menempuh pendidikan di sana dengan cemerlang. “Saya menjadi santri hanya 2 tahun 7 bulan dan langsung ngajar fiqh dan nahwu. Saya di sana 13 tahun,” kenangnya.

Sepulang dari Malang, Habib Seggaf berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di Aljazair selama 5 tahun dan i’tikaf di Mekkah selama 5 tahun. Habib Seggaf juga memperdalam thariqah di Irak. Namun ia harus kembali ke Tanah Air. Guru thariqahnya yang beraliran Syadziliyah, merekomendasikannya belajar thariqah di Mranggen, Demak. “Karena thariqah Syadziliyah agak sulit di Indonesia, maka saya disuruh ke Mranggen yang beraliran Qadiriyyah. Syaikh Mushlih Mranggen itu guru thariqah saya,” ungkap Habib Seggaf.

Habib Seggaf pun lantas kembali ke Dompu mendirikan Ponpes Ar-Rahman. Tak lama berselang, Habib Seggaf pindah ke Parung Bogor mendirikan Ponpes al-Ashriyyah Nurul Iman. Sebelum ke Parung, Habib Seggaf mendirikan Ponpes Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya, yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Afrika.

Sejak itu, undangan ceramah banyak datang dari negara tetangga. Ratusan ribu massa selalu memadati majelisnya di Singapura. “Bukan hanya orang Melayu dan Islam, orang Cina, India, Budha, Hindu dan lain-lain, telah memenuhi stadion Singapura sejak sore,” ujarnya.

Kepandaiannya menguasai Qiraah Sab’ah –bacaan al-Quran dengan riwayat tujuh imam- membuatnya ditunggu majelisnya di Singapura. Namun kepandaiannya itu juga yang mengakibatkan Mufti Singapura menuduhnya mengutak-atik bacaan al-Quran. “Saya dituduh merusak al-Quran. Akibatnya ponpes saya di Surabaya disegel Depag dengan alasan takut bentrok antara Indonesia dengan Singapura. Tanah seluas 5 ha di Sekupang Batam yang diberi pemerintah juga ditarik kembali,” ungkapnya mengenang peristiwa di awal 1980-an itu.

Habib Seggaf pun pindah ke Jakarta. Di Ibukota, Habib Seggaf menghidupkan majelis di Masjid Agung Bintaro. Krisis sosial-politik pasca jatuhnya Soeharto pada 19 Juni 1998, membuat Habib Seggaf memutuskan pindah ke Desa Warujaya, Parung, Bogor yang lebih tenang dibanding Jakarta.

Ternyata, krisis ekonomi turut menghancurkan masyarakat Desa Warujaya. Hal itu memicu Habib Seggaf mengumpulkan anak-anak sekolah di rumahnya. “Sebelum sekolah, mereka makan nasi ketan di rumah. Tiap anak saya kasih uang jajan Rp. 250. Dan tiap keluarga kita bagi beras 5 kg,” katanya.

Pada 1999, datanglah seorang santri asal Wonogiri, Solo, bernama Prawoto Suwito. Kedatangannya memberi spirit bagi Habib Seggaf untuk mendirikan Ponpes al-Ashriyyah Nurul Iman. Kian lama ponpesnya kian besar, hingga kini memiliki puluhan ribu santri. Selain beribadah dan belajar, ponpes itu juga melatih santrinya bertani, daur ulang sampah dan membuat roti.

Diakui Habib Seggaf, ikhtiar ekonomi para santrinya belum cukup untuk menghidupi ponpes terbesar di Bogor itu. Karena itulah, dia menerima beberapa dermawan mensedekahkan hartanya untuk kepentingan ponpes. “Dua masjid itu sumbangan dari orang yang sama,” ungkap Habib Seggaf menjelaskan asal-usul dua masjid besar di dalam ponpes. Satunya berkapasitas 5.000 orang untuk santri laki-laki dan sebuah lagi berkapasitas 3.000 orang untuk santri perempuan.

Tak hanya itu, beberapa perkumpulan agama non-Islam turut menyumbang konsumsi, tenaga pengajar, gedung olah raga dan asrama. Jadi, jangan heran jika di depan masjid agung ponpes berdiri dojo Taekwondo seluas 200 m2, sumbangan dari pengusaha Korea Selatan, Park Young Soo. “Guru Taekwondonya dari Korea. Kita juga memadukan zafin (tarian Arab) dengan Taekwondo. Sekarang sedang dipatenkan di Korea Selatan,” jelasnya.

Ponpes itu juga memiliki gedung dua lantai, dengan 24 ruang kelas, 2 ruang guru, 32 kamar mandi dan 20 toilet. Pendidikan tsanawiyah, aliyah dan Universitas Habib Saggaf diselenggarakan di situ. “Gedung ini sumbangan dari Yayasan Buddha Tzu Chi,” jelasnya.

Puluhan tempat bermukim para santri, banyak yang berasal dari infaq orangtua santri. Bahkan salah satu diantaranya adalah sumbangan dari organisasi keturunan India di Indonesia, Gandhi Sevaloka.

Hadirnya beberapa bangunan dari sumbangan komunitas non-Muslim itu, menurut Habib, karena dirinya tak segan bergaul dengan siapa pun. “Kadang beberapa pendeta tidur di sini untuk mempelajari sistem ponpes ini,” akunya.

Habib Seggaf juga terus menanamkan toleransi antar pemeluk agama di negeri ini. Karenanya, ia menyayangkan aksi kekerasan sekelompok orang dengan mencatut Islam. “Akibatnya Islam dipandang salah. Orang Islam dianggap ‘tukang makan orang’,” ujarnya lugas.

Selain itu, kata Habib Seggaf, rusaknya citra Islam juga karena ajaran Islam disalahpahami. “Itu, orang-orang yang ngaku mujahid. Mujahid apa itu, berontak di negara orang. Mereka bikin kacau Indonesia. Kalau saya presiden, saya usir mereka. Saya tangkap dan saya suruh tinggal di Arab. Jadi, jika kita ingin memperbaiki, jangan yang sudah rusak dirusak lagi. Itu baru mujahid,” himbaunya.

Untuk itu, ia mengimbau kelompok yang mengusung nama Islam agar menyelesaikan persoalan melalui mekanisme hukum. “Ini Indonesia. Ada pemerintah, ada hukum, dan ada polisi. Mereka yang menjaga keamanan. Jika tidak melalui jalur hukum, berarti ingin mendirikan negara dalam negara. Tapi pemerintah juga salah, koq orang-orang kayak begitu dibiarkan. Mereka itu bisa merusak Indonesia,” tandasnya.

Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman didirikan 16 Juni 1998 menekankan kedisiplinan, maningkatakan kekuatan pribadi dengan ilmu agama dan umum plus kecakapan hidup (life skills) berbasis kompetensi. Pesantren ini memadukan sistem madrasah dan sekolah umum serta pengajian kitab-kitab klasik.

Kata-kata Mutiara Habib Seggaf bin Mahdi BSA

1.      “Jangan tunjukan ilmumu di dalam tempat orang berilmu, nanti ketahuan.”
2.      “Fanatik itu bisa merusak fakta sejarah. Fanatik harus berdasar ilmu yang benar.”
3.      “Kalau kamu bisa mengawinkan ilmu pengetahuan dengan al-Quran, kamu bisa jadi presiden.”
4.      “Ilmu itu meyakinkan kita kepada kebesaran dan kekuasaan Allah Swt.”
5.      “Ilmu kalau hanya untuk kepentingan kamu saja, tidak untuk kepentingan orang banyak, itu ilmu setan.”
6.      “Salah yaitu berbuat sesuatu di luar ilmu.”
7.      “Ilmu itu tergantung hatimu, kalau kau buka lebar-lebar hatimu ilmu itu akan masuk.”
8.      “Ilmu itu perhiasan hidup. Contoh hidup harus berilmu dan pengalaman.”
9.      “Ilmu pengetahuan kalau mudharat harus ditinggalkan.”
10.  “Ilmu itu mulianya kepada kamu kalau dihafal.”
11.  “Ilmu pengetahuan tidak akan bertambah kecuali dengan banyak membaca.”
12.  “Ilmu suluk sudah ada sejak dari dulu dan berlaku sampai sekarang (ilmu thariqah).”
13.  “Orang yang paling mulia adalah orang yang punya ilmu dan bisa bekerja.”
14.  “Munculnya ilmu pengetahuan dari falsafah, Islam dari wahyu. Sehingga orang belajar al-Quran dulu baru kemudian belajar falsafah.”
15.  “Orang yang berjalan di jalan Allah Swt., ilmu apapun ia akan dapatkan dengan ridha Allah Swt.”
16.  “Ciri-ciri orang Islam adalah berilmu pengetahuan dan percaya diri.”
17.  “Janganlah pernah merasa malu dengan ilmu yang kamu miliki.”
18.  “Iman itu harus dengan cinta kepada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Untuk derajat dengan iman, amal dan ilmu.”
19.  “Beriman itu sumbernya ikhlas. Sedangkan pokok kehidupan manusia kepada Allah Swt. adalah iman, yang lain itu cabangnya.”
20.  “Kalau orang sering melihat ciptaan Allah Swt. maka akan bertambah keimanannya.”
21.  “Iman lebih dulu daripada Islam.”
22.  “Barangsiapa beriman kepada Allah Swt. dia tidak takut rugi dikurangi kebaikannya dan ditambah dosanya.”
23.  “Derajat iman orang awam adalah iman dengan rasa.”
24.  “Sumber iman adalah Nabi Muhammad Saw. Karena itu syarat penempuhan iman harus ketemu Nabi Muhammad Saw.”
25.  “Iman itu selalu waspada akan perintah dan larangan.”
26.  “Terwujudnya iman yang sempurna apabila hati itu sudah mukhlis (ikhlas), syukur,dan tidak suka membuka rahasia seseorang yang jelek bahkan selalu mendoakannya supaya orang itu mendapat petunjuk.”
27.  “Jika basyariyah hilang dari manusia, maka dia hilang imannya lalu menjadilah ia hayawan dalam wujud manusia.”
28.  “Iman itu di atas yaqin dan percaya.”
29.  “Iman itu pembenaran secara murni, membenarkan yang benar (tasdhiq).”
30.  “Iman baru diterima apabila adanya kepercayaan hati. Sesuatu yang sudah dilihat tidak perlu iman, yang diperlukan iman adalah sesuatu yang tidak terlihat. Karena itu apabila orang sudah melihat hari kiamat iman mereka setelah melihat itu tidak diterima.”
31.  “Hati itu hanya bisa untuk satu masalah. Oleh karena itu kalau lisannya berdzikir tetapi hatinya tidak, itu adalah paling rendahnya iman.”
32.  “Tugas hamba itu adalah menerima secara mutlak ikhlasul iman.”
33.  “Kapan ada dosa? Kalau niatnya tidak baik.”

Shalawat Pohon Uang

Habib Seggaf bin Mahdi berpesan kepada para murid dan jamaahnya untuk tidak meninggalkan shalawat kapanpun dan dimanapun berada. Beliau juga sering mewasiatkan sebuah amalan sehari-hari kepada para santri maupun tamu yang berkunjung ke rumahnya berupa “Shalawat Syajaratun Nuqud” (shalawat pohon uang). Berikut ini adalah teks shalawat tersebut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحًمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحًمَّدٍ
(Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad)

Habib Seggaf bin Mahdi mengijazahkan amalan shalawat tersebut untuk dibaca 400 kali setiap ba’da shalat Isya. Menurut penuturan beliau, orang yang mengamalkan Shalawat Syajaratun Nuqud insyaAllah akan senantiasa dimudahkan segala urusannya dan dilancarkan rejekinya bagaikan mempunyai sebuah pohon uang di depan rumah.

Beliau juga tidak keberatan dan mempersilakan siapapun untuk mengamalkan shalawat tersebut. Berikut adalah video ceramah Habib Seggaf bin Mahdi di Jepara saat menyampaikan shalawat pohon uang: https://youtu.be/BTUVltZ1EIg


Habib Seggaf bin Mahdi, Pendiri Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor itu wafat pada Jum’at, 12 November 2010 M/5 Dzhulhijjah 1431 H pada pukul 09.15 WIB. Beliau adalah tokoh ulama yang diyakini berkaromah, berpenampilan kharismatik dan penuh wibawa, selalu mengajarkan toleransi antar pemeluk agama. Senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, membuat semua orang ingin dekat diakui sebagai muridnya. Semoga sekilas pandang tentang seorang tokoh ulama Indonesia ini dapat menjadi tauladan dan motivasi kita semua. (Sumber: IbjmArt.Com)

SYAIKH MASDUQI LASEM; MACAN PUTIH DARI PULAU JAWA

Written By MuslimMN on Rabu, 26 Oktober 2016 | 06.58


Hadhratus Syaikh KH. Mashduqi bin Sulaiman al-Lasimi lahir sekitar tahun 1908 M. di Desa Soditan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang dari pasangan KH. Sulaiman dengan Hj. Nyai Khadijah (Qolmini). Dari jalur ayah nasab beliau bersambung ke asy-Syaikh as-Sayyid Mutamakkin Kajen Pati yang bersambung ke Raden Achmad Rahmatullah (Sunan Ampel).

Sejak usia dini Mbah Mashduqi dididik oleh ayahandanya sendiri. Kemudian ketika menginjak usia remaja atas petunjuk sang ayah dan pamandanya, KH. Thayyib, beliau melanjutkan jenjang pendidikannya di Ponpes Tremas yang diasuh oleh Syaikh KH. Dimyathi bin Abdullah yang merupakan adik dari Syaikh KH. Mahfudz bin Abdullah (murid dari pengarang kitab I’anah ath-Thalibin) yang makamnya ada di Mekkah. Beliau menimba ilmu di situ selama 11 tahun dengan rincian 3 tahun belajar dan 8 tahun mengajar, yang salah satu dari sekian banyak muridnya di Tremas adalah KH. Hamid Pasuruan. Kemudian Beliau melanjutkan pendidikannya pada Syaikh KH. Masyhud Pacitan.

Usai belajar dari Pondok Tremas Mbah Mashduqi melanjutkan pendidikannya ke Tanah Suci Mekkah al-Mukarramah selama 6 tahun. Di sana beliau belajar kepada Syaikh Umar Hamdan al-Maghrabi dan Syaikh Muhammad Ali al-Maliki al-Hasani al-Maghrabi. Di sana beliau dipercaya menjadi pengajar di Haramain. Murid-murid beliau semasa mengajar di Haramain banyak yang dari Indonesia, diantaranya KH. Bisyri Musthafa  Rembang dan KH. Masyhuri Rejoso Jombang.

Mbah Mashduqi mendapat gelar asy-Syaikh karena termasuk salah satu ulama Indonesia yang mengajar di Masjidil Haram. Pada waktu itu sebutan Syaikh dimiliki oleh 3 orang ulama, yaitu Syaikh Mashduqi al-Lasimi, Syaikh Mahfudz at-Turmusi (kakak kandung Syaikh Dimyathi) dan Syaikh Yasin al-Faddani.

Sepulang dari Mekkah beliau bertemu dengan Syaikh KH. Sayyid Dahlan, salah satu masyayikh di Pekalongan, yang kemudian menikahkan putrinya, Nyai Hj. Ma’rifah, dengan Mbah Mashduqi. Di Pekalongan Mbah Mashduqi sempat mendirikan pesantren, yang akhirnya banyak murid-murid beliau di Tremas banyak yang pindah ke Pekalongan dengan harapan dapat melanjutkan belajarnya pada beliau.

Mbah Mashduqi sangat terkenal kealimannya. Beliau termasuk ulama yang produktif menulis, hasil karyanya banyak dari beberapa fan ilmu. Setiap beliau mengaji suatu kitab, pasti diterangkan secara panjang lebar seakan mensyarahi kitab tersebut.

Setelah beberapa tahun tinggal di Pekalongan, beliau kembali lagi ke Lasem atas permintaan warga Lasem. Di Lasem Mbah Mashduqi mendirikan Pondok Pesantren al-Ishlah pada tahun 1950 M. Banyak orang berdatangan dari berbagai penjuru untuk menimba ilmu darinya, diantaranya dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi.

Sebelum adanya bangunan Ponpes al-Ishlah, tanah yang akan dijadikan pesantren tersebut merupakan tempat judi, pelacuran dan tempat pembantaian PKI. Jauh-jauh hari sebelum Syaikh Mashduqi dilahirkan, pejabat desa setempat mengeluh kepada Sayyid Abdurrahman (Mbah Sareman) –ulama asal Tuban yang tinggal di Lasem yang terkenal kewaliannya- dengan mengatakan, “Mbah, bagaimana tempat itu koq dibuat  sarang maksiat?”

Kemudian Mbah Sareman mengatakan, “Akan ada Macan (harimau) Putih dari barat melewati sungai yang akan menempati tempat itu. Dan tanah itu akan menjadi tempat (produksi) ulama di Tanah Jawa.” Yang dimaksud dengan “Macan Putih” adalah Syaikh KH. Mashduqi dan yang dimaksud “sungai” adalah Sungai Bagan yang terletak ± 700 m sebelah barat tanah Ponpes al-Ishlah.

Diantara murid-murid Mbah Mashduqi adalah KH. Ishomuddin Pati, KH. Nur Rahmat Pati, KH. Salim Madura, KH. Makhrus Ali Lirboyo, KH. Zayadi Probolinggo, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Miftahul Akhyar Surabaya, KH. Jazim Nur Pasuruan, K. Mukhtar Luthfi Nganjuk, KH. Imam Daroini Nganjuk, KH. Zuhdi Hariri Pekalongan, KH. Taufiqurrahman Pekalongan, KH. Abdul Ghani Cirebon, KH. Abdul Mu’thi Magelang, KH. Abdullah Schal Bangkalan, KH. Mashduqi Cirebon, KH. Makhtum Hannan Cirebon, KH. Syaerozi Cirebon, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beberapa Kisah Keteladanan Mbah Mashduqi

Kisah berikut disarikan dari tulisan Gus M. Robert Azmi dari penuturan Kiai Mukhtar Luthfi dan KH. Imam Daroini (keduanya adik kandung Pendiri PP. Al-Fattah KH. Nahrawi ZAM) Nganjuk yang merupakan murid dari Mbah Mashduqi Lasem, mulai dari sisi ketawadhu’an, wira’i, tawakkal dan kesemangatan dalam mengajar.

Suatu ketika ada santri yang sowan Mbah Mashduqi. Karena saking hormatnya, santri tersebut ingin mencium tangan Mbah Mashduqi bolak-balik. Namun yang mengejutkan beliau langsung menampik, dan berkata, “Awakmu marai ndeder racun nang atiku! (Apakah engkau ingin menumbuhkan bibit racun di hatiku)?” Kemudian beliau melanjutkan, “Mashduqi kuwi sopo?” Akhirnya santri tersebut mengurungkan niatnya.

Sebuah hal lumrah bagi santri yang pulang ke rumah karena kangen dengan kampung halaman, dan merupakan kesunnahan untuk membawa oleh-oleh pada ulama. Namun tidak semua oleh-oleh diterima oleh Mbah Mashduqi. Beliau sering bertanya pada santri yang membawa oleh-oleh, “Iki jajan tekan ngendi (Oleh-oleh ini dari mana)?” Jika si santri menjawab dari orangtuanya, maka Mbah Mashduqi berucap “Alhamdulillah…”

Namun jika oleh-olehnya bukan dari rumah, Mbah Mashduqi akan berkata, “Haram! Awakmu disangoni Bapak-Ibumu dingge sangu mondok, ora dingge nukokke jajan aku (Haram! Kamu dikasih uang Ayah-Ibumu untuk uang saku mondok, bukan untuk membelikanku oleh-oleh).”

Waktu mengaji Mbah Mashduqi sering bercerita, “Aku kuwi anake bakul beras, budal mondok adol pitik, tak tukokne rokok, tak dol nang santri Tremas (Aku hanyalah anak pedagang beras, pergi mondok dengan menjual ayam, kemudian uangnya aku belikan rokok, dan kujual ke santri Tremas).”

Dalam kesempatan lain, waktu beliau ngaji, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Spontan santri yang mengikuti ngaji semburat melarikan diri. Dengan tersenyum beliau berkata, “Santri, santri, koq wedi karo rohmate Pengeran.” Kemudian beliau dengan tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat pengajian dengan berpayungkan sajadah beliau.

Pernah suatu ketika Kiai Mukhtar Luthfi mengikuti pengajian Tafsir Jalalain yang dikhatamkan hanya sebulan Ramadhan saja. Di tengah penat yang mendera dan kantuk yang sangat, banyak santri yang tertidur. Tiba-tiba Mbah Mashduqi menggebrak meja, “Bruaaakkk… Setane mlayu, setane mlayu,” diiringi tawa renyah beliau dan santri yang gelagapan bangun tidur.

Begitu pula sewaktu Mbah Mashduqi menyemangati para santri agar tidak cepat puas dengan ilmu yang didapatkannya, beliau dawuh, “Nahwu-shorofmu kuwi opo? Urung enek sak kuku irengku (Ilmu nahwu-sharafmu seberapa sih? Belum ada secuil kuku hitamku).”

Sebagai ulama yang ahli fiqih, nahwu, sharaf, tasawwuf dan banyak fan lainnya, sangatlah wajar apabila waktu mengaji Mbah Mashduqi mengoreksi kitab yang dibacanya. Syahdan, waktu itu beliau sedang membaca kitab Siraj ath-Thalibin karangan Syaikh Ihsan Jampes Kediri, yang sekarang menjadi salah satu mata pelajaran di Universitas Al-Azhar Kairo. Mbah Mashduqi sering berkata, “Iki keliru!” sambil langsung mencoret lafadz kitab tersebut dengan pena yang beliau bawa.

Kabar ini terdengar oleh Mbah Mat Jipang, salah seorang ulama Kediri yang sangat terkenal kecerdasannya sehingga masyarakat sekitar menjulukinya dengan Mbah Jipang, kepanjangan dari ngaji gampang. Mendengar itu, Mbah Jipang langsung berangkat ke Pondok Lasem dengan menyamar sebagai orang desa. Kemudian beliau bertamu ke Ndalem Mbah Mashduqi.

Setelah dipersilakan masuk, terjadilah adu argumen yang sangat tajam dan lama. Saking lamanya, debat antara Mbah Mashduqi dan Mbah Mat Jipang terjadi beberapa hari. Istirahat hanya saat waktu shalat dan waktu istirahat malam. Singkat cerita setelah debat usai, Mbah Mashduqi mengakui keilmuan Mbah Jipang dan membenarkan Siraj ath-Thalibin yang disalahkannya.

Pada kesempatan lain, Mbah Mashduqi berkata pada santri yang mengaji, “Aku kalah karo wong Kediri.” Latar belakang Mbah Mashduqi menyalahkan beberapa lafadz kitab tersebut adalah karena kehati-hatian beliau. Terbukti, selang beberapa waktu beliau berkata, “Syariat kuwi koyok dalan nang pinggir kali, nek minggir-minggir iso gampang kecemplung, sing aman nang tengah wae (Syariat itu ibarat jalan yang berada di pinggiran sungai, kalau terlalu ke pinggir akan mudah tergelincir, yang aman berjalan di tengah saja).”

Kewafatan Mbah Mashduqi

Hadhratus Syaikh KH. Mashduqi al-Lasimi termasuk runtutan pewaris Tanah Jawa setelah kurun asy-Syaikh KH. Asnawi Banten yang dikenal sebagai simbol Tombak Mangku Mulyo (Quthbul Jawi). Simbol tersebut merupakan warisan dari asy-Syaikh Subakir, orang pertama pembabat Tanah Jawa.


Mbah Mashduqi wafat pada tahun 1975 M, tepatnya tanggal 17 Jumadil Akhir tahun 1396 H. dan disemayamkan di Pondok Pesantren al-Ishlah Lasem. Sejak tahun itu Ponpes al-Ishlah diteruskan oleh puteranya, Syaikh KH. Hakim Mashduqie, yang dilahirkan sekitar tahun 1942 M. Di usia yang sangat muda, 12 tahun, Syaikh Hakim sudah mengajarkan kitab Jam’ al-Jawami’. Di usia 17 tahun beliau menyusun karya tulis dalam fan ilmu tauhid berbentuk sya’ir yang dinamai “Nadzam Ibn al-Lasimiy”. Kemudian kitab tersebut disyarahi pada usia 40 tahun dan diberi nama “adz-Dzakhair al-Mufidah” yang sudah tersebar di berbagai penjuru negeri seperti Bangladesh, Mekkah dan Yaman. Karya tulis lainnya berjudul “Ghayat al-Maram fi Ahadits al-Ahkam” yang berhubungan dengan hadits-hadits Rasulullah Saw. (*IBJ)
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template