index




Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 3/Habis)
Delapan tahun saya dekat dengan Gus Dur. Saya punya rekaman 95 menit dengan Gus Dur, dan itu tidak dimiliki oleh ...More»

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)
Ramadhan kemarin, ketika saya diundang oleh Kick Andy, dibuatkan sebuah acara bertajuk ‘Dakwah Ramah’ dengan mera...More»

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (bag. 1)
Sewaktu awal saya mondok 6 tahun di Baitul Arqom al-Islami Ciparay Bandung, pada Kyai Ali Imron Faqih, adik iparnya...More»

HABIB LUTHFI BIN YAHYA; CARA RIDHA (MENERIMA) QADHA ALLAH SWT.
Bab ini sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan kita sebagai orang awam tur...More»
Latest Post
22 DAWUH KH. MAIMOEN ZUBAIR DI HARI SANTRI 22 OKTOBER
Written By MuslimMN on Selasa, 24 Oktober 2017 | 11.29
22 DAWUH KH. MAIMOEN ZUBAIR DI HARI SANTRI 22 OKTOBER
1. Ana urid, wa anta turid wallahu yaf’alu ma yurid. Kamu punya keinginan, saya juga punya keinginan, tapi yang berlaku adalah keinginan Allah.
2. Jangan (hanya) rame-rame Hari Santri, tapi bangunlah kesantrian.
3. Ayah saya Kiai Zubair bukan pengurus PBNU, tapi Wakil Rais Akbar KH. Faqih Maskumambang selalu didampingi ayah saya.
4. Ayah saya sejak kecil mengajarkan saya rasa nasionalisme. Jangan tinggalkan Islam, tapi hubbul wathon minal iman.
5. NU itu tersusun dari 12 huruf. Lambangnya bola dunia, pada wilayah Indonesia diiputi huruf “Dhad”, “Dhad” itu menunjukan kesempurnaan Rasulullah Saw., yaitu "أنا أفصح من نطق بالضاد" (ana afshahu man nathaqa bid-dhad), aku adalah orang yang paling fasih melafalkan huruf Dhad.
6. NU tidak bisa dipisahkan dengan negara. Resolusi Jihad di bulan Oktober membuahkan hasil Hari Pahlawan 10 November. Bila tidak ada Jihad 22 Oktober di Surabaya, maka November barangkali tidak dijadikan hari pahlawan.
7. Bulan Oktober bulan yang kesepuluh, seorang anak 10 tahun akan dipukul manakala ia tidak shalat.
8. Hari Santri 22 Oktober itu istimewa, sebab; 1) Rasulullah Saw. membangun masjid Quba dalam perjalanan hijrah juga pada bulan Oktober, yaitu 1 Oktober. Al-Quran menyebutnya “La masjidun ussisa ‘alat taqwa min awwali yaumin an taquma fih”, 2) Orang Quraisy kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, yaitu Rihlatasy-Syita. Syita itu ketika matahari berada di selatan katulistiwa, Oktober ada di dalamnya. Buruj sebelah utara ada 6: hamal, tsaur, jauza, sarathan, asad, dan sunbulah. Di selatan juga 6: mizan, aqrab, qaus, jady, dalw, dan hut.
9. Indonesia itu istimewa, hari kemerdekaannya 17 Agustus/8 Ramadhan, sementara Rasulullah diangkat menjadi Nabi 17 Ramadhan/8 Agustus, kali pertama menerima wahyu.
10. Tanggal 17 mengisyaratkan 17 rakaat dan 17 rukun shalat. Bulan Agustus atau bulan kedelapan mengisyaratkan dekatnya seorang hamba dengan Allah, maksudnya manakala dia sujud, ia meletakkan 7 anggota badannya, ditambah 1 hati yang tawajjuh ke hadirat Allah. Inilah posisi terbaik seorang hamba kepada Tuhannya. Hati ini bilamana baik maka baik pula seluruh amalnya, bila buruk buruk pula semuanya.
11. Angka delapan menjelaskan sebagai tolaknya neraka dan sebabnya masuk surga. Mbah Maimun menjelaskan tentang tujuh penolak neraka yang ada dalam anggota sujud meliputi: jidat, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki. “Tujuh ini sebagai penolak neraka, karena pintu neraka ada tujuh,” ujarnya. “Ditambah satu lagi, jika kita ingin masuk surga harus ingat sama Allah. Jadi jumlahnya genap delapan, karena delapan ini merupakan jumlah pintu surga.”
12. Tahun 45 itu bagaikan 5 jari, yang mana 4 menjadi pilar, dan akan sempurna dengan adanya 5. Makan bisa saja menggunakan jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking, namun akan sulit jika tidak ada jempolnya.
13. Angka 45, bahwa setiap orang Islam harus membaca syahadat empat kali, dan lima kali. Malam empat kali, Maghrib dan Isya. Sedangkan siang hari lima kali, Shubuh, Zhuhur, dan Ashar. “Jadi ini menunjukkan bahwa negara Islam itu tidak ada, yang ada adalah negara mayoritas Islam, yakni Indonesia.”
14. Ka’bah itu berdiri kokoh di atas 4 pilar. Indonesia pun mempunyai 4 pilar, yaitu PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar).
15. Dulunya Indonesia terkotak-kotak dengan negara-negara bagian, kini Indonesia bisa bersatu karena 4 hal: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, dan satu negara.
16. Indonesia akan menjadi baldatun thayyibatun bilamana memenuhi 4 hal, yaitu sandang, pangan, papan, dan kesehatan.
17. Yang wajib diikuti itu adalah Rasulullah, ditambah dengan 4 khalifahnya. 'Alaikum bisunnatiy wa sunnatil khulafa-ir rasyidin.
18. Pilar Ka’bah ada 4, karenanya khilafah juga ada 4, yaitu: Khulafaurrasyidin (4 sahabat), Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Selebihnya tidak ada khilafah.
19. Indonesia itu bukan negara Islam, tapi dia disukai banyak non-muslim; begitu juga Rasulullah, beliau Muslim tapi disukai kelahirannya oleh Abu Lahab. Seorang Raja dari Mesir yang non-muslim, karena suka kepada Nabi, ia menghadiahi putri Mesir yang bernama Mariatul Qibtiyah kepada beliau untuk dijadikan sebagai istri.
20. Rasulullah itu keturunan Nabi Ibrahim, Nabi Ibrahim aslinya bukan orang Makkah. Nabi Ismail ibunya (Hajar) dari Mesir, namun menetap di Makkah. Maka Rasulullah mencintai Arab sebagai negaranya karena beliau orang Arab.
21. Maka kita orang Indonesia juga wajib mencintai negara kita. Hubbul wathon minal iman. Hal ini seakan terulang kembali, di jaman Sunan Ampel, Ubilai Khan seorang tokoh non-muslim, juga mencintai Islam. Begitu juga Holago Khan. Dan sekarang di Indonesia banyak non-muslim yang mencintai Islam.
22. Orang Arab itu budaya aslinya adalah jahalah (kebodohan), maskanah (kemiskinan), dan ummiyah (buta huruf), maka kehadiran Rasulullah di tengah-tengah mereka adalah membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Pesan di atas disampaikan Mbah Maimoen Zubair dalam acara malam peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2017 di UIN Walisongo Semarang. Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Ponpes Fadlul Fadholan dengan Ma'had al-Jami'ah UIN Walisongo, atas inisiatif Dr. KH. Fadholan Musyaffa, Lc, MA.
Ada banyak yang disampaikan Mbah Maimoen, beliau menjelaskan tentang Hari Santri, ke-Indonesiaan, Taurat, Injil, al-Quran, sejarah bangsa-bangsa, sejarah Islam di Indonesia dan lain sebagainya. Yang paling penting adalah, Hari santri bukan cuma sekedar perayaan, tapi bagaimana menumbuhkan rasa kesantrian pada pribadi kita, seperti tawadhu, rajin ibadah, hormat pada yang tua, sederhana, dan sifat-sifat terpuji lainnya.
Alhamdulillah, pada malam itu saya berkesempatan meminta ijin mempelajari kitab yang beliau tulis, al-'Ulama al-Mujaddidun Rahimahumullah wa Majalu Tajdidihim wa Ijtihadihim dan Nushus al-Akhyar fi ash-Shaumi wa al-Ifthar. Beliau berpesan, "Walau sudah bisa menghisab, jangan kamu tinggalkan rukyah. Karena rukyah itu qath'i, hisab itu zhanni. Zhanni tidak bisa mengalahkan yang qath'i". "Injeh Mbah, sami'na wa atha'na", jawab saya.
Wallahu a'lam bish-showab. Mohon maaf bilamana terdapat kesalahan dalam penulisan, baik isi maupun redaksi. (Ditulis oleh: Nur Hidayatullah Yuzarsif, Dosen Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Walisongo | Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat MDS Rijalul Ansor).
Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 3/Habis)
Written By MuslimMN on Selasa, 26 September 2017 | 00.17
Delapan tahun saya dekat dengan Gus Dur. Saya punya rekaman 95 menit dengan Gus Dur, dan itu tidak dimiliki oleh yang lain. Saat itu tiba-tiba Gus Dur minta dibawakan tim media saya. Gus Dur hanya memakai celana pendek sambil tiduran di ruang tamu minta direkam. “Pak sudah siap,” kata saya.
“Ya sudah,” jawab Gus Dur.
“Mohon Bapak pakai sarung,” protesku karena tak pantaslah Gus Dur sebagai narasumber hanya memakai celana pendek.
Kata Gus Dur, “Lhoh, kan sumber utamanya Anda. Anda yang harus rapih. Saya hanya mendampingi.”
Akhirnya saya minta Mas Munif, menantunya Mbah Abdul Jalil Mustaqim, untuk mengambilkan sarung. Lalu sarung itu diberikan ke Gus Dur dan hanya ditutupkan di atas celana. 90 menit tiba-tiba Gus Dur cerita soal kuliah dan belajar beliau.
Gus Dur itu sosok pendendam yang baik. Dulu pernah saya di pesawat bersama Gus Dur, saya ijin, “Mohon maaf, Nurcholis Majid mau ke rumah saya di Jatiwangi.”
“Iya, dia mau jadi presiden. Tapi nggak mungkin,” jawab Gus Dur.
“Tapi Cak Nur bilang Pak,” kata saya. “Apa sih yang salah dengan saya? Gus Dur itu baca satu ayat dua ayat, tapi terkenal dan diaku jadi wali. Tapi saya padahal sudah menyebutkan ayat, surat, tafsir dan referensinya masih saja disalahpahami.” Kata Cak Nur yang saya tirukan.
Gus Dur hanya diam, sama sekali tidak bertanya kepada saya. Hingga kemudian saat Gus Dur bertemu saya di kediaman Tuan Guru Turmudzi Lombok NTB, beliau tiba-tiba ceramah dengan membaca 10 ayat yang panjang-panjang sekaligus menyebutkan ayat serta suratnya. Juga tiba-tiba Gus Dur membaca qasidah-qasidah dan puisi-puisi lama (berbahasa Arab) yang sangat panjang, beserta keterangannya lengkap. Waktu itu saya tidak tahu ada apa dengan Gus Dur yang tiba-tiba seperti itu.
Pas waktu pulang, saat di pesawat Gus Dur tiba-tiba memegang tangan saya dan berkata, “Anda dengerin ceramah saya di Lombok?”
“Dengar Pak!” jawabku.
“Catat, saya lebih hebat dari Cak Nur!”
Waktu itulah saya baru sadar saat di pesawat sebelumnya beliau hanya diam ternyata karena tidak terima dengan perkataan Nurcholis Majid yang saya sampaikan ke beliau. Gus Dur benar-benar sosok pendendam yang baik.
Saya belajar dari Gus Dur juga bahwa jadi manusia itu sangat berat. Saya teringat dan waktu itu saya baru sadar, ternyata shalatnya Gus Dur itu setelah wudhu kemudian duduk menghadap kiblat. Beliau juga mendawamkan wirid Ratibul Haddad menjelang akhir hayatnya.
Saya juga teringat saat Gus Dur dicium tangannya oleh Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa. Waktu itu saya dan Gus Dur sedang di bandara. Tiba-tiba Habib Mundzir al-Musawa yang hendak dakwah ke Papua menghampiri dan menciumi tangan Gus Dur seraya bersimpuh di hadapan Gus Dur. Lalu saya tanya, “Ada apa Bib?”
“Kalau wali ya Gus Dur, Kang Maman.” Jawab Habib Mundzir.
Tiba-tiba Gus Dur bertanya kepada saya, “Itu siapa?”
“Habib Mundzir, Pak,” jawab saya.
“Kalau ingin tahu wali yang muda ya Habib Mundzir. Tapi usianya tidak panjang,” kata Gus Dur kemudian.
Gus Dur sudah menyebut Habib Mundzir al-Musawa akan meninggal dunia dalam usia yang sangat muda.
Gus Dur terkadang kalau marah itu menarik. Tiba-tiba saya disuruh bacain surat kabar, ada beberapa kiai yang menolak Gus Dur. Kemudian Gus Dur berkata, “Apa salah saya yah Kang Maman? Padahal saya tidak pernah berbuat salah kepada kiai-kiai itu.”
Dalam masalah uang, saya pernah ceramah bareng Gus Dur. Waktu itu Gus Dur dapat amplop 50 juta, saya 5 juta. Ternyata punya saya yang 5 juta itu pun diminta Gus Dur,“Sini yang 5 juta Kang Maman!”
Lalu tiba-tiba oleh Gus Dur uang itu dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, dan dimasukkan ke dalam amplop. Gus Dur kemudian meminta saya untuk menuliskan satu persatu nama-nama kiai di amplop itu sesuai yang diucapkan Gus Dur; kiai anu dari Kalimantan, kiai anu dari Sulawesi, kiai anu dari perbatasan Sulawesi, dst.
Jadi Gus Dur tidak pernah punya dompet dan uang pun kadang-kadang selalu habis untuk dibagi-bagikan. Makanya sampai sekarang makam yang paling ramai dikunjungi orang Indonesia adalah makamnya Gus Dur. Gus Dur itu manusia, yang mampu memanusiakan manusia.
“Kenapa sewaktu Muktamar di Solo saya diusir pakai anjing?” Gerutu Gus Dur tidak terima.
Tapi saat turun ke bawah di Bandara Adi Sucipto, ada wartawan yang bertanya, “Gus, itu ada beberapa kiai yang menolak Anda.”
Cara bertahan Gus Dur menarik. Gus Dur tiba-tiba tersenyum dan menjawab, “Ah kata siapa? itu yang bilang paling tukang becak pakai sorban.”
Gus Dur mengijazahkan kepada saya di detik-detik terakhirnya, tanggal 7 Desember 2009, Ayat Kursi. Di kalimat “Wala Ya-uduhu dst...” dibaca 7 kali. Saya tanya, “Untuk apa Pak?”
“Untuk penjagaan saja. Indonesia akan mengalami masa-masa sulit, gonjang-ganjing, sampai tahun 2030-an.” Jawab Gus Dur
*Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).
Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)
Written By MuslimMN on Jumat, 22 September 2017 | 06.45
Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (bag. 1)
Written By MuslimMN on Kamis, 21 September 2017 | 02.27
HABIB LUTHFI BIN YAHYA; CARA RIDHA (MENERIMA) QADHA ALLAH SWT.
Written By MuslimMN on Sabtu, 25 Februari 2017 | 12.13
Bab ini
sebenarnya sedang menerangkan tentang perjalanan ahwal para wali Allah. Dan
kita sebagai orang awam turut belajar menerima ridha apa yang dikehendaki Allah
Swt. Tidak berarti ridha meninggalkan ikhtiar. Ridha tetap di dalam perjalanan
ikhtiar. Misalnya dalam hari ini atau kapanpun, kita diberi oleh Allah sebuah kesulitan
dalam mencari rizki. Karena timbul sebab-musabbab orang bisa menerima bukan
masalah pribadinya saja, tapi karena ditangisi atau takut disalahkan oleh
keluarga terutama istri, ibu anak-anak yang melihat keberadaan para anak-anak dalam
segala kekurangannya untuk hari itu khususnya.
Protes selalu
dilontarkan, bukan karena tidak menerima qadha tetapi karena sebab melihat
putra-putrinya yang mana juga belum siap untuk menerima qadha (kehendak) Allah
Swt. Bagi seorang suami menitikberatkan, “Alhamdulillah kita mendapat rizki
hari ini walaupun kurang, cukuplah asal anak-anak kita tidak kelaparan”,
dari hitungan segi materiil. Karena keberadaan mencari sesuatu yang wajib untuk
dijadikan nafkah keluarga maka pasang surut itu pasti ada. Surut terkadang
sampai menipis (kritis), sehingga kita hampir saja mengeluh mendapatkan
kesukaran ketika mencari rizki. Ini satu contoh, bukan sedang menceritakan
tentang penyakit atau cobaan keluarga karena terlalu tinggi. Ini saja yang
kaitannya dengan duniawi, hampir kita semuanya tidak ingin mengalami terkena
gelombang tersebut.
Kita dididik
untuk ‘menerima ridha’. Kalimat ‘menerima ridha’ sebetulnya untuk menjernihkan
hati kita dahulu supaya setan tidak masuk ke hati kita, lebih-lebih nafsu. Terus
akal kita juga berputar, “Padahal saya tadi demikian-demikian, kok hebat yah
tidak laku, apa sih sebabnya?” Untuk beberapa hari, maaf-maaf saja yang
akan saya ucapkan karena sebetulnya saya tidak ada niat untuk menyinggung, ‘karena
tidak ada pengajian yang menyinggung’. Di kitab itu sudah ada garis-garisnya,
ketentuan-ketentuannya. Tapi maklum saja kalau kaki atau tangan ada bengkaknya
biasanya kalau kena obat perih, padahal itu obat.
Maksudnya,
karena tidak didasari ridha maka yang muncul adalah suudzan, perasangka dulu
yang akan muncul. Misal saya punya dagangan. Toko saya sudah dibuka dari tadi, anehnya
beberapa hari ini orang kok lewat saja seolah-olah di situ tidak ada toko atau
barang dagangan saya. Satu kali masih belum kena goyangan hatinya. Dua kali
masih lumayan. Tiga kali mulai datang ke kiai. Kalau tidak datang ke kiai
datangnya ke dukun. Kalau ke kiai masih Alhamdulillah. Kalau dukunnya benar
masih baik, seumpanya benar.
Begitu datang ke
kiai, “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam, silakan. Dari mana Bapak?” jawab
kiainya. “Dari sini…” jawab tamu. “Alhamdulillah,” kalau orang
shaleh, “Hari ini saya gembira Pak. Berarti saya menambah persaudaraan ‘al-Mu’min
akhu al-Mu’min al-Muslim akhu al-Muslim’. Kita punya kenalan baru saudara
Muslim, Alhamdulillah. Semoga pertemuan perkenalan ini jangan sampai membawa
mafsadat atau kerugian yang membawa dalam dunia ini sampai akhirat nanti. Semoga
keukhuwahan kita terjalan sampai dunia-akhirat.”
“Kenapa begitu
Kiai?” tanya tamu. “Iya, kan kelak di kubur ditanya setelah man
Rabbuka waman Nabiyyuka wama qiblatuka sampai waman ikhwanuka. Kan kita ditanya
sama Allah Swt. dengan melalui malaikatNya Munkar dan Nakir, ‘man ikhwanuka?
siapa teman-temanmu?’. Pasti kita akan menjawab ‘ikhwaniy mu’minin wal mu’minat
wal muslimina wal muslimat’.”
Cara Menggalang Persaudaraan dari Hidup sampai Mati
Orang yang
tulus, dalam kubur adalah yang mampu untuk menjawabnya, pasti akan mudah
menjawabnya. Tapi kalau di dunianya ini tidak menggalang keukhuawahan/persaudaraan,
kita sama kita tidak akur karena sesuatu dan lain-lainnya, sehingga banyak dari
teman-teman menjauhi diri kita. Maka dari sebab itu ketika kita ditanya “Man
ikhwanuka”, muamalah (perbuatan) tadilah yang akan menjawab. Tidak mampu akan
menjawabnya, sebab menjawabnya sesuai jawaban ketika hidup di dunianya. Tapi kalau
orang yang lapang dada, banyak persaudaraan, banyak keukhuwahan, pasti akan
menjawab ‘ikhwaniy’ dengan bangganya karena persaudaraan itu yang muncul. Dengan
bangga dan senang akan menjawab, “Saudaraku adalah mu’min wal mu’minat,
muslimin wal muslimat”.
Bahkan persaudaraan
ini di dalam kematian, dimanapun saja, biasanya masih ada. Misal diantaranya dilontarkan
oleh ahli waris, kalau tidak wakilnya, atau salah satu ulama untuk menyaksikan,
“Ketahuilah para saudara-saudara, ini mayit baik ya?” Spontan dengan
kelapangan hati akan menjawab, “Baik” karena merasa kehilangan saudara,
merasa teman yang baik hilang, dan orang itu tidak pernah suudzan. Walaupun terkadang
pernah menyakiti, tapi tidak pernah melihat kejelekannya, selalu melihat
kebaikannya. Tapi jarang, insyaAllah ada.
Padahal ketika
kita menyatakan “Baik”, logika bernalar, “Kita tahu perbuatan si A,
kejelekannya kita tahu, sering melanggar apa yang dilarang oleh Allah Swt., seringkali
kesurupan botol (isinya/miras), kita tahu bukan katanya. Tapi apapun beliau
sudah meninggal, saudara kita ini, kita menyatakan baik.” Baik di sini
artinya ‘ma’fu’, memaafkan. Dengan itu akan meringankan beban di alam
kuburnya terhadap seseorang yang meninggal. Dan ketika kita sadari telah
menyatakan baik, akan menutup semua buku-buku hitam yang dimiliki oleh yang
meninggal. Tutup buku, selesai, finish. Kita hanya mengatakan, “Allah
yaghfir lahu, Allah yarhamuhu”.
Kalau mendengar
orang yang meninggal tadi tidak baik, kita jawab, “Allah yaghfir lahu, Allah
yarhamuhu”. Karena kita sudah menyatakan baik. Sudah tutup buku. Tapi terkadang
kita kurang bijaksana ketika seseorang meninggalkan anaknya atau dalam majelis
kita lupa menceritakan orang atau kebusukan orang yang sudah meninggal padahal
sudah tutup buku kita menyatakan baik, tidak ada realisasinya. Kalau si A ini yang
meninggal punya anak lelaki atau perempuan, paling tidak kalau kita sudah
berani menyatakan baik, akan menolong regerenasi atau keturunannya.
Anaknya cantik
atau ganteng, kebetulan ada yang mencintainya. Yang namanya orang lelaki atau
perempuan yang normal ingin dibuai, disayang, disanjung, wajar namanya manusia
normal. Ada seseorang yang mendengar, yang terkadang shahibul usil, datang dari
rumah hanya ingin tahu. Tanya, “Nak, benar kamu atau bapaknya ini?” “Benar.”
“Saya dengar katanya kamu mau meminang si A atau si Fulanah?” “Iya, doakan
saja.” “Apa tidak ada perempuan lain!?” Nah inilah, padahal dia yang pernah
menyatakan baik tapi tetap masih mengungkit alamarhum atau yang sudah meninggal,
masih dibuka sehingga mengorbankan kepada anak perempuannya.
Tapi bagi orang
yang bijaksana menjawabnya ketika datang, “Mas, saya dengar katanya kamu
anak lelaki yang ingin meminang si A.” “Iya benar, kenapa?” “Alhamdulillah,
syukur, tolong titip, dibina dan dididik. Udahlah itu saja. Terimakasih sekali
kalau kamu sampai ke sana, berarti luar biasa. Hebat kalau begitu.” Hilanglah
shahibul usil kalau bisa begitu.
Ada lagi
anaknya terkadang di pesantren. Karena ibunya baik, ibunya tidak mau anaknya meniru
bapaknya (yang sudah meninggal) maka dipesantrenkan sambil sekaloh. Eh datang
ke tempat kasepuhan atau yang pantas dituakan, begitu datang dia ditanya, “Lho
dari mana Nak, kamu kok lama tidak kelihatan?” “Njeh Pak, saya sekarang di pesantren
dan sekolah.” “Bagus, luar biasa. Ini kampung memerlukan generasi muda seperti
kalian untuk meneruskan. Bapak kan sudah tua, kan yang meneruskan nanti di
pundak kalian. Jangan kayak Bapakmu!” Ini namanya sudah diangkat lalu dibanting.
Padahal orang itu ketika itu (meninggalnya si bapak anak tadi) telah menyatakan
baik.
Orang yang
bijak jawabnya lain, “Di mana Nak? Saya dengar sekarang kamu di pesantren dan
meneruskan sekolah di situ.” “Iya Pak betul, doanya.” “Jangan khawatir! Saya
bangga, ingin mempunyai anak seperti kamu.” “Lho kenapa Pak?” “Karena
kamu anak yang bisa mengangkat nama baik orangtua. Saya ingin kamu teruskan dan
teruskan, sebab di kampung ini memerlukan orang-orang atau para pemuda seperti
kalian.” Itulah hebatnya, jawabannya mantap.
Ulama Seharusnya Menjadi Penenang
Nah ulama-ulama
ini harusnya bisa menjadi penenang. Maaf, jangan menjadi orang yang suka
menakut-nakuti. Ada orang datang (membawa) masalah, perut anaknya yang sudah
besar. Mending kalau hamil, ternyata bukan perempuan melainkan anak laki-laki. Matanya
sudah coklat, ini liver, hepatitis. Begitu datang, “Kiai, minta barokahnya supaya
Allah memberikan kesehatan kepada saya.” “Sakitnya apa kata dokter?” “Katanya
liver, hepatitis A, B atau C.” “Maka dari itu kamu makannya yang benar. Jangan makan
melulu. Ini nih akibtanya, kena luh liver! Udah ingat mati baru datang ke kiai!”
La ilaha illallah, ini mau cari penenang malah dimarahi.
Tapi orang (ulama)
yang bijak lain lagi, “Kenapa kamu kok perutnya besar?” “Kata dokter
hepatitis, Kiai. Obatnya sulit.” “Siapa bilang? Obat itu bukan Tuhan, penyakit
bukan Tuhan, sembuh pun bukan Tuhan. Obat mencari sarana Allah supaya memberi
kesembuhan, sebagaimana orang makan mencari kenyang, orang minum mencari
pelepas dahaga. Kalau seumpanya beri’tiqad penyakit itu mematikan, itu syirik. Karena
penyakit itu bukan Tuhan.” Bisa menghibur, karena yang datang adalah
saudara kami saudara mu’min-muslim.
Kalau tidak,
secara manusiawi kalau bukan Muslim pun harus kita besarkan hatinya. Karena mereka
menanggung istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang tidak berdosa. Pandangannya
harus luas. Itu diantaranya. “Sudahlah, insyaAllah akan ada obatnya. Yang besar
hati. Tawakkal kepada Allah Swt. Jangan tinggal ikhtiar. Saya doakan insyaAllah
kamu sembuh.”
Meraup Hikmah dari Ujian yang Datang
Begitu juga
seperti si pedagang yang datang kepada ulama atau orang yang shaleh. “Masa
orang yang lewat tidak bisa lihat?” “Iya, kayak tidak wajar Kiai.” “Lha tidak
wajarnya bagaimana, apa orang itu kalau lewat tidak punya mata?” “Ya punya
mata, Kiai.” “Lha iya, jangan begitu, jangan suudzan dulu. Memang belum
rizkinya, jangan berperasangka buruk. Saya doakan. Ini dibaca munajat kepada
Allah, insyaAllah nanti Allah Swt. akan membuka yang besar usahanya. Terima kehendak
Allah nanti kamu dibuka.” Bersih hatinya.
Tapi kalau
datangnya (kepada orang yang) salah, “Menurut hitungan saya ada yang membuat.
Wajar!” Ini datang husnudzannya untuk mengurangi dosa malah tambah dosa. Akhirnya
si setan kulonuwun, tanpa salam masuk saja. Bayangannya muncul,‘khayaliyah’
yang dibawa nafsu dan setan.
Tapi kalau
datangnya kepada orang yang shaleh maka jawabannya seperti di atas tadi, “Sudahlah,
mesin kendaraan itu kalau jalan terus tidak pernah dikir atau turun mesin, lambat
atau cepat akan rusak. Makanya harus turun mesin dulu supaya diperbaiki menjadi
baik, olinya dan lain sebagainya terkontrol dengan baik lalu dipasangkan lagi
mesinnya. Mungkin sudah mendapat hasil yang baik maka nanti jalannya akan baik.
Mari kita sekarang ini masih turun mesin dalam bidang ekonomi, insyaAllah
mesinnya akan baik. Amin.”
Ridha itu di
situ. Kalau kita menerima ridha justeru kita ini lapang, lapang sekali, bersih
dari perasangka-perasangka yang kurang terpuji. Itulah diantaranya makna ridha.
Kalau para auliya, aduuh bukan pangkat kita. “Allahummaj’alna minhum,” semoga
kita menjadi orang yang seperti mereka (para wali Allah). Dan Allah Swt. memberikan
kekuatan. Amin.
(Syaroni As-Samfuriy. Ditranskrip dari
penjelasan Maulana Habib M. Luthfi bin Yahya kitab Jami’ al-Ushul fi
al-Auliya’ bab Ridha (Menerima) terhadap Qadha Allah Swt. pada Pengajian
Jum’at Kliwon Kanzus Sholawat Pekalongan 24 Februari 2017).
Video dokumentasi bisa dilihat dan didownload di sini: https://youtu.be/2q7eN59Php8
SEBUAH PENULISAN SEJARAH YANG HARUS DILURUSKAN
Written By MuslimMN on Kamis, 23 Februari 2017 | 13.03
Banyak sekali penulisan sejarah yang tidak tepat yang harus diluruskan, baik itu yang berkaitan dengan sejarah Nabi, sahabat maupun sejarah para ulama, auliya dan orang-orang shaleh. Hal itu terjadi karena mungkin keterbatasan pustaka penulisnya atau juga sumber yang tidak akurat, atau juga mungkin kurangnya pengetahuan si penulisnya.
Salah satunya adalah penulisan sejarah tentang menyesuaikan arah kiblat pada pembangunan Masjid Jami' Pekojan Jakarta Kota, yang terjadi antara al-Allamah Mufti Batafia (Betawi) as-Sayyid al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya Jati Petamburan Jakarta dan al-Allamah Syaikh Nawawi bin Umar al-Bantani, yang ditulis dengan berbagai judul, tema dan redaksi, seperti cerita yang dinukil singkat dalam buku "Pujangga Islam, Syaikh Nawawi Al-Bantani", karya Sayyid Chaidar,1978 yang tertulis dengan judul "Teladan Tawadhu' antara Kiai dan Habib" dan seterusnya, dimana di dalamnya penuh dengan kejanggalan dan berbagai kesalahan yang harus diluruskan.
Begitu pula dengan buku yang ditulis oleh Kiai Abdul Aziz dari Lasem kalau tidak salah, seorang pengarang sejarah tentang riwayat Syaikh Nawawi Banten, pada halaman 100 cetakan lama, bab masalah Kiblat Masjid Pekojan, tentang karomah Syaikh Nawawi Banten. Dimana diterangkan di sana bahwa Sayyid Utsman ketika membuat Masjid Pekojan dinyatakan kiblatnya kurang pas. Dalam buku tersebut juga diterangkan bahwa Sayyid Ustman sudah berusia 70 tahun, sedangkan Syaikh Nawawi masih anak-anak, artinya belum mencapi umur 15 tahun.
Oleh karena itu, kami mencoba untuk meluruskan sejarah tersebut dengan data yang sangat valid yang kami peroleh secara langsung dari pakar sejarah dan guru besar kita Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan.
Dalam kitab “Bughyat al-Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dh al-Aimmah al-Muta-akhkhirin" sebuah kitab fiqh yang menghimpunkan ringkas dari berbagai fatwa para ulama madzhab Syafi’i yang muta-akhirin, karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba ‘Alawi al-Hadhrami (1250-1320), seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkenal dan Mufti negeri Hadhramaut, Yaman pada zamannya, bab pertama, halaman 7-9, pembahasan tentang kedudukan masalah "Ijtihad wa al-ifta wa at-taqlid". Kita dapat baca di sana diterangkan oleh Sayyid Muhammad al-Qurthubi dari Imam asy-Syafi'i Ra. bahwa seorang mufti tidak boleh bermain-main (lahwun) di dalam memberikan fatwa.
Sepertihalnya al-Allamah as-Sayyid al-Habib Utsman bin Yahya, beliau disamping seorang Mufti besar yang memiliki gelar al-Allamah yang berhak menyandang kedudukan Mufti, beliau juga adalah seorang Mursyid Kamil (sempurna) dalam Thariqah Alawiyyah dan Qadiriyyah Naqsabandiyyah, juga beliau adalah seorang Wali Quthub di zamanya, yang dalam ilmu ma'rifat serta kekasyafannya diakui oleh jumhur ulama, dimana fatwanya wajib ditaati sesuai keterangan dalam kitab Bughyat al-Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dh al-Aimmah al-Muta-akhkhirin.
Al-Allamah as-Sayyid al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya al-Alawi lahir di Betawi pada tahun 1238 H. Pada usia 17 tahun setelah mendapat pendidikan secara langsung dari kakeknya, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Ahmad al-Misri, hingga beliau menjadi seorang hafidzul Qur'an dan menguasai beberapa kitab tafsir.
Lalu di usia 17 tahun tersebut beliau berangkat ke Mekkah al-Mukarromah dan di sana beliau juga berziarah kepada datuknya, Baginda Nabi Saw. di Madinah al-Munawwaroh. Di Mekkah Habib Utsman bin Yahya mengambil ilmu kepada ayahnya yaitu Sayyid Abdullah bin Aqil bin Yahya dan pamannya yang menjadi ulama besar di Haramain (Mekkah dan Madinah).
Setelah 4 tahun, beliau berangkat ke Negeri Hadhramaut Yaman pada usia 21 tahun. Di sana beliau belajar kepada para ulama yang sangat mahir dalam ilmu agama dan tinggi maqam kewaliannya seperti diantaranya kepada:
1. Al-Imam al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba'alawi, yang wafat pada tahun 1273 H. Pengarang kitab Sullamuttaufiq yang disyarahi oleh Syaikh Nawawi Banten.
2. Al-Habib Hasan bin Shaleh al-Bahr, seorang wali Quthbul Ghauts di jamanya yang wafat pada tahun 1273 H.
3. Al-Imam al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, seorang mufti Hadhramaut Yaman yang sangat terkenal ilmu dan maqam (kedudukan) kewaliannya. Pengarang kitab al-Fatawa yang sangat masyhur dan juga pengarang kitab Safinatunnaja atau Safinatush Shalah, yang juga disyarahi oleh Syaikh Nawawi Banten, serta banyak lagi karangan kitabnya, yang wafat pada tahun 1265 H.
4. Al-Habib Abdullah bin Husain Balfaqih.
5. Al-Habib Abdullah bin Alwi bin Syihab.
6. Al-Habib Abdullah bin Abubakar Maula Buthaihah.
7. Syaikh Abdullah bin Ahmad Basaudan.
8. Syaikh Abdullah bin Sa'ad bin Sumair al-Hadhrami.
Dan beberapa lagi dari para ulama di Tarim khususnya. Juga beliau mengembara untuk mengambil ilmu serta berziarah ke Mesir, Istanbul Turki, Aljazair, Maroko dan lain-lain.
Al-Allamah as-Sayyid al-Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya sewaktu di Hadhramaut dinikahkan dengan seorang syarifah dari marga Maulakhelah Ba 'Alawi. Dan setelah beberapa tahun baru beliau kembali ke Jawa terus diangkat menjadi Mufti menggantikan Syaikh Abdurrahman dari Padang Sumatra yang tinggal di Masjid Pekojan sebelum Sayyid Utsman bin Aqil bin Yahya yang akhirnya Sayyid Utsman dijuluki "Mufti Betawi". Habib Utsman bin Yahya wafat pada tahun 1333 H bertepatan dengan tahun 1912 M.
Coba kita lihat, Sayyid Utsman bin Yahya dilahirkan pada 1238 H sedangkan Syaikh Nawawi Banten dilahirkan pada tahun 1230 H, terpaut tujuh tahun. Usia Sayyid Utsman bin Yahya lebih muda dari Syaikh Nawawi Banten, sedangkan Syaikh Nawawi Banten di usia 15 tahun sudah berangkat ke Mekkah sampai wafat tidak pernah pulang ke Jawa. Seandainya dalam peristiwa Masjid Pekojan Syaikh Nawawi Banten berusia 14 tahun, maka usia Sayyid Utsman bin Yahya adalah 7 tahun, lalu apakah perlu ditambah 0 (nol) supaya jadi 70 tahun?
Cerita ini seperti ada:
1. Sejarah Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. pada perang Khandaq ada sejarah yang menerangkan bahwa dalam peristiwa perang Khandaq tersebut Sayyidina Ali bin Abi Thalib berusia 8 tahun. Maka berarti saat menggantikan Baginda Nabi Saw. berumur 1 tahun, apakah demikian?
2. Perang Khandaq terjadi 7 tahun setelah hijrah dan usia Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah 28 tahun, akan tetapi ada yang berpendapat usia 8 tahun. Lantas angka '2'-nya ke mana?
Maaf ini bukan pembelaan, oleh karena itu, mari kalau membaca sejarah yang jeli dan teliti! Maaf sumber sejarah Anda dari mana?
Sepertinya Anda membaca sejarah yang ditulis oleh Kiai Abdul Aziz. Yang saya tahu beliau tidak bertanya kepada keluarga Sayyid Utsman bin Yahya, tapi hanya berfoto, berpose di makam Sayyid Utsman bin Yahya di Tanah Abang dahulu. "Dan ketika pengarang sejarah tersebut (Kiai Abdul Aziz) masih hidup beberapa kali saya ingin menemui beliau," tutur Maulana Habib Luthfi bin Yahya, "untuk memberikan keterangan yang valid, tapi tidak pernah mendapatkan jawaban. Hanya melalui orang lain yaitu Alm. Gus Dur dan Alm. KH. Fuad Hasyim Buntet Cirebon dengan jawaban 'Nanti akan diralat'."
Wallahu a'lam. Mohon maaf barangkali ada penyebutan nama atau apa saja yang salah. Kami sadur dari al-Mukarram Ustadz Abu Muhammad Syamlawi Pemalang dari dawuh langsung Maulana habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. (Habib Muhdor bin Ahmad Assegaf, Padepokan sang guru malam Jum'at Kliwon dini hari 24/02/2017. Semoga bermanfaat).
http://www.muslimedianews.com/2017/02/sebuah-penulisan-sejarah-yang-harus.html
Langganan:
Postingan (Atom)