Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Zionis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zionis. Tampilkan semua postingan

DR. ZAKIR NAIK, SIAPA DAN BAGAIMANA AJARANNYA?

Written By MuslimMN on Minggu, 10 April 2016 | 18.29


Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan nama Zakir Naik lahir di India pada 18 Oktober 1965. Disebutkan dalam berbagai literatur, ia penah kuliah kedokteran di Mumbai, India. Para pengagumnya menyebut ia sebagai sosok “ulama” terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Bisa dikatakan Zakir Naik ini besar melalui Internet, seperti website dan video Youtube yang sengaja disebarluaskan di Indonesia.

Sebutan “ulama” yang disandang Zakir Naik tentu dipertanyakan. Karena dari mana ia belajar ilmu agama Islam pun tidak jelas. Tidak pernah disebutkan siapa gurunya, sama seperti sosok Ustadz Ahmad Sukina, pemimpin Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Solo. Tidak akan Anda temukan dari mana ia belajar agama meski dalam website resminya seperti IRF. Tidak diketahui dari mana ia belajar agama. Yang ada, klaim Zakir Naik yang menyebut dirinya sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat.

Belum lagi bacaan al-Qurannya yang tidak beraturan. Siapa yang mengajarinya al-Quran juga tidak jelas karena aksen Arab dan al-Qurannya benar-benar sudah keluar dari makhraj, tidak bagus, dan tidak memenuhi kaidah ilmu tajwid. Di mana dan dengan ulama siapa Zakir Naik belajar tafsir, hadits, fiqih, syariah, bahasa Arab, dan lain sebagainya juga tidak pernah diketahui. Tiba-tiba sosok ini muncul bak seorang ulama besar yang faham betul tentang Islam, memahami tafsir, memahami hadits, memahami syariat, dan lain sebagainya.

Dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan bahwa dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia seringkali mengeluarkan “fatwa” perihal masalah agama Islam yang bukan bidangnya. Ia pun tidak ragu-ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab Fiqih dan Hadits. Dikatakan Zakir Naik bahwa para Imam Fiqih dan Hadits itu tidak memiliki informasi (ilmu) yang lengkap saat mereka (para Imam Fiqih dan Hadits) memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam. Bahkan Zakir Naik menyatakan bahwa menerima dan mengikuti para Imam tersebut sebagai guru dalam Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid.

Dikatakan Zakir Naik terpengaruh oleh Syaikh Ahmad Deedat saat ia belajar ilmu kedokteran. Syaikh Ahmad Deedat sendiri adalah seorang ulama sufi Ahlussunnah wal Jama’ah dari Afrika Selatan (1918-2005) yang konsen di bidang perbandingan agama. Dari sini menunjukan bahwa Zakir Naik mulai membaca dan mengkaji buku-buku agama Islam saat ia berusia sekitar 22 tahun atau saat kuliah di Kedokteran sekitar tahun 1987.

Hebatnya, hanya dalam waktu 3 tahun (1987-1990) setelah membaca buku pelajaran agama Islam secara otodidak, dan ini termasuk aktivitasnya sebagai mahasiswa kedokteran dengan kegiatannya yang padat seperti mempelajari buku-buku kedokteran, ujian, kepaniteraan klinik, dll, ia telah mempelajari segala sesuatu tentang Islam dan mendirikan Islamic Research Foundation (IRF) pada Februari 1991 dan mulai berdakwah secara penuh. Sungguh aneh bin ajaib, cukup berbekal belajar buku pelajaran agama Islam dalam 3 tahun sambil kuliah kedokteran yang begitu sibuknya, tiba-tiba keluar sebagai “ulama”, bahkan menyalahkan para ulama Imam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lebih aneh lagi, dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan dirinya telah mulai berdakwah sebelum IRF didirikan. Hal ini menunjukan Zakir Naik mempunyai kemampuan luar biasa dalam menghafal. Membaca buku pelajaran Islam tidak untuk dipahami, tetapi hanya sekedar sebagai memori (dihafal). Semakin tajam memori seseorang maka umumnya semakin cerdas, layaknya sebuah kamus yang menyimpan banyak memori. Sama halnya dengan orang yang akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Dan dengan sedikit polesan kemahiran berorasi maka jadilah tampak perdebatan yang menghebohkan. Alhasil banyak penonton yang terpukau.

Meski begitu Zakir Naik sering mengaku sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. Benarkah? Tentu saja ini tidak benar. Bagaimana mungkin seorang murid menyebut gurunya sendiri secara tak langsung sebagai orang yang syirik dan kafir. Lihatlah bagaimana Zakir Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan perbuatan tersebut dengan Festival Hindu dan Kristen (festival orang-orang kafir). Maulid Nabi dikatakan haram, dan lain sebagainya. Na’udzubillah. Padahal Syaikh Ahmad Deedat yang ia klaim sebagai gurunya adalah pecinta Maulid Nabi.

Syaikh Ahmad Deedat berkata, “Ada jutaan Muslim termasuk saya, dan saya tidak keberatan merayakan hari-hari yang baik seperti yang anda katakan (peringatan Maulid Nabi). Saya katakan itu OK. Dan saya tidak akan bersama anda, saya tidak setuju dengan anda, saya tidak ingin anda untuk mengubah (pendapat) saya.”

Kenapa? Karena Zakir Naik adalah penganut ajaran Salafi (Wahabi), yang begitu mudah menuduh syirik, bid’ah, kafir kepada umat Islam yang berbeda dengannya. Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, Zakir Naik disebut sebagai dai Salafi (Wahabi) paling berpengaruh di India, bahkan dikatakan sebagai dai Salafi (Wahabi) paling terkemuka di dunia. Tidak hanya itu, dalam halaman Wikipedia dituliskan agama Zakir Naik adalah Salafi Islam, kemudian diganti menjadi Sunni Islam, dan sekarang menjadi Islam saja tanpa embel-embel. Meski dirinya hakikatnya seorang Salafi tapi tidak sedikit orang-orang Salafi yang menyebutkan Zakir Naik adalah sesat dan menyesatkan.

Sebagai penganut ajaran Salafi, Zakir Naik beraqidah mujassimah tidak diragukan lagi. Ia menyerupakan Allah Swt. dengan makhlukNya yang merupakan faham mujassimah. Dikatakan Zakir Naik bahwa Allah Swt. memiliki dua tangan, dua mata, wajah, kaki, tulang kering, dan memiliki tubuh yang besar. Allah Swt. duduk di atas langit, di atas kursi yang besar menghadap ke ‘Arsy. Inilah aqidah Salafi yang membedakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Kemudian seseorang bertanya, “Bagaimana tangan dan tubuh Allah?” Zakir naik menjawab, “Kami tidak tahu, yang tahu hanya Allah.” Dan kalau kita cermati pandangan aqidah mujassimah yang dianut Salafi ini serupa dengan pemikiran Tuhannya Hindu, Dewa Wisnu. Bedanya Tuhannya Hindu itu menikah dan ada model patung Dewa Wisnu. Banyak sekali pemahaman dan ajaran Salafi Wahabi yang dianut Zakir Naik yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini.

Selain menganut aqidah Salafi mujassimah, Zakir Naik juga acapkali menyebarkan pemahaman dan pemikiran ajaran Ahmadiyyah. Dalam berbagai pidato dan tulisan-tulisannya, Zakir Naik mengklaim bahwa kemunculan Nabi Muhammad Saw. telah disebutkan dalam kitab suci agama Hindu. Pemikiran Zakir Naik tersebut ternyata bersumber dari buku “Mohammad in World Scriptures” karya Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani (1888-1977), seorang penyebar dan penganut ajaran Ahmadiyyah Lahore India. Bahkan tulisan-tulisan Zakir Naik ini hampir sama persis dan banyak kemiripan dengan tulisan yang ada dalam buku Qadiyani itu. Anehnya, Zakir Naik tidak pernah menyebutkan sumber kutipan tulisannya itu.

Ketika ditanya apakah kitab Weda dan kitab suci umat Hindu lainnya adalah wahyu Allah, Zakir Naik menjawab, “Tidak ada teks dalam al-Quran dan al-Hadits shahih yang menyebutkan nama bahwa wahyu itu dikirim ke India. Karena nama-nama Weda atau Hindu lainnya tidak ditemukan dalam al-Quran dan hadits shahih, maka seseorang tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari wahyu Allah. Kitab-kitab tersebut mungkin saja wahyu dari Allah atau mungkin bukan wahyu dari Allah.”

Dari jawaban di atas, Zakir Naik sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia percaya kitab suci agama Hindu adalah firman Allah Swt. (sama halnya dengan Alkitab Injil yang telah berubah), meskipun ia sendiri tidak ingin menyatakannya secara terbuka. Hal ini dipertegas dengan jawaban Zakir Naik yang tidak berani mengatakan kitab suci umat Hindu adalah bukan firman Allah Ta’ala, tetapi justru ia menjawab dengan plin-plan dengan mengatakan “mungkin wahyu Allah atau mungkin bukan”. Ini tidak lain karena ia terpengaruh pemikiran ajaran Ahmadiyyah Lahore dari Qadiyani. Dan anehnya banyak orang-orang Islam yang sudah terpengaruh dengan pemikiran Ahmadiyyah yang dibawa oleh Zakir Naik ini, baik disadari maupun tidak disadari. Meskipun Zakir Naik sendiri tidak pernah berani mengatakan di depan publik bahwa itu hasil pemikiran Ahmadiyah (Qadiyani). Tapi fakta menunjukan pidato dan tulisannya mengambil dari tulisan Ahmadiyah.

Fakta-fakta di atas tentu sangat berbahaya, tetapi ada yang lebih berbahaya lagi ketika Zakir Naik sudah mempermainkan ayat al-Quran dan al-Hadits. Ayat al-Quran dan hadits sering disalahtafsirkan. Menafsirkan al-Quran tanpa ilmu dan asal-asalan. Ini tentu sangat berbahaya. Salah satu contohnya adalah bagaimana Zakir Naik menyamakan arti kata bahasa Arab dari Syifa dan Syafa’ah dalam al-Quran. Dua kata yang artinya berbeda tetapi dianggap sama oleh Zakir Naik. Ini kesalahan fatal. Akibatnya ia pun tergelincir dalam memahami al-Quran, tidak sesuai dengan pemahaman para ulama tafsir. Ini adalah bentuk kebohongan nyata yang disengaja oleh Zakir Naik dalam menipu umat Islam khususnya mereka yang awam. Sebuah fitnah keji yang mengatasnamakan al-Quran. Para ulama sudah memperingatkan Zakir Naik tetapi pemikirannya ini tetap ia sebarkan.

Masih banyak penyimpangan-penyimpangan Zakir Naik lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Yang jelas dan perlu ditekankan di sini adalah kita harus berhati-hati dengan Zakir Naik. Banyak ulama-ulama lain yang mestinya kita ikuti, yang jelas sanad ilmunya, jelas siapa gurunya, jelas keilmuannya, yang bersambung dengan Rasulullah Saw., yang akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat. (Sumber: elhooda.net).

Kalau Anda cermat, lihat satu contoh saja video berikut ini betapa dangkalnya Dr. Zakir Naik dalam menafsirkan al-Quran dan dengan mudahnya mencomot ayat-ayat al-Quran untuk mengharamkan Tawassul: https://www.youtube.com/watch?v=sBuHWrErYW8&feature=youtu.be

Ulama Palestina Berharap Kejayaan Akhir Zaman Ada di Muslim Nusantara

Written By MuslimMN on Kamis, 12 November 2015 | 07.43


Suatu saat kami duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr al-‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai Bangsa Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya”, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya diantara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama dan kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan beberapa penguasa Daulah Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allah pun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih Bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ulama dan cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling dan menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin al-Ayyubi dan anak-anaknya."

"Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun diantaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; Utsman Orthughrul dan anak turunnya, serta khususnya Muhammad al-Fatih.”

“Ketika Daulah 'Aliyah Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.” Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum.

Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh diantara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin pendzahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai Bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insya Allah."

Indonesia Ingin Aman? Belajarlah dari Bumi Suriah (Syam)!


Kau ingat, awal-awal konflik di Suriah (Syam)? Informasi apa yang kau dapat mengenai Bashar Assad? Lewat media-media yang mengklaim diri sebagai media Islam, Assad disebut sebagai penguasa tiran, anti Islam, kafir, Syiah, membunuhi rakyatnya yang Sunni, lebih dari itu katanya Assad mengaku diri sebagai Tuhan dan memaksa rakyatnya untuk menyembahnya.

Faktanya, Bashar Assad adalah seorang Muslim Sunni. Ia shalat bersedekap, tidak dengan meluruskan tangan sebagaimana Muslim Syiah dan madzhab Maliki. Ia dari kalangan Alawi, yang artinya termasuk habaib. Tidak semua Alawi itu Syiah, sebagaimana habaib di Indonesia, yang mayoritasnya justru Sunni.

Meski berpaham sekuler ia dekat dengan alim ulama. Ia rajin shalat berjamaah. Di mushalla kantor kepresidenan, ia meminta pimpinan atau anggota dewan Mufti Agung Suriah yang menjadi imam shalat sekaligus memberi kultum setiap habis shalat. Ia pendengar ceramah yang khusyuk. Shalat Dzuhur di kantor kepresidenan disiarkan live setiap harinya dan disiarkan di tv-tv nasional.

Lewat ketetapannya, di Suriah tidak boleh ada buku yang dicetak lebih indah dari mushaf al-Quran. Coba cek, kualitas di pasar al-Quran di Mekkah dan Madinah, konon cetakan al-Quran dari Suriahlah yang kualitasnya paling bagus.

Dia juga diantara penguasa Arab yang terdepan membela Palestina. Dia membuka pengungsian buat rakyat Palestina di Kamp Yarmouk, diantara pengungsian terbesar dan terbaik yang menampung pengungsi Palestina. Di Damaskus, dia mengizinkan HAMAS berkantor, dengan biaya sepenuhnya ditanggung pemerintah.

Sikapnya yang anti AS dan sering mengkritik penguasa Arab yang pro AS tentu sangat merepotkan dan mengusik eksistensi Israel. Untuk menjatuhkannya, ditebarlah fitnah dan berita hoax yang bohongnya tidak ketulungan, dia disebut mengaku diri sebagai Tuhan. Logiskah mengaku Tuhan tapi masih shalat dan menjadi makmum? Logiskah alim ulama Suriah tetap memberi dukungan pada Bashar Assad sementara dia melakukan kekufuran yang nyata?

Dia diklaim membunuhi rakyatnya yang Sunni? mungkinkah membunuhi rakyatnya sendiri hanya karena Sunni sementara rakyat Palestina dipikirkan nasibnya, dibela dan diberi pengungsian yang layak padahal mereka Sunni? Mungkinkah Kepala Mufti Agung Suriah, Perdana Menteri Suriah, Menteri Pertahanan Suriah, Menteri Dalam Negeri Suriah yang kesemuanya Sunni mendiamkan dan membiarkan sang Presiden membantai rakyatnya yang Sunni?

Mungkinkah setelah dibuatkan dan diberi pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bertahun-tahun lantas dibunuhi hanya karena rakyatnya Sunni? Mungkinkah OKI mendiamkan Bashar Assad membunuhi rakyatnya yang Sunni, dengan tetap membiarkan Suriah menjadi anggota OKI dan tidak memberikan kecaman apapun? Fitnah lebih keji dari pembunuhan!

Moammar Qadafi telah menjadi korban dari fitnah, negara yang ditinggalkannya sekarang porak-poranda. Rakyat yang dulu disatukannya sekarang bercerai-berai dan saling berebut kekuasaan. Kekayaan negerinya yang dulu diolahnya sehingga mampu menjadikan Libya disegani dan terkaya di Afrika, sekarang dikuras habis untuk kepentingan korporasi asing. Libya sepeninggalnya, masuk dalam list negara miskin dan terancam bangkrut dengan tingkat keamanan berada di level terendah.

Akankah Suriah menjadi korban selanjutnya, dan kau turut memberi andil di dalamnya? Indonesia harus belajar dewasa dari kejadian ini!

MERANGKAI PUZZLE KONSPIRASI TRAGEDI MINA

Written By MuslimMN on Sabtu, 26 September 2015 | 12.46

Sebenarnya dalam kasus Mina ada skenario dan konspirasi keji yang dipersiapkan. Mengenai Mina, coba kita flashback balik sehari atau dua hari sebelumnya. Dua hari lalu beredar kabar bahwa intelijen Rusia dan Wikileak membeberkan rencana Saudi membom Masjidil Haram dengan bermaksud menyudutkan dan mengkambinghitamkan Iran.

Lalu beredar juga kabar mantan diplomat Iran yang membeberkan rencana Iran untuk menyudutkan dan menyerang Saudi. Nah ada 2 berita. Kedua berita itu muncul sebelum kasus Mina. Adalah bukan suatu kebetulan mengapa jamaah haji dibelokkan arah rutenya. Semua itu sudah diatur dan disetting. Tujuannya agar terjadi jumlah korban yang banyak dari jamaah Indonesia.

Saat itu jamaah Indonesia dipaksa untuk dibelokkan rutenya agar berkumpul dengan jamaah Iran dan Afrika. Rencana busuknya adalah, jika jumlah jamaah asal Indonesia banyak yang tewas bersamaan dengan jamaah asal Iran dan Afrika maka mereka berniat berharap mendapat dukungan dari Indonesia. Kalau jumlah jamaah Indonesia banyak yang tewas bersama jamaah Iran, tentunya para takfiri akan bersemangat mengompor-ngompori untuk ganyang Syiah, ganyang Iran, dengan dalih jamaah Iran penyebab banyaknya tewas jamaah Indonesia.

Namun ternyata takdir berkehendak lain. Jamaah asal Indonesia banyak yang menolak dan menunggu dengan sabar, karena itulah jumlah korban dari kita sedikit. Namun walaupun korban jamaah asal Indonesia sedikit, secara tidak langsung mereka menuduh korban asal Indonesia adalah penganut Syiah, karena ikut tewas bersama pengikut Syiah Iran.

Ini sebenarnya konspirasi keji untuk mencari pengaruh dan dukungan dari Indonesia. Jadi sebenarnya jamaah yang dituduhkan lawan arah dan tidak tertib adalah jamaah asal Indonesia karena rutenya dibelokkan. Namun opini digiring seolah-olah jamaah Syiah Iran dan orang negro yang lawan arah. Dengan kata lain mereka menuduh jamaah yang rutenya dibelokkan dan lawan arah adalah jamaah Syiah.

Agar publik tahu, bahwa mereka sengaja membelokkan rute jamaah Indonesia agar bergabung dan bercampur dengan jamaah asal Iran yang notabenenya adalah penganut Syiah. Secara tidak langsung mereka, Wahabi Saudi, menganggap jamaah asal Indonesia adalah penganut Syiah.

Rencana konspirasi keji ini ternyata tak berjalan matang, sebab tadinya yang hendak ditumbalkan dan dijadikan korban adalah jamaah Indonesia. Mereka sengaja memaksa dan membelokkan rute jamaah asal Indonesia ke rute 204 agar bergabung dan bercampur dengan jamaah Syiah asal Iran dan jamaah Afrika. Namun takdir berkata lain, jumlah korban dari jamaah asal Indonesia sedikit. Walau sedikit tapi tetap saja itu nyawa manusia.

Adalah analisa bukti bahwa hal itu sudah disetting dan diskenariokan terlihat bagaimana mereka memperlakukan jenazah yang wafat. Bahkan buldozer pun sudah disiapkan. Padahal masih ada korban yang masih hidup tapi dibiarkan oleh para askar, akhirnya meninggal. Ada unsur kesengajaan korban yang masih hidup dibiarkan meninggal tanpa diberi pertolongan pertama pada kecelakaan. 

Tragedi Mina ini sebenarnya konspirasi perebutan pengaruh dan dukungan dari Indonesia yang notabenenya penduduk terbanyak muslimnya. Namun sungguh keji untuk memuluskan dan melancarkan skenario tersebut jamaah Indonesia dilibatkan dan hendak dijadikan tumbal. Kita semua hendak diseret-seret. Kenapa? Karena Indonesia ini potongan puzzle terakhirnya agar konspirasi perperangan itu bisa terlaksana.

Kuat dugaan konspirasi tersebut dilakukan oleh pangeran dari Raja Abdullah. Sebab belakangan ini, menurut kabar, Raja Salman bersifat diskriminatif terhadap anak keturunan Raja Abdullah. Masih ingatkah ketika Raja Salman menggempur Yaman? Salah satu pangeran dari Raja Abdullah marah dan protes sebab ibunya berdarah asal Yaman.

Lalu tentang dihukumnya salah satu pangeran yang merupakan anak dari Raja Abdullah oleh Raja Salman sendiri. Belum lagi tekanan Raja Salman terhadap Waleed bin Talal. Bahkan yang pertana kali memberitakan dan menuding bahwa putera mahkota Raja Salman sebagai biang keladinya adalah Ad-Diyar. Sedangkan Ad-Diyar adalah perusahaan pemberitaan milik Pangeran Waleed bin Talal.

Nah di sini nampak kelihatan, semacam ada aksi "balas dendam" secara halus yang berusaha menyudutkan dan memojokkan puteranya Raja Salman. Apapun alasannya, terkait perseteruan internal kerajaan adalah hal keji melibatkan pihak lain dan sampai melibatkan orang lain jadi korban dan tumbalnya. (Oleh: Jefri Nofendi).
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template