Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Wahabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wahabi. Tampilkan semua postingan

ASWAJA INDIA & MALAYSIA MENOLAK DR. ZAKIR NAIK

Written By MuslimMN on Selasa, 12 April 2016 | 21.28


Menurut fatwa Darul Ulum Deoband, India, Dr. Zakir Naik bukanlah orang yang bisa diterima ucapannya dalam bab agama dan harus dijauhi ucapannya. Dr. Zakir juga telah menyimpang dari jalan ulama muktabar dan anti madzhab (ghairu muqallid). Anti madzhab ini menurut fatwa Darul Ulum Deoband merupakan pemahamam yang keluar dari Ahlussunnah wal Jama'ah. Silakan rujuk selengkapnya di situs resmi darulifta-deoband.com.

Pertubuhan Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Malaysia baru-baru ini juga mengeluarkan maklumatnya menolak Dr. Zakir Naik berceramah di Negeri Jiran. Dalam pernyataan resmi mereka juga menyebutkan beberapa alasan yang membuktikan bahwa Dr. Zakir Naik berpaham Wahabi.

Oleh karena fatwa yang begitu tegas dari Darul Ulum Deoband, Pertubuhan Aswaja Malaysia menghimbau rakyat Malaysia supaya berfikir panjang dan merujuk kepada ulama muktabar serta pihak ahli agama masing-masing sebelum menerima bulat-bulat apa yang disampaikan Dr. Zakir Naik. 

Pertubuhan Aswaja Malaysia juga mendapati bukan hanya Darul Ulum Deoband saja yang berpendapat demikian, namun ulama-ulama India di Kerala serta tempat-tempat lain-lainnya di India atau di Sri Lanka juga mempunyai pendapat yang sama tentang Dr. Zakir Naik. Bagaimana dengan Indonesia? Kenapa para ulama (kiai-habaib) Indonesia tidak mengidolakan Dr. Zakir Naik jika memang benar Zakir Naik adalah ulama atau bahkan ulama panutan?

Kiranya cukup dengan melihat video berikut saja tentunya kalian (pengamal Aswaja) akan berfikir ulang untuk mengidolakan apalagi menganggap Dr. Zakir Naik sebagai ulama panutan. https://www.youtube.com/watch?v=sBuHWrErYW8&feature=youtu.be. Menyuruh seseorang untuk "kembali/rujuk langsung ke al-Quran dan al-Hadits" memang benar, tapi kesalahan fatal jika yang dimaksud adalah terjemahnya. Karena al-Quran dan al-Hadits beda dengan (bukan) terjemah.

Tidak ada satu pun yang menyangkal bahwa Dr. Zakir Naik telah berjasa besar dalam meng-Islamkan banyak orang. Tapi jauh lebih banyak jasa beliau dalam mengeluarkan orang Islam dari agamanya. Dengan fatwanya jutaan bahkan milyaran pengamal Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) telah beliau bid'ahkan, sesatkan, syirikkan, murtadkan dan dikafirkan oleh Dr. Zakir Naik.

DR. ZAKIR NAIK, SIAPA DAN BAGAIMANA AJARANNYA?

Written By MuslimMN on Minggu, 10 April 2016 | 18.29


Dr. Zakir Abdul Karim Naik atau lebih dikenal dengan nama Zakir Naik lahir di India pada 18 Oktober 1965. Disebutkan dalam berbagai literatur, ia penah kuliah kedokteran di Mumbai, India. Para pengagumnya menyebut ia sebagai sosok “ulama” terlibat dalam dakwah Islam dan perbandingan agama. Bisa dikatakan Zakir Naik ini besar melalui Internet, seperti website dan video Youtube yang sengaja disebarluaskan di Indonesia.

Sebutan “ulama” yang disandang Zakir Naik tentu dipertanyakan. Karena dari mana ia belajar ilmu agama Islam pun tidak jelas. Tidak pernah disebutkan siapa gurunya, sama seperti sosok Ustadz Ahmad Sukina, pemimpin Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Solo. Tidak akan Anda temukan dari mana ia belajar agama meski dalam website resminya seperti IRF. Tidak diketahui dari mana ia belajar agama. Yang ada, klaim Zakir Naik yang menyebut dirinya sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat.

Belum lagi bacaan al-Qurannya yang tidak beraturan. Siapa yang mengajarinya al-Quran juga tidak jelas karena aksen Arab dan al-Qurannya benar-benar sudah keluar dari makhraj, tidak bagus, dan tidak memenuhi kaidah ilmu tajwid. Di mana dan dengan ulama siapa Zakir Naik belajar tafsir, hadits, fiqih, syariah, bahasa Arab, dan lain sebagainya juga tidak pernah diketahui. Tiba-tiba sosok ini muncul bak seorang ulama besar yang faham betul tentang Islam, memahami tafsir, memahami hadits, memahami syariat, dan lain sebagainya.

Dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan bahwa dirinya adalah sarjana perbandingan agama, tapi faktanya ia seringkali mengeluarkan “fatwa” perihal masalah agama Islam yang bukan bidangnya. Ia pun tidak ragu-ragu menyalahkan ulama sekelas Imam Madzhab Fiqih dan Hadits. Dikatakan Zakir Naik bahwa para Imam Fiqih dan Hadits itu tidak memiliki informasi (ilmu) yang lengkap saat mereka (para Imam Fiqih dan Hadits) memberikan atau mengeluarkan hukum-hukum Islam. Bahkan Zakir Naik menyatakan bahwa menerima dan mengikuti para Imam tersebut sebagai guru dalam Islam dapat merusak Islam itu sendiri. Hal ini diungkapkan Zakir Naik saat ia diwawancarai seputar masalah Taqlid.

Dikatakan Zakir Naik terpengaruh oleh Syaikh Ahmad Deedat saat ia belajar ilmu kedokteran. Syaikh Ahmad Deedat sendiri adalah seorang ulama sufi Ahlussunnah wal Jama’ah dari Afrika Selatan (1918-2005) yang konsen di bidang perbandingan agama. Dari sini menunjukan bahwa Zakir Naik mulai membaca dan mengkaji buku-buku agama Islam saat ia berusia sekitar 22 tahun atau saat kuliah di Kedokteran sekitar tahun 1987.

Hebatnya, hanya dalam waktu 3 tahun (1987-1990) setelah membaca buku pelajaran agama Islam secara otodidak, dan ini termasuk aktivitasnya sebagai mahasiswa kedokteran dengan kegiatannya yang padat seperti mempelajari buku-buku kedokteran, ujian, kepaniteraan klinik, dll, ia telah mempelajari segala sesuatu tentang Islam dan mendirikan Islamic Research Foundation (IRF) pada Februari 1991 dan mulai berdakwah secara penuh. Sungguh aneh bin ajaib, cukup berbekal belajar buku pelajaran agama Islam dalam 3 tahun sambil kuliah kedokteran yang begitu sibuknya, tiba-tiba keluar sebagai “ulama”, bahkan menyalahkan para ulama Imam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Lebih aneh lagi, dalam pidatonya, Zakir Naik mengatakan dirinya telah mulai berdakwah sebelum IRF didirikan. Hal ini menunjukan Zakir Naik mempunyai kemampuan luar biasa dalam menghafal. Membaca buku pelajaran Islam tidak untuk dipahami, tetapi hanya sekedar sebagai memori (dihafal). Semakin tajam memori seseorang maka umumnya semakin cerdas, layaknya sebuah kamus yang menyimpan banyak memori. Sama halnya dengan orang yang akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Dan dengan sedikit polesan kemahiran berorasi maka jadilah tampak perdebatan yang menghebohkan. Alhasil banyak penonton yang terpukau.

Meski begitu Zakir Naik sering mengaku sebagai murid Syaikh Ahmad Deedat. Benarkah? Tentu saja ini tidak benar. Bagaimana mungkin seorang murid menyebut gurunya sendiri secara tak langsung sebagai orang yang syirik dan kafir. Lihatlah bagaimana Zakir Naik mengatakan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. adalah perbuatan syirik dan ia menyamakan perbuatan tersebut dengan Festival Hindu dan Kristen (festival orang-orang kafir). Maulid Nabi dikatakan haram, dan lain sebagainya. Na’udzubillah. Padahal Syaikh Ahmad Deedat yang ia klaim sebagai gurunya adalah pecinta Maulid Nabi.

Syaikh Ahmad Deedat berkata, “Ada jutaan Muslim termasuk saya, dan saya tidak keberatan merayakan hari-hari yang baik seperti yang anda katakan (peringatan Maulid Nabi). Saya katakan itu OK. Dan saya tidak akan bersama anda, saya tidak setuju dengan anda, saya tidak ingin anda untuk mengubah (pendapat) saya.”

Kenapa? Karena Zakir Naik adalah penganut ajaran Salafi (Wahabi), yang begitu mudah menuduh syirik, bid’ah, kafir kepada umat Islam yang berbeda dengannya. Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, Zakir Naik disebut sebagai dai Salafi (Wahabi) paling berpengaruh di India, bahkan dikatakan sebagai dai Salafi (Wahabi) paling terkemuka di dunia. Tidak hanya itu, dalam halaman Wikipedia dituliskan agama Zakir Naik adalah Salafi Islam, kemudian diganti menjadi Sunni Islam, dan sekarang menjadi Islam saja tanpa embel-embel. Meski dirinya hakikatnya seorang Salafi tapi tidak sedikit orang-orang Salafi yang menyebutkan Zakir Naik adalah sesat dan menyesatkan.

Sebagai penganut ajaran Salafi, Zakir Naik beraqidah mujassimah tidak diragukan lagi. Ia menyerupakan Allah Swt. dengan makhlukNya yang merupakan faham mujassimah. Dikatakan Zakir Naik bahwa Allah Swt. memiliki dua tangan, dua mata, wajah, kaki, tulang kering, dan memiliki tubuh yang besar. Allah Swt. duduk di atas langit, di atas kursi yang besar menghadap ke ‘Arsy. Inilah aqidah Salafi yang membedakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Kemudian seseorang bertanya, “Bagaimana tangan dan tubuh Allah?” Zakir naik menjawab, “Kami tidak tahu, yang tahu hanya Allah.” Dan kalau kita cermati pandangan aqidah mujassimah yang dianut Salafi ini serupa dengan pemikiran Tuhannya Hindu, Dewa Wisnu. Bedanya Tuhannya Hindu itu menikah dan ada model patung Dewa Wisnu. Banyak sekali pemahaman dan ajaran Salafi Wahabi yang dianut Zakir Naik yang tidak dapat disebutkan satu per satu di sini.

Selain menganut aqidah Salafi mujassimah, Zakir Naik juga acapkali menyebarkan pemahaman dan pemikiran ajaran Ahmadiyyah. Dalam berbagai pidato dan tulisan-tulisannya, Zakir Naik mengklaim bahwa kemunculan Nabi Muhammad Saw. telah disebutkan dalam kitab suci agama Hindu. Pemikiran Zakir Naik tersebut ternyata bersumber dari buku “Mohammad in World Scriptures” karya Abdul Haq Vidyarthi Qadiyani (1888-1977), seorang penyebar dan penganut ajaran Ahmadiyyah Lahore India. Bahkan tulisan-tulisan Zakir Naik ini hampir sama persis dan banyak kemiripan dengan tulisan yang ada dalam buku Qadiyani itu. Anehnya, Zakir Naik tidak pernah menyebutkan sumber kutipan tulisannya itu.

Ketika ditanya apakah kitab Weda dan kitab suci umat Hindu lainnya adalah wahyu Allah, Zakir Naik menjawab, “Tidak ada teks dalam al-Quran dan al-Hadits shahih yang menyebutkan nama bahwa wahyu itu dikirim ke India. Karena nama-nama Weda atau Hindu lainnya tidak ditemukan dalam al-Quran dan hadits shahih, maka seseorang tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa kitab-kitab tersebut berasal dari wahyu Allah. Kitab-kitab tersebut mungkin saja wahyu dari Allah atau mungkin bukan wahyu dari Allah.”

Dari jawaban di atas, Zakir Naik sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia percaya kitab suci agama Hindu adalah firman Allah Swt. (sama halnya dengan Alkitab Injil yang telah berubah), meskipun ia sendiri tidak ingin menyatakannya secara terbuka. Hal ini dipertegas dengan jawaban Zakir Naik yang tidak berani mengatakan kitab suci umat Hindu adalah bukan firman Allah Ta’ala, tetapi justru ia menjawab dengan plin-plan dengan mengatakan “mungkin wahyu Allah atau mungkin bukan”. Ini tidak lain karena ia terpengaruh pemikiran ajaran Ahmadiyyah Lahore dari Qadiyani. Dan anehnya banyak orang-orang Islam yang sudah terpengaruh dengan pemikiran Ahmadiyyah yang dibawa oleh Zakir Naik ini, baik disadari maupun tidak disadari. Meskipun Zakir Naik sendiri tidak pernah berani mengatakan di depan publik bahwa itu hasil pemikiran Ahmadiyah (Qadiyani). Tapi fakta menunjukan pidato dan tulisannya mengambil dari tulisan Ahmadiyah.

Fakta-fakta di atas tentu sangat berbahaya, tetapi ada yang lebih berbahaya lagi ketika Zakir Naik sudah mempermainkan ayat al-Quran dan al-Hadits. Ayat al-Quran dan hadits sering disalahtafsirkan. Menafsirkan al-Quran tanpa ilmu dan asal-asalan. Ini tentu sangat berbahaya. Salah satu contohnya adalah bagaimana Zakir Naik menyamakan arti kata bahasa Arab dari Syifa dan Syafa’ah dalam al-Quran. Dua kata yang artinya berbeda tetapi dianggap sama oleh Zakir Naik. Ini kesalahan fatal. Akibatnya ia pun tergelincir dalam memahami al-Quran, tidak sesuai dengan pemahaman para ulama tafsir. Ini adalah bentuk kebohongan nyata yang disengaja oleh Zakir Naik dalam menipu umat Islam khususnya mereka yang awam. Sebuah fitnah keji yang mengatasnamakan al-Quran. Para ulama sudah memperingatkan Zakir Naik tetapi pemikirannya ini tetap ia sebarkan.

Masih banyak penyimpangan-penyimpangan Zakir Naik lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Yang jelas dan perlu ditekankan di sini adalah kita harus berhati-hati dengan Zakir Naik. Banyak ulama-ulama lain yang mestinya kita ikuti, yang jelas sanad ilmunya, jelas siapa gurunya, jelas keilmuannya, yang bersambung dengan Rasulullah Saw., yang akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat. (Sumber: elhooda.net).

Kalau Anda cermat, lihat satu contoh saja video berikut ini betapa dangkalnya Dr. Zakir Naik dalam menafsirkan al-Quran dan dengan mudahnya mencomot ayat-ayat al-Quran untuk mengharamkan Tawassul: https://www.youtube.com/watch?v=sBuHWrErYW8&feature=youtu.be

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template