Home » , , » SIBUK DENGAN SHALAWAT SIBUK, DI TENGAH INTRIK DAN KONFLIK POLITIK

SIBUK DENGAN SHALAWAT SIBUK, DI TENGAH INTRIK DAN KONFLIK POLITIK

Written By Unknown on Kamis, 11 September 2014 | 10.28





اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Shalawat ‘sibuk’ karena salah satu lafadz dalam sighat shalawat tersebut adalah “Asyghil”, artinya sibukkanlah. Shalawat ini isinya selain permohonan rahmat kepada Allah untuk Rasulullah Saw., juga untuk keselamatan dari kelaliman para penguasa. Konon doa ini dipanjatkan oleh Imam Ja’far ash-Shadiq, salah seorang tonggak keilmuan dan spiritualitas Islam di awal masa keemasan umat Islam. Beliau hidup di akhir masa Dinasti Umawiyyah dan awal era Abbasiyyah yang penuh intrik dan konflik politik.

Bagi beliau, kekacauan politik tak boleh sampai mengganggu proses pelestarian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Saat itu, ilmu pengobatan, geografi, astronomi, kimia, sastra, mulai berkembang dan diminati. Maka di setiap Qunut, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ أَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ

“Duh Gusti, sibukkan orang-orang lalim dengan orang-orang lalim, dan keluarkan kami dari kungkungan mereka dengan selamat.”

Biar sajalah para peminat kekuasaan bertarung berebut jabatan dan sibuk dengan urusan mereka, asal tidak merecoki aktivitas keilmuan dan memolitisasinya. Dengan sikap tenang serta setia pada pematangan ilmu dan spiritualitas, beliau dan para murid mampu menyongsong masa transisi itu dengan baik.

Sebentar lagi kita masuk tahun dimana pintu pasar bebas mulai terbuka lebar. Belum lagi prediksi para waskita bahwa tahun-tahun ini adalah masa transisi bagi Nusantara Raya. Kekuatan Barat dan Timur akan saling tubruk di negeri kita, saling bersaing dan berebut kuasa ekonomi. Tak pelak, persaingan ekonomi akan selalu menuntut jalurnya di ranah politik, kekuasaan. Tiada peduli lagi kepada rakyat kecil lokal, kecuali bila menguntungkan.

Meski demikian adanya, semoga kita semua tetap setia pada proses ngaji seumur hidup dan dituntun oleh Allah agar bisa keluar dari ketiak pertempuran mereka dengan aman, selamat sentosa. Biarlah bertarung para gajah, namun jangan sampai pelanduk mati di tengah-tengah. Shallu ‘ala Muhammad! (Oleh: Zia Ul Haq Tegal Santri Krapyak dan Sya’roni As-Samfuriy).

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template