Home » , , , , » DUA ILMU YANG TIDAK DIBAGIKAN RASULULLAH SAW.

DUA ILMU YANG TIDAK DIBAGIKAN RASULULLAH SAW.

Written By Unknown on Selasa, 06 Mei 2014 | 01.13





Kajian ilmu di Majelis al-Habib Abubakar bin Hasan Alattas az-Zabidy Tanah Baru Depok. Pada kajian Ahad kemarin, al-Habib Abubakar menyampaikan beberapa sifat yang dimiliki seorang yang berakal, diantaranya dia selalu tawadhu’, berakhlak baik,berkata jujur dll. Suritauladan yang paling tawadhu’ adalah Nabi Muhammad Saw. Semua mengetahui bahwa Nabi Muhammad Saw. itu memiliki berbagai kelebihan yang sama sekali tidak dimiliki manusia, akan tetapi beliau berkata: “Ana basyarun mitslukum.”

Al-Habib Abubakar kemudian menceritakan bagaimana guru beliau yang berada di Pesantren Bani Idris sedang membersihkan kotoran di got sendirian. Pada kesempatan itu al-Habib Abubakar menyaksikan ada dua tamu yang juga ulama datang mengunjungi sang mufti. Al-Habib Abubakar diperintahkan membawa tamu itu dan mempersilakan mereka masuk ke dalam.

Kedua tamu lalu kaget ketika melihat sang mufti, dan berkata: “Bukankah ini yang tadi ada di bawah?!”

Al-Habib Muhammad berkata: “Tidak pantas antum berbuat seperti tadi, kenapa tidak memberikan pekerjaan itu kepada orang lain?”

Sang mufti menjawab: “Saya malu kepada Rasulullah, beliau dahulu membuat parit atau khandak dan tangannya selalu memegang tanah.”

Al-Habib Abubakar menjelaskan bahwa dialog antara orang-orang berakal selalu mengedepankan ketawadhu’an, yang didahulukan bukan keangkuhan ilmu. Orang yang berakal juga selalu memiliki sifat akhlak yang baik. Dan husnul khuluq itu kadang-kadang kita temui ada pada orang non muslim, padahal seharusnya itu dimiliki muslimin. Allah sangat memuji Nabi Saw. karena ahklaknya, dan dialah manusia yang berakal.

Jika kita baca manaqib para auliya dan shalihin, pasti kedua sifat ini; tawadhu’ dan khusnul khulq adanya di depan. Dua ilmu ini sangat mahal. Kata Imam Ja’far ash-Shadiq: “Semua ilmu telah dibagi-bagikan kepada ummat Nabi Muhammad Saw. Tapi hanya ada dua yang tidak (semua) dibagikan, yaitu tawadhu’ dan husnul khuluq.” Seseorang yang mengaku keturunan Rasul, baik sayyid, habib atau syarifah harus memiliki dan mengamalkan ilmu tawadhu’ dan husnul khuluq ini.

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 06 Maret 2014

(Kontributor: Ustadz Abdul Hadi Haedar)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template