Home » , , » BISA KARENA TERBIASA

BISA KARENA TERBIASA

Written By Unknown on Senin, 31 Maret 2014 | 21.41



Teringat dulu sewaktu pertama masuk kuliah dan mendapatkan tugas membuat makalah. Pertama yang menggelayut dalam fikiran adalah: “Bagaimana cara membuatnya? Bagaimana aku mengetiknya di komputer, sedangkan diajari saja belum. Dlsb.” Tapi mau tidak mau, karena rasa keingin-bisaanku, akhirnya dengan segala keterbatasan dan kekurangan kukerjakan makalah itu dengan peluh yang tak sedikit.

Kuputuskan pergi ke rental komputer yang telah disediakan pesantren. Di situ berjam-jam kuhabiskan untuk mengetik teks makalah. Tidak masalah meski akhirnya tidak jadi, betapa tidak berjam-jam lamanya hanya mendapatkan selembar halaman. Bukan hanya itu, cara ngesave data ke flashdisc saja belum bisa. Eh komputernya tiba-tiba mati, “tamatlah riwayatku!” sambil kupegang kepalaku yang telah panas.

Esoknya, saya fotocopy halaman-halaman buku yang dijadikan referensi untuk makalah itu. Dengan segala cara telah kulakukan, dan saya merasa inilah satu-satunya jalan terakhir demi selesainya pembuatan satu makalah, mengingat waktu yang mepet. Kugunting paragraf demi paragraf yang dibutuhkan, dan saya tempel dengan sangat hati-hati dan serapi mungkin menjadi 7 halaman (batas minimal pembuatan makalah dengan ukuran spasi 1,5). Lalu saya fotocopy agar tidak terlalu mencolok guntingan-guntingan itu.

Tentu lucu sekali, jika saya mengingat itu, karena meski bekas tempelan lem tidak terlalu nampak tapi font huruf tidak bisa saya rubah dari aslinya. Buku-buku referensi itu bentuk font huruf maupun ukurannya berbeda-beda, lucu sekali bukan? Tapi harap dimaklumi, masih tahap belajar!

Setahun berlalu, masih belum mudah bagiku mengetik suatu naskah di komputer. Datanglah pusingku yang baru, mandat dari pengurus pusat jam’iyyah memutuskanku menjadi sekretaris I jam’iyyah dan ketua umum majalah dinding pondok pesantren. “Tamatlah riwayatku!” Langsung kuberusaha menenagkan dan menghibur diri. Lirihku dalam hati: “Ini kesempatan besar untukmu. Pondok sudah menyediakan komputer khusus untuk memudahkan menjalankan tugasmu. Kamu tak perlu lagi repot-repot pergi ke rental komputer. Teruslah belajar, gratis!”

Hampir setiap malam kusempatkan waktunya untuk masuk ke dalam kantor dan belajar mengetik di komputer, tentu juga dalam rangka membuat naskah yang akan diterbitkan di mading dan surat-surat undangan keperluan jam’iyyah. Alhamdulillah, dalam waktu yang tidak terlalu lama saya pun sudah merasa terbiasa dengan dunia komputer. Sampai akhirnya saya pun dinobatkan menjadi ketua umum jam’iyyah, tapi juga sebagai ketua umum mading pondok pesantren hingga 4 periode. Yang memotivasi saya saat itu adalah diantaranya dawuh Kyai: “Wakullu syai-in minal kulino”, (Kunci) segala sesuatu itu karena terbiasa.

Tatkala saya sowan menghadap kepada kyai pengasuh pesantren, KH. Rofi’i Ya’qub, untuk berpamitan, yang saya mohon hanya satu: “Kyai, mohon izinkan saya untuk diakui menjadi santri Panjenengan.”

“Ya, insya Allah. Kita harus tetap saling mendoakan. Ballighu ‘anniy walau ayatan (kama qala Nabi Saw.), sampaikanlah kepada masyarakat apa yang sudah kamu dapatkan di pesantren ini, meski satu ayat,” jawab beliau.

Lalu beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, dan saya pun mengaminkan dengan sepenuh hati. Usai berdoa saya pun pamit undur diri, kucium tangannya dan kuucapkan salam “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Ini hanya sekedar contoh aplikasi saya terhadap kaidah “Wakullu syai-in minal kulino” di ilmu dunia (komputer). Nabi Saw. pun pernah menyabdakan: “Antum a’lamu bi-umuri dunyakum”, kalian sendiri yang lebih mengetahui terhadap perkara dunia kalian.

Lalu bagaimana saya tetap bersantai-santai dengan urusan akhiratku? Bukankah telah kurasakan sendiri betapa payahnya mengamalkan kaidah “Wakullu syai-in minal kulino” meski untuk urusan dunia? Banyak orang mengatakan: “Ilmu dunia itu mudah dipelajari, karena ia bisa terlihat dan nampak jelas. Yang sulit itu ilmu agama atau ilmu akhirat, sangat diperlukan perjuangan yang besar dan waktu yang tidak sebentar.”

Wahai Sya’roni pemalas, bukankah kamu menginginkan kefahaman (tafaqquh) terhadap agamamu? Tapi kenapa kamu masih bersantai-santai?  

Wahai Sya’roni pemalas, bukankah kamu menginginkan pengamalan terhadap ajaran agamamu? Tapi kenapa kamu hanya mau yang serba instan dalam mencari ilmu?

Wahai Sya’roni pemalas, bukankah kamu menginginkan menjadi orang yang baik (shaleh)? Tapi kenapa kamu tidak mau berusaha, bersusah-payah faham dan mengamalkan ajaran agamamu?

Ya, memang benar dunia semakin modern. Semua menjadi serba mudah didapatkan tanpa bersusah-payah, semua menjadi serba instan. Tapi adakah perubahan dari kuno ke modern untuk akhirat? Jawabnya jelas, “Tidak!” Lalu masihkah tetap memiliki fikiran “serba instan” untuk urusan akhirat?

“Wakullu syai-in minal kulino” adalah kata kunci. Semua halnya perlu “pembiasaan”. Untuk urusan dunia saja sangat perlu kaidah itu, apalagi untuk urusan akhirat. Ibadah yang terasa berat pertanda belum menjadi suatu “kebiasaan”. Bisa karena terbiasa. Wallahu al-Musta’an A’lam.

Sya’roni As-Samfuriy, Cilangkap Jaktim 01 April 2014  

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template