Home » , , , , » DARI ADAB BERZIARAH KUBUR SAMPAI AMALAN LUHUR

DARI ADAB BERZIARAH KUBUR SAMPAI AMALAN LUHUR

Written By Unknown on Senin, 03 Februari 2014 | 09.15




Melaju dari Desa Talang Tegal, saya dan keponakan menuju ke Pesantren Darussalam di Jatibarang Brebes. Pengasuhnya adalah seorang ulama kharismatik di kalangan ulama thariqah maupun kalangan alim dan awam Nahdliyin, khususnya Brebes-Tegal dan sekitarnya.

Tepat pukul 19:20 WIB kami disambut oleh Syaikh Sholeh Basalamah di teras halaman rumahnya. Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, beliaupun tersenyum dan tak lama kemudian terdengar alunan suara adzan shalat Isya. Akhirnya kami diajak shalat Isya berjamaah di mushalla pondok pesantrennya sebelum melanjutkan perbincangan lebih lanjut.

Selesai shalat dan wirid berjamaah, kami diajak duduk-duduk kembali. Kami haturkan kepada Syaikh Sholeh ingin berziarah ke makam kakek beliau yang lokasinya tak jauh dari pesantren. Beliaupun berpesan kepada kami seperti pesan ayahandanya, bahwa sebelum berdzikir dan bertahlil di area makam bacalah surat al-Ikhlas sebanyak 31 kali. Hal itu bertujuan agar segala hajat kita lebih cepat terkabul oleh Allah Swt., disamping sebagai adab/tata krama dalam berziarah kubur ke makam para wali Allah.

Kami sampaikan juga kepada beliau bahwa kami ingin belajar lebih dalam tentang kehidupan Rasulullah Saw. Karena kami mengaku masih awam, jauh dari mengenal Nabi Saw. Sembari tersenyum, beliau pun berkata: “Kamu termasuk orang yang beruntung, merasa masih awam yang mau belajar.”

Akhirnya beliau memanggil salah satu santrinya untuk diambilkan dua buku karya terbarunya yang berjudul; “Peristiwa-peristiwa Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad Saw.” (terjemahan kitab Tarikh al-Hawadits karya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki) dan “100 Jalan Meraih Ampunan Allah” (kumpulan 100 hadits Rasulullah Saw.).

Beliau mengijazahkan kepada kami isi dari dua buku tersebut dan mengijazahkan satu amalan untuk didawamkan. Amalan itu adalah bacaan hauqalah “La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim”, dibaca setiap pagi dan sore masing-masing sebanyak 100 kali. Amalan itu untuk memperkuat dzahir dan bathin kita, kuat fisik, kuat mental dan kuat rizkinya.

Beliau berpesan: “Amalan itu yang terpenting bukanlah pada khasiatnya, melainkan istiqamahnya. Kalau mau mengistiqamahkan bacaan itu maka otomatis akan dirasakan sendiri khasiatnya.”

a.      Sekilas Profil Syaikh KH. Sholeh bin Muhammad bin Ali bin Ahmad Basalamah

KH. Sholeh Muhammad Basalamah lahir di Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah 14 juli 1959 M. Putra kedua dari Syaikh Muhammad Basalamah. Sejak kecil dibimbing langsung oleh kakeknya, ulama kharismatik Syaikh Ali bin Ahmad Basalamah.

Pengalaman belajar yang beliau miliki sungguh tidak diragukan lagi, setelah lulus SLTP di Jatibarang, beliau melanjutkan pendidikan di YAPI Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Setelah itu beliau menjadi santri salah satu ulama terkemuka di dunia yaitu  Prof. DR. as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Mekkah, yang dimulai pada tahun 1978 sampai 1986.

Pada tahun 1994 beliau mengikuti “Tadribuddu’at al-Alamiyyah”, Training Dakwah Islam Internasional, di Universias al-Azhar Kairo Mesir. Pada tahun 2007 dan 2009 mengikuti Seminar Internasional tentang Tasawwuf dan Thariqah atas undangan Raja Muhammad as-Sadis dari Maroko.

Selain dakwahnya yang lemah lembut, beliau juga dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Diantara hasil tulisan beliau yang telah diterbitkan adalah:

1.      Tabungan Hari Akhirat (koleksi Hadits-hadits Amal).
2.      Pengantar Ilmu al-Quran.
3.      Jurus-jurus Kehidupan (Pesan-pesan Moral).
4.      Detik-detik Penting Kehidupan Rasullulah Saw.
5.      Keampuhan Ayat-ayat Allah.
6.      Keistimewaan Hari Jum’at    . 
7.      Sebaiknya Anda Tahu.
8.      Peristiwa-peristiwa Penting dalam Kehidupan Nabi Muhammad Saw. (terjemahan dari kitab Tarikh al-Hawadits karya as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki).
9.      100 Jalan Meraih Ampunan Allah (kumpulan 100 hadits Rasulullah Saw.).
10.  Dll.

Syaikh Sholeh Basalamah adalah pengasuh utama Pondok Pesantren Darussalam Desa Jatibarang Kidul, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Beliau merupakan salah satu pemuka tokoh ulama thariqah. Beliau mewarisi silsilah thariqah Tijaniyah dari ayah dan kakeknya. Sekarang beliau disamping aktif sebagai Muqaddam/Mursyid Tijaniyah juga aktif sebagai Syuriyah PCNU Kabupaten Brebes.

Diantara yang mengenal dekat dengan beliau adalah Maulana al-Habib M. Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan. Dulu al-Habib M. Lutfi bin Yahya lama berguru kepada kakek beliau yaitu Syaikh Ali bin Ahmad Basalamah.

Basalamah adalah nama sebuah marga Arab dari Hadhramaut tapi bukan Habaib, atau biasa kita sebut sebagai kalangan “Masyayikh”. Kebanyakan saat ini marga Basalamah di Indonesia berfaham al-Irsyad, dan tak sedikit yang berfaham Salafi-Wahabi. Maka keluarga besar KH. Sholeh Basalamah termasuk diantara marga Basalamah yang tersisa atau langka yang tetap mengikuti faham para leluhurnya yaitu Aswaja ala Nahdlatul Ulama.

b.      Sekilas Tentang Pondok Pesantren Darussalam

Setiap kota memiliki ciri khas tersendiri, begitu juga kota kecil di wilayah Kabupaten Brebes tepatnya  di Jatibarang. Kota yang memiliki history sangat kental dengan peninggalan Belanda. Di pusat kota, berdiri kokoh bangunan-bangunan tua di area pabrik gula yang sudah beroperasi sejak zaman penjajahan dan hingga kini masih eksis peroperasi menghasilkan gula guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tak hanya itu,  kota  ini juga terkenal banyak mencetak ulama dan pribadi-pribadi  paripuna melalui perjuangan para ulama dengan dakwahnya. Dan termasuk yang terbesar diantara semua adalah Pondok Pesantren Darussalam di bawah asuhan KH. Sholeh Muhammad Basalamah.

Melalui perjuangan yang sangat melelahkan, beliau mendirikan sebuah yayasan  Pendidikan Islam Darussalam pada tahun 1988. Seperti pendidikan Islam kebanyakan, madrasah ini dimulai dengan santri yang sedikit. Namun hal itu tidak pernah menyurutkan semangat dan tekad Syaik Sholeh Basalamah untuk tetap berkhidmat kepada agama melalui madrasah tersebut.

Berselang kurang lebih 11 tahun,  madrasah ini kemudian menjadi sebuah pondok pesantren yang besar yang kemudian diberi nama Pondok Pesantren Darussalam tepatnya  pada tahun 1999.

Jika kita melihat rutinitas yang terdapat di Ponpes Darussalam sungguh sangat berbeda dengan pondok-pondok lainnya. Kebanyakan pesantren-pesantren di Indonesia selalu memperhatikan  kuantitas santrinya, tapi tidak dengan  Ponpes Darussalam, setiap tahunnya pondok  hanya menerima 20-30 santri baru yang kebanyakan dari mereka sudah menyelesaikan pendidikan SMA/MA sederajat. Hal ini  dilakukan karena beberapa alasan, diantaranya  beliau ingin mengenal lebih dekat dengan para santrinya.

Pondok Pesantren Darussalam mendidik para santrinya dengan cara  menerapkan tarbiyyatus salaf, yang dikolaborasiakan dengan kurikulum yang diadopsi dari pembelajaran di Timur Tengah. Seperti kebanyakan pesantren salaf yang lain, pondok ini juga tidak menyertakan pedidikan formal, seperti SD bahkan sampai Perguruan Tinggi. Akan tetapi ijazah yang dikeluarkan bisa digunakan untuk mendaftar ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, baik di Indonesia bahkan di Timur Tengah.

Jenjang pendidikan yang ada di pesantren ini  dimulai dari ibtida, tsanawiyyah dan aliyah. Untuk kegiatan sehari-hari, santri wajib bangun  dimulai dari jam 03:00 dinihari untuk melaksanakan shalat Tahajjud bersama, dilanjutkan dengan shalat Shubuh berjamaah dan membaca awrad (wirid-wirid) setelah melaksanakan shalat. Semua santri mengikuti Kuliah Shubuh dengan sistem halaqoh sesuai dengan kelasnya masing-masing.

Setelah itu para santri beristirahat untuk mandi, sarapan pagi dan mempersiapkan diri untuk masuk ke kelasnya masing-masing. Sebelum memasuki kelas mereka masing-masing, para santri diwajibkan untuk melaksanakan shalat Dhuha. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan belajar mengajar yang dilaksanakan sampai pukul 13.00 WIB, dan dilanjutkan dengan shalat Dzuhur berjamaah.

Untuk menyelingi kepenatan belajar, para santri diberikan waktu berolah raga setelah mereka melaksanakan shalat Ashar berjamaah dan pembacaan surat al-Waqi’ah. Seusai shalat Maghrib berjamaah, para santri melanjutkan pembelajaran yang sistemnya sama dengan pembelajaran di pagi hari yaitu halaqoh yang disesuaikan dengan kelasnya masing-masing.

Setiap malam Rabu para santri dikumpulkan untuk mendengar taui’yah atau sejenis diklat  dari pengasuh pondok pesantren. Kemudian pada malam Kamis para santri melakukan tamrinan khithabah (latihan khutbah) yang bertujuan untuk membiasakan diri mereka sebelum terjun ke masyarakat. Pada malam Jum’at digunakan untuk pembacaan Maulid Nabi Saw.

Sedangkan pengajian rutin di Pondok Pesantren Darussalam yang disediakan untuk kalangan umum adalah mingguan dan bulanan. Untuk yang mingguan, diadakan setiap Senin pagi dimulai pukul 09:30 WIB sampai tiba waktu shalat Dzuhur. Kitab yang diajarkan adalah kitab-kitab karya gurunya, as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Untuk saat ini yang sedang dikaji adalah kitab Dzakhair Muhammadiyyah, sudah dapat separo. Rencananya setelah khatam kitab tersebut akan dilanjutkan dengan kajian kitab Haul al-Ihtifal bi Maulid an-Nabiy Saw.

Sedangkan yang bulanan diadakan setiap malam Jum’at Kliwon. Sedikit berbeda dengan pengajian mingguan, dalam pengajian ini disertakan juga dengan dzikiran atau wiridan bersama dan istighatsah.

Keterangan foto: KH. Syaikh Sholeh Muhammad Basalamah saat acara haul ayahandanya di Pemakaman Umum Jatibarang Kidul, Brebes.

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 03 Februari 2014
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template