Home » » Bagaimana Hukumnya Orang Yang Sholat di Belakang Imam Syi’ah?

Bagaimana Hukumnya Orang Yang Sholat di Belakang Imam Syi’ah?

Written By Unknown on Jumat, 21 Desember 2012 | 07.22



Bagaimana Hukumnya Orang Yang Sholat di Belakang Imam Syi’ah?



Fatwa Al-Habib Umar bin Muhammad Hafidz

Pertanyaan:
Apa hukumnya shalat di belakang imam yang bermadzhab syi’ah, Sedangkan dalam kesehariannya orang tersebut tidak shalat di masjid juga tidak Shalat Jum’at. Saya juga mendengar ia mencaci maki dan memusuhi para sahabat Rasulullah SAW, apakah saya termasuk dalam golongan yang dikatakan oleh Rasulullah SAW: “Tidak masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi.” Bagaimana hukumnya apabila saya memutuskan hubungan dengannya?

ما حكم الصلاة خلف إمام شيعي، يترك الصلاة في المساجد وصلاة الجمعة أيضا وسمعته يسب ويعادي كبار الصحابة ، وهل ادخل ضمن من قال الحبيب المصطفي صلوات الله عليه ( لا يدخل الجنة قاطع رحم ) إذا قاطعته ؟


Jawaban:
Meninggalkan Shalat Jum’at bagi yang memenuhi kriteria wajib jum’at, yaitu: muslim, baligh, berakal, mampu hadir ke tempat dilaksanakannya Shalat Jum’at, mukim, bukan musafir dan laki-laki, adalah termasuk dosa paling besar dari sekian banyak dosa besar. Telah disebutkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis:

 من ترك ثلاث جمع متوالية تهاوناً بها طبع الله على قلبه بطابع النفاق

“Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali Shalat Jum ‘at berturut-turut karena meremehkannya (tanpa udzur) niscaya Allah mencap hatinya dengan sifat munafik “
Melakukan hal tersebut termasuk kefasikan, na’uzubillah, begitu juga mencaci-maki para sahabat, mereka adalah generasi yang terbaik. Sementara telah disebutkan dalam hadis shahih bahwa mencaci-maki seorang muslim adalah suatu kefasikan, muslim manapun mencaci-makinya menjadi fasik. Bagaimana mencaci-maki muslimin terbaik? Apalagi mencaci-maki para pembesar dari golongan generasi pertama (para sahabat Rasulullah) yang telah di istimewakan oleh Allah menjadi generasi awal, berhijrah bersama Rasulullah SAW dan membela beliau. Allah telah berfirman:


“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (Surat At-Taubah ayat: 100).
Allah memerintahkan kita untuk mengikuti mereka dan Allah menjanjikan kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik akan bersama mereka dan mendapatkan keridhaan serta masuk ke dalam surgaNya, Maka wajib bagi kita mencegah orang Adapun dari segi memutuskan hubungan, manakala ada manfaatnya atau meggugah kesadarannya, maka boleh saja memutuskannya, dengan catatan bukan karena faktor hawa nafsu atau urusan dunia tetapi marah karena Allah. Namun, jika ada harapan untuk menyelamatkannya dari jurang itu dengan cara menjalin hubungan persaudaraan dengannya, maka itulah yang harus dilakukan dan itu lebih bagus. Anda harus melihat perkara tersebut dari segala sisi dan mintalah petunjuk serta bersungguh-sungguhlah kepada Allah dalam masalah itu.
Jika pelaku perbuatan haram termasuk orang yang tidak mengingkari yang “Ma’lum minaddiin bidzdzarurah” (perkara agama yang umum diketahui) maka dibolehkan menjadi makmumnya, tapi mencari seorang imam yang lebih mendekati keshalehan dan sifat istiqamah lebih utama dan lebih bagus. Disebutkan dalam hadis: “Shalatlah kalian di belakang orang yang baik dan yang tidak baik.” Hanya saja shalat di belakang orang yang lebih bertaqwa dan lebih shaleh, lebih afdhal dan lebih bagus. Sebagaimana makna yang terkandung dalam hadits:“Imam adalah seorang penjamin”, tidaklah seorang menjadi penjamin melainkan ia memiliki kekuatan, kedudukan dan pangkat.
Mudah-mudahan Allah memberikan taufik kepada Anda untuk selalu istiqamah di jalan lurus yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, ahli bait dan orang-orang terbaik dari umatnya dari abad ke abad dan generasi ke generasi. Semoga Allah menjauhkan Anda dari segala musibah seperti membuat bid’ah dalam agama dan lancang terhadap para pembesar dari kalangan mukminin dan generasi terbaik dari hamba-hamba Allah.
Semoga Allah teguhkan kaki Anda di jalan yang baik untuk menyelamatkan orang yang teijerumus di jurang kelalaian dan tipuan yang di propagandakan oleh berbagai macam kelompok yang mengajak untuk mencaci, mencela, berpecah belah, berseteru, menggunjing dan mengadu domba serta melakukan kerusakan-kerusakan lainnya.

ترك صلاة الجمعة ممن وجبت عليه وهو المسلم البالغ العاقل الذي يقدر على الحضور إلى الجمعة المقيم غير المسافر الذكر، فمن اجتمعت فيه هذه الشروط فتركه للجمعة من أكبر الكبائر، وقد جاء عنه صلى الله عليه وسلم ( من ترك ثلاث جمع متوالية تهاوناً بها طبع الله على قلبه بطابع النفاق )، فقصد ذلك من الفسوق والعياذ بالله تبارك وتعالى، وكذلك سب أصحاب المصطفى عليه الصلاة والسلام فهم خيار الأمة، كيف وقد صح في الحديث عن نبينا أن سباب المسلم فسوق، فأي مسلم يكون سبابه فسوقاً، فكيف بخيار المسلمين؟ فكيف بقمتهم من الرعيل الأول الذين اختصهم الله بالسبق والهجرة مع رسول الله والنصرة له؟ قال تعالى: ( والسابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان )، فأمرنا تعالى أن نتبعهم ووعد من اتبعهم بإحسان أن يكون معهم حائزاً للرضى ودخول الجنة ( والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم ورضوا عنه وأعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار )، فيجب زجر فاعل ذلك المتأخر عن صلاة الجمعة والساب للصحابة ولغيرهم من المسلمين بكل ما أمكن زجره به، وإنكار ذلك عليه وعدم الإصغاء إليه، والفكر في تخليصه من ذلك السوء الذي أصابه.
وأما من جهة المقاطعة، فإن كانت تثمر أو تفيد بشيء من المنافع فلا شيء فيها مهما لم تكن لهوى نفس ولا لشيء من شؤون الدنيا؛ ولكن غضباً لله تبارك وتعالى.
ولكن إن كان يمكن التوصل إلى إنقاذ ذلك الشخص القريب من تلك الهوة بشيء من التواصل بأي وجه فهو المتعين وهو الأولى، فينبغي أن تراعى الأمور من جوانبها وأن يعامَل الحق تبارك وتعالى في تلك القضايا.
ثم إن فاعل المحرمات ممن لم ينكر معلوماً من الدين بالضرورة تجوز الصلاة خلفه، إلا أن طلب الإمام الأقرب إلى الصلاح والاستقامة أفضل وأولى بالإنسان، فقد جاء: ( صلوا خلف كل بر وفاجر )، وإنما الصلاة خلف الأتقى والأقرب إلى الصلاح أولى وأفضل، كما يفيده حديث: ( الإمام ضامن )، وإنما يكون الضامن ذا مكانة ورتبة ومنزلة.
وفقك الله للاستقامة على المنهج السوي الموروث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحابته وأهل بيته وخيار أمته قرناً بعد قرن وجيلاً بعد جيل، وجنبك مصائب الابتداع في الدين والتجري على أكابر المؤمنين وخلاصة عباد الله الصالحين، وثبت قدمك على حسن الإنقاذ لمن وقع في ورطات الغفلات والبعد والاغترارات لما يروج من قبل مختلف الفئات الداعية إلى السباب والشتائم والتفرق والنزاع والغيبة والنميمة وغير ذلك من أوجه الفساد، وبالله التوفيق.

Dikutip oleh Tim Sarkub dari Kumpulan Fatwa Habib Umar bin Hafidz di Situs Resmi www.alhabibomar.com
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template