Home » » ADAKAH MAKHLUK HIDUP (BERAKAL) DI LUAR BUMI, DI LUAR ANGKASA ?

ADAKAH MAKHLUK HIDUP (BERAKAL) DI LUAR BUMI, DI LUAR ANGKASA ?

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Rabu, 30 Maret 2011 | 00.41

[ATLAS ALAM SEMESTA]
ADAKAH MAKHLUK HIDUP (BERAKAL) DI LUAR BUMI, DI LUAR ANGKASA ?


Terinspirasi dari thread sebelah "Bintang Raksasa - Begitu Besar Kekuasaan-Nya"... dengan sebuah pertanyaan dari @saracen, yang memang cukup mendasar dan menggelitik kecerdasan kita manakala disodori data dan fakta keluasan alam semesta (langit dan bumi) .. penjelajahan pemikiran seakan tak berhenti terus bertanya, apakah manusia makhluk Allah swt. sang khalifah fi al-ardh sendirian dalam keluasan alam semesta? adakah makhluk lain berbentuk fisik (dimensional, bukan jin dan malaikat) bertebaran dalam tempat-tempat (planet-planet) di angkasa luar?

Keluasan Alam Semesta yang Nampak (Visible Univers)
Data sementara tentang keluasan alam semesta yang terlihat adalah sebagai berikut:
• Bumi adalah planet ke-3 dari susunan planet yang mengelilingi bintang yang bernama Matahari.
• Matahari adalah 1 dari sekitar 200 milyar bintang yang bergerak berputar bersama mengelilingi inti galaksi Milkyway/Bima sakti.
• Jumlah galaksi-besar (large galaxi) ada 350 milyar, dan galaksi kecil (dwarf galaxies) ada 7 trilliun buah.
• Galaksi Bimasakti bagian dari kumpulan galaksi lain membentuk gugusan galaksi, diprediksi ada 25 milyar gugusan
• Gugusan galaksi berkumpul membentuk super cluster, diprediksi ada 10 Juta super cluster.
• Bintang-bintang (serupa matahari, yang memiliki sumber cahaya sendiri, dengan ukuran yang lebih besar atau lebih kecil dari matahari ) pada seluruh langit dan dibumi yang terlihat, diprediksi sekitar 30 milyar trilliun (3x10²²) buah.

Keluasan alam semesta diprediksi berdiameter 14.5 milyar tahun cahaya, di mana 1 tahun cahaya (ly:light year) = 9.46 x 10^12 km (sedikit di bawah 10 trilyun kilometer).

Adakah Makhluk di Luar Sana?
Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam bukunya, bahwa bumi yang kita diami ini tidaklah lebih dari sebutir debu di alam semesta yang amat besar dan megah dan penuh dengan kehidupan dan makhluk hidup. Kita akan menjadi orang dungu apabila mengira hanya kita sajalah makhluk hidup dalam wujud semesta yang maha luas ini. Allah telah menciptakan begitu banyak galaksi, mungkinkah hanya satu planet saja yang berisi kehidupan?
Alam ini bagi al-Ghazali sudah penuh sesak dengan makhluk hidup yang diciptakan oleh Allah yang merujuk pada wujudNya dan bersaksi tentang kebesaranNya.
Kitab suci al-Qur’an memang tidak bercerita secara jelas (di dalam ayat-ayat muhkamatnya) kepada kita mengenai keberadaan makhluk hidup di luar manusia berikut planet di mana mereka tinggal. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa secara simbolik (melalui ayat-ayat mutasyabihatnya) al-Qur’an juga menolak keabsahan teori-teori tersebut, sebab sebaliknya justru al-Qur’an menggambarkan kekuasaan Tuhan di semua alam semesta yang melingkupi seluruh makhluk hidup yang ada dan tersebar di semua penjuru galaksi.
"Dan di antara ayat-ayatNya adalah menciptakan langit dan bumi; dan 'dabbah' yang Dia sebarkan pada keduanya. dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendakiNya". (Q.S. asy-Syura:29)
"Dan Allah telah menciptakan 'dabbah' dari al-ma’; di antara mereka ada yang berjalan di atas perutnya dan ada juga yang berjalan dengan dua kaki dan sebagiannya lagi berjalan di atas empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki, karena sesungguhnya Allah berkuasa atas tiap-tiap sesuatu." (Q.S. an-Nur:45)
Melalui surah asy-Syura ayat 29 di atas kita memperoleh gambaran dari al-Qur’an bahwa Allah telah menyebarkan dabbah (binatang melata) di semua langit dan bumi yang telah diciptakanNya. Pengertian dari istilah dabbah ini sendiri bisa kita lihat pada surah an-Nur ayat 45, yaitu makhluk hidup yang memiliki cara berjalan berbeda-beda, ada yang merayap seperti hewan melata ada yang berjalan dengan dua kaki sebagaimana halnya dengan manusia dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki seperti kuda, anjing, kucing dan seterusnya sehingga merujuk istilah dabbah yang ada di langit dengan makhluk berjenis jin atau malaikat saja dan mengabaikan kemungkinan adanya makhluk jenis lain berarti bertentangan dengan maksud kitab suci sendiri.
Keberadaan planet-planet yang berfungsi sebagai tempat hidup dan berkehidupan makhluk berjiwa seperti bumi misalnya secara eksplisit bisa juga kita peroleh di dalam ayat al-Qur’an:
"Allah menciptakan tujuh langit dan seperti itu juga bumi, berlaku hukum-hukum Allah di dalamnya, agar kamu ketahui bahwa Allah sangat berkuasa terhadap segala sesuatu. Dan Allah sungguh meliputi segalanya dengan pengetahuanNya." (Q.S. ath-Thalaq:12)
Jika kata langit dan bumi disebut dengan bilangan tujuh yang berarti banyak (lebih dari satu), maka tentu yang dimaksud dalam ayat ini adalah kemajemukan gugusan galaksi yang terdiri dari jutaan bintang dan planet-planet yang ada sebagaimana yang kita ketahui dari ilmu astronomi modern. Oleh karenanya secara tidak langsung al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa Bumi yang kita diami ini bukanlah satu-satunya bumi yang ada di jagad raya.
"Makhluk-makhluk yang ada di langit dan di bumi memerlukan Dia, setiap waktu Dia dalam kesibukan". (Q.S. ar-Rahman:29)

Cerdas dan Berakalkah Makhluk Luar Angkasa itu?
Pertanyaan ini spekulasi, karena kita tidak atau belum pernah bertemu dengan satupun mahluk berakal angkasa luar. Jadi, karena tidak pernah bertemu, maka kemungkinan jawabannya bisa tidak bisa ada. Lalu bagaimana peran manusia di alam semesta ini? Apakah al-Qur’an menjelaskan atau setidaknya menerangkan keberadaan mahluk berakal, selain yang ada di bumi yang kita tinggali ini?

Berdasarkan Teori Kemungkinan.
Ada sejumlah bintang yang sangat-sangat banyak di luar galaksi kita. Yang bisa dideteksi saja mencapai 70 ribu juta-juta. Jadi, kemungkinan 0,000.000.01% (sepermilyar persen) saja asumsi ini dibangun, masih akan ditemukan sekian-sekian kemungkinan adanya mahluk berakal selain kita. Statistik cenderung akan mengatakan kemungkinan itu ada. Jadi, bisa diambil kesimpulan kemungkinan itu ada.

Apakah Ada Mahluk Lain, di Luar Bumi? Hewan Melata atau Virus, atau Jasad Renik Lainnya?
Jawabnya, kemungkinan ini jelas lebih besar lagi. Karena, mahluk lain bisa jadi hidup dengan kondisi yang lebih sederhana dengan fasilitas yang mungkin tidak selengkap dan sesempurna bumi, sebagai tempat yang memungkinkan berkembangnya mahluk hidup.

Berdasarkan Logika Saja.
Alam ini begitu luasnya, sangat jauh lebih luas dari perkiraan-perkiraan manusia. Awalnya manusia berpikir bahwa, bumi itu datar. Bumi berada di atas kura-kura. Peradaban berkembang, manusia menduga bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Kemudian, kini manusia paham bahwa manusia tinggal di bumi yang ada di satu galaksi saja di antara jutaan galaksi di alam semesta. Kemudian manusia mengerti bahwa kita ternyata tinggal hanya di salah satu sisi galaksi di tepi alam semesta yang terus meluas dengan kecepatan tinggi di mana jarak satu titik dengan titik galaksi lainnya saling menjauh seperti titik-titik permukaan balon yang ditiup mengembang.
Kalaupun ada mahluk berakal di tempat lain di sisi alam semesta lainnya, jaraknya semakin jauh. Untuk bisa menembusnya, diperlukan pengetahuan dan teknologi yang harus sangat maju. Ilmuwan berpikir bahwa ada cara untuk menembusnya, baik melalui pintu Doraemon (pintu ke mana saja) atau melalui stargate, teleportasi, lubang cacing (worm hole), dan lain sebagainya. Paling tidak film-film fiksi sains memvisualisasikan kemungkinan ini.

Cerdas atau Tidakkah di Luar Bumi?
Ada dua pandangan, misalnya:
Fahmi Basya (Dosen UIN Jakarta) yang terkenal dengan pelatihan spiritual dan matematika al-Qur’annya menjelaskan (dan tampaknya beliau percaya) bahwa mahluk di luar bumi itu ada. Soal cerdas atau tidak, tampaknya percaya juga bahwa mahluk luar bumi dan bukan berasal dari bumi itu memiliki kecerdasan.
Ayat yang mendukungnya adalah Q.S. ath-Thaalaq:12:
"Allah yang menciptakan tujuh langit dan sebagian bumi seperti mereka, Dia turunkan perintah antara keduanya, agar kamu ketahui bahwa Allah atas tiap sesuatu Berkuasa, dan sesungguhnya Allah sungguh meliputi karakter tiap sesuatu dengan Ilmu". (Versi Fahmi Basya)
"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu". (Versi Depag)
Sebaliknya yang meyakini makhluk itu ada tetapi tidak berakal atau lebih rendah tingkatan dari manusia adalah berdasarkan Surat al-Jaatsiyah ayat 13:
"Dan Dia menundukkan untukmu apa yg ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari padaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir."
Dengan surat ini cukup jelas bahwa manusia adalah makhluk yg berkuasa pada sesuatu di langit dan di bumi secara merata. Ini mengartikan bahwa kita satu-satunya makhluk yang berakal di bumi maupun di langit.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template