Latest Post
Tampilkan postingan dengan label MAULANA AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAULANA AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA. Tampilkan semua postingan
Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)
Written By MuslimMN on Jumat, 22 September 2017 | 06.45
HABIB LUTHFI BIN YAHYA; RAHASIA DI BALIK MUKJIZAT DAN KAROMAH
Written By MuslimMN on Kamis, 26 Januari 2017 | 15.23
Terdapat dalam
manaqibnya Sayyidi Syaikh Abul Abbas al-Mursi dan Sayyidi Syaikh Abil Hasan
asy-Syadziliy sebuah hadits Nabi Saw.: الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُاْلأَنْبِيَاءِ (ulama adalah
pewaris para nabi). Imam asy-Syadziliy menafsirkan ulama itu ada dua macam; Ulama
Shadiqun dan Ulama Shalihun. Yang pertama ulama shadiqun itu al-Auliya
mitsl ar-Rusul, para wali seperti para rasul. Yang kedua ulama shalihun itu
al-Auliya mitsl al-Anbiya, para wali seperti para nabi.
Kenapa dipisah
(dibagi) menjadi dua, sebab kalau rasul itu berkewajiban (bertugas) balagh
(menyampaikan), waballagha ar-risalah wa adda al-amanah wanashaha al-ummah
wajahada fillahi haqqa jihadih. Masalah mengeluarkan mukjizat itu suatu
kewajiban (bagi para rasul Allah) karena tashdiq (menjadi pernyataan
kebenaran adanya risalah) untuk memperkuat kaum awam.
Kalau ulama
berbeda dengan rasul dengan diberi karomah-karomah oleh Allah Swt. Semisal
karomahnya Habib Ahmad Bafaqih Syihr Hadhramaut. Suatu ketika ada seorang
Maghrabi ahli sihir yang ingin menjajal kewalian Habib Ahmad Bafaqih. Orang
tersebut meniup pohon kurma yang sedang tumbuh dan berbuah, seketika pohon
kurma tersebut terbakar hebat sampai habis. Habib Ahmad lalu berkata, “Coba tiup
lagi agar pohon kurmanya hidup kembali.”
Orang tersebut
menjawab tidak bisa. Lalu Habib Ahmad pun bertanya, “Oh ilmumu hanya segitu?”
Kemudian Habib Ahmad langsung berucap, “Hai pohon kurma, bi-idznillah
hiduplah seperti semula!” Seketika pohon kurma yang sudah hitam gosong tadi
hidup kembali bahkan dengan dedauan dan buah-buahan yang lebih baik dari
semula.
Menyaksikan yang
demikian orang Maghrabi itu pun hanya terdiam melongo, tak bisa berbuat apa-apa
lagi. Akhirnya ahli sihir itu pun tunduk kepada Habib Ahmad Bafaqih.
Begitupula karomahnya
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Dulu di Tarim Hadhramaut ada seseorang asal Maghrabi
yang sangat kaya, dia sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Jaman itu
ukir-ukiran terbaik emas dan perak adalah ukirannya Maghrabi. Akhirnya orang
tersebut pergi ke Maghrabi hanya untuk memesan ukiran tersebut. Dipesanlah ukiran
(gelang) teristimewa yang nantinya dipakai untuk melamar sang wanita pujaan.
Begitu pesanan
sudah jadi, diajaklah si wanita itu ke rumah orang asal Maghrabi itu. Gelang itu
lalu dipakaikan ke tangan si wanita pujaan oleh ibunya. Anehnya wanita itu
langsung hilang entah ke mana. Penduduk Tarim pun menjadi geger. Dicari kesana-kemari
bertanya kepada orang-orang pintar pun tidak ada yang sanggup menjawab dan
mencarinya. Hingga bertemulah ia dengan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad.
“Sudah,
sekarang kamu pergilah kembali ke tukang yang membuat gelang itu.” Jawab
Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Lalu pergilang orang tersebut ke Maghrabi
sesuai perintah Habib Abdullah. Dan Habib Abdullah berpesan, “Tanyakan
nanti, kembalikan atau tidak. Jika jawabannya tidak mau mengembalikan,
tinggalkan saja dan pulanglah kembali ke Tarim.”
Sesampai di
sana, ia melihat calon istrinya sedang berada di dalam ruangan seperti kurungan,
tidak bisa keluar. “Orang ini memesan gelang jauh-jauh dari Tarim ke sini,
pasti untuk seorang wanita yang cantik luar biasa,” batin tukang ukir itu saat
pertamakali dipesani untuk membuatkan gelang. Pesan Habib Abdullah lalu
disampaikan, dan ternyata jawaban tukang ukir tadi adalah ‘tidak mau’. Kemudian
orang tersebut pun langsung pulang kembali ke Tarim.
Sesampai di
Tarim ia langsung menghadap Habib Abdullah al-Haddad dan menyampaikan kejadian (jawaban)
di atas. “Depan rumahmu tanahnya luas apa tidak?” Tanya Habib Abdullah
kemudian. Lalu dijawab iya, yang kemudian Habib Abdullah berkata, “Ya sudah,
tunggu saja besok ada apa, tapi jangan kaget nantinya.”
Besoknya di
waktu Shubuh, begitu orang tersebut membuka pintu ia sangat kaget. Pasalnya tiba-tiba
ada rumah di depan rumahnya, dan rumah itu persis seperti (modelnya) rumah orang
Maghrabi. Begitu penghuninya keluar, setelah dilihat ternyata orang itu adalah
tukang ukir asal Maghrabi. Sekarang yang kaget pun bertambah. Si tukang ukir itu
pun bertanya-tanya, “Saya ini sedang di mana, koq tiba-tiba di tempat yang
asing?”
Habib Abdullah al-Haddad
yang sudah datang kemudian menjawab, “Ini di Tarim Hadharamaut. Rumahmu saya
cabut pindah ke sini. Kembalikan wanita itu. Kamu hanya bisa memindah satu
wanita, sedangkan saya memindah rumahmu sekaligus keluargamu saya pindahkan
juga ke sini. Sekarang kamu mau apa?”
Akhirnya tukang
ukir itu pun bertaubat, meminta maaf kepada Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad
seraya mengembalikan si wanita. Itulah karomahnya para ulama jaman dulu. Dan ini
merupakan jawaban-jawaban, namun jangan dimasukkan ke akal melainkan masukkan
ke dalam iman. Sebab jika dimasukkan ke akal tidak akan masuk dan akal tetap akan
menolak.
Begitupula karomah
seorang ulama yang ada di Nusantara ini, Maulana Syarif Hidayatullah Cirebon.
Kenapa di makam beliau sampai sekarang banyak guci-guci dan piring-piring yang
menempel di dinding makam. Kisah selengkapnya silakan simak dalam video
dokumentasi berikut, sekaligus menyambungkan live streaming yang terputus tadi
malam karena sinyal yang buruk: https://youtu.be/sP7G_m5thPE.
(Tulisan di atas adalah transkrip dan alih bahasa dari cuplikan mau’idzah
hasanah Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya tadi malam dalam acara Maulid
Nabi Saw. dan Haul Habib Umar bin Ali bin Hasyim bin Yahya & Sesepuh Desa
Salakbrojo Kedungwuni, 27 Januari 2017. Oleh: Sya’roni As-Samfuriy via ibjmart.com)
Label:
Habib Luthfi bin Yahya,
HIKAYAT SHUFIYYAH,
Karomah Para Auliya,
KAROMAH PARA WALI,
Ke-NU-an,
Kisah Hikmah Islami,
Manaqib,
Manaqib Shalihin,
MAULANA AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA
HABIB LUTHFI: PELAJARAN PENTING DALAM PERINGATAN HAUL DAN MAULUD NABI
Written By MuslimMN on Minggu, 11 Desember 2016 | 12.31
“Bedanya Haul dengan
Maulud adalah, jika Maulud yang dimauludi awalnya baik, terus baik, sampai
akhirnya pun baik. Tapi kalau Haul, yang dihauli itu awalnya belum tentu baik,
adakalanya orang tidak baik tapi taubatnya diterima sehingga diangkat
derajatnya oleh Allah Swt.” Tutur Maulana
Habib Luthfi bin Yahya dalam rangka memperingati Maulid Nabi Saw. dan Haul KH.
Syafi’i Abdul Majid Pringlangu Pekalongan, malam Senin 11 Desember 2016.
Lanjut Habib
Luthfi, Haul adalah peluang yang luar biasa, menunjukkan bahwa pintu taubat itu
tidak pernah tertutup. Merupakan fadhal Allah yang tak bisa ditebak-tebak. Contohnya
di jaman dulu ada Syaikh Malik bin Dinar, menjadi sulthanul arifin padahal
dahulunya orang yang tidak baik. Di Jawa ada Sunan Kalijaga, setengah riwayat
mengatakan beliau awalnya orang yang tidak baik. Tapi akhirnya menjadi orang
yang luar biasa.
Tugasnya para
wali saat di dunianya menjaga (nyangga) dunia, maka di dalam kuburnya
pun masih bertugas hal yang sama. “Sedikitnya yang saya hafal ada 1.532
auliya (para wali Allah) yang dikubur di tanah Jawa,” terang Habib Luthfi
bin Yahya kemudian.
Menghauli bukan
sekadar menghauli seorang tokoh atau kiai atau wali tertentu. Tapi harus jelas
siapa yang dihauli, tahu betul riwayat orang yang dihauli. Jangan sampai terjadi
“mbah-mbuh” (ungkapan untuk orang yang tidak tahu sejarah), kata Habib
Luthfi yang disambut tawa hadirin.
Pentingnya
menuliskan dan menjaga sejarah, sebagaimana Nabi Saw. singgung dalam sabdanya:
ذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ
تَنْزِلُ الرَّحْمَةْ
“Mengingat
orang-orang shaleh menjadi sebab turunnya rahmat Allah.” Apalagi
jika yang disebut-sebut adalah para auliya, wali Allah Swt. Dan jika
ditarik ke atas lagi adalah Nabi Muhammad Saw., sayyidul anbiya wal mursalin,
nabinya para nabi dan rasulnya para rasul.
Nabi Saw. sejak
kecilnya sudah dijadikan yatim oleh Allah Swt. Jangan sampai ketika mendengar kata
‘yatim’ seolah-olah orang yang patut dikasihani. Nabi Saw. tidak dididik
seperti itu. Kedua orangtua Nabi Saw. diwafatkan sebelum balighnya Nabi bukan
dalam rangka untuk menyakiti beliau Saw. Sebab, Nabi saat itu belum dibi’tsah
(diutus sebagai nabi dan rasul). Bagaimana mungkin Siti Aminah dan Sayyid
Abdullah akan bersyahadat pada anaknya sendiri yang belum dibi’tsah
karena masih anak-anak, belum ada tuntunan dan caranya.
Dan bukan pula untuk
menjelekkan, merendahkan dan menyakiti dengan mengatakan kedua orangtua Nabi
Saw. wafat belum beriman. Hal ini murni masalah politik yang terjadi pada jaman
Bani Abbasiyah. Dan dijelaskan secara luas dalam kitab Asna al-Mathalib karya
Mufti Mekkah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, gurunya Habib Ahmad bin Thalib Alattas,
Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Mufti Betawi Habib Utsman bin Aqil hin
Yahya, Kiai Mahfudz at-Turmusi dan banyak lagi para ulama lainnya dari
Indonesia.
Ibu, ayah,
kakek dan paman Nabi Saw. diwafatkan oleh Allah karena agar Nabi Saw. dididik
langsung oleh Allah Swt. Hal demikian untuk mengangkat derajat Nabi Saw.
Setelah Nabi Saw.
melakukan hijrah ke Madinah jumlah pengikutnya bertambah banyak. Saat memasuki
Madinah Nabi Saw. disambut dengan thala’al badru, bukan pedang untuk
balas dendam. Kemudian Nabi Saw. menjawabnya dengan intelektualitas, yakni
membangun perekonomian, menyatukan dan merekatkan masyarakat yang beragam, dengan
aman dan sejahtera.
Setelah peristiwa
hijrah, saatnya Nabi Saw. beserta para sahabat memasuki Mekkah, dikenal dengan
peristiwa Fathu Makkah. Waktu itu ada salah seorang sahabat yang mengatakan, “Saatnya
balas dendam!” sembari mengangkat pedangnya. Dijawab oleh Nabi Saw., “Kita
masuk Mekkah dalam keadaan aman.” Lalu Nabi Saw. berpidato, diantaranya
menyampaikan siapa yang masuk ke Baitul Haram maka dijamin keamanannya dan
siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan –padahal waktu itu belum masuk Islam- dijamin
keamanannya.
Kewibawaan
ulama bisa ditakar saat pengajian. Biasakan para hadirin mendengarkan dengan
baik dan seksama, dimanapun dan siapapun kiainya, untuk menjaga mahabbatul
ulama. Lebih baik ngantuk daripada ngobrol sendiri. Jadi dakwah itu bukan saja
ulama yang berada di atas podium, tapi pengunjung yang hadir dengan diamnya
adalah bagian dari bentuk dakwah.
Jahiliyah bukan
berarti bodoh. Jika diartikan bodoh mana mungkin al-Quran yang memiliki bahasa
satra sangat tinggi diturunkan di tengah-tengah mereka. Melainkan karena sifat
egoisme (gengsi) yang melekat dalam diri mereka. Sehingga meski daya
intelektualitasnya tinggi dan teknologi sudah maju tetap disebut dengan jaman
jahiliyah. Allah gambarkan dalam peristiwa pengangkatan Hajar Aswad. Nabi yang waktu
itu masih sangat muda tapi sudah menampakkan rahmatan lil ‘alamin-nya. Menjadi
tokoh pemersatu ummat dan bangsa, sehingga digelari al-Amin.
Jangan bangga
dengan status negara berkembang, seharusnya kita bertanya kapan berbuahnya. Persiapkan
menjadi calon-calon al-Amin yang mampu mempersatukan ummat dan bangsa sehingga
NKRI semakin kokoh dan kuat.
Nabi Saw.
sangat mencintai orang-orang yang menghuni bumi Indonesia. Para pembawa Islam
di negara ini membawa ruh ajaran yang komprehensif dari Nabi Saw., para ulama,
auliya dan habaibnya. Indonesia sudah seharusnya menjadi sumber teladan
perdamaian dunia. Maka buktikanlah.
Banyak wali
Allah yang ilmunya tidak seberapa banyak tapi di-futuh oleh Allah Swt. sebab
birrul walidain-nya (berbakti pada dua orangtua). Dan meskipun seseorang
ilmunya setinggi langit jika berani mungkuri (merendahkan) dan ngukur gurunya
sendiri maka dialah orang yang paling jauh dari Allah Swt.
Di akhir acara,
Maulana Habib Luthfi berpesan, “Tugas penting kita selanjutnya melalui peringatan
Maulid Nabi dan Haul ini adalah mengejawantahkan sabda Nabi Saw.:
ذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ
تَنْزِلُ الرَّحْمَةْ
Membawa rahmat, mengurai sejarah para ulama dan menziarahi kubur
mereka, sehingga terjaga dari oknum-oknum yang ingin memecah-belah umat dengan
ulamanya. Dalam rangka nguri-nguri sejarah.” (Ibjmart.Com)
PESAN DI BALIK KISAH HABIB LUTHFI DI HARI SANTRI
Written By MuslimMN on Senin, 17 Oktober 2016 | 17.18
Saya selaku
cucunya Habib Hasyim sendiri baru mengetahui belum lama. Dalam hati saya sendiri
bertanya mengapa saya baru mengerti? Di tempatnya guru saya, Kiai Abdul Fattah,
setiap Selasa pagi diadakan pengajian kitab Ihya Ulumiddin dengan
pengajar al-Alim al-Allamah Kiai Irfan Kertijayan Pekalongan. Kiai Irfan adalah
murid dari Kiai Amir Simbang.
Setiap kali
Kiai Irfan melihat saya selalu memandang dengan serius, tapi nampak ragu untuk
bertanya. Mungkin takut salah (sangka). Waktu itu yang menjadi saksi sejarah
adalah Kiai Irfan, Kiai Abdul Fattah, Kiai Abdul Adzim dan beberapa kiai yang
lain. Sayangnya para saksi sejarah ini sudah tiada semua. Beliau (Kiai Irfan) bertanya
kepada saya, “Habib Luthfi ini kalau saya lihat pakaiannya, cara jalannya, seperti
guru saya al-Habib Hasyim bin Umar bin Yahya. Beliau termasuk menjadi ulama
rujukan di Indonesia. Bahkan setiap bulannya di kediaman beliau sering berkumpul
para ulama dari luar Negara.”
Saya tidak
berani menjawab. Perasaan saya malu. Karena saya mempunyai kakek yang begitu
hebatnya tapi saya sendiri belum mampu untuk bisa meniru walau setetes. Karena saya
diam, Kiai Abdul Adzim dan Kiai Abdul Fattah yang menjawabnya, “Dia cucunya
Habib Hasyim bin Umar.”
Langsung saja
Kiai Irfan menangis dan merangkul saya karena saking gembiranya. Lalu beliau
berkata, “Mumpung saya masih hidup. Umur saya sekarang sudah 83. Mumpung masih
ada umur, saya takut sejarah ini hilang. Ketahuilah, ketika Mbah Hasyim Asy’ari sudah keliling muter untuk mendirikan
Nahdlatul Ulama (NU) beliau terlebih dahulu beristikharakh di Makkah al-Mukarramah.
Singkat ceita, dari istikharahnya tersebut dihasilkan sebuah keputusan oleh
para ulama yang ada di sana seperti Kiai Ahmad Nahrawi, guru tarekat
Syadziliyah terkenal, Kiai Mahfudz at-Turmusi, dan beberapa tokoh ulama lainnya,
bahwa, “Di Jawa, keputusannya hanya ada di dua orang. Yang pertama al-Habib
Hasyim bin Umar bin Yahya Pekalongan, dan yang kedua Mbah Kiai Ahmad Kholil
Bangkalan. Bilamana dua orang ini setuju, maka dirikanlah Nahdlatul Ulama. Tapi
apabila dua orang ini tidak berkenan, jangan dibantah.”
Akhirnya Mbah
Hasyim Asy’ari kembali (ke tanah air). Sesampainya di rumah beliau langsung menuju
ke Kudus untuk meminta Kiai Asnawi dan Kiai Yasin mendampinginya. Terus
(dilanjut) ke Pekalongan menuju rumahnya Kiai Muhammad Amir, dan di situ sudah
ada Kiai Irfan yang memang sudah dipersiapkan, karena mendengar Kiai Hasyim
akan berkunjung.
Lalu Kiai
Hasyim didampingi Kiai Asnawi, Kiai Yasin, Kiai Amir dan Kiai Irfan datang ke rumah
Habib Hasyim. Sesampai di sana, Habib Hasyim berkata, “Hasyim, saya ridhai
kalau kamu mendirikan suatu wadah untuk Ahlussunnah wal Jama’ah.”
(Mendengar
jawaban tersebut) Mbah Hasyim Asy’ari sangat senang hati. Setelah menginap (beberapa
hari) di Pekalongan, beliau meminta kepada Habib Hasyim untuk mengajarinya
(menambah) ilmu hadits. Maka setiap Kamis Wage, beliau mesti datang ke
Pekalongan belajar ilmu hadits kepada Habib Hasyim.
Dari Pekalongan
Mbah Hasyim Asy’ari langsung menuju ke Mbah Kholil Bangkalan. Begitu sampai di
sana, Mbah Kholil langsung dawuh, “Sudah, pokoknya apa kata Habib Hasyim itu
benar. Saya cocok. Dirikanlah, jangan lama-lama lagi.” Sehingga berdirilah Nahdaltul
Ulama.
Saat sebelum
keberangkatan ke Bangkalan, Mbah Hasyim Asy’ari dipesani Habib Hasyim, “Tapi
tolong, nama saya jangan ditulis.” Akhirnya Mbah Kholil pun sama (tidak mau
ditulis namanya). Akhirnya Kiai Hasyim bertanya, “Kalau tidak mau ditulis
semua, lalu bagaimana (sejarah nantinya)?”
“Ya sudah ndak
apa-apa saya ditulis, tapi jangan banyak-banyak”, jawab
Mbah Kholil.
Di kesempatan
lain saat Habib Luthfi duduk bersama Gus Dur, Faizin dimintai untuk menjadi
saksi agar tidak dianggap mengada-ada. Habib Luthfi lalu menceritakan kisah di
atas kepada Gus Dur. Tapi ternyata kemudian Gus Dur menerangkan jauh lebih luas
lagi tentang peranan Habib Hasyim dengan Mbah Hasyim ketika awal berdirinya
Nahdlatul Ulama. Maka jangan heran kalau keluarga Mbah Hasyim Asy’ari,
khususnya Gus Dur, dengan kita dekat. Itu meneruskan sebagaimana keakraban para
sesepuh, para ulama kita jaman dulu.
Menceritakan itu
memang mudah, tapi intinya cuma satu, “Mampukah kita meneruskan thariqah (jalan
perjuangan)nya para beliau atau tidak?” Pungkas Habib Luthfi bin Yahya. (*IBJ,
disarikan dari rekaman video berikut: https://youtu.be/xlJg7jxbFxQ).
HABIB ALI AL-JUFRI; SAYA MENCINTAI ORANG NASRANI BAHKAN YAHUDI!
Written By MuslimMN on Jumat, 14 Oktober 2016 | 05.45
Saya mencintai
seorang Muslim, meskipun ia berselisih pendapat dengan saya dalam masalah
agama, walaupun ia mengkafirkan saya, walaupun ia menghalalkan darahku,
walaupun ia tampakkan kebencian di hadapan saya, saya tetap mencintainya. Saya benci
akhlaknya, tapi saya mencintainya. Di dalam dirinya ada cahaya La Ilaha
illallah. Dia dinisbatkan kepada Sayyidina Muhammad Saw. karena dia bagian
dari ummatnya.
Begitupula,
saya mencintai non-Muslim. Nasrani? Ya, saya mencintai orang Nasrani (Kristen).
Bahkan lebih dari itu, saya mencintai (orang) Yahudi. Saya benci penjajah
dengan jajahannya di sana, yakni Zionis. Yang menghalalkan tanah dan harga diri
saya, dan saya siap memeranginya tapi hati saya menginginkan hidayah untuknya
dan ingin ia kembali kepada kebenaran. Tapi tidak, saya tidak membenci Yahudi
karena dia Yahudi (ke-Yahudiaannya). Dia membenciku, Allah mengajarkan saya (dalam
al-Quran) bahwa ia (Yahudi) akan menjadi orang yang paling memusuhiku dan
kenyataan menjadi saksinya. Tapi saya cinta kepada orang Nasrani, Yahudi, Budha,
dan (bahkan) Atheis.
Saya benci
kekafiran seorang kafir, tapi tidak benci kepada orangnya. Saya benci
kemaksiatan pendosa, tapi saya tidak benci sosoknya. Saya siap mengekspos hal
ini dan bertukar pikiran dengan para ulama dari golongan yang memandang ucapan
saya tidak benar. Saya akan cium tangan mereka tapi saya berbeda pendapat
dengan mereka dalam hal ini. Ini yang saya pelajari. Ini yang saya pelajari
dari akhlak Rasulullah Saw. Ta’dzim terhadap karunia Allah Swt. atas seseorang
(manusia, sebagaimana firmanNya):
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا
بَنِي آدَمَ
“Kami telah memuliakan
anak-anak Adam.” (QS. al-Isra’
ayat 70).
(Pernah terjadi) jenazah seorang Yahudi sedang
lewat di hadapan Rasulullah Saw. Lalu beliau Saw. berdiri. (Salah seorang
sahbat berkata): “Ya Rasullah, itu adalah jenazah seorang yahudi.”
أَلَيْسَتْ
نَفْسًا؟
Jawab Rasulullah Saw.: “Bukankah ia (juga)
seorang manusia?” Sebagaimana dalam hadits shahih, beliau Saw. mengajarkan kepada
kita adab yang tinggi ini.
Baik, apa makna dakwah jika kosong dari makna
cinta? Dakwah adalah keinginan menyampaikan hidayah. Bukankah demikian? Hidayah
untuk pendosa, hidayah untuk orang kafir agar masuk Islam. Lalu Anda ingin
mengajarkan saya bahwa dakwah adalah secara rasio (dengan pemikiran) yang benar
dan lurus secara ruh dan akal agar saya berkata, “Saya benci dan tidak suka
kepadamu karena Allah dan saya mengajakmu untuk masuk Islam! Saya benci
kepadamu dan marilah masuk Islam! Agama saya menyuruh saya membencimu dan saya
nasihati Anda agar masuk ke agama ini yang telah menyuruh saya membencimu”. Bagaimana
mungkin ini benar!?
Agama saya mengajarkan saya agar saya membenci
kebatilan yang ada padamu, bukan membenci sosokmu. Pemahaman-pemahaman ini dulu
di diri para (ulama) salaf kita adalah demikian. Itu hasil dari didikan, bahkan
mereka tidak perlu menjadikannya kurikulum di kitab-kitab. Karena dulu mereka
menjalaninya di dalam kehidupan mereka. Bahkan ketika mereka mengangkat senjata
untuk menjalankan kewajiban jihad yang suci dalam peperangan menghadapi musuh
yang menjajah. Dulu pandangan mereka dalam memerangi musuh adalah karena
terdesak sebab didzalimi atau sebab tidak diberikannya hak orang-orang dalam
Islam, karena mereka masuk Islam dengan kehendak mereka sendiri. Bersamaan dengan
itu mereka mengharapkan hidayah untuk musuh, bukan perang.
Nabi Saw. pernah berdiri di hadapan seorang
wanita yang memegang senjata bersama orang-orang kafir yang dzalim yang
memerangi Muslimin. Lalu wanita itu ikut berperang dan terbunuh. Lalu Nabi Saw.
berdiri di depan mayatnya setelah usai perang, dan beliau tersentuh serta
kecewa. Nampak kekecewaan beliau Saw., lalu berkata:
ماَ كَانَ
لِهَذِهِ أَنْ تُقَاتِلَ فَتُقْتَلُ
“Tidak
seharusnya wanita ini ikut berperang lalu terbunuh.”
Rasulullah Saw. ajarkan makna ini. Beliau Saw.
mengajari kita bahwa pada asalnya adalah keinginan kesejahteraan dan
keselamatan untuk umat manusia, bukan peperangan. Dan bahwa perang adalah keadaan
darurat untuk menjaga kehidupan dengan maknanya yang lebih besar. (*IBJ, ditranskrip
dari video ceramah Habib Ali al-Jufri: https://youtu.be/wP73o4CfOpk).
Inspirasi Sebutir Nasi, Kisah Habib Luthfi
Written By MuslimMN on Senin, 06 Juli 2015 | 11.33
Dandanannya bergegas dibuat semenarik mungkin. Laiknya akan menghadapi seorang tamu dalam sebuah jamuan. Begitu makanan dihidangkan, tangannya siap menyuap dengan perlahan. Butir demi butir nasi dimasukkan ke dalam mulutnya penuh dengan perasaan.
Tatkala ada sebutir saja nasi yang jatuh, langsung diambilnya lalu dimakan tanpa sungkan. Jika tak memungkinkan, karena terlalu kotor, mungkin itu menjadi rizki bagi ayam yang harus ia beri makan. Sang murid kesayangan pun menjadi terheran-heran. Dengan sungkan, terpaksa murid itu (Habib Luthfi bin Yahya) mengutarakan: "Maaf Bah, kenapa setiap kali mau makan Abah selalu demikian?"
Sang guru diam sejenak, sembari tersenyum dijawab: "Kamu lihat di sebutir nasi ini? Ternyata untuk menjadi nasi tidak sesederhana ketika kita memakannya. Di dalamnya ada peluh keringat kerja keras para buruh tani, mulai dari yang membuat bibitnya, mencangkul tanahnya, membajak sawahnya, menanam benihnya, menyiraminya, merabuknya, merawatnya, memanennya, menjemurnya, menumbuknya, memasaknya, barulah menjadi sebutir nasi ini. Aku melakukan ini demi untuk menghormati mereka," pungkas Mbah Malik dengan air mata berlinangan.
Kita jadi mafhum, bagaimana Nabi Saw. dalam sabdanya dengan tegas berpesan: "Innama tunsharuna waturzaquna illa bidhu'afaikum", sungguh tidaklah kalian meraih pertolongan dan rizki terkecuali hanya karena para dhuafa (kaum lemah) diantara kalian. (Sya'roni As-Samfuriy, Cikarang).
Habib Luthfi bin Yahya Ditantang 10 Dukun
Written By MuslimMN on Sabtu, 18 Oktober 2014 | 09.27
Pernah suatu
ketika, sekitar 10 dukun mendatangi Habib Luthfi Yahya untuk ditantang keilmuannya.
Habib Luthfi dengan tegas menolak tantangan tersebut. Beliau balik bertanya: “Untuk
apa dan atas dasar apa kamu menantang saya?”
Salah satu dari
10 dukun itu menjawab: “Kami ingin tahu apa kelebihanmu, kok murid-muridmu
banyak bahkan ada di mana-mana. Dan apa benar Habib ini wali Allah, kok sampai-sampai
banyak yang menyukai dan mencintaimu.”
Habib Luthfi
hanya tersenyum mendengar penuturan si dukun itu. Kemudian 10 dukun tersebut mulai
komat-kamit tak jelas dan mengambil satu ‘keris legenda’, kata si dukun, lalu
diletakkan persis di depan Habib Luthfu. Lantas dukun itu berkata: “Ambillah
jika Habib mampu!”
Habib Luthfi pun
hanya tersenyum sembari berjalan mengambil sapu lantai dan disapunya keris itu dengan
mudahnya tanpa membuang-buang tenaga. Kagetlah 10 dukun itu, gumam mereka: “Kok
bisa ya hanya dengan menyapu saja, padahal sudah saya buktikan tidak ada
seorang pun yang dapat mengambil keris itu.”
Kemudian Habib
Luthfi bin Yahya mencabut bulu rambut yang ada di kepalanya dan meletakkannya
persis di depan 10 dukun itu. Beramai-ramailah dukun itu dengan sekuat tenaga
mengambil satu helai bulu rambut Habib Luthfi. Tapi apa hendak dikata, tak
seorang pun darinya yang dapat mengambil bulu rambut itu. Akhirnya 10 dukun itu
segera meminta maaf kepada Habib Luthfi dan bahkan bersedia menjadi murid Habib
Luthfi sampai saat ini. (Diolah dari Pengky Sutarto,
yang diceritakan langsung dari abdi dalem).
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 18 Oktober 2014
KISAH SEORANG KYAI BERBAIAT KEPADA HABIB LUTHFI
Written By MuslimMN on Senin, 13 Oktober 2014 | 20.58
Kisah ini semata-mata
hanya untuk menambah kecintaan dan ketaatan pada guru (Abah Maulana Habib
Luthfi bin Yahya), juga berharap sesama murid beliau agar saling mengenal. Semoga
semua dalam jalinan rahmat Allah Swt. Aamiin.
1. Mbah Toyik Kudus dan Habib Ali Mayong
Mbah Toyik (KH. Thoriq),
kyai asal Kota Kudus Jawa Tengah. Beliau kakak seperguruanku di tempat Abah,
berperawakan kurus dan berkacamata. Kalau pergi ke Kudus, saya (Idrus Yahya) mampir ke rumah beliau.
Ramah bersahabat dan ilmunya dalam namun tawadhu’ luar biasa, maka saya pribadi
menganggap beliau sebagai guru. Apa-apa yang diajarkan Habib Luthfi bin Yahya (kala
saya berhalangan ngaji) beliau sampaikan, dengan bahasa yang sederhana namun
mengena.
Adapun ikhwal kyai
“khos” ini menjadi murid Habib Luthfi bin Yahya adalah dimulai dari kisah
seorang mursyid tua kala itu, Habib Ali Mayong. Dijuluki Mayong karena berasal
dari kota Mayong, Jepara.
Alkisah pada suatu
hari, sang guru mengajak muridnya (Kyai Thoriq) untuk diajak ke Pekalongan
(pertama kali sang kyai dikenalkan Abah). Dengan menaiki becak langganan, Habib
Ali Mayong berkata: “Pak, anter nggih teng Pekalongan.” (Pak, antarkan
ke Pekalongan).
Tentu saja tukang becak
terbelalak: “Ampun Bib, kulo mboten sagah” (Maaf Bib, saya tidak
sanggup).
Habib Ali tersenyum
lalu berucap: “Wis Sampeyan asal nggenjot ora usah mikir, mengko nek ora
kuat mandeg kemawon” (Sudah tidak usah dipikir. Asal kayuh saja, ntar kalau
capek berhenti).
Satu, dua perlahan
dikayuh pedal becak dan meluncur ke arah Demak menuju Pekalongan. Kadang si
tukang becak dihibur oleh Habib Ali dengan diajak ngobrol. Tak berapa lama, Habib
Ali berkata: “Belok kanan nyebrang Pak.”
Tukang becak pun
melihat kiri dan kanan kemudian menyebrang. Lalu sampai di gang, Habib Ali memberi
aba-aba untuk berhenti. “Niki pundi Bib, terose ajeng teng Pekalongan kok
mandap mriki?” (Ini daerah mana Bib, katanya mau ke Pekalongan kok turun di
sini?) Tanya tukang becak.
Habib Ali menunjuk
salah satu plang toko yang bertuliskan alamat dan nama jalan. “Lha iku wis
tekan Pekalongan” (Lha itu sudah sampai Pekalongan), jawab Habib Ali.
Dengan penasaran tukang
becak bergumam: “Duh Gusti, lha nggih pun dugi Pekalongan. Kok mboten kroso
kulo?” (Ya Tuhan, lha benar sudah sampai Pekalongan. Kok tidak berasa ya?).
“Sampeyan nunggu mriki,
nggih. Ki nek arep wedangan” (Kamu tunggu di sini
ya. Ini kalau mau minum teh atau nyemil), sambil menyerahkan uang.
Di kediaman Habib
Luthfi bin Yahya sudah selesai masak dan membuat hidangan. Rupanya Habib Luthfi
bin Yahya juga merasa kalau ada salah satu guru yang akan berkunjung ke rumah
beliau. Ucap salam Habib Ali bertemu Habib Luthfi bin Yahya, pelukan dan
beramah tamah. Kemudian disampaikan maksud bahwa beliau (Habib Ali) dapat
petunjuk untuk mengajak muridnya ke tempat Habib Luthfi. Habib Luthfi bin Yahya
menjawab: “Yo wis kersane Pengeran, siapa yang ditakdirkan Allah untuk membaiat
sang murid (Kyai Thoriq). Anda atau saya?”
Habib Ali tersenyum dan
setuju. Giliran pertama Habib Ali memberi aurad (wiridan) singkat, sang
murid melaksanakan. Satu jam berlalu dengan khusyuk sang murid ditanya gurunya
(Habib Ali): “Bagaimana Kyai, sudah ada isyarat?”
Kyai Thoriq menggeleng
sembai berkata: “Ngapunten Bib, dereng enten pitedah” (Mohon maaf Bib, belum
dapat petunjuk).
Kemudian Habib Ali mempersilakan
Habib Luthfi: “Tafadhal.” Lalu Habib Luthfi bin Yahya mendekati sang
murid, perlahan memberi arahan amalan pendek. Setelah mengikuti petunjuk Habib
Luthfi bin Yahya sang murid pun tertidur pulas. Satu jam berikutnya terbangun,
sang murid tergopoh-gopoh menghampiri gurunya (Habib Ali) yang waktu itu sedang
berdialog dengan Habib Luthfi bin Yahya. “Bib... Biib... ngapunten.”
Rupanya dalam mimpi,
Kyai Thoriq bertemu Rasulullah Saw. sedang menggandeng pemuda di sebelah kanannya.
Sedang satu lagi ada habib duduk di bawah di samping kiri Nabi Saw. “Haqqak
hadza, tafadhal ya Habib” (Ini punyamu ya Habib), Habib Ali Mayong berkata
pada Habib Luthfi bin Yahya dengan wajah berseri.
Ternyata mimpi itu
bermakna lelaki muda tadi adalah Habib Luthfi bin Yahya yang digandeng Baginda Nabi
Saw. Sedangkan yang terduduk adalah Habib Ali Mayong. Lalu saat itu juga dengan
disaksikan Habib Ali sang gurunya, Kyai Thoriq pun dibaiat oleh Habib Luthfi bin
Yahya.
Rupanya pertemuan di
Pekalongan dengan Habib Luthfi bin Yahya adalah pertanda dari Allah untuk sang
kyai. Al-Habib Ali Shihab alias Habib Ali Mayong beberapa minggu kemudian
berpulang ke haribaanNya. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Dan yang
paling menyedihkan adalah kala Habib Luthfi bin Yahya memberi isyarah pada Kyai
Thoriq (dalam mimpi) untuk segera menemui gurunya, namun tidak segera dipenuhi.
Sebab sang kyai ragu, pertanda tersebut dari mimpinya bukan langsung disampaikan
Habib Luthfi bin Yahya. Kyai Thoriq kaget bukan kepalang, ternyata benar
terjadi. Namun beliau (sang guru) telah wafat. Di rumah duka tersebut beliau
berjumpa dengan Habib Luthfi bin Yahya yang tiba duluan.
Kyai Thariq terkadang di
pengajian Kliwonan mampir ke Habib Luthfi bin Yahya. Tapi rutinnya tiap
peringatan Maulid di Kanzus beliau selalu hadir. Sedangkan tukang becak itu
hingga kini masih hidup. Dia menjadi saksi mata semua kejadian perjalanan Habib
Ali Mayong, sebab kendaraan favorit beliau adalah becaknya.
2. Perjalalanan Haji Mbah Toyik
Sepulangnya ke Kudus,
lalu Kyai Thoriq menemui sang istri. Sambil kebingunan beliau menyampaikan: “Nyai,
aku didawuhi Abah mangkat haji. Lha pripun ora nyekel duit?” (Nyai, aku diwanti-wanti
Abah suruh berangkat haji. Lha bagaimana, saya tidak punya uang sama sekali).
“Wes asal nurut bae Kyaine,
mengko rak temu dalane” (Sudah, asal ngikut saja. Siapa tahu ketemu jalannya),
jawab istri beliau.
Tak berapa lama setelah
istirahat, kemudian selesai shalat Ashar beliau kedatangan tamu. Seseorang
menyampaikan maksudnya, mohon doa agar istrinya dimudahkan atau diangkat
penyakitnya. Mbah Toyik pun menenangkan tamunya, mendoakan, menghibur dan
membesarkan hatinya. Kemudian tamu pun berpamitan.
Tiga hari berikutnya
tamu itu datang lagi dengan wajah berseri. Lalu bercerita kalau istrinya sudah
agak baikan. Rencananya mereka berdua mau berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah
haji. Sudah mengurus segalanya, namun atas petunjuk dokter supaya istirahat
dulu demi penyembuhan. Akhirnya segala keperluan berikut surat-surat, tiket,
akomodasi penginapan, visa atau paspornya diurusin tamu tadi untuk Mbah Toyik.
Beliau hanya tinggal mencari uang saku saja. Seketika beliau kaget, hingga
tamunya pergi masih tidak percaya.
Diceritakannya kejadian
tersebut pada istrinya. “Alhamdulillah Nyai, sido mangkat haji. Mengko sangune
gampang lah” (Alhamdulillah Nyai, terkabul berangkat haji. Soal uang saku nanti
menyusul), begitu kata beliau.
Akhirnya segala persiapan
dilengkapi dua hari sebelum beliau berangkat. Tiba-tiba ada tamu datang lagi.
Dengan memohon-mohon minta disyareati atau diikhtiari doa agar tanahnya laku, Mbah
Toyik ‘lillahi ta’ala’ menyanggupi.
Hal yang mengejutkan
terjadi lagi, tanahnya laku, beliau pun diberi komisi. Lengkap sudah beliau
berangkat, hingga dari Kudus bareng rombongan haji berangkat ke tanah suci. Di
perjalanan beliau bertemu beberapa teman baiknya. Tak disangka, mereka (para
sahabat) memasukkan amplop ke kantong saku beliau. Beliau terlanjur bahagia
hingga tidak dihitung, asal pindahin ke tas karena numpuk di kantong. Yang pada
akhirnya jumlah isi amplop itu mencapai jutaan. (Diolah
dari web Ustadz Oki Yosi, bersumber dari Habib Idrus Yahya).
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 14 Oktober 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
















.jpg)