Latest Post

Tampilkan postingan dengan label MAULANA AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAULANA AL-HABIB LUTHFI BIN YAHYA. Tampilkan semua postingan

Kyai Menguak Keberkahan Air dan Tanah (Bag. 2)

Written By MuslimMN on Jumat, 22 September 2017 | 06.45

Ramadhan kemarin, ketika saya diundang oleh Kick Andy, dibuatkan sebuah acara bertajuk ‘Dakwah Ramah’ dengan merangkul anak-anak jalanan. Perasaan saya dan istri serta beberapa penonton di ruangan itu, melihat tidak ada yang salah dengan pernyataan saya.

Namun ada perasaan tidak enak di hati saya. Melihat yang sudah-sudah sekelas Ketua Umum PBNU saja (Kyai Said Aqil) dibully terus-terusan, tapi beliau bandel. Hingga saya pernah bertanya, “Kyai kok tenang-tenang saja?” Jawab Kyai Said enteng, “Lha wong HP saya jadul.” Jadi selama ini beliau tidak bermedsos seperti twitter, facebook ataupun lainnya.

Giliran Gus Mus yang saya tanya, “Abah tenang-tenang saja?” Jawab Gus Mus, “Lha iya, kita mikirnya Allah saja, kenapa mikir manusia?” Beliau kalau ke saya sangat luwes.

Saya juga pernah bertanya kepada Mbah Mun (KH. Maimoen Zubair), karena sekelas beliau ada saja yang menyerang. Namun jawab Mbah Mun,“Saya itu senang aja dikomentari, mau jelek atau tidak.” Habib Luthfi Bin Yahya pun mengalami hal serupa dengan para pimpinan NU tersebut.

Jadi setelah para pimpinan NU diserang tapi tidak mempan,maka serangan mulai ke tingkat bawah, yaitu saya sebagai Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU). Jadi waktu itu saya sudah tahu akan diserang. Betul saja, MCA (Muslim Cyber Army) menyerang dengan narasi yang tidak pernah saya ucapkan, “Perhatikan, adakah yang salah dari video ini?” Mereka mengambil (potongan) video yang satu menit, lalu mereka membuat narasi, “Kyai Maman menyamakan semua agama”.

Apakah itu ada di pernyataan saya? Saya cek tidak ada. Dan dibully selama kurang lebih seminggu. Kalau saya sih biasa-biasa saja dibully, tapi yang tidak biasa adalah staf-staf saya di LDNU. Hingga putri saya yang sedang mesantren di Bahrul Ulum Jombang ikut marah, ngomong ke ibunya, “Mah, Papa sedang diserang, apa perlu kita bacain doa di sini, istighatsahan agar yang nyerang Papa mati semua?” Istri saya hanya menjawab, “Papamu tidak pernah mengajarkan untuk membalas orang yang membenci.”

Anak-anak santri saya yang sedang keluar sering diomongi oleh salah satu guru yang kebetulan hari ini kampungnya terkenal dengan tertangkapnya seorang teroris. Kata dia Kyai Maman tidak pernah shalat, mengajarkan keagamaan yang ngacau, sering ziarah kubur, dlsb. Jadi tuduhan-tuduhan seperti itu sudah sangat biasa bagi saya.

Singkat cerita, bully-an terhadap saya pasca acara Kick Andy, selesai setelah satu minggu. Tiba-tiba ada yang telepon ke Bang Andy (host acara Kick Andy), “Mas Andy, bolehkah saya minta nomor teleponnya Pak Maman?” Jawab Bang Andy, “Saya harus telepon dulu Kang Mamannya.”

Kemudian Bang Andy telepon saya, katanya, “Kang, ada yang minta nomor telepon.” “Ini haters atau lovers?” tanya saya. Kata Bang Andy, “Aku tidak tahu.” Lalu saya jawab, “Ya sudah, kasih saja.”

Beberapa saat kemudian orang itu menelepon saya, “Pak Maman, bolehkah saya berkunjung ke rumah?”

Bayanganku langsung teringat dulu saat tragedi di Monas, saya digebukin sampai kepala saya dijahit dengan 18 jahitan, dagu 4 jahitan dan dada saya diinjak-injak. Saya juga teringat saat Gus Dur datang ke tempat saya dirawat, beliau nampak bersedih. Waktu itu kepala saya masih menetes darah, kemudian tangan Gus Dur diusapkan ke darah itu lalu dicium di hidungnya seraya berkata, “Tidak boleh ada lagi darah yang mengucur untuk membela keragaman, membela kebhinnekaan.” 

Namun kemudian Gus Dur tersenyum dan berkata, “Tapi bersyukur saja Kang Manan, Anda hanya 18 jahitan tapi jadi terkenal seluruh Indonesia.”

Saya terus-terusan difitnah, pesantren saya diprovokasi, dan lain sebagainya. Ada saja orang yang percaya bahwa saya salah. Ada beberapa tokoh NU yang datang dari Tanjungsari, Tasikmalaya, untuk klarifikasi. Saya jawab, “Tidak ada yang salah. Saya yakin dengan Islam. Dst.”

Singkat cerita orang yang menelepon saya datang bersama istrinya ke tempat saya di Jatiwangi Majalengka. Orang itu ternyata beretnis China, non-Muslim, datang ke ayah saya seraya bilang, “Saya mau ketemu Pak Maman.” Ayah saya menjawab, “Pak Mamannya tidak ada, sedang di Jakarta.” “Saya ingin tahu, benar atau tidak di sini ada pesantrennya,” kata orang China tadi kemudian.

Lalu mereka diajak keliling ditunjukkan di mana anak-anak jalanannya, di mana kepengurusan Paket C, dan lain sebagainya. “Tempat ini bagaimana cara membangunnya?” tanyanya kemudian. Dijawab, “Dibangun sedikit-demi sedikit.” Jadi tidak seperti pesantren-pesantren yang pinjam uang dulu ke bank puluhan milyar, baru dicarikan santrinya dengan biaya SPP puluhan juta perbulan. Kita pesantren-pesantren NU benar-benar dimulai dari nol, bahkan terkadang harus menggratiskan biaya para santrinya.

Akhirnya orang China itu bilang, “Pak Haji, bilang ke Pak Maman, apa yang dibutuhkan?” Ayah mertua saya hanya bilang, “Di sini sering ada acara Fatayat, Muslimat, IPPNU dan semuanya tingkat Jawa Barat. Jadi butuh Aula.”

Lalu orang China itu berkata, “Ok, saya akan bangun Aula. Saya nonton sepanjang acara Kick Andy. Saya tahu persis bagaimana perasaan Pak Maman ketika dibully. Saya hanya ingin mengatakan akan bantu kepada siapapun yang berjuang di jalan Tuhan.” Tanpa berpanjang kata dan tanpa proposal yang rumit, orang itu menyumbangkan dananya sebesar 1 Milyar. Saya meyakini itu bagian dari keberkahan.

Menyambungkan ke cerita sebelumnya, saya menikah tahun 1994 dengan Ibu Hj. Upik Rofiqoh. Dulu saya beserta istri sering sowan ke Ibu Nyai Khadijah Bahrul Ulum Jombang. Kepala kami sering dielus-elus oleh Ibu Nyai seraya didoakan. Sampai sekarang masih sangat terasa keberkahan doa-doa itu.

Singkat kata, semoga anak-cucu kita meneruskan estafet perjuangan ini, tetap mesantren di pesantren-pesantren NU, dan tetap jadi Sarkub (Sarjana Kuburan). Jangan sampai ada lulusan Pesantren Tambakberas tiba-tiba jadi anti ziarah kubur. Lanjut nanti ke bagian 3 kisah menarik Gus Dur dengan para kyai NU...

*Sya'roni As-Samfuriy. Disampaikan oleh KH. Maman Imanulhaq, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka dan Ketua Umum LDNU Pusat dalam Pengajian Akbar dan Khataman Al-Quran Reuni IKABU (Ikatan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas se-Jabodetabek).

HABIB LUTHFI BIN YAHYA; RAHASIA DI BALIK MUKJIZAT DAN KAROMAH

Written By MuslimMN on Kamis, 26 Januari 2017 | 15.23



Terdapat dalam manaqibnya Sayyidi Syaikh Abul Abbas al-Mursi dan Sayyidi Syaikh Abil Hasan asy-Syadziliy sebuah hadits Nabi Saw.: الْعُلُمَاءُ  وَرَثَةُاْلأَنْبِيَاءِ (ulama adalah pewaris para nabi). Imam asy-Syadziliy menafsirkan ulama itu ada dua macam; Ulama Shadiqun dan Ulama Shalihun. Yang pertama ulama shadiqun itu al-Auliya mitsl ar-Rusul, para wali seperti para rasul. Yang kedua ulama shalihun itu al-Auliya mitsl al-Anbiya, para wali seperti para nabi.

Kenapa dipisah (dibagi) menjadi dua, sebab kalau rasul itu berkewajiban (bertugas) balagh (menyampaikan), waballagha ar-risalah wa adda al-amanah wanashaha al-ummah wajahada fillahi haqqa jihadih. Masalah mengeluarkan mukjizat itu suatu kewajiban (bagi para rasul Allah) karena tashdiq (menjadi pernyataan kebenaran adanya risalah) untuk memperkuat kaum awam.

Kalau ulama berbeda dengan rasul dengan diberi karomah-karomah oleh Allah Swt. Semisal karomahnya Habib Ahmad Bafaqih Syihr Hadhramaut. Suatu ketika ada seorang Maghrabi ahli sihir yang ingin menjajal kewalian Habib Ahmad Bafaqih. Orang tersebut meniup pohon kurma yang sedang tumbuh dan berbuah, seketika pohon kurma tersebut terbakar hebat sampai habis. Habib Ahmad lalu berkata, “Coba tiup lagi agar pohon kurmanya hidup kembali.”

Orang tersebut menjawab tidak bisa. Lalu Habib Ahmad pun bertanya, “Oh ilmumu hanya segitu?” Kemudian Habib Ahmad langsung berucap, “Hai pohon kurma, bi-idznillah hiduplah seperti semula!” Seketika pohon kurma yang sudah hitam gosong tadi hidup kembali bahkan dengan dedauan dan buah-buahan yang lebih baik dari semula.

Menyaksikan yang demikian orang Maghrabi itu pun hanya terdiam melongo, tak bisa berbuat apa-apa lagi. Akhirnya ahli sihir itu pun tunduk kepada Habib Ahmad Bafaqih.

Begitupula karomahnya Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Dulu di Tarim Hadhramaut ada seseorang asal Maghrabi yang sangat kaya, dia sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Jaman itu ukir-ukiran terbaik emas dan perak adalah ukirannya Maghrabi. Akhirnya orang tersebut pergi ke Maghrabi hanya untuk memesan ukiran tersebut. Dipesanlah ukiran (gelang) teristimewa yang nantinya dipakai untuk melamar sang wanita pujaan.

Begitu pesanan sudah jadi, diajaklah si wanita itu ke rumah orang asal Maghrabi itu. Gelang itu lalu dipakaikan ke tangan si wanita pujaan oleh ibunya. Anehnya wanita itu langsung hilang entah ke mana. Penduduk Tarim pun menjadi geger. Dicari kesana-kemari bertanya kepada orang-orang pintar pun tidak ada yang sanggup menjawab dan mencarinya. Hingga bertemulah ia dengan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad.

“Sudah, sekarang kamu pergilah kembali ke tukang yang membuat gelang itu.” Jawab Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Lalu pergilang orang tersebut ke Maghrabi sesuai perintah Habib Abdullah. Dan Habib Abdullah berpesan, “Tanyakan nanti, kembalikan atau tidak. Jika jawabannya tidak mau mengembalikan, tinggalkan saja dan pulanglah kembali ke Tarim.”

Sesampai di sana, ia melihat calon istrinya sedang berada di dalam ruangan seperti kurungan, tidak bisa keluar. “Orang ini memesan gelang jauh-jauh dari Tarim ke sini, pasti untuk seorang wanita yang cantik luar biasa,” batin tukang ukir itu saat pertamakali dipesani untuk membuatkan gelang. Pesan Habib Abdullah lalu disampaikan, dan ternyata jawaban tukang ukir tadi adalah ‘tidak mau’. Kemudian orang tersebut pun langsung pulang kembali ke Tarim.

Sesampai di Tarim ia langsung menghadap Habib Abdullah al-Haddad dan menyampaikan kejadian (jawaban) di atas. “Depan rumahmu tanahnya luas apa tidak?” Tanya Habib Abdullah kemudian. Lalu dijawab iya, yang kemudian Habib Abdullah berkata, “Ya sudah, tunggu saja besok ada apa, tapi jangan kaget nantinya.”

Besoknya di waktu Shubuh, begitu orang tersebut membuka pintu ia sangat kaget. Pasalnya tiba-tiba ada rumah di depan rumahnya, dan rumah itu persis seperti (modelnya) rumah orang Maghrabi. Begitu penghuninya keluar, setelah dilihat ternyata orang itu adalah tukang ukir asal Maghrabi. Sekarang yang kaget pun bertambah. Si tukang ukir itu pun bertanya-tanya, “Saya ini sedang di mana, koq tiba-tiba di tempat yang asing?”
Habib Abdullah al-Haddad yang sudah datang kemudian menjawab, “Ini di Tarim Hadharamaut. Rumahmu saya cabut pindah ke sini. Kembalikan wanita itu. Kamu hanya bisa memindah satu wanita, sedangkan saya memindah rumahmu sekaligus keluargamu saya pindahkan juga ke sini. Sekarang kamu mau apa?”

Akhirnya tukang ukir itu pun bertaubat, meminta maaf kepada Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad seraya mengembalikan si wanita. Itulah karomahnya para ulama jaman dulu. Dan ini merupakan jawaban-jawaban, namun jangan dimasukkan ke akal melainkan masukkan ke dalam iman. Sebab jika dimasukkan ke akal tidak akan masuk dan akal tetap akan menolak.

Begitupula karomah seorang ulama yang ada di Nusantara ini, Maulana Syarif Hidayatullah Cirebon. Kenapa di makam beliau sampai sekarang banyak guci-guci dan piring-piring yang menempel di dinding makam. Kisah selengkapnya silakan simak dalam video dokumentasi berikut, sekaligus menyambungkan live streaming yang terputus tadi malam karena sinyal yang buruk: https://youtu.be/sP7G_m5thPE.

(Tulisan di atas adalah transkrip dan alih bahasa dari cuplikan mau’idzah hasanah Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya tadi malam dalam acara Maulid Nabi Saw. dan Haul Habib Umar bin Ali bin Hasyim bin Yahya & Sesepuh Desa Salakbrojo Kedungwuni, 27 Januari 2017. Oleh: Sya’roni As-Samfuriy via ibjmart.com)





HABIB LUTHFI: PELAJARAN PENTING DALAM PERINGATAN HAUL DAN MAULUD NABI

Written By MuslimMN on Minggu, 11 Desember 2016 | 12.31



“Bedanya Haul dengan Maulud adalah, jika Maulud yang dimauludi awalnya baik, terus baik, sampai akhirnya pun baik. Tapi kalau Haul, yang dihauli itu awalnya belum tentu baik, adakalanya orang tidak baik tapi taubatnya diterima sehingga diangkat derajatnya oleh Allah Swt.” Tutur Maulana Habib Luthfi bin Yahya dalam rangka memperingati Maulid Nabi Saw. dan Haul KH. Syafi’i Abdul Majid Pringlangu Pekalongan, malam Senin 11 Desember 2016.

Lanjut Habib Luthfi, Haul adalah peluang yang luar biasa, menunjukkan bahwa pintu taubat itu tidak pernah tertutup. Merupakan fadhal Allah yang tak bisa ditebak-tebak. Contohnya di jaman dulu ada Syaikh Malik bin Dinar, menjadi sulthanul arifin padahal dahulunya orang yang tidak baik. Di Jawa ada Sunan Kalijaga, setengah riwayat mengatakan beliau awalnya orang yang tidak baik. Tapi akhirnya menjadi orang yang luar biasa.

Tugasnya para wali saat di dunianya menjaga (nyangga) dunia, maka di dalam kuburnya pun masih bertugas hal yang sama. “Sedikitnya yang saya hafal ada 1.532 auliya (para wali Allah) yang dikubur di tanah Jawa,” terang Habib Luthfi bin Yahya kemudian.

Menghauli bukan sekadar menghauli seorang tokoh atau kiai atau wali tertentu. Tapi harus jelas siapa yang dihauli, tahu betul riwayat orang yang dihauli. Jangan sampai terjadi “mbah-mbuh” (ungkapan untuk orang yang tidak tahu sejarah), kata Habib Luthfi yang disambut tawa hadirin.

Pentingnya menuliskan dan menjaga sejarah, sebagaimana Nabi Saw. singgung dalam sabdanya:

ذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةْ

“Mengingat orang-orang shaleh menjadi sebab turunnya rahmat Allah.” Apalagi jika yang disebut-sebut adalah para auliya, wali Allah Swt. Dan jika ditarik ke atas lagi adalah Nabi Muhammad Saw., sayyidul anbiya wal mursalin, nabinya para nabi dan rasulnya para rasul.

Nabi Saw. sejak kecilnya sudah dijadikan yatim oleh Allah Swt. Jangan sampai ketika mendengar kata ‘yatim’ seolah-olah orang yang patut dikasihani. Nabi Saw. tidak dididik seperti itu. Kedua orangtua Nabi Saw. diwafatkan sebelum balighnya Nabi bukan dalam rangka untuk menyakiti beliau Saw. Sebab, Nabi saat itu belum dibi’tsah (diutus sebagai nabi dan rasul). Bagaimana mungkin Siti Aminah dan Sayyid Abdullah akan bersyahadat pada anaknya sendiri yang belum dibi’tsah karena masih anak-anak, belum ada tuntunan dan caranya.

Dan bukan pula untuk menjelekkan, merendahkan dan menyakiti dengan mengatakan kedua orangtua Nabi Saw. wafat belum beriman. Hal ini murni masalah politik yang terjadi pada jaman Bani Abbasiyah. Dan dijelaskan secara luas dalam kitab Asna al-Mathalib karya Mufti Mekkah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, gurunya Habib Ahmad bin Thalib Alattas, Hadhratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Mufti Betawi Habib Utsman bin Aqil hin Yahya, Kiai Mahfudz at-Turmusi dan banyak lagi para ulama lainnya dari Indonesia.

Ibu, ayah, kakek dan paman Nabi Saw. diwafatkan oleh Allah karena agar Nabi Saw. dididik langsung oleh Allah Swt. Hal demikian untuk mengangkat derajat Nabi Saw.

Setelah Nabi Saw. melakukan hijrah ke Madinah jumlah pengikutnya bertambah banyak. Saat memasuki Madinah Nabi Saw. disambut dengan thala’al badru, bukan pedang untuk balas dendam. Kemudian Nabi Saw. menjawabnya dengan intelektualitas, yakni membangun perekonomian, menyatukan dan merekatkan masyarakat yang beragam, dengan aman dan sejahtera.

Setelah peristiwa hijrah, saatnya Nabi Saw. beserta para sahabat memasuki Mekkah, dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah. Waktu itu ada salah seorang sahabat yang mengatakan, “Saatnya balas dendam!” sembari mengangkat pedangnya. Dijawab oleh Nabi Saw., “Kita masuk Mekkah dalam keadaan aman.” Lalu Nabi Saw. berpidato, diantaranya menyampaikan siapa yang masuk ke Baitul Haram maka dijamin keamanannya dan siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan –padahal waktu itu belum masuk Islam- dijamin keamanannya.

Kewibawaan ulama bisa ditakar saat pengajian. Biasakan para hadirin mendengarkan dengan baik dan seksama, dimanapun dan siapapun kiainya, untuk menjaga mahabbatul ulama. Lebih baik ngantuk daripada ngobrol sendiri. Jadi dakwah itu bukan saja ulama yang berada di atas podium, tapi pengunjung yang hadir dengan diamnya adalah bagian dari bentuk dakwah.

Jahiliyah bukan berarti bodoh. Jika diartikan bodoh mana mungkin al-Quran yang memiliki bahasa satra sangat tinggi diturunkan di tengah-tengah mereka. Melainkan karena sifat egoisme (gengsi) yang melekat dalam diri mereka. Sehingga meski daya intelektualitasnya tinggi dan teknologi sudah maju tetap disebut dengan jaman jahiliyah. Allah gambarkan dalam peristiwa pengangkatan Hajar Aswad. Nabi yang waktu itu masih sangat muda tapi sudah menampakkan rahmatan lil ‘alamin-nya. Menjadi tokoh pemersatu ummat dan bangsa, sehingga digelari al-Amin.

Jangan bangga dengan status negara berkembang, seharusnya kita bertanya kapan berbuahnya. Persiapkan menjadi calon-calon al-Amin yang mampu mempersatukan ummat dan bangsa sehingga NKRI semakin kokoh dan kuat.

Nabi Saw. sangat mencintai orang-orang yang menghuni bumi Indonesia. Para pembawa Islam di negara ini membawa ruh ajaran yang komprehensif dari Nabi Saw., para ulama, auliya dan habaibnya. Indonesia sudah seharusnya menjadi sumber teladan perdamaian dunia. Maka buktikanlah.

Banyak wali Allah yang ilmunya tidak seberapa banyak tapi di-futuh oleh Allah Swt. sebab birrul walidain-nya (berbakti pada dua orangtua). Dan meskipun seseorang ilmunya setinggi langit jika berani mungkuri (merendahkan) dan ngukur gurunya sendiri maka dialah orang yang paling jauh dari Allah Swt.

Di akhir acara, Maulana Habib Luthfi berpesan, “Tugas penting kita selanjutnya melalui peringatan Maulid Nabi dan Haul ini adalah mengejawantahkan sabda Nabi Saw.:

ذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةْ


Membawa rahmat, mengurai sejarah para ulama dan menziarahi kubur mereka, sehingga terjaga dari oknum-oknum yang ingin memecah-belah umat dengan ulamanya. Dalam rangka nguri-nguri sejarah.” (Ibjmart.Com)

PESAN DI BALIK KISAH HABIB LUTHFI DI HARI SANTRI

Written By MuslimMN on Senin, 17 Oktober 2016 | 17.18



Saya selaku cucunya Habib Hasyim sendiri baru mengetahui belum lama. Dalam hati saya sendiri bertanya mengapa saya baru mengerti? Di tempatnya guru saya, Kiai Abdul Fattah, setiap Selasa pagi diadakan pengajian kitab Ihya Ulumiddin dengan pengajar al-Alim al-Allamah Kiai Irfan Kertijayan Pekalongan. Kiai Irfan adalah murid dari Kiai Amir Simbang.

Setiap kali Kiai Irfan melihat saya selalu memandang dengan serius, tapi nampak ragu untuk bertanya. Mungkin takut salah (sangka). Waktu itu yang menjadi saksi sejarah adalah Kiai Irfan, Kiai Abdul Fattah, Kiai Abdul Adzim dan beberapa kiai yang lain. Sayangnya para saksi sejarah ini sudah tiada semua. Beliau (Kiai Irfan) bertanya kepada saya, “Habib Luthfi ini kalau saya lihat pakaiannya, cara jalannya, seperti guru saya al-Habib Hasyim bin Umar bin Yahya. Beliau termasuk menjadi ulama rujukan di Indonesia. Bahkan setiap bulannya di kediaman beliau sering berkumpul para ulama dari luar Negara.”

Saya tidak berani menjawab. Perasaan saya malu. Karena saya mempunyai kakek yang begitu hebatnya tapi saya sendiri belum mampu untuk bisa meniru walau setetes. Karena saya diam, Kiai Abdul Adzim dan Kiai Abdul Fattah yang menjawabnya, “Dia cucunya Habib Hasyim bin Umar.”

Langsung saja Kiai Irfan menangis dan merangkul saya karena saking gembiranya. Lalu beliau berkata, “Mumpung saya masih hidup. Umur saya sekarang sudah 83. Mumpung masih ada umur, saya takut sejarah ini hilang. Ketahuilah, ketika Mbah Hasyim  Asy’ari sudah keliling muter untuk mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) beliau terlebih dahulu beristikharakh di Makkah al-Mukarramah. Singkat ceita, dari istikharahnya tersebut dihasilkan sebuah keputusan oleh para ulama yang ada di sana seperti Kiai Ahmad Nahrawi, guru tarekat Syadziliyah terkenal, Kiai Mahfudz at-Turmusi, dan beberapa tokoh ulama lainnya, bahwa, “Di Jawa, keputusannya hanya ada di dua orang. Yang pertama al-Habib Hasyim bin Umar bin Yahya Pekalongan, dan yang kedua Mbah Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Bilamana dua orang ini setuju, maka dirikanlah Nahdlatul Ulama. Tapi apabila dua orang ini tidak berkenan, jangan dibantah.”

Akhirnya Mbah Hasyim Asy’ari kembali (ke tanah air). Sesampainya di rumah beliau langsung menuju ke Kudus untuk meminta Kiai Asnawi dan Kiai Yasin mendampinginya. Terus (dilanjut) ke Pekalongan menuju rumahnya Kiai Muhammad Amir, dan di situ sudah ada Kiai Irfan yang memang sudah dipersiapkan, karena mendengar Kiai Hasyim akan berkunjung.

Lalu Kiai Hasyim didampingi Kiai Asnawi, Kiai Yasin, Kiai Amir dan Kiai Irfan datang ke rumah Habib Hasyim. Sesampai di sana, Habib Hasyim berkata, “Hasyim, saya ridhai kalau kamu mendirikan suatu wadah untuk Ahlussunnah wal Jama’ah.”

(Mendengar jawaban tersebut) Mbah Hasyim Asy’ari sangat senang hati. Setelah menginap (beberapa hari) di Pekalongan, beliau meminta kepada Habib Hasyim untuk mengajarinya (menambah) ilmu hadits. Maka setiap Kamis Wage, beliau mesti datang ke Pekalongan belajar ilmu hadits kepada Habib Hasyim.

Dari Pekalongan Mbah Hasyim Asy’ari langsung menuju ke Mbah Kholil Bangkalan. Begitu sampai di sana, Mbah Kholil langsung dawuh, “Sudah, pokoknya apa kata Habib Hasyim itu benar. Saya cocok. Dirikanlah, jangan lama-lama lagi.” Sehingga berdirilah Nahdaltul Ulama.

Saat sebelum keberangkatan ke Bangkalan, Mbah Hasyim Asy’ari dipesani Habib Hasyim, “Tapi tolong, nama saya jangan ditulis.” Akhirnya Mbah Kholil pun sama (tidak mau ditulis namanya). Akhirnya Kiai Hasyim bertanya, “Kalau tidak mau ditulis semua, lalu bagaimana (sejarah nantinya)?”

“Ya sudah ndak apa-apa saya ditulis, tapi jangan banyak-banyak”, jawab Mbah Kholil.

Di kesempatan lain saat Habib Luthfi duduk bersama Gus Dur, Faizin dimintai untuk menjadi saksi agar tidak dianggap mengada-ada. Habib Luthfi lalu menceritakan kisah di atas kepada Gus Dur. Tapi ternyata kemudian Gus Dur menerangkan jauh lebih luas lagi tentang peranan Habib Hasyim dengan Mbah Hasyim ketika awal berdirinya Nahdlatul Ulama. Maka jangan heran kalau keluarga Mbah Hasyim Asy’ari, khususnya Gus Dur, dengan kita dekat. Itu meneruskan sebagaimana keakraban para sesepuh, para ulama kita jaman dulu.

Menceritakan itu memang mudah, tapi intinya cuma satu, “Mampukah kita meneruskan thariqah (jalan perjuangan)nya para beliau atau tidak?” Pungkas Habib Luthfi bin Yahya. (*IBJ, disarikan dari rekaman video berikut: https://youtu.be/xlJg7jxbFxQ).


HABIB ALI AL-JUFRI; SAYA MENCINTAI ORANG NASRANI BAHKAN YAHUDI!

Written By MuslimMN on Jumat, 14 Oktober 2016 | 05.45



Saya mencintai seorang Muslim, meskipun ia berselisih pendapat dengan saya dalam masalah agama, walaupun ia mengkafirkan saya, walaupun ia menghalalkan darahku, walaupun ia tampakkan kebencian di hadapan saya, saya tetap mencintainya. Saya benci akhlaknya, tapi saya mencintainya. Di dalam dirinya ada cahaya La Ilaha illallah. Dia dinisbatkan kepada Sayyidina Muhammad Saw. karena dia bagian dari ummatnya.

Begitupula, saya mencintai non-Muslim. Nasrani? Ya, saya mencintai orang Nasrani (Kristen). Bahkan lebih dari itu, saya mencintai (orang) Yahudi. Saya benci penjajah dengan jajahannya di sana, yakni Zionis. Yang menghalalkan tanah dan harga diri saya, dan saya siap memeranginya tapi hati saya menginginkan hidayah untuknya dan ingin ia kembali kepada kebenaran. Tapi tidak, saya tidak membenci Yahudi karena dia Yahudi (ke-Yahudiaannya). Dia membenciku, Allah mengajarkan saya (dalam al-Quran) bahwa ia (Yahudi) akan menjadi orang yang paling memusuhiku dan kenyataan menjadi saksinya. Tapi saya cinta kepada orang Nasrani, Yahudi, Budha, dan (bahkan) Atheis.

Saya benci kekafiran seorang kafir, tapi tidak benci kepada orangnya. Saya benci kemaksiatan pendosa, tapi saya tidak benci sosoknya. Saya siap mengekspos hal ini dan bertukar pikiran dengan para ulama dari golongan yang memandang ucapan saya tidak benar. Saya akan cium tangan mereka tapi saya berbeda pendapat dengan mereka dalam hal ini. Ini yang saya pelajari. Ini yang saya pelajari dari akhlak Rasulullah Saw. Ta’dzim terhadap karunia Allah Swt. atas seseorang (manusia, sebagaimana firmanNya):

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Kami telah memuliakan anak-anak Adam.” (QS. al-Isra’ ayat 70).

(Pernah terjadi) jenazah seorang Yahudi sedang lewat di hadapan Rasulullah Saw. Lalu beliau Saw. berdiri. (Salah seorang sahbat berkata): “Ya Rasullah, itu adalah jenazah seorang yahudi.”

أَلَيْسَتْ نَفْسًا؟
Jawab Rasulullah Saw.: “Bukankah ia (juga) seorang manusia?” Sebagaimana dalam hadits shahih, beliau Saw. mengajarkan kepada kita adab yang tinggi ini.

Baik, apa makna dakwah jika kosong dari makna cinta? Dakwah adalah keinginan menyampaikan hidayah. Bukankah demikian? Hidayah untuk pendosa, hidayah untuk orang kafir agar masuk Islam. Lalu Anda ingin mengajarkan saya bahwa dakwah adalah secara rasio (dengan pemikiran) yang benar dan lurus secara ruh dan akal agar saya berkata, “Saya benci dan tidak suka kepadamu karena Allah dan saya mengajakmu untuk masuk Islam! Saya benci kepadamu dan marilah masuk Islam! Agama saya menyuruh saya membencimu dan saya nasihati Anda agar masuk ke agama ini yang telah menyuruh saya membencimu”. Bagaimana mungkin ini benar!?

Agama saya mengajarkan saya agar saya membenci kebatilan yang ada padamu, bukan membenci sosokmu. Pemahaman-pemahaman ini dulu di diri para (ulama) salaf kita adalah demikian. Itu hasil dari didikan, bahkan mereka tidak perlu menjadikannya kurikulum di kitab-kitab. Karena dulu mereka menjalaninya di dalam kehidupan mereka. Bahkan ketika mereka mengangkat senjata untuk menjalankan kewajiban jihad yang suci dalam peperangan menghadapi musuh yang menjajah. Dulu pandangan mereka dalam memerangi musuh adalah karena terdesak sebab didzalimi atau sebab tidak diberikannya hak orang-orang dalam Islam, karena mereka masuk Islam dengan kehendak mereka sendiri. Bersamaan dengan itu mereka mengharapkan hidayah untuk musuh, bukan perang.

Nabi Saw. pernah berdiri di hadapan seorang wanita yang memegang senjata bersama orang-orang kafir yang dzalim yang memerangi Muslimin. Lalu wanita itu ikut berperang dan terbunuh. Lalu Nabi Saw. berdiri di depan mayatnya setelah usai perang, dan beliau tersentuh serta kecewa. Nampak kekecewaan beliau Saw., lalu berkata:

ماَ كَانَ لِهَذِهِ أَنْ تُقَاتِلَ فَتُقْتَلُ
“Tidak seharusnya wanita ini ikut berperang lalu terbunuh.”


Rasulullah Saw. ajarkan makna ini. Beliau Saw. mengajari kita bahwa pada asalnya adalah keinginan kesejahteraan dan keselamatan untuk umat manusia, bukan peperangan. Dan bahwa perang adalah keadaan darurat untuk menjaga kehidupan dengan maknanya yang lebih besar. (*IBJ, ditranskrip dari video ceramah Habib Ali al-Jufri: https://youtu.be/wP73o4CfOpk).










Inspirasi Sebutir Nasi, Kisah Habib Luthfi

Written By MuslimMN on Senin, 06 Juli 2015 | 11.33


Dandanannya bergegas dibuat semenarik mungkin. Laiknya akan menghadapi seorang tamu dalam sebuah jamuan. Begitu makanan dihidangkan, tangannya siap menyuap dengan perlahan. Butir demi butir nasi dimasukkan ke dalam mulutnya penuh dengan perasaan.

Tatkala ada sebutir saja nasi yang jatuh, langsung diambilnya lalu dimakan tanpa sungkan. Jika tak memungkinkan, karena terlalu kotor, mungkin itu menjadi rizki bagi ayam yang harus ia beri makan. Sang murid kesayangan pun menjadi terheran-heran. Dengan sungkan, terpaksa murid itu (Habib Luthfi bin Yahya) mengutarakan: "Maaf Bah, kenapa setiap kali mau makan Abah selalu demikian?"

Sang guru diam sejenak, sembari tersenyum dijawab: "Kamu lihat di sebutir nasi ini? Ternyata untuk menjadi nasi tidak sesederhana ketika kita memakannya. Di dalamnya ada peluh keringat kerja keras para buruh tani, mulai dari yang membuat bibitnya, mencangkul tanahnya, membajak sawahnya, menanam benihnya, menyiraminya, merabuknya, merawatnya, memanennya, menjemurnya, menumbuknya, memasaknya, barulah menjadi sebutir nasi ini. Aku melakukan ini demi untuk menghormati mereka," pungkas Mbah Malik dengan air mata berlinangan.

Kita jadi mafhum, bagaimana Nabi Saw. dalam sabdanya dengan tegas berpesan: "Innama tunsharuna waturzaquna illa bidhu'afaikum", sungguh tidaklah kalian meraih pertolongan dan rizki terkecuali hanya karena para dhuafa (kaum lemah) diantara kalian. (Sya'roni As-Samfuriy, Cikarang).

Habib Luthfi bin Yahya Ditantang 10 Dukun

Written By MuslimMN on Sabtu, 18 Oktober 2014 | 09.27





Pernah suatu ketika, sekitar 10 dukun mendatangi Habib Luthfi Yahya untuk ditantang keilmuannya. Habib Luthfi dengan tegas menolak tantangan tersebut. Beliau balik bertanya: “Untuk apa dan atas dasar apa kamu menantang saya?”

Salah satu dari 10 dukun itu menjawab: “Kami ingin tahu apa kelebihanmu, kok murid-muridmu banyak bahkan ada di mana-mana. Dan apa benar Habib ini wali Allah, kok sampai-sampai banyak yang menyukai dan mencintaimu.”

Habib Luthfi hanya tersenyum mendengar penuturan si dukun itu. Kemudian 10 dukun tersebut mulai komat-kamit tak jelas dan mengambil satu ‘keris legenda’, kata si dukun, lalu diletakkan persis di depan Habib Luthfu. Lantas dukun itu berkata: “Ambillah jika Habib mampu!”

Habib Luthfi pun hanya tersenyum sembari berjalan mengambil sapu lantai dan disapunya keris itu dengan mudahnya tanpa membuang-buang tenaga. Kagetlah 10 dukun itu, gumam mereka: “Kok bisa ya hanya dengan menyapu saja, padahal sudah saya buktikan tidak ada seorang pun yang dapat mengambil keris itu.”

Kemudian Habib Luthfi bin Yahya mencabut bulu rambut yang ada di kepalanya dan meletakkannya persis di depan 10 dukun itu. Beramai-ramailah dukun itu dengan sekuat tenaga mengambil satu helai bulu rambut Habib Luthfi. Tapi apa hendak dikata, tak seorang pun darinya yang dapat mengambil bulu rambut itu. Akhirnya 10 dukun itu segera meminta maaf kepada Habib Luthfi dan bahkan bersedia menjadi murid Habib Luthfi sampai saat ini. (Diolah dari Pengky Sutarto, yang diceritakan langsung dari abdi dalem).

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 18 Oktober 2014

KISAH SEORANG KYAI BERBAIAT KEPADA HABIB LUTHFI

Written By MuslimMN on Senin, 13 Oktober 2014 | 20.58





Kisah ini semata-mata hanya untuk menambah kecintaan dan ketaatan pada guru (Abah Maulana Habib Luthfi bin Yahya), juga berharap sesama murid beliau agar saling mengenal. Semoga semua dalam jalinan rahmat Allah Swt. Aamiin.

1.      Mbah Toyik Kudus dan Habib Ali Mayong

Mbah Toyik (KH. Thoriq), kyai asal Kota Kudus Jawa Tengah. Beliau kakak seperguruanku di tempat Abah, berperawakan kurus dan berkacamata. Kalau pergi ke Kudus, saya (Idrus Yahya) mampir ke rumah beliau. Ramah bersahabat dan ilmunya dalam namun tawadhu’ luar biasa, maka saya pribadi menganggap beliau sebagai guru. Apa-apa yang diajarkan Habib Luthfi bin Yahya (kala saya berhalangan ngaji) beliau sampaikan, dengan bahasa yang sederhana namun mengena.

Adapun ikhwal kyai “khos” ini menjadi murid Habib Luthfi bin Yahya adalah dimulai dari kisah seorang mursyid tua kala itu, Habib Ali Mayong. Dijuluki Mayong karena berasal dari kota Mayong, Jepara.

Alkisah pada suatu hari, sang guru mengajak muridnya (Kyai Thoriq) untuk diajak ke Pekalongan (pertama kali sang kyai dikenalkan Abah). Dengan menaiki becak langganan, Habib Ali Mayong berkata: “Pak, anter nggih teng Pekalongan.” (Pak, antarkan ke Pekalongan).

Tentu saja tukang becak terbelalak: “Ampun Bib, kulo mboten sagah” (Maaf Bib, saya tidak sanggup).

Habib Ali tersenyum lalu berucap: “Wis Sampeyan asal nggenjot ora usah mikir, mengko nek ora kuat mandeg kemawon” (Sudah tidak usah dipikir. Asal kayuh saja, ntar kalau capek berhenti).

Satu, dua perlahan dikayuh pedal becak dan meluncur ke arah Demak menuju Pekalongan. Kadang si tukang becak dihibur oleh Habib Ali dengan diajak ngobrol. Tak berapa lama, Habib Ali berkata: “Belok kanan nyebrang Pak.”

Tukang becak pun melihat kiri dan kanan kemudian menyebrang. Lalu sampai di gang, Habib Ali memberi aba-aba untuk berhenti. “Niki pundi Bib, terose ajeng teng Pekalongan kok mandap mriki?” (Ini daerah mana Bib, katanya mau ke Pekalongan kok turun di sini?) Tanya tukang becak.

Habib Ali menunjuk salah satu plang toko yang bertuliskan alamat dan nama jalan. “Lha iku wis tekan Pekalongan” (Lha itu sudah sampai Pekalongan), jawab Habib Ali.

Dengan penasaran tukang becak bergumam: “Duh Gusti, lha nggih pun dugi Pekalongan. Kok mboten kroso kulo?” (Ya Tuhan, lha benar sudah sampai Pekalongan. Kok tidak berasa ya?).

“Sampeyan nunggu mriki, nggih. Ki nek arep wedangan” (Kamu tunggu di sini ya. Ini kalau mau minum teh atau nyemil), sambil menyerahkan uang.

Di kediaman Habib Luthfi bin Yahya sudah selesai masak dan membuat hidangan. Rupanya Habib Luthfi bin Yahya juga merasa kalau ada salah satu guru yang akan berkunjung ke rumah beliau. Ucap salam Habib Ali bertemu Habib Luthfi bin Yahya, pelukan dan beramah tamah. Kemudian disampaikan maksud bahwa beliau (Habib Ali) dapat petunjuk untuk mengajak muridnya ke tempat Habib Luthfi. Habib Luthfi bin Yahya menjawab: “Yo wis kersane Pengeran, siapa yang ditakdirkan Allah untuk membaiat sang murid (Kyai Thoriq). Anda atau saya?”

Habib Ali tersenyum dan setuju. Giliran pertama Habib Ali memberi aurad (wiridan) singkat, sang murid melaksanakan. Satu jam berlalu dengan khusyuk sang murid ditanya gurunya (Habib Ali): “Bagaimana Kyai, sudah ada isyarat?”

Kyai Thoriq menggeleng sembai berkata: “Ngapunten Bib, dereng enten pitedah” (Mohon maaf Bib, belum dapat petunjuk).

Kemudian Habib Ali mempersilakan Habib Luthfi: “Tafadhal.” Lalu Habib Luthfi bin Yahya mendekati sang murid, perlahan memberi arahan amalan pendek. Setelah mengikuti petunjuk Habib Luthfi bin Yahya sang murid pun tertidur pulas. Satu jam berikutnya terbangun, sang murid tergopoh-gopoh menghampiri gurunya (Habib Ali) yang waktu itu sedang berdialog dengan Habib Luthfi bin Yahya. “Bib... Biib... ngapunten.”

Rupanya dalam mimpi, Kyai Thoriq bertemu Rasulullah Saw. sedang menggandeng pemuda di sebelah kanannya. Sedang satu lagi ada habib duduk di bawah di samping kiri Nabi Saw. “Haqqak hadza, tafadhal ya Habib” (Ini punyamu ya Habib), Habib Ali Mayong berkata pada Habib Luthfi bin Yahya dengan wajah berseri.

Ternyata mimpi itu bermakna lelaki muda tadi adalah Habib Luthfi bin Yahya yang digandeng Baginda Nabi Saw. Sedangkan yang terduduk adalah Habib Ali Mayong. Lalu saat itu juga dengan disaksikan Habib Ali sang gurunya, Kyai Thoriq pun dibaiat oleh Habib Luthfi bin Yahya.

Rupanya pertemuan di Pekalongan dengan Habib Luthfi bin Yahya adalah pertanda dari Allah untuk sang kyai. Al-Habib Ali Shihab alias Habib Ali Mayong beberapa minggu kemudian berpulang ke haribaanNya. Inna lillahi wainna ilaihi raji’un. Dan yang paling menyedihkan adalah kala Habib Luthfi bin Yahya memberi isyarah pada Kyai Thoriq (dalam mimpi) untuk segera menemui gurunya, namun tidak segera dipenuhi. Sebab sang kyai ragu, pertanda tersebut dari mimpinya bukan langsung disampaikan Habib Luthfi bin Yahya. Kyai Thoriq kaget bukan kepalang, ternyata benar terjadi. Namun beliau (sang guru) telah wafat. Di rumah duka tersebut beliau berjumpa dengan Habib Luthfi bin Yahya yang tiba duluan.

Kyai Thariq terkadang di pengajian Kliwonan mampir ke Habib Luthfi bin Yahya. Tapi rutinnya tiap peringatan Maulid di Kanzus beliau selalu hadir. Sedangkan tukang becak itu hingga kini masih hidup. Dia menjadi saksi mata semua kejadian perjalanan Habib Ali Mayong, sebab kendaraan favorit beliau adalah becaknya.

2.      Perjalalanan Haji Mbah Toyik

Sepulangnya ke Kudus, lalu Kyai Thoriq menemui sang istri. Sambil kebingunan beliau menyampaikan: “Nyai, aku didawuhi Abah mangkat haji. Lha pripun ora nyekel duit?” (Nyai, aku diwanti-wanti Abah suruh berangkat haji. Lha bagaimana, saya tidak punya uang sama sekali).

“Wes asal nurut bae Kyaine, mengko rak temu dalane” (Sudah, asal ngikut saja. Siapa tahu ketemu jalannya), jawab istri beliau. 

Tak berapa lama setelah istirahat, kemudian selesai shalat Ashar beliau kedatangan tamu. Seseorang menyampaikan maksudnya, mohon doa agar istrinya dimudahkan atau diangkat penyakitnya. Mbah Toyik pun menenangkan tamunya, mendoakan, menghibur dan membesarkan hatinya. Kemudian tamu pun berpamitan.

Tiga hari berikutnya tamu itu datang lagi dengan wajah berseri. Lalu bercerita kalau istrinya sudah agak baikan. Rencananya mereka berdua mau berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Sudah mengurus segalanya, namun atas petunjuk dokter supaya istirahat dulu demi penyembuhan. Akhirnya segala keperluan berikut surat-surat, tiket, akomodasi penginapan, visa atau paspornya diurusin tamu tadi untuk Mbah Toyik. Beliau hanya tinggal mencari uang saku saja. Seketika beliau kaget, hingga tamunya pergi masih tidak percaya. 

Diceritakannya kejadian tersebut pada istrinya. “Alhamdulillah Nyai, sido mangkat haji. Mengko sangune gampang lah” (Alhamdulillah Nyai, terkabul berangkat haji. Soal uang saku nanti menyusul), begitu kata beliau.

Akhirnya segala persiapan dilengkapi dua hari sebelum beliau berangkat. Tiba-tiba ada tamu datang lagi. Dengan memohon-mohon minta disyareati atau diikhtiari doa agar tanahnya laku, Mbah Toyik ‘lillahi ta’ala’ menyanggupi.

Hal yang mengejutkan terjadi lagi, tanahnya laku, beliau pun diberi komisi. Lengkap sudah beliau berangkat, hingga dari Kudus bareng rombongan haji berangkat ke tanah suci. Di perjalanan beliau bertemu beberapa teman baiknya. Tak disangka, mereka (para sahabat) memasukkan amplop ke kantong saku beliau. Beliau terlanjur bahagia hingga tidak dihitung, asal pindahin ke tas karena numpuk di kantong. Yang pada akhirnya jumlah isi amplop itu mencapai jutaan. (Diolah dari web Ustadz Oki Yosi, bersumber dari Habib Idrus Yahya).

Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 14 Oktober 2014
 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template