GENERASI PELESTARI AL-QURAN; MAJELIS TA’LIM NURUL YAQIN

Written By Unknown on Senin, 10 Maret 2014 | 06.32



MAJELIS TA’LIM NURUL YAQIN


Daftar Isi:
1.      Khazanah Al-Quran MT. Nurul Yaqin
2.      Mengenal Orientasi Majelis Ta’lim Nurul Yaqin
3.      Undangan Untuk Umum

1.      Khazanah Al-Quran MT. Nurul Yaqin

Sebagai seorang muslim dan muslimah, kita yakin al-Quran adalah sumber petunjuk hidup, harta simpanan yang sangat besar serta pelita penyinar hidup. Dalam posisinya itu Ia selalu mengarahkan kehidupan manusia menuju kepada kebenaran sejati, yakni kebenaran yang dikehendaki oleh Allah Swt. untuk diikuti oleh segenap manusia. Terlebih lagi bagi mereka yang menyandang identitas sebagai muslim.

Karena itu menjadi tugas kita semua untuk menggali dan menemukan Khazanah Mutiara Ilahi tersebut dalam al-Quran. Kemudian secara utuh dan paripurna hendaknya kita aplikasikan dalam lapangan nyata kehidupan. Tentu tidak mudah untuk mencapai cita-cita ideal ini. Namun setidaknya kita telah berusaha serius ke arah sana. Ikhtiar inilah yang akan dilihat dan dinilai kualitasnya di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Al-Quran al-Karim adalah mata air yang jernih, mengalirkan hikmah, nasehat kebaikan, syariat, pengetahuan, akhlak dan petunjuk hidup manusia. Surat-surat dan ayat-ayatnya mencangkup segala hal yang dapat dan mungkin dicapai oleh akal manusia melalui penelitian ilmiah, sosiologis dan psikologis. Kandungan al-Quran juga bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan manusia, mengatur tata sosial dan interaksi dengan orang lain.

Diantara ikhtiar itu kewajiban kita terhadap al-Quran adalah mengajak anak-anak dan generasi kita untuk membudayakan membaca dan mengambil kandungannya. Hendaklah kita mengajak mereka untuk memetik sinaran al-Quran yang akan menerangi kehidupan mereka, mensucikan jiwanya, menjadikan hidup mereka bahagia dan sejahtera, serta menjamin limpahan rahmat dan pahala bagi mereka. Aamiin

2.      Mengenal Orientasi Majelis Ta’lim Nurul Yaqin

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالماً أو متعلماً

“Dunia seisinya terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan apa saja yang menyertainya, orang-orang yang berilmu atau orang-orang yang menuntut ilmu.” (HR. at-Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda:

أحبّ العباد إلى الله تعالى أنفع الناس للناس، وأفضل الأعمال إدخال السرور على قلب المؤمن يطرد عنه جوعا ويكشف عنه كربا ويقضي له دينا، وخصلتان لا شيء أخبث منهما: الشرك بالله والضرّ بالمسلمين

“Hamba yang paling dicinta Allah adalah orang yang bermanfaat untuk sesamanya. Amal yang paling utama adalah memberikan kebahagiaan ke dalam hati seorang mukmin dengan menghilangkan rasa laparnya, meringankan kesulitannya, serta melunasi hutangnya. Dan dua perkara yang tidak ada satupun lebih buruk dari keduanya: menyekutukan Allah dan menyusahkan orang-orang muslim.”

Apa sebenarnya yang terdapat dalam diri manusia? Sifat-sifat apa saja yang membuat mereka gembira, bahagia dan tentram. Juga sifat-sifat apa saja yang membuat mereka sengsara, terhina dan buruk menurut Allah? Lalu muncullah pertanyaan apakah manusia ananiyah (egois) sehingga lebih mencintai dirinya sendiri ketimbang kemaslahatan orang lain? Ataukah mereka lebih itsar (mendahulukan) kemaslahatan orang lain ketimbang kemaslahatan bagi dirinya? Maka jika kita mencoba mengkaji, akan memakan waktu lama dan melibatkan banyak bidang keilmuan diantaranya psikologi, moral dan ilmu sosial.

Para ilmuan mendefinisikan bahwa manusia sudah mempunyai dua sifat di dalam dirinya yaitu ananiyah dan itsar. Manusia tatkala mereka melihat adanya kemaslahatan bagi segenap manusia, maka sesungguhnya ia telah dibekali naluri untuk mendahulukan kemaslahatan ummat ketimbang kemaslahatan pribadi. Namun, sementara itu di satu sisi ada yang melihat bahwa tadh-hiyah (pengorbanan), fidha (pembelaan) tidak lain adalah sebuah sifat egoistis pribadi.

Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia itu adalah makhluk sosial, sudah barang tentu memerlukan ta’awun (gotong-royong) atau bekerja sama dalam aktivitas sosialnya. Terdapat beberapa kondisi dimana seorang manusia lebih memilih untuk mementingkan kemaslahatan bersama ketimbang mengisolasi diri. Kecenderungan untuk tidak bisa terlepas dari hak-hak orang lain menimbulkan manfaat bersama berupa buah dari ta’awun di antara mereka. Sehingga kemuliaan, kehormatan serta kemaslahatan bersama pun muncul sebagai wujud nyata kebersamaan, disebabkan manusia tidak akan hidup mulia dan tenang tanpa mengimplementasikan sifat ta’awun dan i’tsar diantara mereka. Maka tadh-hiyah dan itsar merupakan sebuah kebutuhan yang sangat penting dalam bermasyarakat dan itu harus terwujudkan bersama.

Kalaulah tidak terikat dengan sebuah sistem dalam kehidupan maka sudah barang tentu akan terjadi kekacauan di muka bumi ini. Adanya sifat ta’awun dan i’tsar itulah yang melahirkan sistem hukum, hidup, bermasyarakat, interaksi, dan sebagainya serta bisa berjalan dengan lancar. Kalaulah kedua sifat itu tidak ada dalam diri manusia, dan manusia lebih memilih ananiyah maka yang timbul adalah kekacauan. Masing-masing menginginkan bersaing dan berusaha keras agar kehendaknya dapat teralisasi dan terwujud.

Sebagai satu contoh konkrit yakni para pemakai jalan, apabila para pemakai jalan tidak memiliki peraturan dan tidak tertegak sifat ta’awun dan i’tsar maka apa yang akan terjadi. Antara pemakai jalan yang berkendaraan dengan pejalan kaki tidak ada yang mau mematuhi lampu merah, sudah barang tentu kekacuan dan kemacetan berkepanjangan, semrawut, dan kacau balau di jalan akan terjadi. Terlebih lagi bila kemudian kondisi tersebut memakan korban, misalnya pejalan kaki yang men jadi korban pengendara mobil.

Dalam hal bermuamalah (interaksi) jual-beli pun kita dapat membayangkan jika tidak ada sifat itsar dan ta’awun, maka yang terpikirkan pada diri setiap individu adalah bagaimana tidak menerima barang dari orang lain, tidak mau berinteraksi dengan lainnya. Secara otomatis tidak mungkin kita mendapatkan keuntungan, juga tidak akan terpenuhi kebutuhan hidup. Rasa aman juga tidak akan dapat terwujud di antara keduanya, jika tidak terdapat rasa tadh-hiyah dan itsar. Penjual memberikan harga melebihi sedikit dari modal produksi, tidak lain agar ada keuntungannya dan menyambung hidupnya, di sisi lain pembeli mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan barang yang butuhkan. Di sinilah dibutuhkan adanya keridhaan serta timbal balik dari masing-masing pelaku.

Sementara i’tsar manusia terhadap diri kita kalau dihitung amatlah banyak. I’tsar yang dipuji oleh syariat dan dihormati oleh prinsip-prinsip akhlak, yaitu adanya itsar memilih (ikhtiar) di dalam undang-undang dan tidak dipaksakan. Bagaimana memberikan itsar bagi mereka yang memilih kehormatan ketimbang harta, memilih berlelah-lelah bekerja dibandingkan beristirahat, menikmati lapar ketimbang kenyang, memilih mati daripada hidup. Bukankah ini semua adalah bentuk keindahan dari tadh-hiyah, yang tidak lain adalah hanya menginginkan pahala dan pujian dari Allah.

Sesungguhnya kita membutuhkan kesenangan, baik itu kesenangan hidup berupa materi atau non materi. Itu semua sudah barang tentu dibutuhkan pula oleh mereka yang memang mensifati dirinya dengan tadh-hiyah, itsar dan fidha. Kita membutuhkan listrik, mobil, pesawat terbang, siaran tv dan radio. Mereka para ilmuan yang jenius telah merelakan waktunya untuk melakukan riset dan mengadakan eksperimen, mengorbankan waktu siang dan malam, semua dalam rangka mempersembahkan yang terbaik bagi insan manusia untuk mempermudah, dan demi kelangsungan hidup di dunia. Kita bersama-sama bisa menikmati atas jerih payah mereka, bahkan beribu manusia dapat merasakan karya mereka. Itulah wujud tadh-hiyah, fidha dan itsar yang mereka persembahkan kepada kita.

Bagaimanapun juga kita membutuhkan contoh orang-orang yang mengagungkan aqidah dan agama yang dengannya kita menjadi terhormat. Jika berbicara kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita maka hal itu berbentuk hidayah dan taufikNya. Sedangkan para salafus shaleh, yakni mereka yang mengemban risalah dakwah, tidak terlepas dari ujian berupa siksaan dan kehormatan. Mengerahkan sekuat tenaga, darah dan jiwa untuk menyebarkan agama bagi generasi sesudahnya, hingga akhirnya mereka mendapat pertolongan dari Allah atas perjuangan yang mereka lakukan.

Demikianlah kita hidup selalu membutuhkan kepada generasi pendahulu kita terutama dalam mengambil contoh serta teladan hidup. Kita bisa merasakan bagaimana tadh-hiyah, fidha dan itsar mereka hingga sekarang kita memetik hasilnya. Demikian generasi yang akan datang akan mengambil manfaat dari jerih payah kita dalam ikhlas melakukan tadh-hiyah, fidha dan itsar. Begitulah sirkulasi hidup, di setiap zaman, waktu, keadaan dan peristiwa. Selalu akan saja membutuhkan orang-orang yang ikhlas dalam mengemban misi hidup. Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah apakah generasi sekarang mampu untuk menyelami arti fidha dan itsar? Apakah mereka menghiasi dirinya dengan akhlak yang telah digariskan oleh syariat Allah?

Kenyataan yang ada sekarang adalah bahwa manusia hidup di zaman ini seakan menghilangkan jejak, dari misi penciptaan manusia yang baik dan sebaik-baiknya penciptaan. Dimana kita akan melihat ketika kita berjalan dan melihat di setiap sudut masyarakat sekarang, selalu saja kita mendapatkan perbuatan ananiyah telah menguasasi manusia pada setiap sisi. Kita mendapatkan bagaimana hubungan ananiyah seorang bapak mendzalimi anaknya dengan sewenang-wenang, mendapati seorang suami sewenang-wenang terhadap istrinya, seorang pemimpin sewenang-wenang terhadap rakyaknya, bagaimana ananiyah orang-orang kaya kepada masyarakat, pedagang hanya memikirkan dagangannya saja, petani juga hanya memikirkan panenannya, para pekerja di kantor hanya kasih sayang jika ada hubungan keluarga.

Pada sisi yang sama kita sesama insan memerlukan kebersamaan dalam memecahkan problematika hidup, agar selamat dari tragedi dan kemalangan. Sehingga terpecahkan segala aral melintang dalam kehidupan ini. Kalaulah para insan di dunia hanya memikirkan dirinya sendiri, maka yang tampak dalam kehidupan ini adalah adanya kesewenang-wenangan yang kental dalam tatanan kehidupan.

Ketika hijrahnya Rasulullah bersama para sahabat ke Madinah, kaum mukminin Makkah (Muhajirin) dipersaudarakan dengan mukminin Madinah (Anshar) oleh Rasulullah Saw. Mempersaudarakan setiap Anshar dengan seorang Muhajirin. Masing-masing Anshar yang telah dipersaudarakan, membawa saudaranya Muhajirin ke rumah masing-masing, dan membagi dua harta yang berada di rumahnya membagi baju, harta, makanan dan kendaraan. Mereka ditempatkan dalam keluarga sebagai saudara sendiri. Sehingga para Muhajirin yang telah meninggalkan harta, sanak keluarga, ladang, tempat tinggalnya merasakan jati dirinya kembali juga tidak ada rasa sungkan tinggal bersama saudara Anshar yang baru dikenal tersebut.

Maka al-Quran mengabadikan peristiwa yang luar bisa bersejarah ini dalam surat al-Hasyr ayat 9: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Pada zaman Khalifah Umar terjadi peristiwa musim paceklik dan kelaparan, Umar Ra. tidak tidur malam kecuali sedikit adan tidak pula istirahat kecuali sedikit. Dalam dirinya selalu saja memikirkan bagaimana agar masyarakat terbebas dari lapar. Terus saja Umar Ra. dalam kesehariannya memikirkan hingga sedikit dalam tidur, makan dan istirahat. Maka ketika orang melihatnya dan berkata: “Kalaulah musim ini berkepanjangan hingga satu bulan ke depan maka Umar akan meninggal.”

Suatu hari datanglah rombongan dari Mesir yang membawa daging, minyak samin, makanan dan pakaian. Mereka sendirilah yang membagi-bagikan kepada masyarakat, Umar Ra. pun turut membagikannya. Sedangkan Umar Ra. menolak untuk makan barang-barang yang telah dibawa mereka. Berkata Sayyidina Umar Ra. kepada kepala rombongan: “Kamu nanti makan di rumah saya.”

Harapan orang itu akan menyantap makanan yang lezat. Mengira bahwa makanan Amirul Mukminin ini lebih baik dari yang lainnya. Tibalah mereka berdua di kediaman Umar ra. Kemudian diserukan untuk menyediakan makanan, maka tersedialah makanan. Betapa terkejutnya kepala rombongan tersebut, ternyata makanan yang dikira enak itu luluh, hilang seketika tatkala di hadapannya hanya sepotong roti hitam kering dan minyak ditaruhkan di piring.

Terjadilah dialog di antara keduanya, kepala rombongan itu berkata: “Kenapa Engkau melarangku untuk makan bersama orang-orang dengan daging dan samin, dan menyediakan makanan seperti ini?”

Umar Ra. menjawab: “Inilah makanan yang sehari-hari aku makan.”

Kepala rombongan bertanya lagi: “Apa yang melarang dirimu untuk tidak makan daging dan samin, padahal dirimu tadi yang telah membagikan makanan tersebut kepada mereka?”

Umar Ra. pun menjawab: “Aku telah berjanji kepada diriku, untuk tidak merasakan samin dan daging hingga kaum muslimin kenyang dengan keduanya.”

Wahai saudaraku muslimin dan muslimat, ingat selalu firman Allah dalam al-Quran surat al-Insan ayat 8-9: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”

3.      Undangan Untuk Umum

Majelis Nurul Yaqin Pengajian Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Gerakan Pelestarian: Membaca Al-Quran - Dzikir dan Shalawat - Kajian Kitab Salaf
Bersama: KH. Thobary Syadzily Al-Bantani, KH. Masrur ‘Ainun Najih, KH. Munawir Muslih
Hari/tanggal: Ahad 16 Maret 2014
Tempat: Gedung An-Nahdhoh Jl. Pratama (Puskesmas) RT. 05/03 No. 100 Kel. Ceger Kec. Cipayung Jakarta Timur 13820
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template