Home » » "Wayang: metode penyebaran dakwah Wali Songo ( Azmatkhan)"

"Wayang: metode penyebaran dakwah Wali Songo ( Azmatkhan)"

Written By Sya'roni As-Samfuriy on Minggu, 03 April 2011 | 21.21

"Wayang: metode penyebaran dakwah Wali Songo ( Azmatkhan)"

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl : 125)

Wayang sebagai salah satu metode penyebaran dakwah Islam para wali di Indonesia sangatlah mengena buat masyarakat di tanah air kita ini. Wayang sesungguhnya merupakan boneka yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi, pipih yang memiliki dua tangan yang dapat digerakkan dengan stik dan dimainkan oleh seorang dalang, yang mana kata ini diambil dari bahasa arab ّدال (dallun) yang artinya juru penerang. Oleh karenanya, di dalam cerita wayang itulah terkandung nilai moral dan akhlak, perihal keimanan sampai pada thariqah (jalan) menuju ketaqwaan kepada Allah SWT. Secara umum wayang bercerita hal yang batil/jahat akan tertumpas oleh kebenaran (haq).

Pertunjukan wayang umumnya diselenggarakan pada malam hari dengan menggunakan lampu obor yang disebut blencong. Penonton melihat di depan layar (kain putih) bayangan wayang yang dimainkan oleh dalang.

Wayang yang sejak dahulu telah melekat di hati masyarakat, telah dijadikan sarana dakwah untuk mengajarkan thariqah najiyah (jalan menuju keselamatan) oleh para wali dalam misinya menyebarkan agama Islam di Indonesia. Bahkan konon dengan keandalan Sunan Kalijogo, beliau mampu membuat cerita-cerita baru yang bernafaskan Islam untuk menunjang kepentingan dakwahnya. Seperti penokohan semar yang diambil dari bahasa arab شمر بالطاعة (sammar bit-tha’ah) yang artinya bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada Allah, gareng yang diambil dari kata نال قرينا (naala qoriina) yang artinya bergaul dengan teman yang baik, petruk yang diambil dari kata فاترك المعاصي (fatrukil ma’ashiy) yang artinya tinggalkan segala perbuatan maksiat, bagong yang diambil dari kata بالقوم (bil-gaum) yang artinya dakwah kepada masyarakat/kaum, dan masih banyak lagi penokohan lain sebagai sarana dalam misi beliau untuk menyebarkan dakwah Islam di Indonesia.

Demikianlah sekilas tentang wayang yang hingga kini masih banyak diminati oleh kalangan masyarakat, karena bentuk dan ragam hiasnya yang menarik. Nah, selain merupakan peninggalan budaya bangsa, selayaknyalah kita melestarikannya sebagai kekayaan sarana dakwah Islam yang kita miliki.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Meningkatkan Cinta Kita pada Sang Nabi
Copyright © 2011. PUSTAKA MUHIBBIN - Web Para Pecinta - All Rights Reserved
PROUDLY POWERED BY IT ASWAJA DEVELOPER
Themes by Maskolis.com | Published by Mas Template